Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Anak Haram di Meja Catur Keluarga
Dua minggu kemudian, sebuah map merah dilempar ke meja batu di tepi danau Puri Adiwangsa.
"Tiga bulan terlambat," kata Eyang Hardiman. "Biaya pelabuhan naik sembilan persen. Mitra luar negeri meminta kepastian, sementara timmu terus mengirim alasan."
Wisnu berdiri di hadapan keluarga inti. Damar duduk di sisi kanan Eyang, Ratri di kiri. Beberapa anggota dua cabang lain memenuhi kursi belakang.
"Izin lahan belum selesai," jawab Wisnu. "Kalau dipaksa, risiko sengketa lebih besar daripada kenaikan biaya."
"Kau selalu punya perhitungan," ujar Eyang. "Tapi pemimpin dinilai dari hasil."
Ratri menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Proyek yang dibahas adalah pengembangan pusat logistik luar negeri, salah satu pintu bagi ekspansi pelabuhan Grup Adiwangsa. Nilainya cukup besar untuk mengubah keseimbangan suara di antara tiga cabang keluarga.
"Kalau Bapak tidak lagi percaya pada kepemimpinan saya," kata Wisnu, "saya mengundurkan diri sebagai penanggung jawab proyek. Serahkan kepada cabang pertama dan kedua."
Suasana langsung berubah.
Ratri menurunkan cangkir. "Mas Wisnu serius?"
"Sangat."
Seorang paman di belakang berbisik, "Sejak anak haram itu pulang, cabang ketiga rupanya lebih sibuk bermain perusahaan hiburan."
Tawa tipis terdengar.
Damar tidak ikut. Ia membaca halaman biaya yang terbuka. "Kalau dua cabang mengambil alih, pembagian kewenangan harus jelas. Tidak boleh ada dua penanggung jawab untuk satu tanda tangan."
"Saya bisa menangani hubungan mitra," kata Ratri cepat. "Tim Damar mengurus operasi."
"Kita bahas setelah due diligence ulang," jawab Damar.
"Tidak perlu memperlambat seperti Mas Wisnu."
"Justru karena dia mundur akibat risiko izin, kita harus membaca risikonya."
Ratri membuka halaman struktur biaya. "Cabang kedua punya mitra yang bisa mempercepat perizinan. Kalau keputusan tetap melalui tim Damar, kita kehilangan momentum."
"Percepatan tanpa jejak dokumen bukan momentum," jawab Damar. "Itu lubang hukum."
"Kau menuduh mitra saya?"
"Saya meminta due diligence. Kalau permintaan itu terdengar seperti tuduhan, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa."
Beberapa anggota keluarga saling pandang. Hadiah proyek itu baru berada di meja lima menit dan dua calon pengendalinya sudah bertarung tentang tanda tangan.
Eyang membiarkan mereka bicara cukup lama sebelum mengetuk papan catur dengan satu bidak.
"Perusahaan bukan warung keluarga," katanya lembut. "Semua izin tetap melalui tim kepatuhan. Damar memegang operasi. Ratri memegang hubungan mitra. Keputusan yang mengikat aset harus ditandatangani bersama."
Keduanya tidak puas. Justru ketidakpuasan seimbang itulah yang dipilih Eyang.
Wisnu menundukkan kepala seolah menerima kekalahan. Di balik meja, ponselnya menerima satu pesan dari Arya.
Biarkan mereka mengambil proyek. Saya butuh dua bulan tanpa gangguan.
Wisnu tidak membalas. Ia hanya menggeser map merah ke tengah, cukup dekat agar Damar dan Ratri harus meraihnya bersamaan.
Jari keduanya menyentuh sampul pada saat yang sama.
Tak satu pun mau melepaskan lebih dulu.
Eyang mengetuk meja. "Cukup. Wisnu menyerahkan dokumen dalam tiga hari. Damar dan Ratri menyusun struktur baru. Saya tidak mau mendengar pertengkaran."
Keduanya mengangguk, tetapi cara mereka memandang map merah sudah seperti dua tangan memegang bagian berbeda dari hadiah yang sama.
Setelah rapat, Wisnu berjalan ke lorong samping. Arya menunggu di sana dengan pakaian santai, seolah baru selesai menemani Sasa bermain.
"Mereka mengambilnya?" tanya Arya.
"Dengan kedua tangan."
"Ratri akan mengejar hubungan mitra. Damar akan menahan tanda tangan sampai audit ulang. Mereka bertengkar sebelum tiga hari."
