( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 }:{secret journey }
Dalam perjalanan menuju Negeri Angin, Dewi Bunga bertanya kepada Zeo, "Zeo, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Katakan saja, kamu mau bertanya apa?" jawab Zeo.
"Aku ingin memiliki putra atau putri," ucap Dewi Bunga.
Langkah Zeo seketika terhenti. "Mengapa, Bunga?" tanya Zeo, lalu tertawa, "Haha... Kamu serius, Bunga? Permintaanmu itu sangat lucu sekali."
Sambil terus berjalan, Dewi Bunga menyahut, "Cukup, Zeo! Hentikan tawamu. Kamu adalah suamiku, dan hubungan kita sudah berlangsung sangat lama. Kita pun sudah lama berpisah. Aku hanya ingin kamu memperlakukanku sebagai seorang istri, bukan hanya sekadar menjadi pasanganmu."
Dewi Bunga kemudian berlari mendahului Zeo.
"Maafkan aku. Aku mengerti kamu kecewa, Bunga," gumam Zeo.
Sesampainya di Negeri Angin, Zeo tidak melihat keberadaan Dewi Bunga. Di sisi lain, rakyat Negeri Angin langsung menyapanya dan membawanya ke tempat berdoa.
"Ketua Zeo, kami dan para pemuda di sini sedang berdoa meminta agar tidak ada lagi hal buruk yang terjadi pada semua bangsa. Aku juga meminta maaf atas pengkhianatan dari mantan ketua Bangsa Angin," ujar salah satu dari mereka.
Zeo menjawab, "Aku datang ke sini bukan untuk mendengar kata maaf dari kalian. Aku datang hanya untuk memastikan kalian semua baik-baik saja. Kau adalah seorang guru, maka aku akan menjadikanmu sebagai pemimpin Negeri Angin yang baru. Aku tidak bisa berlama-lama di sini."
Sebelum pergi, Zeo memberikan sebagian energi dari dalam tubuhnya. Ia juga menitipkan sebuah pesan untuk disampaikan kepada Dewi Bunga. Setelah itu, Zeo pergi meninggalkan Negeri Angin dan berjalan menuju tempat ciptaan Sora.
"Maafkan aku, Bunga. Ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu," bisik Zeo sebelum akhirnya masuk dan membeku di dalam tempat tanpa waktu tersebut.
Di sisi lain, Dewi Bunga baru saja sampai di Negeri Angin. Ia langsung mencari keberadaan Zeo dengan wajah yang tidak tenang, matanya menoleh cemas ke setiap arah.
Sesaat kemudian, seseorang datang mendekat, "Maafkan saya jika lancang, Dewi. Anda diminta oleh Guru Negeri ini untuk menemuinya."
"Tunjukkan jalannya, aku akan menemui Guru," jawab Dewi Bunga.
Sesampainya di sana, Dewi Bunga menatap Guru Negeri Angin.
"Apakah Kau Dewi Bunga?" tanya Guru tersebut.
"Iya, aku Dewi Bunga. Ada apa memangnya?"
"Aku... Ketua Zeo memberikan titipan ini untukmu, Dewi."
"Lalu, di mana Zeo?" tanya Dewi Bunga cemas.
"Kami tidak mengetahui ke mana Ketua Zeo pergi," jawab Guru tersebut.
Bunga menggenggam erat energi itu. Namun, saat Dewi Bunga melihat Zeo melangkah masuk ke tempat ciptaan Sora, dia langsung berteriak histeris, "Zeo! Apa yang kamu lakukan?! Aku sangat membencimu, Zeo! Aku benci!"
Dengan penuh kemarahan dan kesedihan, Dewi Bunga melemparkan energi tersebut hingga pecahan energinya melukai kakinya sendiri. "Kamu, Zeo... Selalu saja meninggalkanku sendiri. Apa maumu, Zeo?! Bisakah kamu memikirkan keinginan kita untuk selalu bersama? Karena aku pasti akan mewujudkan keinginanmu itu!" ucapnya terisak.
Tetesan air mata dan rasa kecewa mendalam kini bersatu. Dewi Bunga pun berlari kencang menuju batas Sungai Suci.
"Wahai Sungai Suci, aku Dewi Bunga! Aku ingin melepaskan status kedewianku!" serunya berpasrah.
Mendengar doa tersebut, kupu-kupu bercahaya datang mendekatinya dan berputar-putar di atas kepala Dewi Bunga. Perlahan tapi pasti, tubuh Dewi Bunga berputar dan berubah wujud menjadi sekuntum Bunga Suci, meninggalkan tetesan air matanya yang masih membeku di atas tanah tersebut.