Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebenaran julian
Amplop hitam di tangannya terasa bagai segumpal bara api. Hujan deras yang mengguyur tubuh Radhit tak mampu memadamkan gejolak panas di dalam dadanya. Kalimat pengacara itu terus bergema memekakkan telinga: dr. Julian-lah yang menerima resep dan menyediakannya dua tahun lalu.
Apakah pria berjas putih yang dipuja Vivian sebagai penyelamat itu tak lebih dari serigala berbulu domba? Ataukah ini hanya tipu muslihat terakhir ibu tirinya untuk memecah belah mereka?
Radhit tidak bisa menunggu. Pikirannya dipenuhi bayangan Vivian dan Bumi yang berada di bawah atap yang sama dengan pria itu. Dengan napas memburu dan langkah lebar, Radhit berbalik, menembus guyuran air hujan, lalu menghempaskan pintu klinik dr. Julian hingga terbuka lebar.
Brak!
Suara benturan pintu membuat suasana klinik seketika membeku. Vivian yang sedang merapikan berkas di meja resepsionis tersentak kaget. Bumi yang berada di ruang dalam langsung menghentikan aktivitas mewarnainya.
"Mas Radhit? Kenapa balik lagi? Tubuh kamu basah kuyup.."
"Dokter Julian mana?" potong Radhit dengan suara serak menahan amarah, matanya memerah menatap lurus ke arah lorong.
dr. Julian keluar dari ruang periksa dengan tenang, mengusap tangannya dengan tisu medis. "Ada apa, Pak Radhit? Kenapa Anda berteriak di klinik saya?"
Tanpa membuang detik, Radhit menerjang maju. Ia mencengkeram kerah jas putih Julian, menghimpit pria itu ke dinding lorong!
"Mas Radhit, stop! Apa-apaan kamu ini?!" teriak Vivian histeris. Ia berlari mendekat, berusaha menarik lengan kokoh Radhit, namun tubuh Radhit tak bergeming sedikit pun.
"JELASKAN PADA SAYA, DOKTER!" bentak Radhit tepat di depan wajah Julian, rahangnya mengetat keras. Ia melemparkan amplop hitam yang basah itu hingga isinya berhamburan di lantai. "Jelaskan kenapa nama Anda tertera di dalam dokumen resep zat berbahaya yang meracuni Vivian dua tahun lalu!"
Mata Vivian membelalak. Tubuhnya gemetar hebat mendengar kata 'racun' dan 'resep' diucapkan bersamaan dengan nama Julian. "R-racun? Mas... apa maksudmu?"
Julian tidak melawan. Ia tidak membalas cengkeraman Radhit, meski napasnya sedikit sesak akibat himpitan itu. Tatapan matanya tidak menyiratkan rasa takut atau bersalah, melainkan duka yang sangat mendalam.
"Lepaskan saya, Pak Radhit," ucap Julian pelan namun tegas. "Bumi ada di ruang sebelah. Jangan biarkan anak itu melihat kegilaan ini."
Kalimat itu menampar kesadaran Radhit. Perlahan, Radhit melonggarkan cengkeramannya, lalu mundur satu langkah dengan napas tersengal-sengal.
Julian merapikan jasnya yang kusut. Ia membungkuk, mengambil lembaran kertas basah di lantai, lalu membaca tulisan yang tertera di sana. Senyum sinis yang getir terukir di bibirnya.
"Ibu tiri Anda memang sangat cerdik," bisik Julian seraya membuang kertas itu ke atas meja. Ia menatap Radhit dan Vivian bergantian. "Dua tahun lalu, Ibu tiri Anda mendatangi rumah sakit tempat saya bertugas. Beliau menggunakan nama yayasan kesehatan untuk memesan senyawa kimia tersebut secara legal dengan memalsukan tanda tangan dan stempel izin praktek saya."
