Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Keseruan baru
Hari Rabu minggu ini membawa nuansa yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada wajah-wajah lesu murid yang mengantuk, dan tidak ada beban tumpukan buku pelajaran yang berat. Pasalnya, mulai hari ini, SMA Garuda resmi merayakan perayaan ulang tahun sekolah yang ke-10. Festival tahunan yang penuh dengan panggung hiburan, stan makanan, dan pameran ekstrakurikuler itu akan berlangsung meriah selama tiga hari berturut-turut hingga hari Jumat nanti.
Di kamarnya, Danu terbangun bukan karena paksaan, melainkan oleh dering alarm ponselnya yang menyala tepat pukul enam pagi.
Ia tidak langsung menyingkap selimut. Danu memilih duduk bersandar di kepala ranjang selama beberapa menit, membiarkan nyawanya yang masih berceceran di alam mimpi kembali berkumpul sepenuhnya. Matanya yang setengah terbuka menatap lurus ke arah kalender meja di sudut kamarnya. Tanggal hari ini sudah dilingkari dengan spidol merah tebal, menandakan dimulainya perayaan sekolah.
Senyum tipis perlahan mengembang di wajah Danu. "Haa... aku bener-bener gak sabar lihat apa yang bakal dilakuin ekstra-ku nanti di acara ini," gumamnya pada diri sendiri, membayangkan kesibukan Kak Rizki dan anak-anak ruang musik lainnya.
Setelah nyawanya terkumpul penuh, Danu langsung melompat dari kasur dan melesat ke kamar mandi. Udara pagi yang cukup dingin tak menyurutkan semangatnya. Selesai mandi dan mengenakan seragam rapi, ia menuju dapur kecilnya. Menu sarapan pagi ini sangat sederhana: sepiring nasi hangat dengan lauk telur dadar kecap. Namun, bagi Danu, rasanya seenak hidangan restoran bintang lima karena mood-nya sedang sangat bagus.
Selesai membereskan piring kotornya, Danu meraih tas ranselnya, memakai sepatu, dan melangkah keluar menuju pintu.
Danu berjalan santai menyusuri trotoar menuju sekolah. Pagi ini, matahari bersinar sangat cerah. Ia memejamkan matanya sejenak, membiarkan semilir angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya.
"Haa... udah berapa hari ya, aku gak ngerasain angin pagi sesejuk dan setenang ini?" basa-basi Danu pada dirinya sendiri, menyadari betapa hidupnya yang dulu kelabu kini mulai dipenuhi secercah cahaya.
"Danu!"
Sebuah seruan lantang dari arah depan tiba-tiba memecah lamunan damainya. Danu terperanjat dan langsung membuka mata. Saat ia memfokuskan pandangannya, tampak siluet seseorang yang sangat familier sedang melambaikan tangan di ujung pertigaan jalan. Itu Rio.
Danu mempercepat langkahnya menghampiri sahabatnya itu. "Ohh, Rio. Tak kirain siapa tadi manggil-manggil kenceng banget."
Rio mendengus pelan sambil terkekeh. "Emang lu ngira gue siapa? Rentenir nagih utang? Atau kuntilanak nyasar pagi-pagi?"
Danu tertawa canggung. "Emm... ah, udahlah, gak usah bahas itu. Ayo jalan."
"Hahaha, iya juga, mending kita buruan jalan sebelum gerbang depan rame," balas Rio. Mereka pun mulai berjalan bersisian menyusuri trotoar yang mengarah ke SMA Garuda.
Di tengah perjalanan, Rio melirik Danu dengan senyum jahil. "Btw, dari muka lu yang cerah banget ini, lu pasti lagi gak sabar nungguin tugas dari ekstra kita buat acara ultah sekolah nanti, kan?"
Danu menoleh heran. "Loh, kok lu bisa tau sih?"
"Ya taulah! Muka lu kebaca banget, Dan," jawab Rio santai. Ia lalu menatap lurus ke depan, matanya memancarkan sedikit nostalgia. "Lagian, gue juga ngerasain hal yang sama. Dari dulu gue emang suka banget sama dunia musik."
