NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Sarapan Pertama Di Desa

Bus terus berjalan sepanjang malam.

Beberapa kali berhenti di jalan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.

Setiap kali bus berhenti, Meng Lin hanya membuka mata sebentar sebelum kembali tidur.

Menjelang pagi, suara orang-orang mulai terdengar. "Sudah mau sampai?"

"Sepertinya."

"Di luar sudah terang."

Meng Lin membuka mata. Langit di luar jendela mulai berubah warna. Cahaya biru pucat perlahan menggantikan gelapnya malam.

Bus akhirnya memasuki sebuah tempat yang cukup ramai. Bukan kota besar. Lebih seperti terminal kecil atau tempat pemberhentian kendaraan yang menjadi pusat pertemuan orang-orang dari berbagai daerah.

Ada beberapa bangunan sederhana di sekitarnya. Beberapa truk, bus, dan kendaraan pengangkut hasil pertanian terlihat terparkir.

Di sisi lain terdapat tanah lapang yang sudah dipenuhi orang.

Bus berhenti. Pengemudi mematikan mesin.

"Kita sudah sampai."

Para penumpang yang masih mengantuk mulai terbangun.

Meng Lin mengambil tas kecilnya. Setelah pintu bus dibuka, mereka turun satu per satu.

Udara pagi terasa dingin dan lembap. Meng Lin berdiri di samping kopernya. Ia melihat sekeliling.

Para pemuda terpelajar mulai berkumpul. Sebagian terlihat kebingungan. Mereka membawa surat penempatan masing-masing dan beberapa kali melihat ke sekeliling.

"Yang dari brigade mana?"

"Aku juga tidak tahu."

"Katanya nanti ada yang menjemput."

"Di mana?"

Beberapa orang mulai berjalan ke berbagai arah. Namun ternyata para penjemput sudah datang lebih dulu.

Di sepanjang tanah lapang berdiri beberapa orang dari desa dan brigade masing-masing.

Mereka tidak memanggil nama satu per satu.

Sebagian besar membawa papan kayu atau papan dari kardus tebal yang ditulis dengan tinta hitam besar.

Nama komune dan brigade ditulis jelas agar mudah dibaca. Dengan begitu para pemuda terpelajar tidak perlu mencari satu sama lain.

Meng Lin memperhatikan papan-papan tersebut. .

Ada yang bertuliskan:

Komune Sungai Timur — Brigade Produksi Pertama

Komune Sungai Timur — Brigade Produksi Ketiga

Komune Sungai Selatan — Brigade Produksi Kedua

Orang-orang yang membawa papan berdiri agak terpisah satu sama lain.

Seorang pemuda yang baru turun dari bus langsung bertanya, "Brigade Produksi Kedua ada di mana?"

Seorang lelaki tua yang memegang papan mengangkatnya lebih tinggi. "Di sini...!"

Pemuda itu segera membawa barangnya menuju lelaki tersebut.

"Apakah ini kelompok kami?"

"Nama?"

Pemuda itu menunjukkan suratnya.

Lelaki tersebut memeriksa. "Benar. Taruh barangmu di gerobak." Di belakang lelaki itu terdapat sebuah gerobak sapi.

Beberapa karung sudah berada di atasnya, tetapi masih tersedia ruang untuk barang bawaan para pemuda.

Tidak jauh dari sana, gerobak lain juga berdatangan. Masing-masing membawa orang yang berbeda.

Ada yang masih menggunakan pakaian kerja.

Ada pula pria tua yang membawa papan nama brigade.

Setelah menempuh perjalanan panjang dengan kereta dan bus, para pemuda terpelajar akhirnya benar-benar memasuki wilayah pedesaan yang menjadi tempat mereka menjalani kehidupan baru.

Meng Lin memeriksa surat penempatannya sekali lagi. Nama komune dan brigade tercantum dengan jelas.

Ia mengangkat kepala. Matanya menyapu papan-papan yang berdiri di depan. Beberapa saat kemudian, ia melihat papan yang dicarinya.

KOMUNE SUNGAI SELATAN

BRIGADE PRODUKSI KEDUA

Meng Lin dan Yan Rao menarik koper. keduanya berjalan ke arah papan tersebut. Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di bawahnya.

Di sampingnya terdapat seorang pemuda yang tampaknya anggota brigade.

Ketika melihat Meng Lin datang, lelaki itu bertanya, "Pemuda terpelajar?"

Meng Lin mengangguk.

"Ya."

"Surat penempatan."

Meng Lin menyerahkannya.

Lelaki itu membaca nama di sana.

"Meng Lin?"

"Ya."

Ia mengangguk.

"Benar. Kamu dari kota?"

"Ya."

Lelaki itu mengembalikan surat tersebut.

"Barangmu taruh di gerobak. Kita masih menunggu dua orang lagi."

Meng Lin melihat ke arah gerobak sapi.

