Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kukuruyuk.
Suara ayam jantan berkokok memecah keheningan pagi di desa kecil itu.
Sinar matahari perlahan menyusup masuk melalui celah dinding bambu gubuk Arga.
Natasya sudah bangun lebih dulu dari biasanya.
Gadis kecil itu berjalan mengendap-endap menuju dapur dengan langkah tanpa suara.
Matanya terus mengawasi pintu depan untuk memastikan kedua orang tuanya masih sibuk di halaman depan.
Klotak.
Natasya membuka tutup panci tanah liat di atas tungku dengan sangat hati-hati.
Di dalamnya masih ada sisa tiga potong singkong rebus dan sedikit ikan asin dari makan malam semalam.
"Maafkan aku ya, Ibu."
Natasya bergumam pelan sambil mengambil dua potong singkong dan sepotong ikan asin.
Ia segera membungkus makanan sisa itu dengan selembar daun pisang yang sudah mulai layu.
"Gaga pasti sangat kelaparan karena kakinya masih belum sembuh total."
Natasya menyembunyikan bungkusan daun pisang itu di balik baju usangnya yang agak kebesaran.
Gadis itu segera berlari ke halaman belakang lalu menyelinap keluar lewat celah pagar bambu.
Tap.
Tap.
Langkah kaki kecilnya berlari lincah membelah embun pagi menuju batas Hutan Larangan.
Pohon mangga besar tempatnya biasa bermain sudah terlihat jelas di depan mata.
"Gaga, kamu di mana?"
Natasya berbisik pelan saat sudah sampai di dekat semak belukar tempat mereka berpisah kemarin.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok serigala besar itu.
Srasak.
Semak belukar berdaun lebar di depannya bergerak pelan memecah keheningan.
Sosok serigala berbulu abu-abu gelap muncul dari balik bayangan pohon dengan langkah yang masih agak pincang.
"Kamu benar-benar datang lagi, anak manusia."
Gaga duduk di atas rumput basah sambil menatap gadis kecil di depannya dengan tatapan lembut.
"Aku pikir kamu sudah melupakan janjimu kemarin sore."
"Tentu saja aku tidak lupa."
Natasya mengeluarkan bungkusan daun pisang dari balik bajunya dengan senyum yang sangat lebar.
"Namaku Natasya, bukan anak manusia."
"Baiklah, Natasya."
Gaga mendengus pelan namun ekor lebatnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan senang.
"Apa yang kamu bawa di balik daun layu yang bau itu?"
"Ini sarapan pagi untukmu."
Natasya membuka daun pisang itu dan menyodorkannya tepat ke depan moncong Gaga.
"Hanya ada singkong rebus dan ikan asin, tidak ada daging mentah hari ini."
Gaga mengendus makanan itu sejenak dengan hidung hitamnya.
Sebagai serigala buas dari hutan dalam, makanan matang olahan manusia bukanlah kesukaannya.
Namun saat melihat wajah penuh harap dari Natasya, Gaga tidak tega untuk menolaknya.
Nyam.
Gaga melahap singkong rebus dan ikan asin itu dalam satu kali gigitan besar.
"Rasanya sangat aneh di lidahku."
"Tapi kamu menghabiskannya dengan cepat sekali."
Natasya tertawa kecil melihat tingkah serigala raksasa yang lucu itu.
"Berarti masakan ibuku enak, kan?"
"Aku hanya tidak ingin membuang-buang makanan."
Gaga memalingkan wajahnya ke arah pepohonan untuk menyembunyikan rasa gengsinya.
"Terima kasih atas makanannya, Natasya."
"Sama-sama, Gaga."
Natasya berjongkok dan mengelus perban daun lebar yang membalut kaki serigala itu.
"Apa lukamu masih terasa sangat sakit saat dipakai berjalan?"
"Luka kecil seperti ini akan sembuh dalam beberapa hari saja."
Gaga menatap tangan kecil Natasya yang sedang mengelus kakinya dengan nyaman.
"Air liur bangsa serigala bisa menyembuhkan luka luar dengan sangat cepat."
"Syukurlah kalau begitu."
Natasya duduk bersila di atas rumput dan menatap sahabat barunya itu lekat-lekat.
"Nanti kalau lukamu sudah sembuh, kamu jangan ceroboh lagi ya."
"Aku ini serigala buas yang sangat kuat."
Gaga menjawab peringatan itu dengan nada suara yang sedikit sombong.
"Hanya jebakan berkarat yang disembunyikan di tanah itu saja yang kebetulan berhasil menipuku."
"Tetap saja kamu harus lebih berhati-hati."
Natasya menggembungkan kedua pipinya karena kesal melihat kesombongan Gaga.
"Di dalam hutan sana pasti masih banyak jebakan jahat milik pemburu manusia lainnya."
"Kamu tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku."
Gaga menyandarkan tubuh besarnya di dekat Natasya seolah ingin memberikan kehangatan.
"Lebih baik kamu segera pulang sebelum orang tuamu menyadari anak perempuannya hilang."
"Iya, aku akan segera pulang sekarang."
Natasya berdiri dan menepuk-nepuk roknya untuk membersihkan sisa embun dan tanah.
"Besok aku akan usahakan bawakan makanan yang lebih enak untukmu."
"Jangan mencuri makanan terlalu banyak dari dapur rumahmu."
Gaga memperingatkan Natasya dengan nada suara yang kembali menjadi sangat serius.
"Manusia dewasa itu sangat peka kalau urusan persediaan makanan di masa paceklik."
"Aku mengerti, Gaga."
Natasya melambaikan tangan kecilnya dan langsung berlari berbalik menuju rumahnya.
Gaga menatap kepergian teman kecilnya itu dalam diam hingga sosoknya benar-benar menghilang di balik batas pepohonan.
Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa.
Sudah hampir tiga minggu semenjak Natasya pertama kali menolong Gaga di batas Hutan Larangan.
Setiap pagi hari, gadis kecil itu selalu menyempatkan diri untuk menemui sahabat serigalanya secara diam-diam.
Kaki Gaga kini sudah sembuh total dan serigala itu bisa berlari kencang seperti sedia kala.
Namun Gaga tetap setia menunggu kedatangan Natasya setiap pagi di batas hutan tanpa pernah absen.
Hubungan keduanya menjadi sangat dekat dan hangat layaknya dua saudara yang berbeda spesies.
Namun di sisi lain, kondisi di desa justru semakin hari semakin memburuk.
Musim kemarau sepertinya datang jauh lebih awal dari perkiraan semua petani.
Tanah di ladang mulai retak-retak kering dan daun tanaman berubah menjadi kuning layu kekurangan air.
Pagi itu awan mendung berwarna kelabu gelap menggantung sangat rendah di atas langit desa.
Meskipun mendung tebal, udara anehnya terasa sangat panas, pengap, dan menyesakkan dada.
Keluarga kecil Arga sedang sibuk bekerja di ladang milik mereka yang kering dan tandus.