NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: SOPIR ANGKOT UGAL UGALAN

Sore itu, seperti biasa, Bang Tua berjalan kaki dari kampus menuju warung kopi Bu Rohana, melewati jalan raya yang cukup ramai di jam pulang kerja. Langit mulai mendung, sebentar lagi hujan, membuat arus lalu lintas terasa lebih terburu buru dari biasanya, semua orang seperti berlomba lomba sampai tujuan sebelum hujan turun, termasuk beberapa pedagang kaki lima yang buru buru menutupi dagangan mereka dengan terpal plastik biru yang sudah lusuh.

Sepanjang jalan, seperti biasa, kepala Bang Tua sudah sibuk dengan komentar komentar kecil yang tidak akan pernah dia ucapkan lantang. Melihat seorang bapak yang menyeberang sembarangan sambil main HP, dalam hati dia sudah berkomentar, "itu bapak kalau ketabrak, jangan salahin supirnya ya, wong nyeberang aja sambil scroll TikTok". Melihat spanduk iklan pinjaman online yang terpasang miring di tiang listrik, dia sempat terkekeh sendiri membayangkan betapa "menggodanya" kalimat kalimat di spanduk itu, "cair dalam lima menit katanya, giliran nagih, lima menit juga udah nyampe rumah". Kebiasaan berkomentar dalam hati itu sudah jadi semacam hiburan pribadinya sepanjang perjalanan, cara dia menghibur diri sendiri di tengah rutinitas yang itu itu saja setiap hari.

Di seberang jalan, dia melihat Riko, mahasiswa bimbingannya yang beberapa hari lalu menunjukkan berita soal sindikat penipuan itu, sedang berdiri menunggu angkot bersama beberapa mahasiswa lain, hendak pulang ke kos masing masing. Bang Tua sempat melambaikan tangan kecil, dan Riko membalasnya dengan senyum, sebelum kembali sibuk melihat ke arah datangnya angkot yang mereka tunggu. Dalam hati, Bang Tua sempat berkomentar geli melihat gaya rambut Riko yang baru, "itu poni baru gayanya kayak abis kesetrum, tapi ya biarin lah, namanya juga anak muda, dulu aku juga sempat punya fase rambut ajaib begitu".

Beberapa detik kemudian, sebuah angkot berwarna merah melaju kencang dari kejauhan, jauh lebih kencang dari kecepatan wajar angkot pada umumnya. Sopirnya, yang terlihat sedang terburu buru mengejar penumpang atau setoran, menyalip dua kendaraan sekaligus dari jalur yang salah, memotong jalan tepat di depan sebuah bus kota yang terpaksa mengerem mendadak sambil membunyikan klakson panjang penuh amarah, suara decitan ban yang menggesek aspal terdengar cukup keras sampai membuat beberapa orang di trotoar menoleh kaget.

Bang Tua yang berdiri di trotoar seberang, jantungnya berdegup kencang menyaksikan itu, sempat berkomentar dalam hati dengan nada geli campur waswas, "itu sopir kalau ikut lomba F1 mungkin bisa juara, sayangnya ini bukan sirkuit, Bang, ini jalan raya, ada manusia manusia yang jalan kaki juga di sini". Tapi yang membuat darahnya benar benar naik ke ubun ubun adalah kejadian setelahnya. Angkot itu, masih dengan kecepatan tinggi, langsung menepi mendadak tanpa aba aba ke arah kerumunan calon penumpang di seberang, tempat Riko dan teman temannya berdiri, hendak menjemput penumpang secara serampangan tanpa memperhitungkan jarak sama sekali.

Riko, yang saat itu tidak sempat mengantisipasi, terpaksa melompat mundur secara refleks untuk menghindari spion angkot yang nyaris menyerempet bahunya. Salah satu temannya bahkan sampai terjatuh saking kagetnya, lututnya lecet menggesek trotoar kasar.

"HATI HATI, BANG!" teriak salah satu mahasiswa, suaranya penuh amarah dan syok bercampur jadi satu.

Sopir angkot itu, alih alih meminta maaf atau setidaknya berhenti sejenak memastikan tidak ada yang terluka parah, hanya mendecih kesal dari balik kaca jendela, seperti merasa dialah yang paling dirugikan karena harus mengerem mendadak. "Makanya nunggu jangan mepet mepet jalan!" teriaknya balik dengan nada menyalahkan, sebelum kembali tancap gas meninggalkan mereka semua, mengejar penumpang lain di depan, tanpa peduli sama sekali dengan mahasiswa yang tadi terjatuh.