"Perjalanannya berapa lama?"

"Kalau jalan lancar, sekitar dua jam lebih."

Meng Lin mengangguk. Ia membawa koper menuju gerobak begitupun dengan Yan Rao.

Beberapa pemuda yang sudah lebih dulu tiba menoleh kepadanya.

Mereka hanya saling melihat sebentar. Tidak ada yang berbicara.

Meng Lin meletakkan kopernya dengan hati-hati. Setelah itu ia berdiri di samping gerobak sambil menunggu.

Tidak lama kemudian, dua pemuda lainnya datang.

Lelaki yang membawa papan segera memeriksa surat mereka. "Benar. Kalian berdua juga dari brigade kami."

Barang mereka kemudian dimasukkan ke gerobak.

Setelah semua anggota lengkap, lelaki itu menghitung sekali lagi.

"tujuh orang." Ia menoleh kepada mereka.

"Kalau sudah lengkap, kita berangkat."

Gerobak sapi mulai bergerak perlahan. Roda kayunya berderit ketika melewati jalan tanah.

Meng Lin duduk di atas papan kayu yang dipasang di bagian belakang gerobak. Ia memandang ke depan.

Pemandangan di sekitar semakin berubah. Tidak ada lagi bangunan stasiun. Tidak ada suara kereta.

Yang terlihat hanya jalan tanah yang bergelombang, ladang, dan pepohonan. Setelah perjalanan panjang selama dua hari, akhirnya ia benar-benar meninggalkan kota.

Tempat yang selama ini hanya ia kenal dari isi novel kini berada tepat di depan matanya.

Meng Lin tidak merasa gugup. Ia hanya memandang jalan di hadapan mereka dengan tenang. Mulai hari ini, kehidupannya sebagai pemuda terpelajar di pedesaan tahun 1974 benar-benar dimulai.

***

Setelah naik gerobak sapi selama dua jam akhirnya mereka tiba di kantor Brigade. Di sana sudah ada beberapa dari tim produksi.

Setelah semua urusan selesai, mereka di lanjut menuju tempat mereka yang sebenarnya. Orang yang menjemput mereka, ternyata kepala Tim mereka sendiri.

"Kita sudah sampai.. Turunlah...!"

Meng Lin dan para pemuda lainnya turun dan mengangkat barang mereka masing-masing. Kepala Tim meminta mereka dan beristirahat lebih dulu.

Meng Lin dan Yan Rao duduk di bawah pohon dengan tubuh yang sangat lelah. Meng Lin membuka botol minum yang sudah diteteskan air spiritual, seketika badannya langsung bertenaga kembali.

"Haa.. Syukurlah, kita benar-benar sudah sampai.!"

"Emm..!" Meng Lin mengangguk lalu memejamkan mata sambil bersandar dibatang pohon.

Beberapa menit berlalu, seorang wanita paruh baya dan wanita muda keluar dengan membawa sarapan untuk mereka. Bakpao isi sayur.

"Ini untuk sarapan kalian.. Pasti sangat lelah di jalan!" katanya sambil meletakan nampan di atas meja.

"Bibi terima kasih..!" kata Yan Rao sambil tersenyum.

"Ya ya.. Makanlah..!" sahut nya sambil melirik Meng Lin yang masih memejamkan mata. Wanita itu adalah istri Kepala Tim. Dia sangat terkejut melihat wajahnya yang sangat cantik.

Semenjak desa menerima pemuda terpelajar, baru kali dia melihat gadis yang sangat cantik. Apakah dia bisa bekerja berat? Mampukah dia berpanas-panasan.? Kasihan sekali. Pikirnya.

Wanita muda yang datang bersamanya juga sangat terkejut. Dia tak menyangka, ada gadis yang begitu cantik rela turun ke Desa.

Meng Lin membuka mata. Dia sudah menyadari tatapan mereka. "Halo Bibi selamat pagi. Terima kasih sarapannya.. Kami baru datang, kedepannya butuh banyak bantuan Bibi!"

"EH iya iya...!" Bibi itu sangat canggung dan gugup. Dia tidak menduga gadis cantik itu mau menyapa nya dengan ramah. Tidak ada tatapan remeh atau jijik yang terlihat.

"Nenek ada apa denganmu..?" Tanya cucunya.

"Tidak apa-apa.. Oh panggil aku Bibi Zu. Aku istri kepala Tim, ini cucuku Zu Mei. Kalau ada apa-apa bisa cari kami.!"

Mereka semua akhirnya berkenalan. Empat lainnya semuanya pria, Salah satu dari mereka adalah pria yang mengajak berkenalan di kantin stasiun.

.

.

.

1
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
Rochmanah Setyowati
ditunggu upnya thor 💪💪💪👍👍👍
Yani
lanjut Thorr
gift ☕ biar semangat 🥰🥰
Fauziah Daud
sehat selalu n lanjut
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat 😍💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n terus sehat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!