NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:557
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

***Bab 11 panik dan kenyataan

🌸🌸🌸🌸

Kepanikan hebat melanda ruang kerja CEO Apex Media. Udara di dalam ruangan yang berpendingin dingin itu mendadak terasa sangat menyesakkan bagi Reno. Pria itu masih terduduk lemas di kursi kulit mewahnya, memandangi lembar demi lembar dokumen resmi berstempel PT Cakrawala Capital yang tergeletak di atas meja.

Nama Nadia Kirana tercetak jelas sebagai pemilik tunggal holding tersebut. Tulisan itu seolah menjadi huruf-huruf api yang membakar seluruh kesombongan dan rasa percaya diri yang selama lima tahun ini dibangunnya.

"Reno! Kamu dengar aku nggak sih?!" jerit Sella dengan nada melengking, mengguncang-guncang lengan kemeja Reno dengan waja merah padam. "Kartu kredit aku diblokir! Aku tadi baru aja mau booking tas edisi terbatas dan bayar DP apartemen Dharmawangsa! Gimana bisa kartu itu mendadak nggak bisa dipakai?!"

Reno tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah depan, jemarinya bergetar hebat saat mencoba menekan tombol telepon interkom di mejanya.

"Panggil Sekertaris dan Tim Keuangan ke ruangan saya sekarang!" bentak Reno ke arah gagang telepon dengan suara parau yang menahan panik.

Hanya dalam hitungan menit, sekretaris pribadi Reno dan Bimo kembali melangkah masuk ke dalam ruangan. Wajah sang sekretaris tampak sangat cemas, memegang sebuah tablet digital yang terus menampilkan notifikasi sistem yang menyala merah.

"Pak Reno..." ujar sang sekretaris dengan suara bergetar. "Sistem pembayaran korporat utama kita baru saja diputus aksesnya oleh pihak holding. Semua transaksi pengeluaran di atas lima puluh juta rupiah harus melewati persetujuan langsung dari akun pusat Cakrawala Capital."

"Nggak mungkin!" pangkas Reno seraya bangkit berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. "Coba pakai kartu kredit eksekutif milik saya! Pakai akun darurat!"

"Sudah saya coba, Pak," potong Bimo tenang. "Seluruh rekening dan fasilitas kredit korporat atas nama Anda dan Mba Sella sudah dibekukan total sejak pukul sepuluh tadi. Surat resmi dari tim hukum Pak Hendra sudah masuk ke sistem perbankan partner kita."

Sella yang mendengar hal itu langsung terduduk di sofa dengan wajah pucat pasi. "Reno... jadi benar wanita kaku itu yang punya perusahaan ini? Jadi kita nggak punya uang lagi?!"

"Diam kamu, Sella!" bentak Reno meluapkan kepanikannya yang meluap-luap. "Ini pasti cuma trik Nadia! Dia cuma mau gertak aku karena dia cemburu sama kamu! Dia nggak mungkin setega itu!"

Reno menyambar ponsel pribadinya dengan gerakan kasar. Dengan jemari bergetar, ia mencari nomor kontak Nadia. Pria itu menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel ke telinganya.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

"Sialan!" umpat Reno seraya melempar ponselnya ke atas meja.

Ia mencoba menghubungi nomor telepon kantor pusat PT Cakrawala Capital, namun resepsionis holding hanya memberikan jawaban dingin bahwa Nyonya Nadia Kirana tidak menerima tamu atau panggilan pribadi tanpa janji temu resmi.

Dalam kondisi pikiran yang sangat kacau, Reno menyambar kunci mobil dan jas kerjanya. "Bimo, amankan seluruh berkas operasional! Saya mau pulang ke rumah sekarang!"

Reno berlari keluar dari ruangan tanpa mempedulikan Sella yang mengejarnya dari belakang sambil memanggil nama pria itu berulang kali.

Sementara itu, di rumah mewah milik Reno, suasana sangat jauh dari kata tenang.

Ibu Risma dan Maya sedang duduk santai di ruang tamu, sibuk membolak-balik katalog perhiasan dan barang-barang bermerek yang rencananya akan mereka beli sore ini menggunakan uang transferan dari Reno.

"Aduh, Maya, kalung emas yang ini bagus banget," ujar Ibu Risma seraya mengelus gambar di katalog. "Nanti kamu minta Mas Reno transfer lima puluh juta ya, sekalian buat bayar DP mobil baru kamu."

"Beres, Bu! Mas Reno kan lagi senang karena sudah lepas dari Mbak Nadia," sahut Maya tertawa geli. "Mbak Nadia itu pasti sekarang lagi nangis-nangis di kontrakan sempit. Lagian sok-sokan nggak mau minta harta gono-gini, padahal emang nggak berhak!"

BRAAK!

Pintu depan rumah didobrak kasar dari luar. Reno melangkah masuk dengan napas memburu, peluh mengucur di dahinya, dan wajah yang sangat pucat.

Ibu Risma dan Maya terkejut setengah mati hingga katalog di tangan mereka terjatuh ke lantai.

"Reno? Kamu kenapa pulang jam segini, Nak?" tanya Ibu Risma panik seraya menghampiri putranya. "Wajah kamu kok pucat banget begitu?"

"Mas Reno kenapa?" timpal Maya heran. "Bukannya Mas Reno mau ke Dharmawangsa sama Kak Sella?"

Reno menatap ibu dan adiknya dengan pandangan mata yang liar dan penuh keputusasaan. Pria itu menyapu rambutnya ke belakang dengan kasar.

"Ibu... Maya... kita dalam masalah besar," bisik Reno dengan suara tercekat di tenggorokan.

Ibu Risma mengerutkan dahi, tertawa canggung. "Masalah apa maksud kamu, Reno? Jangan bikin Ibu takut. Masalah perusahaan?"

"Bukan cuma masalah perusahaan, Bu!" teriak Reno histeris, membuat Ibu Risma dan Maya terlonjak kaget. "Nadia... Nadia itu ternyata pemilik tunggal PT Cakrawala Capital!"

Ruang tamu yang megah itu mendadak hening seketika. Ibu Risma terkekeh pelan, menganggap ucapan putranya hanyalah lelucon yang tidak lucu.

"Reno, kamu jangan mengada-ada ah! Nadia itu cuma anak yatim piatu yang waktu menikah sama kamu cuma bawa koper tua! Mana mungkin dia punya perusahaan holding besar seperti Cakrawala Capital?" cemooh Ibu Risma.

"Iya, Mas! Mas Reno pasti salah dengar atau dipecundangi orang!" tambah Maya sinis. "Mbak Nadia kan cuma mantan guru privat yang kaku!"

"AKU NGGAK SALAH DENGAR, MAYA!" raung Reno seraya memukul meja kaca di ruang tamu hingga bergetar keras. "Orang-orang hukum dari Cakrawala Capital datang sendiri ke ruangan aku pagi ini! Mereka bawa berkas akta pendirian dan sertifikat saham 60 persen milik Apex Media! Dan nama pemilik tunggalnya adalah Nadia Kirana!"

Ibu Risma menahan napasnya, jantungnya mendadak berdegup sangat kencang. Wajah tua itu perlahan kehilangan warnanya. "Enam... enam puluh persen?"

"Semua modal awal lima tahun lalu, semua aset, dan semua uang operasional yang kita pakai selama ini... itu semua uang milik Nadia yang disalurkan lewat Cakrawala Capital!" lanjut Reno dengan suara gemetar, air mata kepanikan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dan sekarang... Nadia membekukan seluruh kartu kredit korporat! Dia membatalkan DP mobil baru kamu, Maya! Dia menahan seluruh pengeluaran kas!"

DEGG.

Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya. "Gak... gak mungkin! Terus mobil baru aku gimana, Mas?!"

"Mobil apa lagi yang kamu pikirkan, Maya?!" bentak Reno murka. "Tiga hari lagi Nadia mengadakan RUPS Luar Biasa! Dia mau mengaudit seluruh pengeluaran kas operasional! Kalau aku nggak bisa mengembalikan uang satu miliar rupiah yang dipakai buat beliin Sella berlian dan bayar gaya hidup kalian... Nadia bakal pecat aku secara tidak hormat dan laporkan aku ke polisi!"

Mendengar kata polisi dan pecat, Ibu Risma mendadak lemas. Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya hingga wanita tua itu ambruk di atas sofa.

"Ya Tuhan... Reno..." ratap Ibu Risma dengan suara gemetar. "Jadi... jadi selama ini kita hidup dari uang Nadia?"

"Iya, Bu! Selama ini wanita yang Ibu caci maki, wanita yang Ibu suruh-suruh seperti pembantu, dan wanita yang aku hina di restoran semalam... dialah yang memberi kita makan dan kemewahan ini!" seru Reno dengan penyesalan yang mulai merayap liar di dadanya.

Maya mulai menangis sesenggukan, menyadari bahwa seluruh kehidupan mewahnya yang dipamerkan di media sosial akan sirna dalam sekejap. "Mas... terus kita harus gimana? Kita bisa dipenjara?"

Reno terduduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi meja. Pikirannya melayang membayangkan tatapan mata Nadia yang dingin dan tenang saat meninggalkan rumah tadi pagi. Tatapan mata seorang wanita yang tidak lagi memiliki rasa cinta, melainkan kesiapan penuh untuk menghancurkan musuhnya.

Bait kalimat terakhir Nadia kembali membakar ingatan Reno:

“Saya keluar dari rumah ini tanpa menuntut hartamu... karena seluruh harta yang kamu banggakan itu, sebenarnya adalah milik saya.”

Reno mengepalkan tangannya di lantai, meneteskan air mata kekalahan pertamanya. Kesombongannya telah membuahkan kehancuran yang nyata.

"Kita harus ketemu Nadia..." bisik Reno parau seraya menatap ibu dan adiknya. "Kita harus memohon ampun sama Nadia sebelum RUPSLB dilaksanakan... atau kita semua akan membusuk di penjara!"

🌸🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!