Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Dan Awal Yang Baru
Tanpa sadar Alea memeluk tubuh tinggi 183 cm itu.
Aroma maskulin khas bercampur wangi mint lembut langsung menyergap indra penciuman Alea sewaktu wajahnya terbenam di dada bidang Adrian. Semua beban, ketakutan, dan kepedihan yang ia tanggung sendirian selama empat tahun terakhir seolah luruh begitu saja dalam kehangatan dekapan pria itu. Isakan kecil yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah di balik kain jas tebal Adrian.
Adrian sempat membeku seketika. Tubuhnya kaku, terpaku oleh tindakan spontan wanita yang amat dirindukannya ini. Namun, saat mendengar isakan lirih Alea dan merasakan getaran di bahu wanita itu, pertahanan batin Adrian runtuh sepenuhnya.
Perlahan, kedua tangan berurat tegas itu terangkat. Adrian melingkari pinggang Alea, merengkuh tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya dengan begitu erat—seolah takut Alea akan menghilang jika ia melonggarkannya sedikit saja. Ia membenamkan wajahnya di puncak kepala Alea, menghirup aroma harum sampo sederhana yang amat ia rindukan.
"Terima kasih... Terima kasih, Adrian..." bisik Alea dengan suara parau di dada Adrian. "Terima kasih sudah mau menjaga dan memperjuangkan Azka..."
Adrian memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati setiap detik detak jantung mereka yang saling bersahutan.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Alea," tutur Adrian dengan suara serak yang sarat akan emosi mendalam. "Terima kasih karena sudah merawat Azka dengan sangat baik... dan terima kasih karena masih memberiku kesempatan untuk menjadi seorang ayah."
Di sudut pagar depan, Azka yang sedang digandeng oleh Rian menghentikan langkah kecilnya. Bocah tiga setengah tahun itu menoleh, menunjuk ke arah kedua orang tuanya dengan mata bulat yang berbinar riang.
"Om Rian, lihat! Ibu sama Papa pelukan!" seru Azka polos dengan tawa renyahnya.
Rian yang berdiri tegap hanya bisa tersenyum tipis, mengusap pelan kepala Azka sembari membuang muka untuk memberi ruang pribadi bagi sang atasan yang selama bertahun-tahun hidup dalam kegelapan.
Mendengar seruan nyaring putranya, Alea tersadar. Wajahnya seketika memerah padam karena malu. Ia terburu-buru merenggangkan pelukannya dan menarik tubuhnya mundur, menundukkan kepala sembari mengusap sisa air mata di pipinya.
Adrian terkekeh pelan—sebuah kekehan tulus yang jarang sekali terdengar dari bibirnya. Pria itu mengulurkan tangan, mengusap sisa air mata di sudut mata Alea dengan ibu jarinya secara lembut.
"Ayo... Azka sudah tidak sabar melihat kamarnya," ajak Adrian hangat, lalu mengulurkan sebelah tangannya.
Alea mendongak, menatap wajah tegas Adrian yang kini dipenuhi binar kebahagiaan. Tanpa keraguan lagi, Alea menyambut uluran tangan itu, menggenggam jemari Adrian saat mereka bersama-sama melangkah menghampiri Azka untuk membuka pintu rumah baru mereka.
Eksplorasi rumah baru itu berlangsung penuh haru dan tawa riang. Azka sangat kegirangan saat melihat kamar tidurnya yang luas, lengkap dengan tempat tidur berbentuk mobil balap, dekorasi nuansa luar angkasa, serta sudut khusus yang dipenuhi rak mainan baru. Rumah dua lantai itu benar-benar sudah siap huni—hangat, aman, dan sangat jauh dari bayangan kontrakan mereka yang sering tergenang air saat hujan.
Setelah Azka ketiduran di atas kasur barunya yang empuk akibat kelelahan bermain seharian, Adrian menyelimuti tubuh mungil putranya dengan penuh kasih sayang. Pria itu mengusap puncak kepala Azka sejenak sebelum perlahan melangkah keluar dari kamar.
Di ruang tengah yang hening, Alea sedang berdiri di dekat jendela besar, menatap halaman belakang yang diterangi lampu taman nan hangat.
Langkah kaki Adrian yang tenang mendekat. Pria jangkung itu berhenti tepat di samping Alea.
Setelah mereka melihat isi rumah itu, "Kita perlu bicara lagi," ucap Adrian pada Alea dengan suara berat dan lembut, memecah keheningan malam.
Alea menoleh, menatap lurus ke dalam mata Adrian yang memancarkan keteguhan jujur. "Bicara tentang apa, Adrian?"
"Tentang kita... dan keselamatan kalian," ujar Adrian tanpa ragu. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit, memastikan setiap katanya tersampaikan dengan jelas.
"Aku tahu tempat ini aman. Rian dan anak buahku akan menjaga kawasan ini 24 jam dari luar tanpa mengganggu privasimu. Tapi Alea, keluargaku—terutama mamaku dan Jessica—tidak akan tinggal diam setelah kejadian di mansion tadi. Mereka mungkin akan mencari cara untuk menemuimu atau menekanmu."
Dada Alea berdesir pelan mendengar nama-nama itu disebut. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Jangan pernah menghadapi mereka sendirian," tegas Adrian, meraih jemari Alea dan menggenggamnya hangat. "Mulai hari ini, apa pun yang terjadi, kamu harus langsung memberitahuku. Aku tidak akan biarkan siapa pun menyentuhmu atau Azka lagi seperti empat tahun lalu."
Adrian menghela napas panjang, tatapannya melunak penuh penyesalan.
"Dan satu hal lagi... aku ingin minta izin untuk bisa sering berkunjung ke sini. Bukan hanya untuk Azka, tapi aku juga ingin belajar menjadi pria yang layak untuk kembali berada di sisimu, Alea. Apakah kamu memberiku kesempatan itu?"
Alea tertegun. Mengamati kehangatan genggaman tangan Adrian dan kesungguhan di sepasang matanya, Alea sadar bahwa dinding ketakutan di hatinya telah perlahan runtuh. Pria di hadapannya ini telah membuktikan dengan nyata bahwa ia siap mempertaruhkan segalanya demi melindungi mereka.
Alea mengulas senyum tipis yang tulus, lalu mengangguk pelan. "Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, Adrian... demi Azka, dan demi kita."
Senyum lega yang amat ketara terukir di wajah tegas Adrian. Di balik keheningan malam dan kemewahan rumah baru itu, sebuah ikatan keluarga yang sempat terputus kini mulai terjalin kembali dengan jauh lebih kuat.