NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: CAHAYA KEEMASAN

Kegelapan menyelimuti laboratorium bawah tanah dalam sekejap, hanya menyisakan pendar merah dari sistem override digital yang berkedip putus asa pada konsol utama. Suara alarm darurat bergaung nyaring, memekakkan telinga dan merobek kesunyian yang seharusnya mencekam.

Di tengah kekacauan tersebut, di depan pintu brankas baja yang baru saja mendesing terbuka, siluet gelap pasukan taktis tak dikenal muncul. Mereka bukanlah penjaga biasa yang disewa profesor gila; seragam mereka berwarna hitam legam tanpa identitas, dilengkapi dengan peralatan canggih yang memancarkan cahaya inframerah dari balik kegelapan asap pekat yang menyembur keluar. Sepatu combat mereka berderap mantap, langkah kaki terlatih yang mendekat dengan kecepatan tinggi, membawa aura ancaman yang jauh lebih besar daripada organisasi mafia mana pun yang pernah dihadapi Shen Mo.

Shen Mo, yang masih terikat kuat di kursi interogasi, menyipitkan matanya yang tajam ke arah bayangan pasukan yang masuk. Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang hebat—bukan karena takut, melainkan karena ledakan naluri pelindung yang mendidih di dalam darahnya. Sebagai raja mafia yang telah menguasai seluruh penjuru Kota Yucheng selama bertahun-tahun dengan tangan besi, ia tahu persis kapan bahaya nyata ada di depan mata.

Ia tidak takut mati, tetapi ia tidak akan membiarkan satu goresan pun menyentuh bocah tujuh tahun di sampingnya, Luo Chen, yang saat ini menjadi kunci utama dari segalanya. Tanpa memedulikan rasa sakit yang luar biasa di kedua pergelangan tangannya yang terluka akibat meronta sebelumnya, Shen Mo mengumpulkan seluruh sisa tenaga fisiknya. Otot-otot lengannya yang keras bagaikan baja kembali menegang hebat—siap untuk melepaskan diri dan menerjang siapa saja yang berani mendekat.

Di sisi lain ruangan, dalam kegelapan total yang menyesakkan dada, Luo Chen justru tampak tenang luar biasa. Bocah tujuh tahun yang luar biasa cerdas itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan; sebaliknya, tatapan matanya langsung menyapu setiap detail pergerakan pasukan taktis yang masuk dengan kecepatan analisis yang melampaui orang dewasa.

Chen tahu bahwa logic bomb yang ia tanam di server pusat Aegis Corp baru saja bekerja sempurna—mematikan seluruh sistem elektronik di fasilitas ini, termasuk senjata penembak otomatis dan sistem komunikasi mereka. Namun, ini juga berarti mereka berada dalam situasi no-man's land, di mana tidak ada pihak luar yang tahu lokasi mereka yang sesungguhnya dan mereka sepenuhnya sendirian dalam kegelapan yang mematikan ini.

Pasukan taktis yang masuk bergerak sangat terlatih dan terkoordinasi. Mereka tidak langsung menyerang secara membabi buta, melainkan menyebar dengan formasi taktis yang sempurna, menyisir sudut-sudut ruangan dengan lampu senter taktis yang menyilaukan mata. Cahaya mereka menembus kabut gas, menampakkan bayangan tabung inkubator yang pecah dan genangan cairan hijau yang bercampur dengan pecahan kaca.

Pemimpin tim mereka, seorang pria bertubuh tegap dengan tanda insignia khusus yang samar di seragamnya, memberikan isyarat tangan yang tegas. Mereka bukan sekadar pembunuh bayaran; mereka adalah operator profesional yang dikirim oleh pihak yang jauh lebih tinggi dan lebih berbahaya daripada profesor gila yang kini tergeletak pingsan di dekat konsol.

Luo Chen merasakan detak jantungnya berpacu sedikit lebih cepat—bukan karena rasa takut, melainkan karena adrenalin murni yang mengalir deras di dalam nadinya. Ia mengerti bahwa mereka berdua kini adalah target bernilai tinggi yang harus diamankan, atau jika gagal, harus dilenyapkan agar rahasia Aegis Corp tetap tertimbun selamanya.

Bocah itu mengangkat dagunya perlahan dalam kegelapan, tatapan matanya yang jernih memantulkan pendar cahaya senter taktis yang mendekat. Di dalam benak kecilnya, ia tengah menghitung setiap detik dan peluang yang tersisa. Sementara Shen Mo, di kursi interogasi di sebelahnya, mulai melepaskan belenggu logam dengan cara paksa—merobek otot-otot tangannya sendiri demi mendapatkan kebebasan untuk bertindak.

"Shen Mo," bisik Chen pelan. Suaranya jernih dan dingin, memecah deru sirene yang bergaung di seluruh ruangan. "Saat aku menghitung mundur, jatuhkan kursi kita ke lantai dengan cara menendang sandaran kaki sekuat tenaga."

Pria itu menoleh cepat ke arah bocah tujuh tahun itu, terkejut oleh ketenangan dan instruksi taktis yang di luar nalar anak seusianya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Shen Mo hanya menatap lurus ke dalam mata jernih sang bocah, lalu mengangguk pelan satu kali dengan ekspresi keyakinan mutlak. Ini adalah kepercayaan buta yang tumbuh di antara dua jiwa yang takdirnya terikat oleh kekejaman—koneksi yang jauh lebih kuat daripada rantai besi mana pun di dunia ini.

Ketika salah satu anggota pasukan taktis mendekat ke jarak lima meter, Luo Chen memberikan isyarat.

"Tiga... dua... satu!" serunya.

