Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Pergi dari Rumah
Di rumah yang baru dibeli Karissa, Davi membantu sahabatnya itu berbenah. Mereka juga pergi berbelanja dan membeli beberapa perabotan rumah.
Hari itu menjadi hari yang sibuk bagi Davi dan Karissa. Hingga sore hari, barulah Davi dan Karissa bisa beristirahat sambil menyantap makanan yang sudah dipesan melalui aplikasi di ponsel.
"Bagaimana? Apa kau suka dengan perpaduan warna abu-abu, putih, dan hitam ini?" tanya Davi sambil memandang sekeliling ruangan yang mengusung tema monokrom.
"Hemm!" Karissa mengangguk dengan semangat.
"Aku sangat suka dengan perpaduan warna ini! Kau memang paling hebat dalam memilih sesuatu yang sesuai dengan seleraku," candanya kepada Davi, membuat pria itu tersanjung.
"Ah, kau bisa saja!"
"Eh, iya!" Tiba-tiba Karissa menyela. "Jangan bilang kepada siapapun kalau aku tinggal di sini, ya! Termasuk Louis!"
"Aku tidak ingin dia tahu di mana aku tinggal!" ucapnya pelan dengan pandangan yang mulai tertunduk.
Hatinya terasa pedih saat memikirkan hubungannya dengan Louis yang tidak jelas arahnya.
Apa mereka benar-benar berpacaran, atau hanya teman tidur saja?
"Baiklah!" ucap Davi. "Aku berjanji tidak akan memberitahukan tempat tinggalmu kepada siapapun!"
"Hem!" Karissa mengangguk. Ia mulai menyantap makanannya tanpa berbicara lagi.
Pukul tujuh malam, Davi bersiap untuk pergi. Karissa mengantarnya sampai ke depan. Ia berdiri di depan mobil Davi, ingin memastikan pria itu benar-benar pergi.
"Oh, iya! Syam dan timnya masih merenovasi lantai satu. Apa kau tetap akan tinggal di lantai dua? Mungkin saja kau akan terganggu dengan pekerjaan mereka!" ucap Davi sebelum benar-benar pergi.
"Tidak apa-apa!" jawab Karissa dengan santai. "Kalau terganggu, aku bisa menginap di tempat Mona selama beberapa hari sampai renovasi selesai!"
"Menginap di rumahku juga tidak apa-apa! Ibuku pasti akan sangat senang kalau ada anak perempuan di rumah! Lumayan, bisa membantu ibuku membereskan rumah atau mencuci piring," sambung Davi setengah bercanda, membuat Karissa ikut tertawa.
"Haha! Nanti yang ada kakak laki-lakimu malah merasa canggung karena ada perempuan yang menginap di rumah kalian!"
"Haha, tidak apa-apa!"
"Sudahlah! Sana pergi! Istirahatlah yang cukup, jangan begadang. Besok antar aku untuk membeli beberapa barang lagi!"
"Baiklah! Aku pulang dulu, ya! Besok aku kemari lagi sambil mengajak Mona! Itu juga kalau dia tidak sibuk!"
"Oke! Sampai jumpa besok!"
Karissa melambaikan tangan, melihat Davi masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi.
Tak lama kemudian, mobil itu benar-benar melaju menembus kegelapan malam, meninggalkan Karissa dalam keheningan.
Ketika Karissa sudah masuk ke dalam rumah, terdengar ponselnya berdering dari saku sebenernya. Ia segera melihat layar ponsel dan menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan.
"Halo!"
"Kariss! Kau pergi dari rumah, ya?" tanya Tuan Lee tiba-tiba.
Ucapannya terdengar penuh kekhawatiran.
"Eh, iya! Maaf, aku lupa memberitahumu!" jawab Karissa dengan canggung.
"Tadi pagi, penjual rumah ini memberi tahu kalau rumahnya sudah dikosongkan. Aku bergegas pergi kemar! Di sini, aku langsung berbenah dan membeli beberapa barang sampai lupa memberitahumu. Maaf!"
Karissa kembali meminta maaf kepada Tuan Lee, merasa tidak enak karena pergi begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa! Aku hanya khawatir kau pergi karena ada masalah di rumah ini!"
"Ah, tidak! Bukan seperti itu! Aku sama sekali tidak merasa ada masalah di rumahmu! Aku hidup dengan sangat baik di sana. Hanya saja, sekarang aku sudah punya rumah sendiri dan ingin membuka usaha di sini," jawab Karissa dengan penjelasan singkat.
"Tapi, kau tenang saja! Kalau ada apa-apa atau kau membutuhkanku, aku akan selalu siap kapanpun! Kita masih bisa berpura-pura menjadi suami istri di depan rekan-rekanmu!"
"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap Tuan Lee dengan lega.
"Aku masih membutuhkanmu untuk beberapa bulan ke depan, sampai peluncuran produk baru perusahaan kami!"
"Oke! Kau tinggal bilang saja! Aku siap mendengar semua perintahmu!" balas Karissa sambil sedikit tertawa. Pembicaraan mereka tidak lagi terasa canggung.
"Oh, iya! Pakai saja kartu kredit yang aku berikan tempo hari! Beli semua barang yang kau butuhkan di rumah baru. Beli semua perlengkapan untuk di tempat usaha juga, pakailah sesukamu! Aku akan sangat senang kalau kau tidak lagi sungkan terhadapku!"
"Baik! Nanti aku akan memakai uangmu untuk membeli beberapa barang," jawab Karissa agar pria itu merasa puas. "Sekarang, aku tutup dulu, ya! Aku mau membereskan kamar, lalu tidur!"
"Ya, istirahatlah! Jangan terlalu capek, nanti kau sakit," ucap Tuan Lee penuh perhatian.
"Baik! Sampai bertemu lain kali!"
"Hem!" Tuan Lee mengangguk.
Lalu, sambungan telepon terputus.
Karissa melihat layar ponselnya kembali gelap. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
***
Empat hari telah berlalu. Lantai satu rumah Karissa kini sudah disulap menjadi sebuah kafe yang sangat nyaman, dengan dekorasi kekinian yang semakin mempercantik tampilannya.
"Mona, apa kau yakin ingin ikut bergabung dan bekerja di sini?" tanya Karissa, yang kini sedang duduk di salah satu meja di Cafe Carist bersama Davi dan Mona.
Cafe Carist adalah nama kafe milik Karissa. Nantinya Davi akan bekerja sebagai manajer di sana.
"Tentu saja! Kalian bekerja di sini, masa aku tidak!" jawab Mona dengan segera. "Aku tidak rela kalian berdua setiap hari bersama, sedangkan aku bekerja di tempat lain dan hanya punya waktu bertemu dengan kalian d akhir pekan saja! Itu namanya tidak adil!"
"Haha, kau cemburu, ya ... karena aku dan Kariss bisa bersama setiap hari?" goda Davi, membuat Mona memutar bola matanya karena kesal.
"Tentu saja!" sergah Mona. "Sejak sekolah menengah pertama, kita bertiga selalu bersama. Dan sekarang, ada kesempatan untuk bekerja bersama, mana mungkin aku mau melewatkan kesempatan emas ini?"
"Bukankah kau sedang bekerja di toko kue? Bagaimana nanti kalau tiba-tiba berhenti? Bosmu pasti tidak akan memberimu izin," tanya Karissa, membuat Davi berpikiran sama.
"Benar juga! Kau tidak bisa sesuka hatimu keluar masuk pekerjaan. Nanti kau harus membayar uang ganti rugi! Memangnya enak?" ejek Davi dengan keras agar Mona mengerti.
"Tenang saja! Ada Kariss yang bersedia menyisihkan sebagian uangnya untuk membayar uang ganti rugi nanti kalau diminta," jawab Mona sambil menggoda Karissa.
"Iya, kan, Kariss?"
"Hah??? Aku? Kenapa jadi aku yang kena getahnya? Kau yang berbuat, aku yang harus bertanggung jawab!"
"Nggak, lah!" jawab Mona dengan lantang. "Karena nanti kau akan mendapatkan karyawan hebat sepertiku!"
"Bukankah ini lebih dari adil?" tambah Mona sambil membusungkan dada dengan penuh percaya diri.
Hal itu membuat Davi dan Karissa tidak tahan ingin menghajarnya.
Tak!
"Awhh, hei, sakit!"
"Apa sekarang kalian ingin membully-ku?"