NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: BARIKADE DARAH

Eksan Prasetya, dengan kemeja hitam yang terbuka sepenuhnya dan memperlihatkan balutan perban putih bernoda darah di perut kirinya, melangkah perlahan namun pasti menuju ke arah pintu keluar. Tangan kanannya memegang erat sebilah pipa besi tebal berujung tajam yang baru saja diambil Rangga dari tas perlengkapan darurat.

"Eksan, kumohon jangan turun ke bawah! Kau bisa mati jika memaksakan diri bertarung lagi!" seru Nasya dengan nada suara yang bergetar hebat. Jari-jemari tangan mungilnya memegang ujung kain kemeja hitam Eksan dari belakang, mencoba dengan sisa tenaganya untuk menahan pergerakan pemuda yang baru saja siuman dari koma klinis tersebut.

Eksan menghentikan langkah kaki lebarnya selama satu detik. Ia membalikkan tubuh tegapnya perlahan, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata polos Nasya yang dipenuhi oleh genangan air mata cemas. Kilatan yang posesif dan sangat pekat kembali terpancar kuat dari sepasang mata elangnya, menghapus seluruh dominasi rasa sakit yang membakar dinding perut jahitannya. Ia mengulurkan tangan kirinya, memegang Nasya untuk memberikan penegasan terhadap nya

"Tetaplah berada di dalam kamar ini bersama Dokter Surya, Nasya. Jangan pernah berpikir untuk membuka pintu atau mengeluarkan kepalamu ke luar lorong sebelum aku sendiri yang datang menjemputmu kembali," kata Eksan dengan suara rendah yang berat, parau, namun sarat akan nada perintah mutlak yang tidak boleh didebat. "Sudah kubilang, kau adalah milikku. Dan seorang Eksan Prasetya tidak akan pernah membiarkan tikus-tikus jalanan dari kota sebelah itu melangkahi mayatku hanya untuk menyentuh seujung rambutmu."

Setelah memastikan Nasya mundur kembali ke sudut ruangan bersama Dokter Surya yang tampak gemetar ketakutan, Eksan berbalik dengan cepat. Ia mendorong pintu kayu kamar perawatan dan melangkah keluar menuju lorong utama, di mana Rangga sudah berdiri siaga bersama lima orang sisa pasukan inti Black Cobra yang memegang senjata tajam terhunus tegak di tangan masing-masing.

"Bagaimana situasi di gerbang bawah, Rangga?" tanya Eksan dingin tanpa ekspresi, sambil terus berjalan tegap menepis rasa lemas akibat kehilangan terlalu banyak cairan darah.

"Barikade lapis pertama di halaman parkir bawah sudah jebol, Bos! Pasukan faksi kota sebelah membawa lebih dari tiga puluh orang bersenjata parang dan balok paku. Mereka bergerak brutal dan saat ini sedang mencoba mendobrak pintu besi akses tangga darurat utama lantai satu!" lapor Rangga dengan urat leher yang menegang tegang akibat adrenalin yang memuncak.

Eksan mengulas sebuah seringai tipis yang luar biasa mengerikan di sudut bibirnya yang terluka. "Bagus. Biarkan tikus-tikus itu masuk ke dalam lorong tangga yang sempit. Jalur vertikal adalah tempat terbaik untuk memotong kaki mereka satu per satu tanpa memberikan ruang bagi mereka untuk mengepung kita. Bergerak sekarang!"

Pasukan kecil yang dipimpin langsung oleh sang monster jalanan itu bergerak cepat menembus pintu pembatas lorong menuju ke arah tangga darurat utama. Begitu mereka membuka pintu besi tangga, suara gemerincing logam yang saling beradu kasar dan teriakan penuh dendam langsung menyergap indra pendengaran mereka dengan sangat keras. Tiga orang anak buah faksi kota sebelah yang berhasil menjebol pintu lantai bawah tampak sedang berlari menaiki anak tangga dengan mata beringas yang haus darah.

Eksan tidak membuang waktu satu detik pun. Memanfaatkan posisi ketinggian yang menguntungkan, ia melesatkan tubuh tegapnya ke bawah, mengayunkan pipa besi tebal di tangan kanannya dari atas ke bawah dengan kekuatan gila yang digerakkan oleh amarah mutlak.