Wisnu merapikan manset. "Dan selama mereka bertengkar, tak ada waktu mengawasi PE atau proses pengakuan anakmu."
"Eyang marah sungguhan."
"Tentu. Permainan yang baik memakai risiko sungguhan. Saya kehilangan kendali proyek untuk beberapa bulan."
"Kalau proyek gagal?"
"Damar cukup pintar untuk mencegah kegagalan total. Ratri cukup serakah untuk menunjukkan semua sekutunya. Kita mendapat waktu dan peta."
Arya menatap danau. "Kamu memberi mereka madu."
"Dan mereka terlalu sibuk menjilat untuk melihat botolnya tertutup."
Di ruang makan keluarga, ejekan terus bergerak. Seorang kerabat Ratri berkata bahwa cabang Wisnu tak lagi punya dasar menuntut warisan setelah proyek utama dilepas. Yang lain menertawakan Arya karena hanya menguasai perusahaan hiburan milik keluarga istrinya.
Damar menutup tabletnya. "Kalau kalian merasa dia tidak penting, kenapa terus membicarakannya?"
Meja mendadak diam.
"Saya hanya bercanda, Mas Damar."
"Bercanda biasanya membuat orang tertawa."
Ia berdiri dan meninggalkan mereka. Di halaman, ia sempat melihat Arya masuk ke mobil bersama Wisnu. Tak ada sapaan, hanya tatapan singkat antara dua orang yang sama-sama tahu permainan belum dimulai secara resmi.
Malamnya, Arya tiba di markas Kevin. Sebuah meja baru dipasang di tengah ruangan. Bara sudah menunggu dengan foto-foto kendaraan yang mengawasi PE.
"Mulai hari ini pembagian kita tetap," kata Arya. "Bara memegang perlindungan dekat dan operasi lapangan. Kevin memegang analisis teknis, komunikasi, serta bukti digital. Keduanya tidak bergerak melewati bidang lain tanpa koordinasi."
Kevin mengangkat tangan. "Kalau Cak Bara mencoba memperbaiki server?"
"Gue lempar servernya ke kepala lo," jawab Bara.
"Itulah alasan aturan dibuat."
Arya mendorong kantong antistatis dari Cendana ke tengah meja. Kevin memasukkannya ke kotak pelindung sinyal dan menghubungkan alat pembaca terisolasi.
"GPS aktif setiap enam jam," katanya. "Perekam cuma menyala ketika mendeteksi suara. Data dikirim lewat kartu prabayar yang registrasinya memakai identitas palsu."
"Nomor inventaris?" tanya Arya.
"Mirip format vendor keamanan Wisnu, tapi dua digitnya tidak cocok. Bisa salinan, bisa unit lama, bisa sengaja dibuat agar lo menuduh dia."
Arya mengangguk. "Jangan ambil kesimpulan. Telusuri pengadaan vendornya."
Bara menyebarkan foto. "Tiga kendaraan yang mengawasi PE tidak terhubung Halim. Salah satunya mengikuti Bu Anindya sampai dua hari lalu. Sekarang hilang."
"Tambah pengawal berlisensi di gedung, tapi jangan membuatnya seperti benteng," kata Arya. "Anindya harus tahu peningkatan keamanan umum, bukan identitas kita."
"Siap."
Kevin membuka peta jaringan. Tiga nama kini tertulis jelas di samping pembagian tugas: ARYA, KEPUTUSAN, BARA, LAPANGAN, KEVIN, INFORMASI.
Tidak ada logo, tidak ada struktur resmi, dan tidak ada nama Tuan Besar.
Semua laporan memakai dua saluran terpisah. Jika satu orang hilang kontak, yang lain tidak mencari tanpa kode darurat Arya. Aturan sederhana itu menjaga mereka tetap hidup di lapangan.
Namun untuk pertama kalinya sejak Arya kembali, tim kecilnya memiliki bentuk yang dapat bergerak tanpa tumpang tindih.
Di Puri Adiwangsa, Ratri menelepon mitra luar negeri tanpa sepengetahuan Damar. Damar, di ruang lain, memerintahkan audit ulang seluruh izin tanpa memberi tahu Ratri.
Mereka telah menelan madu yang diberikan Wisnu.
Tak satu pun menyadari bahwa botol itu membuat keduanya saling berebut, sementara Arya memperoleh ruang untuk menyiapkan langkah berikutnya.