Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Seolah tak ingin memberikan kesempatan bagi Keira untuk menjauh, kedua tangan Arsen masih bertahan di pinggangnya.
Tubuh Keira seketika menegang. "Kamu mau apa?" tanyanya, kali ini dengan nada panik yang mulai terdengar jelas.
Arsen tidak segera menjawab. Tatapannya berubah, menjadi lebih dalam dan tajam, seolah ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dirinya.
"Jangan memuji dia," ucap Arsen pelan.
Keira mengangkat sebelah alisnya, menatap pria itu dengan berani. "Kenapa? Memangnya aku gak boleh memuji orang lain?"
Jarak di antara mereka semakin tipis. Napas keduanya saling beradu, sementara tatapan mereka terus bertaut tanpa ada yang bersedia mengalah.
Bibir mereka bahkan hampir bersentuhan. Namun, alih-alih menghindar, Keira justru sengaja melontarkan kalimat yang semakin memancing emosi suaminya.
"Kalau kita bercerai nanti, aku mau pacaran sama Kevin."
Seketika, ekspresi Arsen berubah drastis. Seolah kesabarannya yang sejak tadi ia pertahankan akhirnya mencapai batas.
"Kamu—"
Belum sempat Keira melanjutkan perkataannya, tangan Arsen sudah terangkat ke tengkuknya dan menariknya mendekat.
Pria itu kemudian mencium bibir Keira secara tiba-tiba, tanpa memberinya kesempatan untuk bersiap.
Mata Keira langsung membelalak. Tubuhnya seketika kaku, sementara pikirannya seolah berhenti bekerja selama beberapa saat.
Ini bukan pertama kalinya Arsen melakukan hal semacam itu kepadanya. Namun, tetap saja, Keira tidak pernah benar-benar siap menghadapi tindakan suaminya yang selalu melampaui batas.
Beberapa detik berlalu terasa begitu lama baginya.
Begitu tersadar, Keira langsung mendorong dada Arsen sekuat tenaga, berusaha menciptakan jarak di antara mereka.
"Kamu...!" serunya dengan napas terengah-engah.
Tatapannya dipenuhi kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Kenapa kamu selalu begini, sih?!" lanjutnya, tetapi suaranya mendadak melemah di akhir kalimat.
Keira bahkan kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Bibirnya bergetar, sementara kedua matanya mulai berkaca-kaca karena campuran emosi yang sulit ia kendalikan.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arsen.
Suara tamparan itu menggema di dalam kamar, memecah kesunyian yang menyelimuti mereka.
Kepala Arsen sedikit terlempar ke samping akibat tamparan tersebut. Bekas kemerahan mulai terlihat di pipinya.
Sementara itu, Keira berdiri dengan napas memburu. Dadanya naik turun, dan kedua matanya menatap Arsen dengan perasaan yang bercampur aduk. Marah. Malu. Terluka. Bahkan ada perasaan lain yang tidak ingin ia akui, tetapi buru-buru ia singkirkan dari pikirannya.
"Kamu keterlaluan!" bentaknya dengan suara bergetar.
Tanpa menunggu Arsen memberikan jawaban, Keira segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Tangannya sedikit gemetar ketika membuka kunci. Begitu pintu terbuka, ia langsung keluar tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Pintu kembali tertutup. Meninggalkan Arsen sendirian di dalam kamar. Pria itu masih terdiam selama beberapa saat. Perlahan, tangannya terangkat untuk menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan Keira.
Namun, alih-alih menunjukkan kemarahan, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis.
Senyum yang sulit diartikan. Seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik dari kejadian barusan.
Arsen mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Entah mengapa, pikirannya justru kembali tertuju pada Keira.
Pada ekspresi marahnya. Pada caranya membantah setiap perkataan Arsen. Dan pada ciuman yang baru saja terjadi.
Tanpa sadar, Arsen mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kebiasaan baru yang cukup sulit dijelaskan. Mencium bibir istrinya sendiri.
Ia mengusap wajahnya sekilas, kemudian terkekeh pelan. 'Umi benar juga,' gumamnya dalam hati.
Tatapannya perlahan melembut, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benaknya.
'Ternyata punya istri itu... menyenangkan juga.'
Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
Sementara itu, di luar kamar, langkah kaki Keira terdengar semakin menjauh. Perempuan itu berjalan cepat, seolah ingin segera melarikan diri dari kejadian yang baru saja dialaminya.
"Gila! Bikin stres aja!" gerutunya sambil terus melangkah dengan napas yang masih belum teratur.
Keira mengusap bibirnya sekilas, lalu segera menurunkan tangannya dengan kesal.
"Dasar Arsen menyebalkan!"
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Namun, semakin ia berusaha melupakan kejadian tadi, semakin jelas pula bayangan wajah Arsen muncul di dalam pikirannya. Dan hal itu justru membuat Keira semakin kesal.
"Astaga, kenapa aku malah kepikiran dia, sih?!" omelnya sambil mempercepat langkah.
Pagi itu, Keira hanya ingin kembali mengerjakan tugas KKN dengan tenang.
...
Akhirnya, tugas pertama KKN mereka berhasil diselesaikan.
Sore itu, seluruh anggota kelompok berkumpul di balai desa untuk mempresentasikan hasil kerja mereka kepada warga. Orang-orang duduk membentuk barisan, menyimak penjelasan para mahasiswa dengan penuh perhatian.
Suasananya terasa akrab. Sederhana, tetapi menyimpan kebanggaan tersendiri bagi mereka yang telah berusaha menyelesaikan tugas tersebut.
Di barisan paling depan, Arsen duduk berdampingan dengan Pak Salim. Keduanya menyimak setiap presentasi dengan serius, sesekali mencatat hal-hal penting dan memberikan penilaian terhadap hasil kerja para mahasiswa.