Bang Tua, yang biasanya bisa menahan diri berapa pun kesalnya, bahkan biasanya masih sempat sempatnya melucu dalam hati di tengah situasi menyebalkan sekalipun, kali ini merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak ada lagi ruang untuk komentar jenaka dalam kepalanya. Ini bukan lagi soal orang asing yang menyerobot antrian atau preman yang memalak pedagang kecil, sesuatu yang bisa dia tertawakan getir sambil berjalan pergi. Ini soal mahasiswanya sendiri, anak didiknya, yang nyaris celaka karena keugalan orang yang seharusnya bertanggung jawab menjaga keselamatan penumpang dan orang di sekitarnya.

Tanpa sadar, dia sudah melangkah cepat menyeberangi jalan, mengabaikan kendaraan lain yang masih lalu lalang, menghampiri Riko dan teman temannya yang masih syok. "Kalian nggak apa apa? Yang jatuh tadi gimana, masih bisa jalan?" tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran yang jarang sekali dia perlihatkan seterang itu di depan mahasiswanya, jauh berbeda dari nada datarnya yang biasa.

"Nggak apa apa, Pak, cuma lecet dikit," jawab si mahasiswa yang jatuh tadi, meringis menahan perih sambil dibantu berdiri oleh temannya, celananya sobek kecil di bagian lutut dengan noda darah tipis mulai merembes.

Bang Tua menatap ke arah angkot merah yang sudah semakin jauh, mengejar penumpang lain di depan dengan gaya menyetir yang sama serampangannya, seolah tidak pernah terjadi apa apa. Amarah yang selama ini selalu dia kunci rapat rapat di dalam dada, kali ini nyaris meledak keluar. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tidak lagi peduli untuk menjaga wajah datarnya.

"Sopir kayak gitu," desisnya, suaranya lebih keras dari biasanya, meski masih tertahan supaya tidak sampai berteriak di depan mahasiswanya, "harusnya nggak boleh lagi pegang setir seumur hidupnya. Sebelum dia benar benar bikin orang mati baru kapok."

Kalimat itu keluar penuh dengan emosi yang sesungguhnya, bukan lagi gumaman pelan yang nyaris tak terdengar seperti biasanya, tapi ucapan yang jelas, tegas, lahir dari kekhawatiran nyata seorang dosen pada anak didiknya. Riko dan teman temannya menoleh sedikit mendengar nada suara dosen mereka yang biasanya kalem itu berubah begitu tajam, salah satu dari mereka bahkan sempat berbisik pelan ke temannya, "baru kali ini aku denger Pak Sahat ngomong sekeras itu", tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa kalimat itu baru saja menjadi yang paling kuat, paling penuh keyakinan, dari semua gumaman yang pernah diucapkan Bang Tua selama ini.

Setelah memastikan semua mahasiswanya baik baik saja, Bang Tua sempat menawarkan untuk mengantar mereka mencari angkot lain yang lebih aman, bahkan sampai berdiri menunggu bersama mereka selama beberapa menit, sesuatu yang di luar kebiasaannya yang biasa langsung pamit begitu urusan selesai. Baru setelah yakin mereka semua sudah naik angkot lain dengan selamat, dia melanjutkan langkahnya menuju warung kopi Bu Rohana, meski suasana hatinya jauh dari tenang seperti biasanya.

Sepanjang sisa perjalanan, langkahnya terasa lebih berat, pikirannya masih dipenuhi bayangan wajah panik Riko dan teman temannya saat spion angkot itu nyaris menyerempet mereka. Biasanya, dalam situasi apa pun, kepalanya selalu punya ruang untuk komentar jenaka, semacam katup pelepas tekanan yang sudah jadi kebiasaannya bertahun tahun. Tapi sore itu, bahkan saat melewati baliho kampanye dengan foto yang menurutnya selalu terlihat aneh, atau saat melihat seekor kucing gemuk yang biasa dia jadikan bahan candaan dalam hati karena gaya jalannya yang lucu, tidak ada satu pun lelucon yang berhasil muncul di kepalanya. Rasanya seperti bagian dirinya yang biasa usil sedang benar benar dimatikan sementara oleh kekhawatiran yang jauh lebih besar.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!