Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Day One Istriku Jadi Seleb Medsos
Yueji terlihat sedang telaten memijat kedua bahu suaminya di ruang galeri. Di hadapan Chandra, berdiri sebongkah kanvas putih yang masih polos.
"Lukisanku sisa tiga lagi. Kalau semua laku dan aku belum ada stok, bisa bahaya ini..." gumam Chandra dengan dahi berkerut dan tangan terlipat di dada.
"Sayang, lukis aku lagi saja!" ujar Yueji memberi solusi.
"Tidak, tidak! Masa aku jual lukisan istriku sendiri?" sanggah Chandra cepat.
Yueji memanyunkan bibirnya, lalu kembali fokus memijat bahu suaminya.
"Kita punya pelayan, punya rumah, punya istri, dan ada aku sebagai kepala keluarga... Ahh, aku ada ide!" Chandra menepuk kedua tangannya dengan wajah antusias.
Seketika pensil di tangannya menggoreskan pola yang rapi dan begitu luwes berayun di atas kanvas putih tersebut. Hingga terbentuklah pola seorang anak kecil perempuan berambut pirang keemasan bergelombang mengenakan dress, dengan jemari mungil yang seolah sedang menebarkan manik-manik berkilauan.
"Sayang, ini kok tidak seperti orang Mandarin?" tanya Yueji keheranan.
"Sejak kapan kalau aku melukis semuanya harus berkiblat ke sana?" sanggah Chandra santai.
"Ohh iya, iya. Tapi ini siapa? Aku tidak mengenalnya," dahi Yueji makin berkerut menatapi lukisan itu.
"Dia bernama Aine of Lough Gur. Anak ini sering disebut peri Keltik dari Irlandia. Seperti kamu, Sayang... makhluk mitologi, hehe."
"Ehh, tapi aku berwujud nyata ya! Makhluk termantap yang pernah kamu sentuh dan tiduri!" sanggah Yueji tidak terima dengan nada kesal.
"Ummm... takuttt..." goda Chandra memancing emosi istrinya.
"Hehh!" Yueji sengaja mengecangkan pijatannya sampai meremas otot bahu Chandra.
"Ahhh! Hahaha Sayang, sakit tau!"
"Memangnya lukisan seperti ini laku? Kelihatan seperti lukisan anak sekolahan tahu!"
"Heh, sejak kapan kamu tahu soal sekolah?"
"Dari Drama China, lah! Banyak kan tuh sekolah-sekolah bagus yang bercerita tentang cinta monyet mereka."
"Uhh, sudah banyak menghafal hal baru ya rupanya."
"Iya dong! Ada teman di sosial mediaku juga yang memberikan aku referensi tontonan bagus. Kata mereka jangan nonton drama klise mulu, kali-kali nonton Drama Korea katanya."
"Apa?! Kamu punya sosmed?!" Chandra terkejut setengah mati, kepalanya seketika menoleh ke arah Yueji.
"Ada! Lihat-lihat, aku posting video pakai gaun merah, Sayang. Banyak yang komentar..." Yueji menyodorkan ponselnya dengan bangga ke hadapan Chandra.
"Apa ini?! 'Kakak cantik bagai bidadari, kamu mau tidak jadi pacarku?' 'Dadamu besar banget Kak?'" Chandra menaikkan salah satu alisnya membaca deretan komentar liar di postingan Yueji.
Wajah Chandra mendadak datar dengan mata menyipit tajam. "Aku tidak suka kamu memperlihatkan lekuk tubuh di sana!" tegas Chandra dengan nada cemburu. "Hapus!"
"Jangan! Aku susah tau belajar ngedit video ini sampai lima hari, Sayang... Masa dihapus..." Yueji merajuk, memegang bahu Chandra sambil memasang raut wajah seimut mungkin.
"Kamu ini..." Chandra mengelak gusar lalu kembali menatap lukisannya. "Karena nama aslinya terlalu panjang, aku kasih dia nama baru. Aku panggil dia Anya." Tangan Chandra kembali menggoreskan nama itu di sudut kanvas.
"Sayang! Sayang, lihat deh, aku posting video waktu mode rubah, banyak yang bilang cantik!"
Chandra kembali merebut ponsel Yueji dengan dahi berkerut.
"APA-APAAN INI?! 'Cosplay-nya bagus Kak, ajarin dong!' 'Bisa enggak pakai baju transparan kalau lagi cosplay?'" Chandra menatap tajam istrinya.
"Hehehe..." Yueji cuma bisa cengengesan canggung di hadapan suaminya.
"Jangan lagi posting kayak gini!"
"Tapi kan banyak yang memuji, Sayang! Bahkan ada sutradara yang chat aku, nawarin ikut film laga katanya!"
"Tidak! Aku tidak merestui! Bisa-bisa satu crew film kesurupan massal gara-gara kamu!" jawab Chandra jutek.
"Ihh, Suami kok enggak mendukung karier istri..."
"Waduh, dapat kosakata dari mana lagi itu?"
"Heheh, iya Sayang, iya. Aku enggak merespons kok," Yueji dengan manja memeluk leher Chandra dari belakang lalu menghujani pipi suaminya dengan ciuman.
"KAK YUEJI!" Terdengar teriakan riuh dari arah pintu depan galeri.
