Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"Kok malah bengong? Beneran kaget hihihi..." suara tawa Vivian terdengar renyah. Manis. Suara yang dulu pernah diam-diam Al rekam di ponselnya dan disimpan untuknya sendiri.
"Kok..."
"Sengaja aku minta rahasiain dari panitia kalau guest starnya kita berdua! Aku kangen satu panggung lagi!" ucap Vivian tersenyum dan menggandeng lengan Al. Al tidak menolak, tidak juga meng-iyakan. Dia hanya... diam.
"Kalian apa kabar? Ayo masuk sini! Kita briefing bareng panitia!" panggil Vivian.
"Rin! Panitia ngumpul dulu di ruang rapat!" suara Tyo di koridor membuat semua wajah berpaling dari Vivian ke arah depan pintu ruangan T&T yang terbuka.
"Rin..." bisik Bima dan Al bersamaan.
Rin tersenyum. Kayak sedang melayani pelangan di Roemah Roti. Ramah khas pedagang.
"Maaf ya kak, cuma lewat. Temen gue nge-fans banget sama T&T. Tapi kayaknya lagi reunian ya? Nanti kami ke sini lagi boleh?" tanya Rin sopan. Ara menatap Rin, sedikit kesal tapi ketutup karena dia masih memakai kacamata hitamnya dan topi hoodie-nya.
"Masuk Rin?" tawar Bima.
"Kami ada rapat dulu kak, lanjut dulu... Permisi!" ucap Rin mengangguk pergi. Sekali lagi Rin melirik ke tangan Vivian yang masih menempel di lengan Al. Rin menghindari tatapan Al. Dia melihat Al digandeng diam aja.
"Makasih ya Tyo!" ucap Rin kelewat ramah. Bahkan Ara merasa Rin lebay. Dia membuat gesture seolah ingin muntah saat Rin bilang makasih ke Tyo.
Rin ke ruang rapat, briefing terakhir sebelum mereka membuka acara khusus malam puncak. Lagi-lagi Rin banyak diam.
"Nggak nyangka ya mereka sepanggung lagi! Ini sih beneran reunian!" Rin melihat ke sampingnya. Dua panitia lain bergosip ditengah rapat.
"Iya, gue kira siapa secret guest-nya. Rupanya pacar Al. Gue masih fan follow fan base AlVian! Gue seneng kalo mereka bisa sepanggung lagi!" bisik temannya.
"Pantesan rapat kemarin bilangnya Reunion Stage! Gue nggak nyangka! Tadi gue ketemu Vivian di depan. Cantik banget! Pantesan Al bisa manut, nggak galak lagi. Pasti di panggung kali ini bisa interaksi dengan Al!" bisik temannya lagi.
Kepala Rin rasanya berputar...
Panggung
Reuni
Vivian
Al nggak galak.
Rin memegang kepalanya. Lalu mengabaikan kehebohan gosip di sebelahnya. Setelah briefing selesai, mereka semua keluar. Kecuali Rin. Rin masih bengong di dalam ruang rapat.
Seseorang membuka pintu, masuk dan duduk di samping Rin.
"Kak..."
"Jonas? Ngapain ke sini? Ada yang dibutuhkan untuk T&T?" tanya Rin. Dia melihat ke sekelilingnya, sepi hanya ada dia dan Jonas.
"Lo marah kak?"
"Nggak!" jawab Rin. Tenggorokannya sakit, jadi dia tersenyum, senyum yang dipaksakan "Lo kenapa kesini? Butuh sesuatu?" Rin bertanya.
"Soal di ruang..."
"Kalau nggak ada apa-apa, gue ke depan dulu ya..." Rin memotong pembicaraan Jonas. Rin berlari keluar ruangan.
Rin berputar ke sisi lain kampus agar tak melewati bagian belakang panggung. Dia mencari Ara yang sedang berdiri duduk di kantin belakang kampus. Tempat yang sepi. Itu yang dibutuhkan Rin saat ini.
"Gimana?" tanya Ara mengunyah kacang goreng.
"Nyesek Ra! gue bego! Gue terlalu berharap! Gue terlalu seneng dengan perlakuannya. Tapi... Tapi gue lupa. Orang secakep dia, seterkenal dia, sekeren dia pasti dikelilingi orang-orang yang pantes. Yang cakep! Yang setara! Yang punya kesukaan yang sama!" Rin berkata sambil menunduk. Ara merangkul Rin dari ramping. Rin menyandarkan kepalanya di bahu Ara.
Sementara itu di belakang panggung, sepeninggal Rin Al terbangun dari kagetnya.
"Yo kita briefing bareng panitia dan ngatur timing di panggung nanti!" Vivian masih menggandeng lengan Al.
Al menyadari hal itu, dia menggeser lengannya dan melepas tangan Vivian.
"Gue ambil stik dulu," Al memberi kode ke member lain. Bima menepuk bahu Al dua kali sebelum mereka semua masuk.
"Jangan lama. Kita mau briefing reunion bentar lagi," ucapnya. Al semakin muak mendengarnya dan bergegas keluar.
Al ke panggung sambil memakai hoodie dan kacamatanya, pura-pura melihat kabel. Tapi ekor matanya mencari-cari Rin di gerombolan mahasiswa. Nggak ada. Di sepanjang stand bazar juga nggak ada. Al mulai sedikit panik, kemana dia harus mencari Rin.
Al turun lagi ke belakang panggung. Dan dilihatnya Tyo berjalan sambil memeriksa kertas di tangannya.
"Lo liat Rin?" tanya Al. Tyo melirik kiri kanan, takut bukan dirinya yang diajak ngobrol.
"Tadi lihat dia dikantin belakang. Sama temennya berdua!" jawab Tyo.
Al langsung berlari. Dengan temennya. Berdua. Pikiran Al kemana-mana pasti temannya yang itu. Yang pake hoodie? Yang tadi disuapin? Sial... Al harus cepat kesana.
Al berlari mengitari gedung dan di sana dia melihat rambut berekor kuda yang sudah sangat dikenali. Sedang dirangkul oleh...temannya!
Dengan perasaan terbakar cemburu Al mendekat dan menarik tangan teman Rin.
"Lo apa-apan sih!"
Ara dan Rin berbalik melihat Al berdiri ngos-ngosan dengan wajah memerah. Di belakangnya ketiga member juga mengikuti Al dari belakang diam-diam.
"Lo yang apa-apaan! Lo cowok brengsek!" Ara membuka kacamatanya dan mendorong bahu Al. Hoodie-nya diturunkan dan terlihatlah rambut Ara yang sebahu sedikit berantakan.
"Loh? Cewek?" ucap Arza.
Al melongo. Tadinya dia mau bikin perhitungan dengan cowok yang ternyata adalah cewek. Dan nggak siap kalau teman Rin akan mendorongnya. Al mundur beberapa langkah dan meringis menunduk.
"Al...!" pekik Rin saat melihat Al belum juga berdiri. Rin membantu Al dan mendudukkannya di kursi.
"Lo dari mana? Kenapa bisa gini?" Rin panik melihat lutut Al terluka lebar. Semua member yang tadinya sembunyi sekarang mengerubungi Al.
"Drama banget!" bisik Ara.
"Bawa ke ruang kesehatan!" ucap Rin.
"Ke ruang T&T aja," ucap Bima, dia menelpon bagian managemen dan memanggil mobil yang tadi membawa semua member T&T. Mas Reza yang datang panik melihat membernya terluka sebelum tampil. Semua member masuk ke mobil dan mereka pulang.
Rin menarik napasnya dan mengajak Ara keluar. Untung kejadian tadi tak banyak yang tahu. Semua masalah dan kejadian tadi sudah dibereskan oleh mas Reza.
Rin kepikiran soal lutut Al.
"Halo? Al gimana? Gue kesana! Gue harus liat lukanya!" Vivian lewat sambil menelepon. Rin memperhatikan sampai Vivian berjalan jauh.
"Rin?" Ara menggoyangkan lengan Rin.
"Gue nggak apa-apa," ucap Rin sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Dia cuma masa lalu Rin," bisik Ara.
"Gue tau... Gue cuma orang yang ada diselingan hidup dia," Rin ketawa tapi air matanya ngalir deras.
"Rin...." Ara memeluk Rin dan mengusap punggungnya.
"Gue bodoh ya Ra..."
"Nggak! Tapi emang dia aja yang brengsek! Ngasih-ngasih harapan," Ara menenangkan Rin.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok