Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Melodi yang Tak Pernah Hilang
Jantungnya berdebar kencang begitu menekan tombol putar. Di layar, musik bergema kuat, penuh tenaga yang meledak-ledak. Di antara irama perkusi serta petikan gitar para musisi legendaris itu, terdengar satu alunan yang berbeda — lebih lembut, namun tajam, menyatu sempurna tanpa kehilangan jati dirinya. Laudys tampil hanya dengan menampilkan kedua tangannya yang bergerak lincah di atas senar gitar; wajahnya tetap tak terlihat, tetapi di pergelangan dan punggung tangan kanannya, terlihat jelas tato yang indah dan rumit, menjalar naik hingga ke lengan.
Vano menatap terpaku. Ia teringat betul momen pertama kali menonton video ini, tepat setahun yang lalu, di apartemennya yang sunyi. Saat itu, begitu melihat tangan bertato itu bergerak begitu luwes, begitu penuh jiwa, ia terkesima, begitu tak percaya pada keindahan permainannya, hingga tanpa sadar mencengkeram tepi meja begitu kuat. Dalam kegelisahan yang bercampur kekaguman yang tak terlukiskan, ia menabrak laptopnya sendiri hingga jatuh ke lantai. Alat itu rusak, namun ia tak peduli. Ia segera membelinya kembali, hanya agar bisa menontonnya lagi, dan lagi, dan lagi.
Kini, satu tahun berlalu, dan pemandangan yang sama kembali membuatnya terpaku. Tangan itu — tato itu… seakan pernah dilihatnya. Di mana? Kapan? Ia tak bisa mengingatnya. Namun setiap kali melihatnya, dadanya dipenuhi rasa rindu yang tak masuk akal, pada seseorang yang tak pernah ia temui, yang tak pernah ia lihat wajahnya.
"Siapa kau…" bisiknya pelan, suaranya bergema lembut di ruangan sunyi itu.
"Mengapa kau membuatku merasa begini?"
Di layar, musik berakhir dengan nada panjang yang perlahan memudar. Vano tetap duduk diam, menatap layar yang perlahan meredup, tanpa tahu bahwa tangan bertato yang begitu ia kagumi itu adalah tangan yang sama yang baru saja ia sapa di halaman depan gedung tadi pagi.
...****************...
Angin pagi yang sejuk menyapa wajah Meloudy saat ia turun dari angkutan umum, melangkah masuk ke halaman rumah sakit yang tampak tenang, namun penuh kesibukan tak terhenti. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat — setiap langkah mendekat ke ruang perawatan terasa seperti perjalanan pulang ke tempat yang paling ia rindukan sekaligus paling ia takuti.
Ia memeriksa kembali bungkusan di tangannya: makanan kesukaan ibunya, dibeli dengan uang yang kini terasa begitu berharga, begitu hangat pemberiannya.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia menarik napas dalam-dalam, merapikan pakaiannya, menyunggingkan senyum paling tulus yang ia miliki, lalu mendorong pintu perlahan.
"Ibu…"
Di atas tempat tidur yang bersih itu, terbaring sosok yang melahirkannya — wajahnya pucat, rambutnya memutih lebih cepat dari yang seharusnya, namun matanya, begitu mendengar suara itu, seketika menyala lembut.
"Meloudy…" suara wanita itu lemah, namun tersenyum lebar, berusaha mengangkat tangan.
"Anakku datang."
Meloudy berlari mendekat, segera menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin, mencium punggung tangan itu berulang kali dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Aku datang. Hari ini aku di sini seharian penuh," ucapnya pelan, menahan getar di tenggorokan.
"Libur kerja, jadi aku bisa menemani Ibu sepuasnya."
Ibunya tersenyum, mengusap pipi putrinya perlahan.
"Maafkan Ibu… sering merepotkanmu. Kamu terlihat lelah, Nak."
"Tidak pernah merepotkan, Bu," jawab Meloudy cepat, menatap mata itu dalam-dalam.
"Jangan pernah bilang begitu. Aku senang di sini. Di samping Ibu adalah tempat paling tenang bagiku."
Ia meletakkan bungkusan di meja kecil, lalu duduk di tepi tempat tidur, menceritakan segalanya — tentang pekerjaan, tentang rekan kerjanya, tentang atasan yang tiba-tiba begitu baik pagi tadi, tentang rencana-rencana kecil yang ia simpan di hati. Ia tak bercerita tentang kesulitan, tentang utang, tentang rasa takut yang sesekali menyelinap di tengah malam. Ia hanya berbagi hal-hal yang bisa membuat ibunya tersenyum.