*BRUUAAKKK!*

Hantaman pipa besi Eksan mengenai telak tulang selangka pria barisan depan musuh hingga patah total. Pria itu menjerit kesakitan sebelum akhirnya menggelinding jatuh ke bawah, menubruk dua orang temannya yang berada di belakang hingga mereka semua kehilangan keseimbangan di atas anak tangga semen yang sempit. Bersamaan dengan itu, Rangga dan lima orang pasukan inti Black Cobra langsung menerjang maju menutup sisa jarak aman, melepaskan rentetan pukulan kasar dan tebasan tanpa belas kasihan kepada setiap musuh yang mencoba merangkak naik.

Pertempuran barikade berdarah di dalam lorong tangga darurat itu pecah secara brutal dan sepihak. Eksan bertarung layaknya seekor serigala hitam yang mengamuk di tengah kegelapan malam demi melindungi wilayah sarangnya. Di balik rasa perih luar biasa yang seolah merobek kembali seluruh jahitan di perut kirinya hingga balutan perban putihnya kembali berubah warna menjadi merah pekat yang mengerikan, gerakan fisik bertarungnya sama sekali tidak melambat seujung kuku pun. Ia menumbangkan setiap musuh yang mencoba menghalangi jalannya hingga mereka semua terkapar tak berdaya dengan wajah yang hancur lebur di atas lantai semen yang kini mulai dipenuhi genangan darah segar.

Namun, jumlah pasukan faksi kota sebelah yang terus merangsek masuk dari pintu lantai satu tampak terlalu banyak untuk dihadapi oleh hanya enam orang pasukan Black Cobra. Dua orang anak buah Eksan sudah terjatuh dengan luka sayatan yang cukup dalam di lengan mereka, membuat lini pertahanan di barisan tengah lorong tangga mulai sedikit goyah dan terdesak mundur kembali ke atas.

"Bos Eksan! Jumlah mereka terlalu banyak di bawah! Kita harus mundur kembali ke lantai atas untuk membuat barikade baru di depan pintu klinik!" teriak Rangga sembari menopang tubuhnya setelah melepaskan satu tendangan lurus yang telak menghantam dada musuh.

"Tidak ada kata mundur di dalam kamus seorang Eksan Prasetya, Rangga!" raung Eksan dengan suara bariton yang menggelegar pekat, menyemburkan sedikit cairan merah dari sela bibirnya akibat tekanan fisik yang sudah melewati batas normal tubuh manusia. "Siapa pun yang berani melangkah mundur malam ini... aku sendiri yang akan memotong kepala mereka terlebih dahulu sebelum musuh menyentuh kalian!"

Eksan memegang pipa besinya lebih kuat lagi, bersiap melakukan duel massal satu lawan banyak dengan sisa tenaga terakhirnya yang berada di ambang batas kesadaran. Mata elangnya yang pekat menatap beringas ke arah belasan orang musuh yang kini mulai berkumpul di bordes tangga bawah, siap untuk melakukan serbuan massal terakhir untuk menumbangkan sang penguasa jalanan yang sedang sekarat.

Namun, tepat saat belasan pasukan kota sebelah itu bersiap menerjang maju menaiki anak tangga darurat, sebuah raungan suara dari puluhan sepeda motor sport hitam berkapasitas mesin besar mendadak bergemuruh luar biasa keras dari arah luar halaman parkir bawah gedung rumah sakit rahasia.

*DUAAARRR!*

Pintu gerbang belakang basement lantai satu hancur lebur dihantam paksa oleh mobil van hitam cadangan milik Black Cobra yang datang dengan kecepatan penuh. Bersamaan dengan hancurnya gerbang bawah, Bara melompat turun dari atas jok motor sportnya dengan sepasang mata yang memancarkan aura haus darah murni yang luar biasa pekat, memimpin puluhan pasukan bantuan Black Cobra yang akhirnya tiba tepat pada waktunya setelah memotong jalur perbatasan kota.

"Babat habis semua bajingan kota sebelah ini tanpa sisa!!! Jangan biarkan satu pun dari mereka pulang dengan kepala utuh malam ini!" raung Bara dengan suara keras yang mematikan, langsung melakukan serangan kejutan dari arah belakang untuk menjepit seluruh pasukan musuh di dalam lorong tangga darurat.

Mendengar kedatangan pasukan bantuan yang dipimpin oleh Bara, nyali bertarung belasan anak buah faksi kota sebelah yang berada di dalam lorong tangga seketika menciut habis dalam sekejap. Mereka kini terjebak di tengah-tengah kepungan maut antara amukan monster jalanan Eksan di atas dan eksekusi brutal pasukan Bara di bawah, menyisakan kekalahan mutlak bagi siapa saja yang berani mengusik ketenangan milik sang penguasa aspal kota.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
wah keren jujur . apa lagi di akhir cerita nya 👍 lanjut
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!