NovelToon NovelToon
MALAIKAT KECIL PAPA DAN MAMA

MALAIKAT KECIL PAPA DAN MAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: odee_eeeee15

Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).

​Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".

​Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan malam dan rindu

Malam semakin larut. Suara jangkrik di halaman samping toko bakery terdengar bersahut-sahutan, menciptakan ketenangan yang menyejukkan di dalam rumah.

Di atas kasur empuk berukuran besar, Arka berbaring miring menyangga kepalanya dengan satu tangan. Di hadapannya, Aira duduk bersila memeluk buku cerita bergambar alfabet.

Lampu tidur berwarna kuning hangat memancarkan pendar lembut, menerangi wajah bulat balita itu yang tampak sangat serius memperhatikan petunjuk jari besar papanya.

"Ini huruf apa, Sayang?" tanya Arka lembut, suaranya yang berat diusahakan selincah mungkin agar Aira tidak bosan.

Aira memiringkan kepalanya, matanya memicing menatap huruf meliuk di atas kertas. "Ini... huyuf (huruf) B! B buat Babi... eh, Babi ndak boleh! B buat Bolu cokelat buatan Mama!"

Arka terkekeh rendah, jemarinya mengusap lembut puncak kepala putrinya. "Pintar. Kalau yang sebelahnya ini?"

"Huyuf (Huruf) A! A buat Aila (Aira) anak cantik Papa!" sahut Aira percaya diri, memamerkan deretan gigi susunya yang kecil dan rapi.

Nala yang baru saja selesai mengoleskan krim malam di depan meja rias menoleh. Senyum manis terukir di bibirnya memperhatikan interaksi telaten Arka.

Pria yang biasanya berhadapan dengan perhitungan kalkulasi beban pilar baja dan kerumitan struktur offshore itu kini begitu sabar menuntun jemari mungil Aira mengeja huruf demi huruf.

Tak butuh waktu lama, kantuk mulai menyerang balita tiga tahun itu. Kelopak mata Aira yang bulat perlahan melambat, berkedip-kedip pasrah hingga akhirnya buku cerita di pangkuannya terkulai pelan.

Balita itu menguap lebar, merangkak sedikit mendekat ke dada Arka, lalu menyandarkan pipi bakpaonya di sana.

"Papa... Aila (Aira) mau bubuk (tidur) sambil diusap kepalanya..." cicit Aira dengan suara yang makin melemah dan pelan.

"Iya, Sayang. Tidur yang nyenyak ya, Malaikat kecilnya Papa," bisik Arka hangat. Tangannya yang besar membelai lembut rambut halus Aira sampai napas balita itu terdengar teratur dan terlelap sepenuhnya.

Agar suasana malam mereka tidak terganggu, Arka dengan perlahan dan hati-hati mengangkat tubuh mungil Aira.

Pria tegap itu melangkah keluar kamar menuju kamar sebelah—kamar khusus Aira berdekorasi serba merah muda yang terhubung langsung melalui pintu penghubung (connecting door). Arka merebahkan Aira di atas tempat tidurnya yang nyaman, menyelimutinya hingga dada, lalu mengecup dahinya lembut sebelum mengunci rapat pintu penghubung tersebut.

Ketika Arka kembali ke kamar utama, pandangannya langsung terkunci pada sosok Nala.

Istrinya sedang berdiri di samping peraduan mereka, mengenakan piyama sutra tipis berwarna merah marun. Suasana kamar yang redup dan sepi tanpa Aira mendadak mengubah atmosfer di antara mereka menjadi begitu intens dan intim. Tidak ada lagi halangan, hanya ada kehangatan dua insan yang saling merindukan.

Arka melangkah mendekat tanpa suara. Aura dominan pria tegap itu membuat dada Nala berdesir hebat.

"Aira sudah nyenyak di kamarnya?" bisik Nala pelan, suaranya terdengar bergetar.

"Sudah... benar-benar nyenyak," jawab Arka rapat. Suaranya berubah sangat serak dan dalam.

Tanpa mengulur waktu lagi, Arka merengkuh pinggang ramping Nala. Lingkaran tangannya yang kokoh menarik tubuh istrinya merapat tanpa jarak sedikit pun. Nala bisa merasakan detak jantung Arka yang bergemuruh kencang di balik dada bidangnya.

Jari-jemari Arka yang agak kasar menyusup ke sela-sela rambut panjang Nala, menengadahkan wajah istrinya. Pria 33 tahun itu menatap dalam-dalam bola mata cokelat Nala yang berbinar pasrah.

"Kamu tahu berapa lama Mas menahan ini, Nala?" bisik Arka di depan bibir Nala, napas panasnya berembus membakar kulit. "beberapa tahun di tengah laut lepas, cuma bayangan kamu yang bikin Mas bertahan. Mas rindu... rindu setengah mati sama kamu, Sayang."

"Mas..." desah Nala halus, napasnya tercekat saat Arka langsung membungkam bibirnya.

Kecupan awal yang hangat dan penuh rasa syukur itu dengan cepat berubah menjadi pagutan yang dalam, panas, dan menuntut.

Arka menyapu bibir lembut istrinya dengan kelaparan yang ditahannya bertahun-tahun. Nala merintih pelan di dalam pagutan itu, kedua lengannya terangkat melingkari leher kokoh suaminya, membalas setiap sentuhan Arka dengan kepasrahan penuh.

"Ah... Mas Arka..." bisik Nala terengah-engah begitu Arka memindahkan bintik-bintik kecupannya turun menyusuri rahang hingga ke leher jenjangnya.

Sentuhan tangan besar Arka yang membelai lekuk tubuhnya membuat sensasi sengatan manis merambat ke seluruh tubuh Nala. Arka mengangkat tubuh Nala dalam satu gerakan mudah, membawanya ke atas tempat tidur empuk mereka, lalu menindihnya dengan kelembutan yang sangat protektif.

"Mas... pelan-pelan..." bisik Nala mengusap pipi tegas suaminya yang hangat.

"Mas enggak bisa pelan-pelan lagi, sayang... Kamu terlalu indah," gumam Arka berat di ceruk leher Nala, mengecup titik-titik sensitif di sana hingga membuat Nala memekik pelan dalam desahan kenikmatan.

"Ah... Mas... hah..." Nala mencengkeram bahu tegap Arka saat suaminya memberikan penyatuan cinta yang utuh dan hangat. Rasa rindu yang menumpuk selama ribuan hari seolah lebur dalam setiap irama penyatuan mereka.

Di bawah pendar lampu tidur yang remang-remang, kamar utama itu menjadi saksi bisu dari puncak kenikmatan, kehangatan desah napas yang bersatu, dan gelombang gairah ikatan suami istri yang sah. Arka menumpahkan seluruh jiwa dan cintanya, sementara Nala menyambut suaminya dengan kepasrahan paling manis hingga keduanya mencapai puncak kebahagiaan bersama dalam dekapan yang begitu erat.

1
Irmaputri
aku kira nggak bakalan up kak ,hari ini 😭😭😭
Irmaputri
lanjut kak😭
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
Afifah
hahaha lucu kak, aku suka 😭❤️❤️
Irmaputri
😭😭😭lucu banget🤭
Irmaputri
😭😭😭ngaka
Irmaputri
pusing tiap hari ortunya Aira ,hadapin tingkahnya 😭😭
Irmaputri
Aira ceplas ceplos mulutnya 😭😭
Irmaputri
🤣🤣Aira gen alpha ya 😭😭
syora
kuarga yang wow ambyarrrr 🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
ceritanya bagus, lucu dan bikin gemes...😍
Luffytaro
ceritanya lucu 😍😍
Laila Jalil
ceritanya lucu😍😍
Laila Jalil
Aira lucu banget 😭🤣
Laila Jalil
hahahh🤣🤣😭
mau di bilang benar tapi nggak benar juga
Laila Jalil
hahaha lucu🤣
Nur Atika Hendarto
suka sangat ceritanya 😍😍tidak berat jalan alurnya
Nur Atika Hendarto
suka banget cerita nya tak terlalu berat tapi lucu😍😍😍
Brooklyn: terimakasih atas ulasannya 🫶😊
total 1 replies
Irmaputri
ceritanya lucu
Brooklyn: terimakasih atas ulasannya 🫶😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!