Sementara itu, di bagian depan ruangan, Keira berdiri bersama anggota kelompoknya untuk menyampaikan laporan.
Pada awalnya, perempuan itu tampak sedikit gugup. Namun, seiring berjalannya presentasi, suaranya mulai terdengar lebih mantap. Ia menjelaskan setiap poin dengan cukup terperinci, bahkan sesekali tersenyum ketika melihat warga mengangguk sebagai tanda memahami penjelasannya.
Arsen memperhatikannya tanpa berkedip. Entah sejak kapan, pria itu mulai menyadari berbagai hal kecil tentang istrinya yang sebelumnya tidak pernah ia anggap penting.
Cara Keira menjelaskan sesuatu dengan sungguh-sungguh, ekspresinya ketika merasa gugup, hingga senyum kecil yang muncul setiap kali ia berhasil menyampaikan penjelasan dengan baik. Semua itu tanpa sadar menarik perhatian Arsen.
Di sampingnya, Pak Salim sempat melirik ke arah pria tersebut. Melihat tatapan Arsen yang terus tertuju kepada Keira, ia pun tersenyum tipis.
"Pak Arsen," panggilnya pelan.
Arsen sedikit menoleh. "Iya, Pak?"
Pak Salim mengarahkan pandangannya kepada Keira yang masih sibuk menjelaskan hasil kerja kelompoknya.
"Istri Bapak itu lucu juga, ya."
Arsen terdiam sejenak. Tatapannya kembali tertuju kepada Keira. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Iya..." gumamnya lirih.
Namun, Pak Salim rupanya belum selesai menggoda pria itu. "Tapi, saya mau tanya sesuatu."
"Apa, Pak?"
Pak Salim menoleh, menatap Arsen dengan ekspresi santai sebelum melontarkan pertanyaan yang membuat suasana hati pria itu seketika berubah.
"Memangnya kalian benar-benar berniat bercerai?"
Senyum tipis di wajah Arsen langsung lenyap. Ia menoleh cepat ke arah Pak Salim, memastikan dirinya tidak salah mendengar.
"Pak Salim tahu dari mana?"
Pak Salim terkekeh pelan. "Memangnya Bapak pikir pertengkaran kalian tidak terdengar? Suara kalian sampai ke kamar saya, lho."
Mata Arsen langsung membulat saking terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pertengkarannya dengan Keira selama ini ternyata terdengar oleh pemilik rumah.
"Bahkan kalau kami bicara pelan-pelan juga terdengar?" tanyanya spontan.
Pak Salim langsung tertawa kecil melihat ekspresi Arsen yang mendadak salah tingkah.
"Hahaha! Dasar anak muda."
Arsen mengembuskan napas panjang, kemudian mengusap wajahnya sekilas. Untuk sesaat, ia merasa malu karena urusan rumah tangganya ternyata tidak sepenuhnya tersembunyi dari orang lain.
Ia kembali menghadap ke depan, berusaha memusatkan perhatian pada presentasi yang masih berlangsung.
Namun, pertanyaan Pak Salim telanjur mengusik pikirannya. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Selama ini, perceraian seolah menjadi jalan keluar yang selalu disebut setiap kali hubungannya dengan Keira memburuk. Akan tetapi, setelah menjalani hari-hari bersama perempuan itu, Arsen mulai menyadari bahwa kenyataannya tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang belum benar-benar ia pahami.
Di depan ruangan, Keira masih melanjutkan presentasinya dengan cukup percaya diri. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya sedang memikirkan hubungan mereka dengan begitu serius.
Hingga pada suatu kesempatan, pandangan mereka bertemu. Hanya sesaat.
Namun, seperti yang selalu dilakukannya belakangan ini, Keira segera memalingkan wajah dan kembali berfokus pada presentasi.
Arsen berbeda. Kali ini, ia tidak langsung mengalihkan pandangan. Pria itu justru terus memperhatikan Keira, seolah ada sesuatu yang ingin ia temukan dari wajah perempuan tersebut.
Tatapannya bertahan lebih lama daripada biasanya. Bahkan ketika Keira kembali menjelaskan poin berikutnya, mata Arsen masih tertuju kepadanya.
Awalnya, Keira tetap berbicara dengan lancar. Namun, perlahan, konsentrasinya mulai terganggu.
Ia merasakan seseorang sedang memperhatikannya dengan intens. Dan ketika tanpa sengaja ia kembali melirik ke arah barisan depan—
Benar saja.
Arsen masih menatapnya. Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Keira hampir kehilangan kata-kata.
"Program ini bertujuan untuk..." ucapnya, sebelum mendadak terhenti selama beberapa saat.
Ia mencoba mengingat kalimat selanjutnya, tetapi pikirannya justru dipenuhi pertanyaan tentang sikap Arsen yang tidak biasa. 'Kenapa dia terus melihat ke arahku?'
Keira berusaha mengabaikan tatapan itu dan kembali menunduk untuk melihat catatan presentasinya. Namun, perasaan gugup yang semula berhasil ia kendalikan kini kembali muncul.
Sementara itu, Arsen tetap duduk di tempatnya.
Tatapannya tidak beranjak dari Keira. Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar melihat perempuan itu sebagai istri yang selalu membantah perkataannya.
Ada sesuatu tentang Keira yang kini membuatnya ingin terus memperhatikan.
Dan tanpa disadarinya, semakin lama ia menatap perempuan itu, semakin sulit pula baginya untuk membayangkan kehidupan tanpa kehadiran Keira di sisinya.
......
Lucu ya pasangan ini, wkwk
Like
Komen
Vote
Love you all,