Shen Mo mengerutkan segenap sisa kekuatannya untuk menghantam lantai dengan tumitnya, menjatuhkan kursi yang mereka duduki ke samping dengan suara dentuman keras yang bergema di seluruh laboratorium bawah tanah. Tepat pada saat yang bersamaan, sebuah peluru karet ditembakkan oleh anggota pasukan taktis, mengenai dinding besi tempat kepala mereka berdua berada sepersekian detik sebelumnya.

Ruangan itu seketika meledak dalam kekacauan suara dan cahaya saat pasukan taktis tersebut mulai menembaki kedua target mereka, namun peluru mereka meleset dari sasaran akibat gerakan taktis mendadak dari bocah tujuh tahun itu dan pemimpin mafia yang berpengalaman.

Dalam gulita yang pekat dan asap tebal yang menyelimuti ruangan, sebuah fenomena luar biasa dan mustahil mulai terjadi tepat di tengah kegelapan yang mencekam. Cahaya keemasan yang hangat dan misterius mendadak memancar dari dalam tubuh Luo Chen, menyinari seluruh sudut ruangan dengan intensitas cahaya yang menyilaukan mata.

Cahaya keemasan itu tampak seperti simfoni partikel cahaya yang menari-nari di udara, membentuk semacam perisai pelindung yang tidak kasat mata namun nyata. Para anggota pasukan taktis yang mendekat tiba-tiba berteriak tertahan dan mundur beberapa langkah; mata mereka terasa perih dan menyakitkan saat menatap langsung ke arah bocah tujuh tahun itu.

Fenomena cahaya keemasan tersebut bukanlah sekadar trik sulap atau pantulan cahaya biasa, melainkan manifestasi dari warisan biologis unik di dalam diri Luo Chen yang selama ini tidak ia sadari. Kemampuan itu—yang oleh beberapa tetua organisasi disebut sebagai "Simbiosis Cahaya Keemasan"—bangkit secara otomatis dalam situasi hidup dan mati, berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri tingkat tinggi saat nyawanya berada di ujung tanduk.

Setiap peluru karet yang ditembakkan oleh pasukan taktis ke arah Chen dan Shen Mo mendadak memantul kembali secara misterius setelah menghantam perisai cahaya keemasan tersebut, menciptakan dentuman suara metalik yang berisik dan membuat para penyerang semakin panik serta kebingungan.

Di tengah pendaran cahaya keemasan yang menakjubkan itu, Shen Mo berhasil merenggut lepas salah satu lengan kirinya dari belenggu logam dengan cara mematahkan sendi siku tangannya sendiri demi mendapatkan kebebasan—sebuah tindakan pengorbanan fisik yang brutal dan menyakitkan demi melindungi anak di sampingnya.

Pria itu mengertakkan giginya menahan rasa sakit luar biasa; wajahnya berlumuran keringat dan darah segar yang menetes dari pergelangan tangannya yang terluka parah. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Shen Mo langsung melepaskan diri sepenuhnya, lalu menerjang anggota pasukan taktis yang paling dekat dengan satu tangan, memanfaatkan cahaya keemasan yang menyilaukan untuk melumpuhkan para penyerang dalam kekacauan total.

Pertarungan jarak dekat yang brutal dan cepat pun meledak di dalam kegelapan laboratorium bawah tanah yang kini diterangi cahaya keemasan. Shen Mo, meskipun terluka parah dan berdarah-darah, bertarung dengan keganasan seorang raja mafia yang terdesak. Setiap gerakan pria itu presisi, mematikan, dan tak kenal ampun, menjatuhkan dua anggota pasukan taktis yang terlatih tinggi dalam waktu kurang dari sepuluh detik dengan serangan tangan kosong yang keji serta terarah.

Sementara itu, Luo Chen, yang masih memancarkan cahaya keemasan yang melindungi mereka, berlindung di balik reruntuhan tabung inkubator, matanya mengamati setiap pergerakan musuh dengan kecepatan analisis yang luar biasa tinggi di tengah pertempuran hidup dan mati ini.

Namun, jumlah pasukan taktis yang masuk jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan, dan pemimpin tim mereka yang bertubuh tegap—yang menyadari bahwa cahaya keemasan tersebut bukanlah ancaman fisik, melainkan perisai—segera memberikan perintah baru. Salah satu anggota pasukan taktis segera melemparkan granat asap khusus yang langsung menyebar, menetralkan pendar cahaya keemasan yang melindungi Luo Chen dan Shen Mo dengan kepulan asap tebal yang menyesakkan.

Dalam sekejap, pendar cahaya keemasan yang memancarkan kehangatan itu perlahan meredup dan menghilang sepenuhnya, membuat mereka berdua kembali terperangkap dalam kegelapan yang mencekam, dihadapkan pada cengkeraman maut yang semakin mendekat.

Saat cahaya keemasan itu menghilang, suasana di dalam laboratorium bawah tanah berubah menjadi sunyi mencekam. Di tengah kepulan asap tebal yang meredakan pendaran cahaya, siluet gelap pemimpin pasukan taktis tak dikenal yang bertubuh tegap perlahan melangkah mendekat ke arah Luo Chen dan Shen Mo yang terpojok.

Dengan nada suara yang begitu dingin, datar, dan tanpa ampun, pemimpin tersebut memerintahkan dalam bahasa asing, "Amankan subjek nomor satu hidup-hidup. Subjek nomor dua—eliminasi di tempat."

Perintah itu adalah vonis mati yang mutlak bagi raja mafia yang telah berlumuran darah sepanjang hidupnya, di ambang akhir perjalanannya yang penuh dosa.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!