Ibunya mendengarkan sambil menatapnya lekat-lekat, seakan ingin menyimpan setiap kata, setiap senyum, setiap garis wajah putrinya ke dalam ingatannya.
"Kamu tumbuh menjadi wanita yang kuat, Meloudy,» ucapnya pelan, sesekali terhenti menarik napas.
"Ibu bangga padamu. Lebih dari apa pun."
Meloudy menunduk, meneteskan air mata yang tak bisa lagi ditahan, lalu menyandarkan kepalanya di samping bantal ibunya.
"Aku berusaha, Bu. Aku berusaha sekuat tenaga. Tapi… aku takut kehilangan Ibu."
Tangan ibunya mengusap rambutnya lembut.
"Kau tak akan kehilangan aku. Bagian dari Ibu ada di dalam dirimu. Selamanya."
Meloudy mendekat, memeluk ibunya erat-erat, hati-hati, seakan takut jika dilepaskan, sosok itu akan perlahan lenyap. Pelukannya penuh rindu yang menumpuk berhari-hari, penuh doa yang tak pernah putus, penuh rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk berada di sini, saat ini.
"Aku sayang Ibu…" bisiknya, suaranya terbenam di selimut.
"Sangat sayang."
"Aku juga, anakku sayang…" jawab ibunya lembut, mencium ubun-ubun putrinya.
"Selalu sayang. Selamanya."
Meloudy duduk mendekat, menyusun bantal di belakang punggung ibunya agar lebih nyaman, lalu tersenyum lembut saat wanita itu menatapnya penuh kasih. Tangannya masih menggenggam erat tangan ibunya yang terasa dingin di balik selimut.
"Ibu… tadi pagi di depan kantor, aku berpapasan langsung dengan Tuan Vano," ucapnya pelan, matanya menatap jari-jari yang saling bertautan.
Ibunya mengerjap pelan, tampak terkejut.
"Pemilik perusahaan tempatmu bekerja itu? Pria yang setiap hari kau layani dengan begitu rajin?"
Meloudy mengangguk.
"Iya, Bu. Beliau bertanya ke mana aku pergi… lalu aku bilang, aku mau menjenguk Ibu di sini." Ia terdiam sejenak, merasakan kembali kehangatan saat itu.
"Lalu… beliau menyodorkan sejumlah uang. Katanya untuk kebutuhan Ibu, untuk biaya perjalanan, jangan ditolak."
Mata ibunya melebar, tak percaya.
"Benarkah? Padahal beliau tak kenal kita, Nak."
"Itulah yang aku pikirkan juga, Bu," bisik Meloudy, suaranya bergetar halus.
"Aku menolak awalnya. Aku bilang aku tidak bisa menerima. Tapi beliau berkata..."
"Ambil saja, anggap saja bantuan dari kantor. Pulanglah dengan tenang, jangan pikirkan pekerjaan hari ini." Ia menatap ibunya, matanya berkaca-kaca.
"Beliau terlihat tegas, Bu… tetapi tatapannya begitu tulus. Seakan beliau sungguh ingin membantu, bukan sekadar memberi amal."
Ibunya mengusap punggung tangan putrinya perlahan, senyum tipis merekah di wajahnya yang pucat.
"Berarti Tuhan mengirimkan pertolongan lewat dirinya, Meloudy. Jangan menolak berkah yang datang dengan tulus."
"Tapi aku takut, Bu… takut tidak bisa membalas kebaikan sebesar ini," akunya pelan, menunduk.
Ibunya mengangkat tangan, menyentuh pipi putrinya lembut.
"Kau membalasnya dengan kerja kerasmu, dengan kejujuranmu, dengan ketulusan hatimu. Itu sudah cukup. Tidak semua hal di dunia ini harus dibalas dengan materi, Nak. Kadang cukup dengan doa: semoga Tuhan memberkati orang yang berhati baik itu."
Meloudy mengangguk pelan, air mata menetes perlahan di pipinya.
"Iya, Bu. Aku akan berdoa untuknya. Setiap hari." Ia mengusap sudut matanya, tersenyum kembali.
"Dan beliau berkata… semoga Ibu lekas sembuh, semoga Ibu kuat."
^^^Bersambung...^^^