Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Pawang Burung Langka
Rasa penasaran mendorong Naya mengetuk salah satu tautan artikel hangat yang dibagikan puluhan ribu kali itu. Semakin matanya menyusuri baris demi baris tulisan dan komentar netizen, semakin lebar kedua matanya membelalak. Raut wajahnya yang semula tenang mendadak memucat.
Artikel tersebut secara gamblang membahas rumor panas mengenai kehidupan pribadi sang penerus Dirgantara Group.
Dituliskan di sana bahwa alasan Arka selalu tertutup dari media, dingin terhadap wanita, dan tak pernah terlihat menjalin hubungan serius adalah karena ia mengidap disfungsi ereksi.
Bahkan beberapa utas spekulasi menyebutkan bahwa Arka sebenarnya memiliki ketertarikan pada sesama jenis.
Naya menahan napas. Tangannya yang memegang ponsel seketika gemetar tipis.
Napasnya tertahan, bola matanya bergerak cepat membaca klaim-klaim liar yang disertai 'analisis' anonim dari para netizen.
Pikiran Naya langsung berkecamuk. Ia melirik samar ke arah Arka yang duduk tepat di sampingnya. Pria itu tampak begitu tenang, fokus menatap layar laptopnya sembari mengetik balasan email kantor, seolah tidak terjadi apa-apa di dunia luar.
“Naya?"
Suara berat Arka yang tiba-tiba memecah keheningan membuat Naya terlonjak kaget.
Ponsel Naya terlepas dan jatuh tepat di atas pangkuannya dengan layar yang masih menyala terang.
Arka menoleh halus, menghentikan ketikan jarinya di atas keyboard laptop. Alisnya bertaut tipis mendapati raut wajah istrinya yang mendadak pucat pasi dengan gurat kecemasan yang teramat jelas.
“Ada apa?” tanya Arka datar, namun tatapan matanya mengintip ke arah layar ponsel yang masih menampilkan judul artikel bernada provokatif tersebut dengan cetakan huruf tebal.
'Punya Istri Cantik Cuma Tameng? CEO Dirgantara Group Diduga Penggemar Sesama Jenis & Idap Kelainan!'
Arka terdiam sejenak. Tatapan matanya yang tajam sempat terpaku pada kalimat provokatif di layar ponsel Naya, namun tidak ada riak kemarahan atau letupan emosi di wajah tampan itu. Rahangnya tetap rileks, dan napasnya teratur.
Ia kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengalihkan pandangan dari ponsel lalu menatap lurus ke dalam mata Naya yang masih dipenuhi kepanikan.
“Kamu percaya tulisan itu?” tanya Arka tenang. Suaranya terdengar begitu datar dan stabil, seolah artikel yang baru saja menuduhnya dengan rumor paling liar se-Indonesia itu hanyalah laporan cuaca mingguan.
Naya mematung. Kata-kata Arka menggantung di udara, bertengger berat di antara raung halus mesin mobil yang melaju membelah kemacetan pagi menuju kantor pusat Dirgantara Group.
Sebelum Naya sempat menyusun kalimat untuk menjawab, atau sekadar menguasai detak jantungnya yang bertempo liar, sebuah suara santai tiba-tiba menyela dari kursi kemudi.
Doni, yang sedang menyetir sembari melirik spion tengah, meloloskan tawa terkekeh.
“Ya jelas percayalah, Ka! Orang analisisnya ‘mendasar’ banget gitu,” cetus Doni dengan nada bercanda, sengaja memasang raut wajah dramatis di kaca spion.
“Lagian siapa juga yang nggak curiga? Punya wajah mirip aktor, uang nggak berseri, tapi bertahun-tahun anteng banget jomblo kayak pangeran es. Ya wajar dong netizen bikin teori konspirasi sampai ke planet Mars!”
Naya menahan napas, matanya membelalak pelan mendengar keberanian Doni memotong pembicaraan panas tersebut.
Namun, Doni justru makin menjadi-jadi. Ia memindahkan satu tangannya ke lingkar kemudi bawah, memicu kemudi dengan santai saat mobil berhenti di lampu merah.
“Tenang aja, Nay. Kalau artikel itu bener, harusnya yang paling panik itu para direksi saham di kantor nanti, bukan kamu,” lanjut Doni terkekeh sembari melirik Naya dari spion.
“Lagian... kalau Arka beneran kelainan atau demen cowok, kayaknya dari dulu aku yang udah dilamar sama dia, bukannya kamu. Tapi nyatanya? Selera dia tetap cewek cantik, buktinya kamu yang duduk di sebelah dia sekarang.”
Arka hanya menghela napas panjang dan mendengkus pelan. Ketegangan yang tadinya membekukan atmosfer di dalam kabin mobil mewah itu seketika mencair akibat celotehan tanpa beban dari sekretaris pribadinya tersebut.
Kemudi mobil kembali bergerak pelan saat lampu lalu lintas berganti hijau. Doni menyunggingkan cengiran tanpa dosa dari balik kaca spion tengah, sama sekali tidak merasa bersalah setelah melemparkan gurauan ekstrem di tengah situasi memanas.
“Lagian ya, Nay, logika netizen itu kadang makin ngawur,” sambung Doni santai, memutar lingkar kemudi membelah belokan menuju kawasan perkantoran.
“Masalah 'burung' Arka masih bisa berdiri tegak atau tidak, ya cuma kamu yang punya hak akses buat verifikasi langsung. Tapi kalau mau jaminan dari aku sebagai asisten pribadi yang nemenin dia dari zaman kuliah... aset bosmu itu seratus persen normal, sehat walafiat, dan berfungsi sangat optimal.”
“Doni,” tegur Arka dingin. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung penekanan tajam yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
Doni hanya menyengir lebar, sama sekali tak gentar meski teguran dingin Arka barusan sanggup membekukan seisi kabin. Ia menyempatkan diri melirik Naya yang wajahnya kini sudah merah padam melebihi warna lampu lalu lintas yang baru saja mereka lewati.
“Aduh, galak amat, Bos,” kekeh Doni santai, memutar kemudi memasuki area pelataran parkir khusus eksekutif Gedung Dirgantara Group.
“Aku cuma ngomong berdasarkan fakta historis, Nay. Intinya gini... 'burung' Arka itu bukan tidak bisa berfungsi atau salah target. Dia cuma tipe burung langka yang tidak bakal sembarangan terbang keluar dari sangkarnya. Dia itu butuh pawang yang tepat. Dan berhubung sekarang pawangnya udah jelas kamu, tinggal ditunggu aja kapan burungnya disuruh lepas landas.”
“Doni, tutup mulutmu atau surat pemecatanmu selesai sebelum kita sampai di lobi,” potong Arka dengan suara amat tenang, namun tatapan matanya di kaca spion tengah benar-benar memancar ancaman mutlak.
Doni langsung mengangkat satu tangannya dengan pose menyerah, meski tawa kecil masih lolos dari bibirnya.
“Ampun, Bos! Siap, kuncinya ditelan sekarang.”
Sementara itu, Naya rasanya ingin menghilang ditelan bumi detik itu juga. Wajahnya yang semula pucat karena panik kini berubah panas luar biasa. Kepalanya menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk mematikan layar ponsel di pangkuannya, padahal jarinya gemetar karena menahan rasa malu yang meluap-luap akibat kelakuan Doni.
Di sebelahnya, Arka kembali menghela napas panjang. Pria itu menutup laptopnya dengan dentuman halus, lalu mengulurkan tangan. Tanpa bersuara, jari-jari Arka yang panjang dan hangat terulur meraih ponsel Naya dari pangkuan wanita itu, lalu mematikan layarnya secara total dan menyimpannya di saku jasnya sendiri.
Genggaman jemari Arka kemudian beralih, mengusap pelan punggung tangan Naya yang masih terasa dingin.
“Jangan dipikirkan,” ucap Arka pelan, kali ini suaranya melunak penuh ketenangan, tepat saat mobil berhenti sempurna di area parkir VVIP.
Arka menatap mata Naya dengan lekat, tak ada sedikit pun keraguan di sana. “Tugas kamu cuma duduk manis dan mendampingi saya. Sisa sampah di internet itu... biarkan tim saya yang bersihkan pagi ini.”
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak