NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

bahkan sampai di rumah, Alya masih memikirkan tentang mahar.

Ia bahkan mencari referensi dari internet, ia menemukan foto foto emas sebagai mahar di internet, bahkan ada yang juga.

"apa arus punya uang, dia kan tak bekerja." batin Alya.

Alya terus menggulir media sosial tentang mahar, di sana banyak yang memberikan uang bahkan apartemen mewah.

"apa tak ada yang murah..?" batinnya.

Karena tak bingung akhirnya Alya mencari kontak Lia.

Tentu Lia yang merupakan tenaga pengajar juga di yayasan tak dapat mengangkat panggilan dari Alya.

Mau bertanya ke ibunya pun dia tak berani, takut karena ini ibunya malah berubah pikiran tentang arus.

Sedangkan orang yang membuatnya pusing kini sedang membongkar barang yang ia ambil dari tas Alya tadi.

Arus benar benar membongkar benda seukuran setengah kuku kelingking itu.

"alat perekam."gumamnya setelah membongkar barang itu.

"harga benda ini tak murah, apa lagi ini sengaja di buat mengikuti desain tas Alya. Sepertinya ada yang ingin bermain dengan gadis itu"

sebenarnya arus sudah mencurigai satu orang, karena hanya dia orang yang mampu memiliki barang semahal ini, dan hanya dia yang memiliki sangkut paut dengan dirinya dan Alya.

Namun kecurigaan hanyalah kecurigaan, sekarang dia tak bisa membuktikan. Apa lagi orang itu tak pernah di lihat datang ke desa ini, apa lagi bertemu Alya.

Arus melemparkan, benda itu ke api yang sudah ia siapkan, lalu ia masuk ke dalam rumahnya.

Saat masuk ia berpapasan dengan Anhar.

Namun arus sama sekali tak menyapa, dia terus berjalan seakan tak ada siapapun di sana.

"rus, apa kamu sudah mempersiapkan tempat dan sebagainya untuk pernikahanmu, acaramu kurang dari 2 bulan lagi" ucap Anhar.

Arus berhenti namun ia sama sekali tak menoleh.

"kalo mau pasti tanya dengan mama, punyaku juga di urus mama. Tapi kamu tetap harus menentukan bagaimana selera dan tentang dananya."

arus mengalihkan langkahnya.

"mama ada di dapur" ucap Anhar yang melihat arus menuju ke kamar ibu mereka.

Arus melirik ke arah kakaknya itu lalu kembali berbalik menuju ke dapur.

"akhirnya anak ini mau mendengarkan saranku" batin Anhar.

Anhar, tak diam di sana.

Ia mengikuti langkah adiknya ke dapur.

Saat sampai di dapur, arus mendekati ibunya yang sedang memasak.

Namun ia tak memanggil sang ibu, ia malah menekan nekan lengan ibunya dengan jari telunjuk.

Ibunya itu berbalik.

"ada apa, apa kamu lapar...?"

"pernikahan..." ucap arus masih datar.

Tentu tingkah laku adiknya yang manja, tapi saat berbicara masih dengan nada datarnya membuat arus tertawa..

Sedangkan sang ibu malah bingung dengan maksud anaknya ini.

"menikah..? Bukanya kamu sudah ada Alya yang akan di nikahi bulan depan.?"

Anhar, yang tau arus sulit berbicara tentang hal seperti ini akhirnya dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan sedikit tawa yang masih tersisa.

Tentu arus yang tau dia di tertawakan langsung melirik kakaknya dengan tajam.

Anhar sendiri tak memperdulikan lirikan tajam adiknya ini.

"begini, ma... Arus ke sini ingin menanyakan tentang persiapan pernikahan"

"oh... Tentang itu."

Juita mengajak putrinya untuk duduk terlebih dahulu.

"karena mama tau kamu sulit tentang hal ini makanya mama dan ibunya Alya sudah mempersiapkan ini. Tapi untuk mahar itu perlu diskusi dengan Alya karena mahar adalah hak pengantin wanita seorang, jadi kalo bisa kamu tanya langsung ke Alya. Nanti kalo sudah mendapatkan jawaban kamu bisa kasih tau mama atau papa biar kami yang membeli".

Arus menggeleng.

"untuk mahar itu biar urusanku, aku juga sudah menanyakan ke Alya".

"nah kalok gitu, udah aman tapi apa kamu ada uang untuk mahar. Itu tidak murah."

Juita berdiri dan mengambil tas miliknya, ia mengambil satu kartu dan memberikan kepada arus.

"di sini ada 100 juta, harunya Alya tak akan meminta lebih dari ini"

arus menggeser kartu itu kembali.

"aku ada uang...."

"ada uang, dari mana...? Jangan bilang dari malak orang" kali ini Anhar yang berbicara.

Namun ia langsung mendapatkan tepukan manja dari sang ibu.

"jangan asal ngomong..." ucap sang ibu.

Arus sama sekali tak memperdulikan perkataan kakaknya itu.

"untuk mobil dan rumah" tanya arus.

"rumah...? Kamu mau tinggal ber 2 dengan Alya..?" tanya sang ibu.

"lagi pula jika aku menikah, dan dia menikah akan ada 3 keluarga di rumah ini. Itu akan terlalu banyak" jawab arus sambil menunjuk kakaknya.

"apa kamu yakin...? Lagi pula tak apa kalau ada 3 keluarga, lagi pula rumah ini tak kecil ada 3 lantai"

"bener kata mama rus, apa lagi apalagi untuk mobil. Kan di rumah udah ada 5 mobil buat apa beli lagi...? Rumah sama mobil juga gak murah." ucap Anhar.

"itu mobil papa, bukan barangku."

" ya sudah kalau itu maumu, lebih baik menunggu papamu pulang saja."

sang ibu tak bisa melarang lagi, karena dia tau jika arus sudah mengatakan sesuatu itu tak akan ada yang bisa membantah.

Lagi pula selama ini arus memang tak pernah meminta uang kepada keluarga.

walau tak yakin uang yang di dapat anaknya haram atau halal mereka tak tau. Tapi mereka tak dapat berbuat apa apa, mereka hanya bisa berdoa agar uang itu halal.

Akhirnya setelah sore hari saat dewangga sudah pulang, mereka benar benar berkumpul.

Dan juita langsung menceritakan semuanya kepada dewangga, bahkan ia menceritakan ini sebelum mereka berkumpul.

Bahkan Juita mewanti wanti dewangga agar tak terlalu keras terhadap arus, dia takut anaknya itu kembali pergi pergian.

walau arus jika di rumah hanya berdiam diri di kamar, tapi Juita tetap senang ada anaknya di rumah.

Bagaimanapun dia seorang ibu, yang tetap akan menghawatirkan anaknya meski sudah sebesar apapun.

Saat di ruang tengah, dewangga menanyakan tentang permintaan arus dan alasannya.

Tentu arus menceritakan apa yang ia ceritakan kepada ibunya di dapur tadi siang.

"lalu kenapa jika itu mobil papa, aku ini papamu apa yang ku miliki tentu untuk anakku"

"tidak, walau memang begitu. Tapi untuk keperluanku aku akan menggunakan uangku sendiri"

brak....

"arus... Apa kamu tak menganggap..."

belum menyelesaikan kata katanya, Juita sudah memegang tangan dewangga.

"pa inget apa kata mama tadi" bisiknya.

"ok.... sekarang terserahmu, tapi kau tau kan harga mobil dan rumah itu tak murah.."

"tentu aku tau, maka itu aku mempersiapkan 2 miliar yang bisa di pakai untuk rumah dan mobil."

"dua miliar... ? Dapet dari mana kamu duit sebanyak itu rus... Jangan bilang kamu selama ini atmin judi online" curiga Anhar.

"tentu bekerja.." jawab arus.

"bekerja apa...? Ingat rus, Alya memiliki latar keluarga baik baik. Dia juga wanita yang baik, jangan kamu beri makan dengan uang haram".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!