Yueji membalikkan badannya. Terlihat ada sekitar sepuluh pemuda-pemudi seragam SMA berdiri heboh sambil membawa poster wajah Yueji.
"Kakak! Kami fans Kakak!" ucap salah seorang gadis SMA histeris.
"APA?! FANS?!" teriak Chandra bangkit berdiri menatap kerumunan itu tak percaya.
Yueji berlari kecil mendekati mereka lalu menggenggam lembut tangan gadis tersebut. "Kok kalian tahu aku ada di sini?" tanya Yueji dengan senyuman manis khas bidadari.
"Bisa-bisanya dia punya fans? Emang punya berapa pengikut sih?" Chandra buru-buru memeriksa profil akun sosmed istrinya.
"Wuanjirr! Satu juta followers?! Kurang dari seminggu dia udah jadi seleb?!" Chandra tercengang menatap layar ponsel lalu melirik gundah ke arah istrinya yang sedang dikerumuni fans.
"Daya pikat siluman rubah... Tak kira cuma berpengaruh kalau ketemu langsung, ternyata lewat medsos juga mempan!" gumam Chandra membatin.
"Terserah dia saja lah, lebih baik aku buat kopi." Chandra pun ngeluyur pergi ke arah dapur.
"Eits, Tuan mau ke mana?" Sisi tiba-tiba menghadang jalan Chandra.
"Aku mau buat kopi, Sisi."
"Biar aku saja, Tuan."
"Memangnya kamu bisa buat kopi kesukaanku?"
"Tentu! Coba sebutkan bagaimana kopi tersebut biar aku catat." Sisi mengeluarkan note kecil dan pena dari saku apronnya.
Chandra pun menjelaskan racikan kopi kesukaannya secara sangat detail—sampai menghabiskan waktu sepuluh menit penuh.
Wajah Sisi seketika berubah jutek.
"Sudah paham?" ucap Chandra tersenyum yakin.
"Hemm... Bilang saja Latte! Ribet amat sih!" ketus Sisi lalu melengos jalan ke arah dapur.
"Loh? Dia paham ternyata... Sisi, aku di belakang ya!" teriak Chandra.
"Siap, Tuan!"
Kini Chandra sedang bersantai di kursi kayu halaman belakang, merebahkan badannya sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari kipas lipat di tangannya.
"Sayang..." Tiba-tiba Yueji sudah berdiri tegap di samping kursi Chandra.
"Ada apa, My Love?"
"Kamu pindah ke dalam ya, tempat ini mau aku pakai buat gathering."
"Wadidaw! Sudah nambah lagi kosakata barunya!" Chandra terkejut sampai refleks bangkit terduduk.
"Ih, sudah sana, sana!"
"Ehh Sayang, aku kan lagi mau santai..." pangkas Chandra memelas.
"Sore saja santainya! Sekarang kamu kerja!" Yueji menarik paksa lengan suaminya. "Anak-anak, kemari!" teriak Yueji melambaikan tangan.
"Horeee!" Seketika area halaman belakang dipenuhi oleh sorak-sorai fans Yueji.
"Aku terusir di rumahku sendiri..." Dengan berat hati Chandra berjalan lemas menunduk ke arah dapur.
"Ehh, baru saja Sisi mau bawakan kopinya ke belakang," ucap Sisi kebingungan.
"Di sini saja. Nyonyamu lagi gathering."
"Ehh, benarkah?!" tanya Sisi kegirangan.
"Iyaa..." jawab Chandra singkat sambil menyesap kopinya lemas.
"Ikutan ah!" Sisi langsung berlari kecil menuju halaman belakang.
"Cih, kalian sama saja!" gumam Chandra dengan wajah pasrah.
Di luar, terlihat kumpulan remaja itu mengelilingi Yueji yang duduk di kursi bak seorang ratu. Mereka mengobrol dengan antusias.
"Kak Yueji, apa Kakak bisa silat?" tanya salah seorang siswa.
"Tentunya," jawab Yueji tersenyum anggun.
"Waaah, sudah cantik, serba bisa lagi! Aku mau seperti Kakak!" ucap seorang siswi terkagum-kagum.
"Kakak perform dong, please!" seru mereka serempak.
"Boleh... Kalian perhatikan dengan khusyuk, ya."
Yueji melompat ringan ke tengah taman. Tangannya terangkat ke udara—dan secara ajaib, pedang terbang meluncur kilat langsung menghampiri genggamannya!
"Waaah! Kakak Yueji kultivator?!" teriak semua remaja itu dengan mata berbinar-binar.
Yueji lalu beratraksi dengan pedangnya. Gerakannya begitu lincah menebas angin, matanya menajam fokus pada pucuk-pucuk daun pohon di taman.
SRING... SRING!
Pucuk-pucuk daun itu tertebas rapi dan berhamburan di udara tanpa merusak selembar daun lainnya!
PROK! PROK! PROK!
"KAK YUEJI HEBAT!!!"
Halaman belakang bergemuruh dengan suara tepuk tangan dan sorakan heboh dari para fansnya.
"Hah... Bising sekali. Bagaimana aku bisa melukis banyak kalau istriku nanti minta gathering tiap hari?" Chandra menghela napas panjang penuh frustasi, lalu membenturkan jidatnya lemas ke meja pantry.
"Chandra, ramai sekali galerimu?"
"Paman..."