Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menakar untung ruginya : 16
“Saya panik sebab bisa dibilang buta pengetahuan dibidang bisnis. Ibu dan Ayah sudah mempersiapkan Tomi sebagai pengganti mengelola toko emas, sedangkan saya meneruskan hobi mendesain perhiasan, dan kala itu belum lulus dari akademik sarjana desain,” ia memang tidak tertarik dengan dunia bisnis.
Kedua orang tua Helyara sangat memahami minat dan hobi putra-putrinya. Tidak memaksa si sulung yang cenderung anak rumahan, malas berinteraksi dengan dunia luar, menyibukkan diri mengasah keterampilan di bidang seni, bahkan mereka mendukung. Menghadirkan pengajar profesional untuk menyempurnakan bakat Helya.
“Saya lemah di mata pelajaran akademik terlebih bila bersinggungan dengan angka,” sedikit malu mengakuinya, tapi dia memilih jujur.
“Setiap orang memiliki bakat tertentu, tidak bisa disamaratakan apalagi dibanding-bandingkan,” Yudis menanggapi.
“Kesimpulan dari apa yang barusan terurai — Alandi memanfaatkan kelemahan Anda yang sedang berduka, serta kurang memahami mengelola bisnis keluarga. Poin paling menguntungkan dia adalah, kepribadian introvert ibu Helyara,” Sakta sudah memahami akar permasalahan datangnya dari mana.
“Iya.” Anggukan Helya terasa berat dengan kepala didera rasa pusing.
“Pak, boleh saya minta tolong dijabarkan seandainya ingin menjebloskan dia ke penjara, kira-kira masa hukuman paling lama berapa tahun?”
Tanpa membuka kitab undang-undang hukum perdata maupun pidana, Yudis menjabarkan sanksi kasus Alandi.
“Untuk kasus perzinahan berdasarkan KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023 - Pasal 411): Menetapkan hukuman penjara maksimal 1 tahun atau denda kategori II. Delik ini hanya diproses jika ada aduan dari istri, orang tua, atau anak pezina.”
Sepasang mata Helya membulat, ekspresinya sungguh tak merasa puas. “Sangat ringan sekali hukumannya dibandingkan dampak terhadap korban yang sudah diselingkuhi.”
Abi Sakta Haujan menyambungkan. “Penipuan yang dilakukan Alandi termasuk kategori Penipuan Konvensional: Menurut Pasal 378 KUHP, pelaku tipu muslihat, rangkaian kebohongan untuk menguntungkan diri sendiri diancam pidana penjara maksimal 4 tahun.”
“Dengan kata lain, hukuman maksimal Alandi lima tahun penjara. Gak adil banget. Bahkan lebih singkat dari masa dia memperdayai saya,” gumam Helyara dengan suara dalam.
“Begitulah ketentuan hukum yang berlaku, Bu. Masa kurungan bisa lebih singkat apabila terdakwa mendapatkan remisi dari perilaku baik, disiplin selama menjalani pidana. Di tambah remisi hari-hari besar seperti hari kemerdekaan, dan juga hari raya keagamaan,” lanjut Yudistra.
‘Enak sekali dia, enam tahun kesialanku hanya diganti dengan masa kurungan lebih singkat daripada penderitaan yang kutanggung bisa jadi seumur hidup,’ batinnya tidak menerima.
‘Menjebloskan langsung ke penjara sama saja dengan mendorong diriku sendiri ke dalam jurang penyesalan dikarenakan tidak akan pernah merasakan apa namanya impas,’ darahnya seperti mendidih membayangkan masa hukuman tak adil.
Helyara bertekad, niatnya sampai pada netra menatap tegas. “Tolong lindungi saya dengan kekuasaan kalian sebagai seorang pengacara. Penjara teruntuk mereka akan terjadi diujung jalan, bukan permulaan.”
Yudistra terdiam, berusaha menebak jalan pikiran Helyara.
“Berikan data diri para orang yang sudah melakukan konspirasi. Tugas saya mencari tahu apa saja yang sudah mereka dapatkan dari menipu Anda, nanti dari sana kita bisa menentukan langkah selanjutnya,” Sakta lebih dulu berhasil membaca keinginan kliennya.
“Saya punya,” Helya tampak antusias, merasakan angin kemenangan di awal. Dia ada menyimpan fotokopi kartu identitas para benalu.
“Hem … pak, apa saya bisa minta tolong carikan informasi tentang mantan karyawan yang dipecat?” ada rasa bersalah menyelimuti hatinya.