Mata Danu sedikit melebar, baru mengetahui fakta ini. "Wah, gitu ya? Kalau emang lu suka musik, lu bisa mainin alat musik apa aja, Yo?"
"Hmm..." Rio tampak berpikir sejenak, mengetuk-ngetuk dagunya. "Gue lumayan bisa main piano, sama gitar sih."
Mendengar itu, langkah Danu sedikit melambat. Rasa rendah diri yang sudah lama ia kubur perlahan muncul kembali ke permukaan. Kepalanya tertunduk menatap aspal jalanan. "Keren... ternyata lu punya bakat sehebat itu ya, Yo. Sedangkan aku? Aku nggak punya bakat apa-apa soal musik..." gumam Danu pelan, terdengar sangat murung.
Melihat perubahan drastis dari raut wajah sahabatnya, Rio langsung menghentikan langkahnya. Ia menepuk bahu Danu dengan cukup keras, membuat anak itu mendongak.
"Ayolah, Dan. Jangan mikir gitu," ucap Rio dengan nada yang jauh lebih serius dari biasanya. "Bisa main alat musik itu bukan murni soal bakat turun dari langit. Itu semua hasil kerja kerasku belajar dari nol sampai jari kapalan."
Danu mengerjap, menatap mata Rio. "Iyakah?"
"Iya, serius," angguk Rio meyakinkan. Namun, detik berikutnya, senyum di wajah Rio perlahan memudar. Ia menarik tangannya dari bahu Danu dan memasukkannya ke dalam saku celana. Pandangannya berubah sayu. "Tapi... ya gitulah, Dan. Sekarang gue udah jarang banget, bahkan hampir gak pernah lagi nyentuh dua alat musik itu. Baik piano maupun gitar."
Danu mengernyitkan dahi, rasa penasarannya mengalahkan rasa rendah dirinya. "Loh? Kenapa, Yo? Sayang banget kalau udah bisa malah ditinggalin."
Rio terdiam cukup lama. Rahangnya sedikit mengeras, seolah ada bongkahan masa lalu yang tiba-tiba menyangkut di tenggorokannya. Ia membuang pandangannya ke arah lain.
"Em..." Rio menggantung kalimatnya, tampak ragu. Ia lalu memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat sangat getir. "Maaf, Dan. Buat yang satu ini... gue gabisa ceritain alasannya ke lu sekarang."
Menyadari ada luka atau rahasia yang belum siap dibagikan oleh sahabatnya, Danu tidak memaksa. Ia justru mengangguk paham dan tersenyum hangat.
"Ouh... ya gapapa kok, Yo. Gak usah dipaksain kalau emang belum mau cerita," balas Danu dengan nada menenangkan. "Sebutin aja nanti kalau lu emang udah siap dan mau bagi ceritanya, hehe. Aku siap dengerin kapan pun."
Rio membalas senyuman itu dengan perasaan lega. Langkah mereka pun kembali berlanjut, membawa sedikit misteri baru di balik sosok Rio yang biasanya selalu ceria dan banyak bercanda.
Langkah Danu dan Rio akhirnya tiba di depan gerbang utama SMA Garuda yang sudah mulai ramai oleh siswa-siswi. Kebetulan sekali, tepat di saat mereka hendak melangkah masuk, mereka berpapasan dengan Zahra yang baru saja turun dari sebuah motor matic di seberang jalan. Namun, tumben sekali gadis itu datang dari arah yang berbeda dan tidak berangkat dari rute biasanya.
"Loh, Zahra? Kenapa lu lewat arah sana? Kan arah rumah lu harusnya searah sama jalan kita tadi, ya gak, Dan?" tegur Rio heran sambil menyikut pelan lengan Danu.
Zahra merapikan rambut dan rok seragamnya sebelum berjalan menghampiri mereka. "Iya, emang kenapa?"
"Tumben aja lu gak jalan kaki dari rute biasa," selidik Rio dengan gaya detektif andalannya.
"Ohh, soal itu. Tadi pagi kebetulan aku diajak berangkat bareng sama temen dari kelas lain. Lumayan kan ditawarin tebengan gratis, jadi ya gabisa jalan bareng kalian deh hari ini," jelas Zahra santai sambil mengangkat bahu. "Sesekali nebeng elit dong, masa jalan kaki terus."
"Ohh... pantesan," angguk Rio manggut-manggut. "Btw, hari ini lu ada kesibukan lain gak di jam istirahat atau sepulang sekolah nanti? Bantuin kami berdua persiapan buat acara ultah sekolah di ruang musik, ya."
Zahra tampak berpikir sejenak. "Gaada sih, kosong kok."
"Ok, bagus! Lebih baik lu ikut sibuk bantuin kita daripada lu cuma jadi beban doang di ekstra, padahal kan lu anggota baru," celetuk Rio dengan nada memancing yang sangat menyebalkan.
Zahra langsung berkacak pinggang, menatap Rio dengan tatapan menantang. "Eehh, sembarangan! Emang kenapa kalau aku anggota baru? Asal lu tahu ya, Yo, meski aku anggota baru di ekstra musik, seenggaknya otak gue jauh lebih pintar dari kalian berdua!"
Rio langsung mematung. Matanya membelalak kaget mendengar serangan balasan itu. Zahra memang baru saja membeberkan fakta tak terbantahkan bahwa nilai rapotnya selalu berada di deretan teratas di setiap mata pelajaran, berbanding terbalik dengan nilai Rio yang sering mepet KKM.
"Duh... gila lu, Ra! Curang banget bawa-bawa nilai! Lu ngeluarin ULTI terlalu cepet!" protes Rio tak terima, merasa harga dirinya sebagai gamer hancur karena serangan telak tersebut.
"Hahaha, gaada ceritanya curang! Kan dari awal lu ga nyebutin syarat apa pun buat ngejek gue," balas Zahra puas, tersenyum penuh kemenangan.
Rio mendengus sebal, membuang muka. "Ahh, sudahlah. Malas gue debat sama murid teladan. Otak gue gabisa relate. Mending kita buruan masuk kelas aja, Dan."
Zahra tertawa kecil melihat Rio yang ngambek. "Nah, gitu dong ngalah. Kata orang, cowok yang berani ngalah sama cewek tuh biasanya nanti gampang dapet pacar cewek cantik loh, Yo."
Langkah Rio sedikit terhenti, telinganya memerah meski ia berusaha menyembunyikannya. "Hmm... ga peduli sih gue," gumamnya sok cool, lalu berjalan lebih cepat mendahului Danu dan Zahra yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.
Sesampainya di kelas 10D, suasana sudah mulai kondusif. Mereka bertiga pun duduk di bangku masing-masing dan mulai mengikuti pelajaran dengan khidmat. Konsentrasi mereka terpecah antara materi di papan tulis dan antusiasme menyambut festival sekolah.
Waktu berlalu perlahan. Setelah melewati tiga mata pelajaran berturut-turut yang menguras energi dan pikiran, suara yang paling ditunggu-tunggu akhirnya menggema di seluruh penjuru SMA Garuda. Bel istirahat pertama berbunyi!
"Nah... ini dia yang gue tunggu-tunggu! Mantap!" seru Rio yang langsung melompat dari kursinya dengan penuh semangat. "Gue mau makan siang nih, udah keroncongan banget perut gue dari tadi nahan lapar pas pelajaran Matematika."
"Yuk, ke kantin, Dan!" ajak Rio sambil menarik lengan sahabatnya.
"Siap, ayo!" balas Danu tak kalah semangat.
Mereka berdua berjalan cepat menyusuri koridor menuju kantin, tak lama kemudian disusul oleh Zahra yang berlari kecil di belakang mereka.
Sesampainya di kantin yang sudah disesaki oleh lautan murid kelaparan, ketiganya langsung berpencar untuk memesan makanan masing-masing dan kembali berkumpul di meja kosong di sudut ruangan.
Menu siang itu cukup beragam. Rio, yang kelaparannya sudah di tingkat dewa, memesan seporsi Nasi Padang lengkap dengan rendang dan kuah gulai yang melimpah. Danu memilih menu amannya, yaitu sepiring Nasi Goreng telur mata sapi, sementara Zahra memesan seporsi Nasi Uduk komplit.
Rio menundukkan kepalanya, menghirup dalam-dalam uap panas dari piringnya. "Hmm... gila, enak banget cuy. Belum dimasukin ke mulut aja, lidah gue udah tau rasanya karena baunya harum banget!" puji Rio dengan mata terpejam meresapi aroma rempah Nasi Padang-nya.
Zahra menepuk meja pelan, menyadarkan Rio dari halusinasinya. "Makan dulu yang bener, baru ngobrol, Yo. Nanti keselek bumbu rendang baru tau rasa lu."
"Iye, iye, Bawel," balas Rio sambil menyendok suapan pertamanya yang besar.
Sembari menikmati makan siang yang nikmat itu, obrolan mereka pun mengalir hangat. Mereka sibuk membahas tentang ekstrakurikuler apa saja yang ikut meramaikan festival. Dari desas-desus yang mereka dengar, ekstra teater akan menampilkan drama kolosal, ekstra dance sudah menyiapkan panggung utama, dan ekstra jurnalistik sibuk membuat stand foto. Obrolan itu semakin memacu semangat mereka untuk tidak mau kalah.
Setelah piring-piring mereka bersih tanpa sisa, Danu, Rio, dan Zahra bergegas membereskan nampan dan melesat menuju ruang ekstrakurikuler musik.
Namun, begitu pintu kayu ruang musik didorong terbuka... pemandangan di dalam sana sukses membuat mereka bertiga sweatdrop.
Di sudut ruangan, di atas alas karpet tipis yang berdebu, Kak Rizki sang ketua ekstra justru sedang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka, memeluk sebuah bantal leher bermotif beruang.
Danu melangkah maju dengan ragu, berjongkok di samping seniornya itu. "Kak... Kak Rizki, bangun, Kak," panggil Danu sambil menggoyangkan bahu Kak Rizki pelan.
"Nnggh... ehh?" Kak Rizki tersentak kaget. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mengusap jejak air liur di sudut bibirnya, dan menatap ketiga juniornya dengan wajah bingung. "Ahh, oh... kalian. Udah jam istirahat ya? Ada apa pada ke sini rame-rame?"
Rio langsung berkacak pinggang, menatap ketua ekstranya dengan ekspresi tak percaya. "Loh, kok nanya ada apa sih, Bang?! Kan sekolah kita lagi mau buat acara ultah! Kita ke sini mau bikin planning panggung dulu, Kak!"
Kak Rizki menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa canggung. "Hahaha, iya juga, ya. Maaf, maaf, Kakak tadi lupa dikit. Abisnya, sedari tadi Kakak mikir keras tapi gak nemu ide mau ngapain. Karena pusing, yaudah Kakak ketiduran deh."
Rio menepuk jidatnya. "Ya ampun, untung ketua sendiri. Yaudah, kalau gitu kita bertiga bantu pikirin idenya dari nol," inisiatif Rio mengambil alih kendali.
Mata Kak Rizki langsung berbinar terang. "Seriusan kalian mau bantu?!"
"Iya, Kak," setuju Rio mantap, didukung oleh anggukan Danu dan Zahra.
"Ok, bagus banget! Ayo kita mulai!" seru Kak Rizki kembali bersemangat.
Keempat anggota ekstra musik itu pun akhirnya duduk lesehan melingkar di atas lantai keramik yang dingin. Di tengah-tengah mereka, terdapat sebuah buku catatan kosong. Diskusi serius (namun diselingi tawa dan perdebatan) pun dimulai.
Mereka mulai memeras otak menyusun rencana besar untuk penampilan perdana mereka. Mulai dari memilih judul lagu yang pas untuk festival, menentukan genre musik yang ingin dibawakan agar tidak membosankan, hingga diskusi panjang mengenai pembagian alat musik yang akan dipegang oleh masing-masing anggota.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah ekstra musik yang hampir mati itu, ruangan tersebut dipenuhi oleh semangat yang membara, menyusun sebuah harmoni yang siap menggebrak panggung SMA Garuda.