Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sore hari di area parkiran khusus mahasiswa Universitas Harvard diselimuti oleh riak angin yang sejuk. Matahari perlahan mulai merendah di ufuk barat, membiarkan bias warna jingga keemasan menerpa deretan mobil-mobil mewah dan kendaraan sport mahal yang terparkir rapi.
Mahasiswa dari berbagai fakultas mulai berhamburan keluar dari gedung perkuliahan, bersiap untuk pulang atau sekadar berkumpul bersama kelompok mereka.
Namun, ketenangan sore yang damai di pelataran parkir barat mendadak hancur berkeping-keping.
"BAJINGAN MANA YANG MELAKUKANNYA?!"
Sebuah teriakan histeris dan penuh amarah yang meluap-luap menggelegar hebat, membelah kebisingan pelataran parkir. Suara melengking dan kasar itu sanggup membuat belasan mahasiswa yang sedang melangkah menuju kendaraan mereka seketika terhenti kaku, membalikkan badan dengan raut wajah penuh keterkejutan.
Di sudut parkiran blok VIP, berdiri Glenmore Ford dengan wajah merah padam bagaikan udang rebus.
Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar, dadanya naik turun terengah-engah oleh rasa murka yang membakar seluruh akal sehatnya. Pria itu mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan, menatap pemandangan mengerikan di hadapannya dengan manik mata yang membelalak lebar seolah tak percaya.
"SIALAN! KATAKAN PADAKU SIAPA YANG MELAKUKAN HAL INI?!" teriak Glenmore lagi, suaranya parau dan bergetar hebat oleh gabungan rasa amarah dan frustrasi yang membuncah.
Di atas semen keras tempat parkirnya, tergeletak sebuah motor sport edisi terbatas berkubikasi tinggi dengan kondisi yang benar-benar hancur berantakan!
Motor sport impian bernuansa hitam-karbon yang baru saja berhasil dibeli dan dimilikinya sejak kemarin sore itu kini tidak lagi menyerupai kendaraan berharga fiktif.
Tangki bahan bakarnya penyok parah akibat hantaman benda tumpul yang sangat keras. Seluruh bodi carbon fiber yang berkilau hancur terbelah kepingan-kepingan kecil yang berserakan di tanah.
Kedua bannya diiris kasar hingga robek tak berbentuk, sementara lampu depan dan panel instrumen digitalnya hancur lumat bagaikan diremuk oleh martil baja.
Padahal, nilai dan harga motor superbike edisi langka tersebut setara dengan harga tiga mobil sports mewah sekaligus! Sebuah kendaraan kebanggaan yang baru dua hari berada di tangan Glenmore dan menjadi pameran utamanya di kampus sejak tadi pagi.
Kini, kendaraan bernilai jutaan dolar itu hanyalah tumpukan besi tua yang tak berguna di atas aspal!
"Bangsat! Bajingan!" Glenmore memberontak liar.
Pria itu menghentakkan kakinya ke tanah, lalu menendang salah satu kepingan bodi motornya yang terlempar ke arah ban mobil di sebelahnya. "Katakan! Siapa yang berani merusak barangku?! Siapa?!"
Beberapa mahasiswa yang berkerumun di sekeliling area parkir mulai berbisik-bisik gila. Ada yang menatap Glenmore dengan rasa kasihan, namun tak sedikit pula yang menyembunyikan tawa geli melihat pangeran kaya dari keluarga Ford itu mengamuk histeris seperti orang gila di tengah lapangan.
"Lihat itu... motor Ducati Super langka miliknya hancur total," bisik salah seorang mahasiswa dari Fakultas Hukum.
"Siapa yang nekad melakukan aksi gila seperti ini di siang bolong?" timpal temannya seraya merinding. "Ini jelas bukan kecelakaan biasa. Ini adalah aksi perusakan sengaja dan penuh dendam."
Glenmore terus mencaci-maki, mengedarkan pandangannya yang liar ke seluruh penjuru parkiran. Matanya merah, napasnya memburu bagaikan banteng yang terluka. Rasa gengsi yang hancur di depan ratusan mata mahasiswa membuat harga dirinya tersungkur ke titik terendah.
Pria itu mengamuk, memukuli kap mobil di sebelahnya seraya berteriak memanggil para penjaga keamanan kampus yang berlarian panik mendekati lokasi kejadian.
•••••
Sementara keributan gila dan amukan histeris Glenmore Ford mengguncang area parkir utama...
Di balik dinding beton tinggi pembatas parkiran gedung perpustakaan—hanya berjarak lima puluh meter dari tempat Glenmore meratap—dua sosok gadis berdiri bersandar di balik bayang-bayang pohon mahoni yang rindang.
Irysh Whitman berdiri anggun dengan mengapit sebuah pemukul bisbol berbahan besi padat yang tersembunyi di balik mantel tebalnya. Di sampingnya, Parrie Rose berdiri tegap seraya mengusap pergelangan tangan halusnya yang sedikit pegal.
Keduanya menatap ke arah sudut parkiran dengan pandangan dingin. Suara teriakan histeris Glenmore yang bergema hingga ke belokan lorong tersebut terdengar bagaikan alunan musik yang paling merdu di telinga mereka.
Parrie mengukir sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman dingin, tajam, dan penuh kemenangan yang sangat kontras dengan wajah lembutnya. Luka memar di pergelangan tangannya akibat cengkeraman kasar Glenmore semalam seolah terbayar lunas saat melihat penderitaan dan kehancuran pangeran Ford tersebut.
Irys berpaling menatap Parrie, lalu menyunggingkan seringai gembiranya yang teramat manis. Wanita kaya dari keluarga Whitman itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara.
TAK!
Parrie menyambut lambaian tangan itu, melakukan tos ria yang sangat kompak dan renyah di udara sore yang sejuk.
Merekalah pelakunya!
Hanya butuh waktu sepuluh menit di saat jam istirahat kuliah sore tadi bagi Parrie dan Irysh untuk menyelesaikan aksi pembalasan dendam yang terencana rapi ini.
Dengan keahlian Irys melumpuhkan sensor kamera pengawas di sudut parkiran menggunakan alat peretas genggamnya, serta tenaga eksplosif dari Parrie yang sudah terbiasa hidup keras di jalanan, motor impian senilai jutaan dolar milik Glenmore Ford hancur lumat tanpa meninggalkan jejak pelakunya sedikit pun!
Ini adalah pelajaran pertama yang dikirimkan Parrie secara langsung untuk membalas perbuatan kasar dan percobaan pelecehan yang dilakukan Glenmore di kamarnya semalam.
Irys menyandarkan pemukul bisbol besinya di dalam tas olahraga berukuran besar yang ia bawa, lalu menyiku lengan Parrie pelan seraya tertawa terkekeh riang.
"Tembakan dan hantaman martilmu pada tangki bensin motor itu benar-benar luar biasa, Parrie," puji Irys dengan mata berbinar puas, mengingat bagaimana Parrie menghantamkan martil besi ke motor Glenmore tanpa ragu sedikit pun tadi. "Lihatlah pria sok tampan itu... dia tampak seperti anak kecil yang kehilangan mainan mahalnya."
Parrie menurunkan tangannya, merapikan kerah bajunya seraya menatap ke arah Glenmore yang kini sedang ditenangkan oleh tiga petugas keamanan kampus.
"Dia layak mendapatkannya," ujar Parrie datar, suaranya tenang tanpa ada sisa rasa takut atau bersalah sedikit pun. "Itu baru peringatan kecil dari apa yang bisa kuhancurkan dari hidupnya jika dia berani menyentuhku lagi."
Irys tersenyum lebar, menyenggol bahu Parrie dengan hangat.
Ikatan persahabatan di antara kedua gadis ini mendadak terbentuk begitu kuat hanya dalam hitungan hari. Irys yang merindukan sosok teman yang tangguh dan tidak bermuka dua menemukan pelindung sekaligus kawan sejati pada diri Parrie Rose.
Irys mengelus perutnya sendiri yang mulai menyuarakan ketidaknyamanan, lalu memeluk lengan Parrie dengan manja.
"Ayo... aku sudah sangat lapar," ucap Irys sambil tersenyum manis dan riang pada Parrie. "Pembalasan dendam ini benar-benar menguras energiku. Aku ingin makan daging panggang ekstra tebal malam ini di restoran langgananku, dan kau harus ikut denganku!"
Parrie menatap wajah riang Irysh, lalu kekehan pelan akhirnya meluncur tulus dari bibirnya. Beban emosional yang menyiksa dadanya sejak pagi tadi perlahan mereda oleh kehangatan persahabatan gadis Whitman ini.
"Baiklah, Nona Whitman," balas Parrie lembut. "Daging panggang terdengar sangat sempurna untuk menutup sore ini."
Kedua gadis itu membalikkan badan, melangkah pergi meninggalkan belokan gedung perpustakaan dengan langkah santai dan anggun—membiarkan Glenmore Ford terus meraung kesetanan di tengah pelataran parkir yang kian ramai.