Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena prank
Zain tidak habis pikir kepada saudaranya. Bisa-bisanya dia menyukai istri orang. Namun ia juga merasa kasihan. Karena selama ini Zean mungkin memang sering bercanda dengan kalimatnya yang bilang suka sama seseorang. Namun kali ini mendengar dan melihat mimik wajah Zean saat bercerita, sepertinya ia benar-benar memiliki perasaan kepada perempuan tersebut.
Zain pun pamit kembali ke kamarnya.
"Kamu juga tidur gih, ini sudah malam."
"Abang sih enak balik ke kamar sudah ada yang nemenin. Lha aku? "
"Makanya cepetan nikah. Jangan nunggu istri orang!"
"Astaghfirullah... tuh kan. Nyesel aku cerita."
"Sudah, pokoknya buang jauh-jauh itu perasaan kalau nggak mau di golok sama suaminya."
"Iya iya... "
Zain pun naik ke atas. Sedangkan Zean masih nonton TV di ruang tengah sendirian.
Sesampainya di kamar, Zain sudah disambut hangat oleh istrinya. Tumben hari ini istrinya memakai baju dinas tanpa ia minta. Lingerie warna hitam dengan model mirip bikini membuat mata Zain semakin sehat. Tentu saja Zean tersenyum senang mendapati hal itu. Tidak hanya itu, kali ini bahkan Tiyas menghampirinya dan memberinya kecupan.
"Ehem... mimpi apa aku semalam."
"Kok gitu, mas?"
"Iya, karena malam ini istriku luar biasa."
Tiyas tersipu malu.
Zain tidak menyiapkan kesempatan itu. Ia pun langsung menggendong istrinya ke atas tempat tidur. Dan terjadilah apa yang harus terjadi. Zean bahkan melupakan segelas susu hangatnya yang kini sudah dingin di atas laci.
Sedangkan Zean saat ini baru saja kembali ke kamarnya. Namun ia belum bisa memejamkan mata.
"Masa' iya aku tanya sama pak Hilman langsung. Pak, bapak poligami ya? ah tidak-tidak!Sreg... ada pa dengan otakku ini." Zean merutuki dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Zean tertidur juga.
Satu minggu kemudian.
Sudah beberapa hari ini Zean tidak melewati jalan alternatif. Ia tidak ingin bertemu dengan perempuan itu lagi. Mungkin memang tidak pasti ketemu, namun kemungkinan kecil ada. Hari ini Zean terpaksa melewati jalan alternatif kembali karena ia ada jadwal manasik dengan jama'ah. Termasuk Pak Hilman, istri dan anaknya. Karena keberangkatan mereka bulan depan yang artinya tinggal satu minggu lagi. Setelah rombongan ummi dan abi pulang nanti rombongan jama'ah mereka yang akan berangkat.
Zean bersyukur pagi ini ia tidak ada hambatan apa pun saat melewati komplek tersebut. Ia bahkan hanya bisa melihat gerbang rumahnya saja.
"Alhamdulillah, semoga Engkau menjauhkan aku dari perasaan yang salah ini ya Allah."
Sekitar jam 9, Zean sampai di kantor. Dan jam 10 semua jamaah sudah berkumpul di aula untuk melakukan manasik.
"Pak, semuanya sudah hadir. Mari ke aula." Ujar Fadli.
"Baiklah. Kamu buka dulu, saya menyusul."
"Baik, pak."
Zean masih mempersiapkan diri untuk memberi edukasi dan memimpin praktik dalam membekali para calon jama'ah yang akan melakukan ibadah umroh.
Tidak lama kemudian, Zean pun pergi ke aula. Di depan aula ada beberapa orang yang mungkin menunggu keluarganya. Mata Zean justru tertuju pada satu orang yang sangat tidak ingin ia temui.
"Ya Allah... dia lagi. Tadi aku sudah bersyukur tidak bertemu dengannya di jalan. Tapi kenapa malah bertemunya di sini. Dia pasti sedang menunggu keluarganya. Tidak-tidak, suami dan madunya. Oh Astaghfirullah... kenapa dia mau dimadu." Zean sibuk dengan pikirannya sendiri.
Perempuan itu bahkan menyapa Zean meski hanya dengan menundukkan kepala dan tersenyum. Zean pun sontak membalasnya.
Zean segera masuk di dalam. Sudah ada Ustadz Haqi juga yang akan membantu Zean dalam memberikan arahan kepada para jama'ah. Zean dapat melihat Rafli beserta ummi dan abinya duduk di depan. Rafli sempat melambaikan tangannya kepada Zean. Zean pun membalasnya.
Dalam benak Zean masih tidak habis pikir kepada Pak Hilman yang tega berpoligami. Meki Zean belum tahu apa alasannya, baginya pal Hilman sudah melukai dua hati. Dan Zean juga berpikir berapa kuat hati perempuan yang di luar menunggu mereka.
"Ah... kenapa aku sibuk memikirkan mereka lagi! Stop Zean!"
Karena sedang adzan Dhuhur, kegiatan pun dihentikan. Para jama'ah dipersilahkan untuk istirahat. Saat itu juga Rafli langsung menghampiri om super heronya.
"Om super hero.... " Rafli mencium tangan Zean.
"Hai boy. Giman tadi bisa?"
"Bisa dong. Om keren!"
"Oh ya?"
"Iya."
"Pak Zean, kami mau shalat Dhuhur dulu." Pamit Hilman.
"Oh iya, monggo pak. Itu Mushalla nya sebelah sana ya."
"Iya, pak. Terima kasih."
Zean juga pergi ke mushalla untuk shalat. Di sana sudah ada ustadz Haqi yang siap mengimami.
Setelah selesai shalat, Zean masih duduk santai di Mushalla kebetulan Hilman dan Rafli juga masih duduk santai. Rafli menghampiri Zean.
"Om, om yang punya Mushalla ini? Tanya Rafli dengan kepolosannya.
Zean tersenyum mendengarnya.
"Mushalla ini milik Allah, boy."
"Iya Rafli tahu. Tapi om yang bangun?"
"Abinya Om yang bangun."
"Wah keren."
Zean mengusap kepala Rafli.
Melihat keakraban Rafli dan Zean, Hilman pun mengulum senyum.
Zean ingin sekali bertanya kepada Rafli, namun ia urungkan karena masih ada Hilman yang memantau mereka. Dengan jarak yang cukup dekat, Hilman pasti mendengar obrolan mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari Mushalla dan mau kembali ke aula.
"Bunda... bunda.... bunda dari mana?" Rafli berlari menghampirinya.
"Bunda beli minuman. Kamu mau?"
"Nggak deh. Rafli sudah kembung."
Lagi-lagi tatapan Zean tidak bisa dialihkan. Hilman melirik ke arahnya.
"Ehem... Pak Zean, anda baik-baik saja?"
"Ah iya, baik-baik, pak."
"Huf... hampir saja aku memandangi istri orang di depan suaminya. Ya Allah ampuni dosaku."
Mereka kembali ke aula untuk melanjutkan kegiatannya. Perempuan itu masih menunggu mereka di depan aula.
Satu jam kemudian, kegiatan selesai. Zean mengakhiri kegiatan tersebut dengan do'a. Satu per satu dari mereka keluar dari aula.
Rafli langsung nempel pada bundanya. Nampak istri Hilman pun ngobrol akrab dengan perempuan itu. Zean semakin heran melihat mereka.
"Pak Zean, maaf dari tadi saya melihat anda selalu memperhatikan ke arah mereka." Tegur Hilman.
"Astaghfirullah... maaf maaf Pak, bukan maksud saya.... "
"Pak Zean suka sama adik saya?"
Sontak Zean terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Hilman.
"Apa iya aku salah dengar?" Batinnya.
"Pak Zean, anda mendengar saya?"
"Eh iya, maaf. Kenapa tadi kata anda pak?$
Hilman menghela nafas panjang lalu tersenyum.
"Pak Zean suka sama adik saya?"
"Maaf jadi dia adik anda?"
"Iya, dia adik saya. "
"Maaf sekali pak Hilman saya kira dia juga istri anda karena Rafli memanggilnya bunda." Jujurnya.
Sontak Hilman terkekeh mendengarnya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...