Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalikan Keadaan
Suasana di lantai paling atas gedung Valora Group terasa sangat mencekam. Pukul 07.45 WIB, para dewan komisaris, direksi, dan investor utama sudah berkumpul di ruang rapat utama. Bisik-bisik tegang memenuhi ruangan, dipicu oleh email anonim bernada skandal yang mereka terima beberapa jam lalu.
Pak Broto berdiri di ujung meja rapat, membetulkan jas mewahnya dengan senyum kemenangan yang amat lebar. Di sampingnya, Clarissa duduk bersedekap dada dengan raut wajah penuh kepuasan.
"Para jajaran komisaris yang terhormat," ujar Pak Broto membuka suara dengan nada dramatis. Tepat saat jarum jam menunjuk angka delapan. "Saya rasa kita semua sudah membaca email darurat tadi pagi. Arka, CEO yang selama ini kita banggakan, telah membohongi kita semua. Dia menikahi wanita mantan tersangka kasus kriminal lewat sebuah perjanjian nikah kontrak demi menjaga posisinya. Ini pencemaran nama baik yang sangat serius bagi Valora Group!"
Beberapa komisaris senior tampak menggeleng-gelengkan kepala dengan raut kecewa. "Jika ini benar, Arka harus mundur!" celetuk salah satu komisaris.
"Tentu saja!" sahut Clarissa cepat. "Kita tidak bisa membiarkan reputasi perusahaan hancur hanya karena ulah seorang wanita jalanan yang dipungut Arka."
Suara ketukan pantofel yang tegas dan teratur berbunyi dari luar. Pintu kaca tebal ruang rapat terbuka secara otomatis.
Arka melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang dingin dan tenang. Sama sekali tidak menunjukkan raut wajah panik atau tertekan. Namun, yang membuat seluruh isi ruangan terperangah adalah kehadiran Elara yang berjalan anggun tepat di sampingnya.
Elara mengenakan setelan blazer hijau zamrud yang sangat rapi, menatap lurus ke arah para direksi tanpa gentar sedikit pun.
"Selamat pagi, Para Dewan Komisaris," sapa Arka datar, lantas mengambil posisi berdiri di ujung meja berseberangan dengan Pak Broto.
Pak Broto tertawa sinis. "Masih berani kamu menampakkan wajah di sini, Arka? Dan buat apa kamu membawa wanita penipu ini ke rapat internal direksi?"
Elara melangkah maju satu tapak, memotong pandangan Pak Broto. "Saya hadir di sini bukan sebagai 'penipu', Pak Broto. Saya hadir sebagai istri sah Arka Valora, yang berhak membela kehormatan suami dan rumah tangga saya dari fitnah murahan yang Anda sebarkan."
"Fitnah?!" Clarissa berdiri seraya menunjuk wajah Elara. "Jangan berakting pura-pura suci! Foto kasus hukum kamu dan bukti berkas nikah kontrak kalian sudah tersebar ke semua orang di ruangan ini."
Arka mengangkat satu tangannya, menyuruh situasi kembali tenang. Pria itu menatap Doni yang berdiri di dekat proyektor. "Doni, jalankan presentasinya."
Layar proyektor besar di ujung ruangan seketika menyala, menampilkan dokumen resmi berstempel basah dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.
"Poin pertama," ujar Arka dengan suara berat berwibawa yang mengintimidasi. "Foto dokumen kepolisian yang disebarkan Pak Broto adalah berkas lama saat istri saya dipanggil sebagai saksi atas kasus penipuan yang dilakukan mantan rekannya. Tiga tahun lalu, kepolisian sudah mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan (SP3) karena Elara terbukti murni sebagai korban yang namanya dicatut."
Layar proyektor berganti menampilkan surat SP3 dan surat pembersihan nama baik Elara. Para komisaris mulai saling berbisik, menyadari manipulasi informasi yang dilakukan Pak Broto.
"Dan untuk siapa saja yang ikut menyebarkan foto manipulatif tersebut," lanjut Arka, matanya menghunus tajam ke arah Pak Broto, "tim hukum Valora Group sudah mendaftarkan gugatan pidana atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE."
Wajah Pak Broto mendadak berubah pucat. Namun, dia berusaha menutupi kepanikannya. "Lalu bagaimana dengan nikah kontrak? Detektif saya sudah menyusun kembali serpihan kertas dari ruang kerja kamu! Itu bukti nyata kalau pernikahan kalian cuma sandiwara hukum!"
Arka tersenyum tipis. Sebuah senyum dingin yang membuat bulu kuduk Pak Broto merinding.
"Poin kedua," sahut Arka santai. "Dua lembar kertas yang Anda sobek dari tempat sampah saya itu hanyalah draf diskusi privat yang tidak pernah memiliki kekuatan hukum apa pun karena tidak pernah ditandatangani di hadapan notaris."
Arka mengeluarkan dua buah buku kecil bersampul merah dan hijau dari dalam jasnya, lalu meletakkannya dengan tegas di atas meja rapat.
"Ini adalah Buku Nikah Asli yang terdaftar secara resmi di Kementerian Agama dan negara. Pernikahan kami sah, tanpa syarat, tanpa kontrak, dan tanpa tanggal kadaluarsa. Jadi, tuduhan bahwa kami melakukan penipuan publik murni adalah imajinasi liar Pak Broto yang gagal atas niatnya mememenangkan hati istri saya."
Seketika ruang rapat gempar. Para komisaris memberikan apresiasi dan menatap Pak Broto dengan pandangan penuh kekecewaan dan kemurkaan.
"Pak Broto! Anda sudah menyebarkan hoaks dan mengacaukan rapat direksi hanya demi ambisi pribadi?" tegur Komisaris Utama dengan nada tinggi.
Clarissa membatu di tempatnya, matanya membelalak tak percaya melihat Arka meruntuhkan semua serangan mereka hanya dalam waktu lima menit.
"Belum selesai," potong Arka tenang. Pria itu kembali memberi isyarat pada Doni.
Layar proyektor mendadak menampilkan arus transaksi keuangan rahasia dan dokumen audit internal perusahaan.
"Selagi Pak Broto sibuk mengintai kehidupan pribadi saya menggunakan detektif swasta," ujar Arka dingin, "tim auditor independen yang saya sewa telah menemukan bukti penggelapan dana proyek pembangunan resort sebesar 45 miliar rupiah yang mengalir langsung ke rekening pribadi Pak Broto dan Clarissa."
"A-apa?!" Pak Broto tersentak kaget, mukanya berubah merah padam. "Ini fitnah! Ini rekayasa Arka!"
Pintu ruang rapat kembali terbuka. Empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi. Saudara Broto dan Saudari Clarissa," ujar perwira polisi di depan. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas dugaan penggelapan dana perusahaan, pemerasan, dan tindak pidana pencemaran nama baik."
Clarissa menjerit histeris saat petugas mendekat, sementara Pak Broto terduduk lemas di kursinya dengan napas memburu panik. Semua dewan komisaris bertepuk tangan pelan, memuji kecerdasan dan ketegasan Arka dalam menyelamatkan kehormatan rumah tangga dan perusahaan.
Elara menggenggam erat tangan Arka di bawah meja, tersenyum bangga pada suaminya. Arka menoleh, menatap istrinya dengan tatapan hangat yang penuh rasa terima kasih.
Namun, tepat saat petugas hendak mengapit lengan Clarissa, wanita itu mendadak tertawa melengking seperti orang kesetanan. Dia memutar tubuhnya, menunjuk Elara dengan mata merah penuh kebencian.
"Kalian pikir kalian sudah menang?!" teriak Clarissa histeris. "Arka! Kamu membela cewek ini mati-matian, tapi apa kamu tahu rahasia terbesar yang disembunyikan ibunya Elara dari keluarga kamu selama puluhan tahun lalu?"