"BOHONG!" tuduh Radhit, dadanya naik turun memburu. "Bagaimana saya bisa percaya kalau ini bukan bagian dari permainan Anda untuk mendekati Vivian?!"
"Mas Radhit, diam!" potong Vivian dengan teriakan melengking. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Tangannya berguncang saat menunjuk ke arah Radhit. "Jangan asal menuduh orang yang sudah menyelamatkan nyawaku!"
"Vi, aku cuma mau melindungi kamu dan Bumi!" Ucap Radhit lirih, matanya menatap Vivian dengan tatapan memohon agar dipercaya. "Dokumen ini resmi dari rumah sakit jiwa tempat ibu tiriku ditahan!"
"Dan dokumen itu dikirim oleh pengacara dari wanita yang hampir membunuhku!" balas Vivian menunduk, menangis terisak. "Kenapa kamu selalu membawa kehancuran setiap kali kamu datang, Mas? Kenapa?!"
Hiks hiks
Suasana seketika menjadi dingin. Radhit terpaku. Kalimat Vivian menembus jantungnya lebih dalam daripada sabetan pisau mana pun.
Di tengah tangisan Vivian, dr. Julian berjalan menuju brankas kecil di sudut ruangannya. Ia mengambil sebuah map cokelat tua yang sudah agak menguning, lalu meletakkannya di antara Radhit dan Vivian.
"Dua tahun lalu, saya menyadari ada ketidaksesuaian laporan pengeluaran obat di laboratorium saya," kata Julian tenang. "Saat saya mengusutnya, saya menemukan fakta bahwa izin saya disalahgunakan. Saya melaporkan hal itu ke pihak kepolisian dan manajemen rumah sakit secara tertutup. Ini berkas laporan resminya, lengkap dengan bukti pemalsuan tanda tangan oleh kaki tangan ibu tiri Anda."
Radhit mengambil berkas dari Julian dengan tangan gemetar. Ia membaca setiap lembar laporan polisi yang tercatat resmi dua tahun lalu jauh sebelum Julian mengenal Vivian secara pribadi. Semua bukti yang dipegang Julian runtuh seketika menepis tuduhan tersebut.
Radhit terduduk di kursi tunggu, menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan. Rasa malu, rasa bersalah, dan kebodohan yang luar biasa menghantam jiwanya hingga tak berbekas. Sekali lagi, emosi blindly telah membuatnya terlihat seperti iblis di depan Vivian.
"Saya minta maaf..." bisik Radhit, suaranya pecah, nyaris tak terdengar di antara deru hujan. "Saya... saya cuma takut..."
Vivian mengusap air matanya, menatap Radhit dengan rasa lelah yang amat sangat. "Mas Radhit... tolong pergi."
"Vi..."
"Tolong pergi, Mas. Aku butuh waktu," ucap Vivian dengan suara datar yang tak lagi memiliki energi untuk marah.
Radhit berdiri pelan-pelan. Ia menatap Vivian, lalu menatap dr. Julian yang berdiri tegap menjaga wanita itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Radhit melangkah keluar dari klinik, membiarkan tubuhnya kembali dihantam hujan deras.
Di dalam mobilnya yang gelap, Radhit memukul lingkar kemudi berkali-kali hingga tangannya memar dan berdarah. Penyesalannya malam ini terasa begitu membunuh. Ia telah merusak sedikit kepercayaan yang baru saja mulai tumbuh di antara dirinya dan Vivian.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di jok sebelah bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal:
"Kemarahanmu sangat mudah ditebak, Radhit. Tapi ketahuilah, sidang pertama kasus ibu tirimu minggu depan tidak akan berjalan semudah itu. Kami punya saksi kunci yang akan membalikkan semua tuduhan... dan saksi itu adalah mantan sekretaris pribadimu sendiri."
Radhit menatap layar ponselnya dengan mata membelalak. Mantan sekretarisnya orang yang selama ini memegang seluruh rahasia keuangan dan komunikasi pribadinya dengan Vivian di masa lalu.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian