NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:175
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Empat Puluh Derajat

"Ini..." Suara Bram berubah dingin. "Ibu kamu, kan?"

Laras memalingkan wajah. "Nggak penting."

"Siapa yang tega mukul kamu?"

"Aku bilang nggak penting."

"Buat aku penting."

Jari Bram tetap berhenti di udara, begitu dekat dari pipinya tanpa menyentuh. Rahangnya mengeras. Laras belum pernah melihat kemarahannya setenang itu.

"Kamu mau apa kalau memang Ibu?" tanyanya. "Datang ke rumah dan menampar balik?"

"Kalau itu bisa menghapus bekasnya, boleh juga."

"Jangan ikut campur."

Bram menurunkan tangan. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya mengambil krim memar dari kantong belanja dan meletakkannya di samping wastafel.

"Kamu mandi dulu. Aku ambilin kompres."

"Aku bisa sendiri."

"Iya. Kamu juga bisa kabur dari rumah tanpa jaket, berdiri kehujanan, dan hampir membeku di jalan. Kemampuanmu luar biasa."

Laras turun dari wastafel. Lantai sempat bergeser di bawah telapak kakinya, tetapi ia cepat berpegangan pada tepi marmer.

Bram menangkap sikunya. "Pusing?"

"Cuma lelah."

"Duduk."

"Jangan menyuruh."

Ia tetap berjalan ke pancuran. Bram mengembuskan napas, mengambil handuk bersih, lalu keluar dan menutup pintu.

Air hangat jatuh ke bahu Laras. Awalnya terasa nyaman. Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai menggigil meski uap memenuhi kaca. Ia mempercepat mandi, mengenakan kaus besar milik Bram dan celana tidur yang dilipat dua kali di pinggang.

Ketika membuka pintu, Bram berdiri sambil membawa kompres dingin dan semangkuk mi berkuah.

"Makan dulu."

"Aku ngantuk."

Ia melewati Bram menuju ranjang. Baru tiga langkah, pandangannya menghitam.

Bram menjatuhkan mangkuk ke meja dan menangkap tubuhnya sebelum lututnya mengenai lantai.

"Laras?"

Telapak tangannya menyentuh dahi Laras. Wajahnya langsung berubah.

"Kamu panas banget."

"Tadi dingin."

"Itu menggigil karena demam."

Bram mengangkatnya ke ranjang, menarik selimut, lalu membongkar kantong minimarket. Tidak ada termometer. Krim memar, kompres, vitamin, semuanya ada kecuali benda yang sekarang paling dibutuhkan.

"Kita ke rumah sakit."

"Nggak."

"Ini bukan negosiasi."

"Kalau aku dibawa ke IGD tengah malam dalam pakaianmu, besok semua orang tahu aku di rumahmu."

"Biar."

"Kamu bisa bilang begitu karena bukan kariermu yang akan ditulis sebagai perempuan selingkuh."

Kalimat itu menghentikan Bram.

Laras memegang lengannya. "Aku baru kabur. Kalau ada foto, Bapak akan menyeretku pulang dan bilang aku nggak waras."

"Kita panggil dokter ke sini."

"Dokter tetap orang luar."

"Terus kamu maunya apa? Mati kepanasan baru tahu rasa?"

"Kasih aku obat biasa."

"Kita bahkan nggak tahu suhumu."

"Apotek buka dua puluh empat jam."

Bram menyisir rambut dengan kedua tangan, frustrasi. "Kamu keras kepala banget."

"Dan kamu bilang rumah ini aman."

"Aman bukan berarti bisa jadi ruang ICU."

Laras mencoba tersenyum. "Berarti cepat pergi sebelum aku benar-benar butuh ICU."

Bram menatapnya lama. Akhirnya ia mengambil ponsel dan menelepon layanan konsultasi medis. Ia menjelaskan gejala, riwayat kehujanan, kesadaran Laras, dan tidak adanya sesak atau kejang. Petugas menyarankan pemeriksaan suhu segera, cairan, obat penurun panas sesuai aturan pakai, serta IGD tanpa menunggu bila Laras sulit dibangunkan, mengalami gangguan napas, kejang, atau kesadarannya menurun.

"Dengar?" kata Bram setelah menutup telepon. "Kalau kondisimu memburuk sedikit saja, aku bawa ke rumah sakit. Mau marah, silakan setelah sembuh."

Laras sudah memejamkan mata. "Iya, Bos."

"Kartu identitas dan asuransimu di mana?"

"Di tas."

Bram mengambil dompet kecil dari tas Laras, meletakkannya bersama masker dan kunci mobil di meja. Ia juga memasukkan pakaian ganti ke tas kanvas.

"Kamu ngapain?"

"Menyiapkan kalau kita harus berangkat. Aku bisa masuk lewat akses privat rumah sakit Bimo. Data pasien tetap dilindungi. Kalau ada yang memotret, aku yang urus."

"Kamu nggak bisa menghapus internet seperti menghapus video."

"Aku tahu." Bram berjongkok di samping ranjang. "Tapi aku juga nggak akan membiarkan kamu pingsan demi menghindari judul gosip. Kita coba obat sesuai arahan. Kalau kesadaranmu turun atau suhunya nggak bergerak, selesai. Nggak ada debat lagi."

Laras membuka mata sedikit. "Kenapa kamu repot?"

Pertanyaan itu membuat Bram diam.

"Karena kamu datang ke aku," jawabnya akhirnya. "Aku nggak akan mengembalikan kamu dalam keadaan lebih buruk."

Kalimatnya terdengar seperti alasan yang sudah dipoles. Namun cara ia memeriksa napas Laras sekali lagi terlalu gugup untuk sebuah kewajiban sederhana.

"Jangan tidur dulu."

"Katanya aku perlu istirahat."

"Minum."

Bram membantu Laras duduk dan menyodorkan air. Ia memastikan perempuan itu menghabiskan setengah gelas, lalu menyelipkan dua bantal di belakang punggungnya.

"Apotek terdekat tujuh kilometer. Delapan kalau jalan depan ditutup. Aku kembali secepatnya."

"Aku nggak akan lari."

"Lucu sekali."

Ia meletakkan ponsel di meja dekat Laras, mengaktifkan panggilan video dari perangkat rumah, lalu mengarahkan kamera ke ranjang.

"Kalau kamu merasa lebih buruk, tekan tombol merah. Aku bisa lihat dari mobil."

"Kamu mau mengawasiku tidur?"

"Aku mau memastikan kamu tetap bernapas."

Pintu kamar menutup. Tak lama kemudian suara mesin mobil terdengar dari garasi.

Laras menarik selimut. Tubuhnya dingin dan panas secara bergantian. Di layar tablet, wajah Bram terlihat kecil di balik kemudi. Ia beberapa kali memanggil namanya untuk memastikan Laras masih menjawab.

Hujan turun lagi saat mobil keluar dari Pondok Indah. Lampu kendaraan menyapu kaca, bergantian menerangi wajah Bram. Ia mengemudi dengan satu tangan dan sesekali memeriksa tampilan kamera rumah di dudukan ponsel.

"Jangan ngebut," gumam Laras.

"Kamu bisa lihat kecepatannya?"

"Dari wajahmu."

Bram mengurangi laju tanpa membantah. "Kalau mau tidur, hitung mundur dari seratus dan jawab setiap aku panggil."

"Seratus. Sembilan puluh sembilan. Sembilan puluh delapan."

Pada angka delapan puluh enam, Laras lupa urutannya.

"Laras?"

"Aku masih dengar."

"Sekarang angka berapa?"

"Seratus lima."

"Kacau. Tapi masih bisa nyebelin, berarti aman sementara."

Suara Bram membuat kamar kosong itu terasa tidak terlalu menakutkan. Laras terus menjawab sampai layar menunjukkan ia memasuki apotek.

"Masih hidup," gumam Laras.

"Jawab yang jelas."

"Masih hidup."

Di apotek, Bram masuk dengan rambut berantakan dan keranjang kosong. Kamera ponselnya mengarah ke langit-langit, tetapi Laras mendengar percakapannya dengan apoteker.

Ia membeli termometer telinga, parasetamol sesuai dosis dewasa, larutan elektrolit, kompres gel, plester memar, serta masker. Ia mengulang aturan pakai dua kali dan menolak obat kombinasi yang kandungannya tumpang tindih.

"Kalau suhunya empat puluh?" Bram bertanya kepada apoteker.

"Segera turunkan dengan obat sesuai dosis dan kompres, Pak. Kalau pasien sulit dibangunkan, sesak, bingung berat, kejang, atau tidak bisa minum, jangan tunggu. Bawa ke IGD."

"Berapa lama saya boleh menilai obatnya bekerja?"

Apoteker menjelaskan batas pemantauan dan jarak aman pemberian berikutnya. Bram mencatat semuanya di ponsel, termasuk jumlah cairan yang perlu dicoba sedikit demi sedikit. Ia juga membeli mangkuk kecil dan beberapa handuk lembut karena tidak mau menggunakan handuk mandi yang kasar pada kulit Laras.

"Jangan beli seluruh apotek," kata Laras dari tablet.

"Diam. Hemat tenaga."

"Kamu beli handuk lagi?"

"Yang di rumah terlalu kasar."

"Kulitku nggak terbuat dari kertas."

"Pipimu sedang bengkak. Jangan protes."

Di perjalanan pulang, Bram menelepon tiga kali meski kamera masih menyala. Pada panggilan ketiga, Laras butuh waktu terlalu lama untuk menjawab. Wajah lelaki itu menegang, dan mobilnya masuk ke garasi dengan rem yang terdengar tajam sampai ke lantai tiga.

Ketika Bram kembali, Laras sudah menggigil begitu keras sampai giginya beradu. Ia mengangkat tubuh Laras, memasukkan termometer ke telinga, dan menunggu bunyi pendek.

Layar menunjukkan 40,0.

Wajah Bram pucat.

"Laras. Buka mata."

Perempuan itu mengerang dan menarik selimut lebih tinggi.

"Hei. Minum obat dulu."

Bram menepuk lembut pipi kirinya. Laras tidak benar-benar bangun. Ia masih menggumam tentang konser, tentang tiket yang kusut, lalu menyebut Bapak dalam suara yang ketakutan.

"Laras. Lihat aku."

Tidak ada jawaban jelas.

Bram mengambil ponsel hendak menghubungi layanan darurat. Sebelum menekan nomor, ia mengguncang bahu Laras sedikit lebih kuat.

"Kalau kamu nggak bangun sekarang, aku bawa kamu ke IGD. Aku nggak peduli siapa yang lihat."

Laras mengernyit tetapi tetap memejamkan mata.

Tablet obat sudah berada di telapak Bram. Air di tangan lainnya. Ia tidak bisa memaksa Laras menelan saat setengah sadar.

"Sial."

Bram meletakkan obat, menopang rahang Laras dengan satu tangan, lalu menunduk. Ciumannya singkat, hangat, dan penuh kepanikan.

Laras bereaksi. Bibirnya bergerak, napasnya tersentak, dan matanya akhirnya terbuka sedikit.

"Bram?"

"Iya. Aku di sini." Tangan lelaki itu gemetar saat membantunya duduk. "Telan obatnya. Setelah itu minum. Pelan-pelan."

Laras memasukkan tablet ke mulut dan meneguk air dari gelas yang ditahan Bram. Ia batuk sekali. Bram langsung menghentikan, menunggu sampai napasnya kembali teratur, lalu memberinya sedikit lagi.

"Bagus," bisiknya. "Satu teguk lagi."

Laras menuruti.

Bram mengusap rambut yang menempel di dahinya. Wajahnya masih tegang, mata tak lepas dari setiap tarikan napas Laras.

"Jangan tidur dulu," katanya. "Lihat aku sebentar."

"Aku capek."

"Aku tahu."

Ia mengganti kompres di dahi Laras, membungkus jemarinya dengan kedua tangan, dan terus berbicara agar Laras tetap merespons. Tentang minimarket. Tentang kasir yang menahan tawa. Tentang kotak kondom yang sekarang tidak berguna karena ia bahkan takut melepaskan tangan Laras.

Ketika kelopak mata Laras kembali turun, Bram mengecupnya sekali lagi.

Kali ini bukan untuk menggoda.

Hanya untuk memastikan Laras membuka mata dan tetap bersamanya sampai pagi benar-benar tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!