“Sewaktu pemecatan dari proses penyelidikan sampai pemberhentian secara tidak hormat, saya sama sekali tidak pernah dipertemukan dengan mereka. Semua diurus Alandi, diriku cuma menandatangani surat kuasa yang dilimpahkan ke dia,” perasaannya kembali sedih bercampur menyesal.
“Apa Anda ada menyimpan data diri mereka?”
“Ada tersimpan dalam arsip pribadi ayah saya. Sebenarnya mereka orang kepercayaan yang sudah bekerja belasan tahun lamanya. Sebentar saya ambil sekalian sama data diri Alandi dan lainnya.” Helya berdiri, kali ini masuk ke dalam kamar ibunya.
Berkas penting itu disimpan di ruangan khusus bawah lemari tertutup tumpukan baju ayah dan ibunya.
Abi Sakta, Yudistra, mencatat poin-poin penting, dan mana yang harus didahulukan.
Ponsel lama Helyara berdering, nama 'suamiku' muncul di layar.
Kedua pengacara hanya melirik benda menyala di atas sofa, selanjutnya tidak peduli.
Helya membawa map sampul hitam, dan diberikan ke Yudistra.
Data diri lengkap dengan foto serta alamat tempat tinggal, segera dipotret. Fotokopian identitas Alandi, Siska, Zanaya, dan Wandi, diambil oleh Sakta lalu dimasukkan ke dalam tas ransel.
Ponsel Helyara kembali berdering. Untuk pertama kalinya sang pemilik memilih tidak peduli. Jika dulu, dia langsung merasa bersalah kalau tak cepat-cepat menanggapi.
“Apa tak sebaiknya diangkat?” Sakta melirik wanita malah sibuk dengan ponsel barunya.
Helyara menjawab dengan masih menyimpan nomor bi Mirma, dan kakak sepupunya. “Dia gak akan curiga, panggilan itu cuma formalitas agar citra suami idaman tetap melekat.”
Dapat didengar oleh mereka nada getir dari suara lemah lembut.
“Saya gapapa, lebih tepatnya harus belajar terlihat tidak kenapa-kenapa.” Ia mendongak, tersenyum tipis.
“Jika Anda ingin bermain peran selagi kami mencari bukti lain, maka harus mengusahakan terlihat sama seperti sebelumnya. Hindari menarik rasa curiga, dan bersikap mencolok,” Sakta memberi pesan.
“Iya,” jawab Helya mantap. Ia sudah selesai menyimpan 3 nomor penting.
“Selama masa pernikahan, yang termasuk harta bersama apa saja?” tanya Sakta tiba-tiba.
Helya meletakkan ponsel di atas bantal sofa. “Mobil Avanza atas nama Alandi dibeli dua tahun lalu. Kemudian mobil Fortuner memakai nama saya, baru enam bulan dibeli.”
“Hanya itu?” terasa aneh ketika mendengar pemilik toko emas besar cuma memiliki harta sangat sedikit selama enam tahun tampuk kekuasaan berpindah ke tangannya.
“Sebenarnya uang saya banyak keluar untuk menyenangkan keluarganya, tapi tidak dianggap pemberian, namun kewajiban karena Alandi sudah memajukan toko Emas Utomo yang sedari dia belum bekerja di sana sudah berdiri kokoh,” kelakar Helyara Utomo seraya tertawa.
Untuk pertama kalinya, Sakta dan Yudis melihat tawa mempesona, bertambah manis ternyata Helyara memiliki sepasang lesung pipi.
Kemudian mereka bertiga terlibat pembahasan serius. Sang pengacara memberikan arahan, mengantisipasi, mencegah terjadinya tindakan melanggar hukum.
Sementara di sebuah kamar hotel wisata puncak, seseorang mengumpat sambil menaiki wanita yang mendesah, bergerak erotis. Tubuh mereka bermandikan keringat.
“Kau selalu nikmat, Sayang!” pekik Alandi dengan mata membelalak, napas tersengal-sengal. Ia biarkan pusakanya tertanam didalam kewanitaan si wanita, sampai getaran terakhir baru di lepas dan dirinya turun.
“Kemana si Kerbau itu? Ketiduran lagi? Dasar gendut gak guna. Kamu tau, Sayang ... setiap kali melihatnya jalan dengan badan sebesar ban truk tronton, sulit sekali menahan tawa sampai perutku keram.” Tangan Siska mengelus benda tumpul mengerut suaminya Helyara.
Hahahaha ....
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba