NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Aku berdiri di sini untuk memperkenalkan istriku, bukan untuk diinjak-injak oleh kalian," suara Baskara menggelegar rendah, dingin, namun mengandung kekuatan mutlak yang membuat seluruh ruangan terdiam seketika.

"Dan, jika kalian tidak bisa menerimanya, maka terpaksa aku akan mencabut seluruh fasilitas dan melepaskan kalian dari kepemilikan saham perusahaan."

Ancaman itu bagaikan petir di siang bolong. Mama Baskara, yang paling tahu seberapa kejam dan tegasnya putra sulungnya jika sudah membuat keputusan bisnis, langsung memucat.

Kerajaan bisnis keluarga itu sepenuhnya berada di tangan Baskara.

Jika mereka diusir dari perusahaan, kemewahan yang mereka nikmati selama ini akan lenyap dalam sekejap.

Melihat situasi yang berbalik mengancam, Mama Baskara langsung mengubah ekspresinya.

Dengan senyum kaku yang dipaksakan, ia mendekat dan merayu putranya.

"B-Bas... jangan bicara seperti itu. Kamu tahu mama hanya terkejut tadi," ujar Mama Baskara mencoba mencairkan suasana. Ia melirik sekilas ke arah Alena dengan senyum terpaksa.

"Sudahlah, jangan perpanjang masalah ini. Ayo, sekarang kita makan malam bersama."

Sementara itu, Billy menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan.

Dengan langkah pincang dan sorot mata penuh dendam kesumat, ia berpamitan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sesampainya di kamar mandi tamu, Billy mengunci pintu rapat-rapat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan rahang mengatup rapat.

"Sialan... sialan! Beraninya dia memukulku demi wanita tua itu!" gumam Billy penuh kebencian, napasnya memburu menahan amarah yang membakar dada.

Ia merogoh saku jas dalamnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening tak berbau—obat perangsang dosis tinggi yang biasa ia gunakan untuk memperdaya wanita. Senyum licik dan keji terukir di wajahnya.

Billy bergegas keluar dari kamar mandi, lalu menyelinap lewat jalur samping menuju area dapur utama yang sedang sepi karena para pelayan sibuk menyiapkan meja makan panjang.

Matanya langsung menangkap deretan gelas kristal berisi air mineral yang disiapkan untuk para tamu.

Tanpa ragu, Billy membuka tutup botol kecil itu dan meneteskan cairan tersebut ke dalam gelas yang khusus diletakkan di dekat kursi Alena.

"Setelah minum ini, aku akan duduk manis dan melihat wanita jalang itu mempermalukan dirinya sendiri di hadapan seluruh keluarga," bisik Billy penuh kemenangan, lalu berjalan pergi sebelum ada yang memergokinya.

Suasana di ruang makan keluarga Baskara terasa sangat mencekam.

Lampu kristal yang tergantung di langit-langit seolah menyorot setiap sudut meja makan yang panjang itu dengan cahaya yang dingin.

Seluruh anggota keluarga duduk dalam keheningan yang canggung, suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di telinga.

Mama Baskara, Yanuar, Arum, dan Areta mencoba bersikap wajar, namun di balik topeng basa-basi mereka, terselip sorot mata yang penuh kepalsuan dan kebencian yang tajam.

Di sampingnya, Baskara tetap duduk tegak dengan rahang mengeras.

Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Alena sedikit pun, memberikan sinyal peringatan tak terucap kepada siapa pun yang berani melirik sinis ke arah istrinya.

Billy kemudian bergabung di meja makan. Ia duduk dengan senyum ramah yang dipaksakan, meski rahangnya masih tampak lebam dan bengkak akibat pukulan Baskara tadi.

Di balik senyum itu, ia menyembunyikan dendam kesumat yang siap meledak.

Ia sesekali melirik ke arah gelas di depan Alena, menanti momen krusial.

Mama Baskara kemudian berdeham, mencoba menguasai keadaan.

Ia mengangkat gelas kristalnya ke udara, menciptakan gestur "penyambutan" yang terasa begitu beracun bagi Alena.

"Baiklah, mari kita lupakan keributan tadi," ucap Mama Baskara dengan suara yang dimanis-maniskan.

"Ini adalah makan malam keluarga, dan kita harus menghormati momen ini. Mari kita bersulang untuk awal yang baru di rumah ini."

Semua orang di meja makan mengangkat gelas mereka masing-masing.

Areta melirik tajam ke arah Alena, sementara Yanuar dan Arum memberikan tatapan penuh intimidasi.

"Ayo, Alena. Jangan sungkan," desak Mama Baskara dengan senyum yang tidak mencapai matanya, memaksa Alena untuk mengangkat gelas yang telah dicampur obat oleh Billy.

Baskara menoleh ke arah istrinya, matanya sempat teralihkan ke arah hidangan utama di depannya, memberi celah kecil bagi Billy untuk memantau reaksi Alena.

Alena, yang merasa tidak enak untuk menolak ajakan sang mertua di depan semua orang, perlahan mendekatkan bibirnya ke pinggiran gelas, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam air bening itu, sebuah jebakan keji tengah menunggunya untuk menghancurkan harga dirinya malam ini.

Baru beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya, Alena tiba-tiba merasakan gelombang panas yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, berpadu dengan sensasi dingin yang menusuk tulang.

Tenggorokannya terasa kering seperti terbakar, sementara detak jantungnya berpacu jauh di atas normal, memukul-mukul dadanya dengan liar.

Alena mulai kehilangan konsentrasi. Pandangannya di hadapannya mendadak kabur, dan napasnya memburu pendek-pendek.

Efek obat perangsang dosis tinggi yang dicampurkan Billy mulai merusak kesadarannya, menggerogoti akal sehatnya secara perlahan.

Di hadapan keluarga yang memandangnya sinis, Alena mati-matian menggigit bibirnya, mencoba menahan diri agar tidak terlihat lemah atau runtuh di hadapan mereka.

Namun, tubuhnya berkhianat. Panas yang membakar membuat Alena tanpa sadar menunjukkan gestur gelisah dan salah tingkah.

Kehilangan kendali atas dirinya sendiri, ia refleks merapatkan tubuhnya ke sisi Baskara, mencengkeram lengan jas suaminya dengan erat dan bersandar manja—sebuah gestur keintiman yang tidak biasa ia tunjukkan di depan umum, apalagi di hadapan keluarga besar yang membencinya.

"Bas..." panggil Alena lirih dengan suara yang bergetar dan terdengar begitu rapuh, napasnya terasa panas di dekat leher suaminya.

Baskara langsung menoleh. Ia mengerutkan kening, menyadari ada yang sangat tidak beres dengan kondisi istrinya.

Namun, sebelum Baskara sempat bertanya atau bertindak, Mama Baskara dan Arum langsung memanfaatkan perubahan drastis itu untuk melancarkan serangan mematikan.

"Ya Tuhan! Lihat kelakuannya!" seru Mama Baskara dramatis sambil meletakkan garpunya dengan kasar di atas piring, menatap Alena dengan jijik.

"Belum genap satu jam berada di rumah ini, dia sudah menunjukkan sifat aslinya! Berani-beraninya berbuat senonoh di meja makan keluarga!"

Arum menimpali dengan nada tajam dan penuh tuduhan keji.

"Kakak, masih mau membela wanita ini? Jelas sekali dia wanita tidak benar! Jangan-jangan dia datang ke sini dalam pengaruh zat terlarang atau obat bius! Memalukan sekali!"

Areta, yang duduk di seberang, langsung memasang ekspresi pura-pura iba.

Ia menggelengkan kepala perlahan, menampilkan gestur wanita berkelas yang prihatin.

"Kasihan Kak Baskara... wanita seperti itu jelas tidak pantas disandingkan dengan nama besar keluarga kita. Dia benar-benar murahan," bisik Areta sengaja mengeraskan suaranya.

Di ujung meja, Billy menyandarkan punggungnya dengan senyum puas yang terukir lebar di balik rahang lebamnya.

Ia menatap Baskara penuh provokasi, menikmati setiap detik kehancuran martabat Alena yang sedang dirancangnya secara sempurna.

"Bagaimana, Bas? Kamu masih mau mempertahankan wanita jalang yang tidak tahu tempat ini?" provokasi Billy telak, memancing Baskara agar meledak dalam amarah.

Dentuman keras menggema di ruang makan yang mewah itu ketika Baskara menggebrak meja makan dengan kedua tangannya.

Piring-piring porselen dan gelas kristal berderit nyaring, membuat seisi ruangan terlonjak kaget. Kemurkaan yang belum pernah terlihat sebelumnya kini terpancar jelas dari sorot mata

Baskara yang memerah.

Insting tajamnya langsung mendeteksi ada kejanggalan; perubahan drastis pada tubuh Alena bukanlah sifat asli istrinya, melainkan efek dari racun atau obat bius yang sengaja dicampurkan ke dalam gelas wanita itu.

Tatapan tajam Baskara menyapu satu per satu wajah keluarganya, mulai dari Mama, Arum, Areta, hingga berhenti pada Billy yang berusaha menyembunyikan seringai gugup di balik rahang lebamnya.

"Kalian benar-benar sudah melewati batas," suara Baskara merendah, dingin, namun mengandung ancaman mematikan yang membuat darah siapa pun mendadak membeku.

Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk berdebat dengan orang-orang berhati busuk di rumah itu, Baskara langsung bangkit.

Ia menyambar tubuh Alena yang kini sudah lemas tak berdaya, membopongnya dalam gendongannya dengan cepat dan penuh pelindung.

"T-tolong aku, Bas..." rintih Alena parau.

Napasnya tersengal-sengal, suhu tubuhnya terasa membara, dan kesadarannya nyaris sepenuhnya hilang di dalam dekapannya.

Baskara melangkah lebar menerobos pintu utama, mengabaikan teriakan protes dari mamanya.

Ia mendudukkan Alena di kursi penumpang depan mobil mewahnya, lalu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi.

Di dalam kabin mobil yang pengap, efek obat terlarang itu bekerja jauh lebih agresif.

Alena yang tersiksa oleh panas di tubuhnya mulai meracau.

Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram kain gaun malam hitam berbahan sutra yang ia kenakan, lalu merobeknya dengan panik demi mencari udara segar.

Melihat kondisi istrinya yang semakin kacau dan nyaris kehilangan kendali diri, rahang Baskara mengeras.

"Sial!!" umpat Baskara penuh amarah, memukul setir mobil dengan satu tangan sementara tangan lainnya berusaha menenangkan Alena.

Menyadari perjalanan kembali ke rumah utama akan memakan waktu terlalu lama dan berbahaya bagi Alena, Baskara segera membelokkan setir secara tajam menuju penthouse pribadinya di pusat kota—tempat paling aman di mana ia bisa menangani situasi ini sendirian.

Begitu mobil berhenti di basement, Baskara langsung mematikan mesin, membopong tubuh Alena yang terus merintih kepanasan, dan membawanya berlari masuk ke dalam lift privat menuju penthouse miliknya.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!