Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20—Apa Milikku Tetap Milikku
Perjalanan panjang rombongan pengantin membelah jalanan ibu kota di bawah payung langit sore yang mulai jingga. Tabuhan genderang dan suara seruling tradisional mengiringi langkah para pengawal, menciptakan atmosfer megah yang menyelimuti dua tandu pengantin keluarga Shen.
Di dalam tandu sebelah kiri, Yueli duduk dengan punggung tegak. Tangannya yang terbalut kain sutra merah merapikan lipatan gaunnya dengan tenang. Lewat celah kecil tirai, ia bisa melihat bayangan sosok jangkung berbalut jubah merah keemasan yang memimpin jalannya tandu. Pei Chanqing. Pria itu menepati kata-katanya, mengambil alih sisi kiri karena adanya pelayan pribadi Yueli, dan membiarkan sang adik tiri menikmati kebodohannya sendiri di tandu sebelah kanan.
Sebentar lagi, pertunjukan sesungguhnya akan dimulai, batin Yueli menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan.
Tak berapa lama kemudian, derap kuda dan langkah rombongan melambat. Suara sorak penonton mereda, berganti dengan suara gerbang kayu besar yang berderit terbuka. Mereka telah tiba di Kediaman Jenderal Pei—benteng pertahanan keluarga militer paling disegani di ibu kota.
Dua tandu itu berhenti tepat di depan kediaman. Pei Chanqing dan Pei Yu turun dari kuda mereka secara bersamaan. Pria bernama Pei Yu tampak sedikit ragu; ada rasa takut yang menyelimuti batinnya. Jika ia salah mengambil tandu, ia justru akan menikahi putri sulung keluarga Shen yang terkenal cerdas, cakap, dan berlidah tajam. Sedikit rasa insecure mulai merayap di dadanya.
Dengan tangan gemetar, ia menyibak tirai tandu di sisi kanan. Dan alih-alih sosok Yueli yang ia takuti, Xuer justru tersenyum manis di balik kerudung merahnya.
"Pei Gege..." cicit Xuer terdengar malu-malu.
Pei Yu pernah beberapa kali melihat gadis itu; ia tidak mungkin salah mengenali suara dibalik kerudung merah itu. Ini adalah Xuer, calon istri aslinya! Sontak, ia bergegas menoleh ke tandu kiri tempat Pei Chanqing tengah menyibak tirai tandu. Dada Pei Yu bergetar hebat antara percaya atau tidak. Menyadari situasi ini, ia langsung paham: telah terjadi pertukaran tandu yang disengaja dalam prosesi pernikahan di keluarga Shen.
Sementara itu di sisi kiri, tangan kokoh Pei Chanqing terulur mantap. Yueli menyambutnya, melangkah turun dari kabin tandu dengan anggun sambil menerima uluran tangan kasar sang Jenderal. Senyumnya mengembang sempurna, memancarkan kepuasan yang teramat dalam.
Di ambang pintu gerbang megah itu, dua takdir telah resmi bertukar tempat. Xuer harus menelan buah simalakama atas keserakahannya sendiri, sementara Yueli melangkah masuk ke dalam benteng sang Jenderal, siap menulis babak baru dari permainan kekuasaan mereka.
Acara penyambutan pengantin dimulai dengan prosesi adat melangkah di atas bara api. Melihat tungku kecil dengan bara menyala di depan gerbang utama, Pei Chanqing tidak membiarkan Yueli mengotori sepatu brokatnya atau mengambil risiko tersandung. Tanpa ragu, sang Jenderal langsung menyendok tubuh Yueli ke dalam gendongannya, melangkah tegap melewati bara api tersebut dengan mudah seolah ia tidak sedang membawa apa pun.
Di sisi lain, Pei Yu terpaksa melakukan hal serupa dengan rahang yang mengetat sempurna. Ia menahan gejolak emosi di dadanya, apalagi ketika Xuer—yang masih merasa menang—mengeratkan rangkulan tangannya di leher Pei Yu sambil berbisik manja, "Pei Gege, kamu terlalu berani membawaku ke sini."
Pei Yu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia berjalan dalam diam, membawa beban yang sama sekali tidak ia inginkan.
Sementara itu, pasangan di sebelah mereka menyelesaikan ritual dengan atmosfer yang jauh berbeda.
"Kau sangat pintar membaca situasi," bisik Yueli pelan begitu kakinya kembali menjejak lantai setelah diturunkan dengan lembut oleh Pei Chanqing.
"Tentu saja, semua itu berkat instruksi dan pesan darimu, Nona Shen," balas Pei Chanqing dengan seringai tipis penuh arti.
Rombongan kemudian bergerak menuju aula utama keluarga untuk melaksanakan upacara penghormatan dan sumpah pernikahan. Di bawah temaram lentera merah dan disaksikan oleh para kerabat serta tetua keluarga Pei, prosesi sakral tersebut berjalan khidmat hingga tiba di puncak acara: membuka kerudung pengantin.
Begitu kain penutup merah itu disingkap, Xuer yang berdiri di samping Pei Yu serta-merta membelalakkan matanya lebar-lebar. Napasnya tercekat. Di hadapannya bukanlah sosok Jenderal Pei Chanqing yang kaya raya, berkuasa, dan menjadi impian setiap gadis di ibu kota—melainkan Pei Yu, pria yang selama ini berusaha ia jauhi, pria yang kini justru terikat dengannya. Padahal ia sudah bersusah payah menukar tandu.
Xuer hampir kehilangan keseimbangan, sementara Pei Yu menatapnya dengan senyum dingin dan sinis yang amat menakutkan.
Beberapa langkah dari tempat mereka berdiri, Yueli menyaksikan drama tersebut dari balik kipas emasnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kemenangan yang paling manis.
Nikmati saja buah dari kebodohan dan keserakahanmu sendiri, Adikku sayang,batin Yueli penuh kepuasan.
Dada Yueli berdegub kencang dengan irama yang tak biasa tatkala Pei Chanqing menggenggam tangannya dengan erat. Kehangatan telapak tangan sang Jenderal meresap menembus kulit, menyalurkan rasa aman dan keyakinan di tengah riuhnya kerabat keluarga Pei yang memadati aula utama. Bersama-sama, mereka membungkuk hormat memberikan salam kepada para tetua, menjalani setiap prosesi dengan langkah yang selaras. Untuk pertama kalinya dalam kehidupan barunya di dunia ini, Yueli merasakan apa artinya memiliki rekan seperjuangan—seseorang yang berdiri di sisinya, bukan sebagai beban, melainkan sebagai pelindung dan sekutu yang sepadan.
Sebaliknya, atmosfer di sisi lain aula bagaikan neraka yang membeku bagi Xuer.
Gadis itu harus berdiri berdampingan dengan Pei Yu di bawah sorotan tajam. Alih-alih mendapatkan tatapan penuh cinta dari seorang Sarjana Kekaisaran, Xuer justru harus menunduk di bawah tatapan dingin, benci, dan merendahkan yang dilemparkan oleh suami sahnya sendiri.
Malam baru saja merangkak turun, menyelimuti kediaman megah keluarga Pei dengan seulas cahaya lentera merah yang temaram. Dua pasang pengantin melangkah menuju kamar pengantin masing-masing, membawa takdir yang telah mereka pilih dan pertaruhkan sendiri.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu