Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.
Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.
Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.
Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.
Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.
Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter-009
Bab 9: Tak Ada yang Terjadi di Sini
Kirana tetap berusaha bangkit. Tangan pria itu mengatup di sekitar pahanya.
"Sudah kubilang—"
"Aku dengar." Suaranya keluar tipis. "Aku memilih tak mendengarkan."
Krisna meremas pahanya sekejap.
Ia menarik selembar tisu dari kotaknya dan melipatnya sekali dengan kehati-hatian yang menjengkelkan.
Kirana mengamati tangan pria itu mendekati bagian robek di stokingnya lalu menangkap pergelangannya.
"Aku bisa sendiri."
"Kamu bahkan hampir tak bisa duduk tegak."
"Itu salahmu."
"Kamu yang memanjat ke pangkuanku."
Kirana melirik ponsel di karpet. Layarnya masih menyala. Ia tak akan minta maaf karena melemparnya.
Krisna menunggu Kirana melepaskannya. Kirana mencoba menggeser bobot tubuhnya, mendapati kakinya masih goyah, lalu melepaskan pergelangan pria itu.
"Cepat."
Krisna tampak seolah hampir tersenyum.
"Hati-hati," Kirana memperingatkan.
"Kalau begitu diam saja."
Tisu itu menyentuh pahanya. Kirana diam, memandang melewati bahu pria itu karena ia tak tahan menonton tangannya.
Pena itu ada di meja. Kirana memalingkan pandang dari benda itu juga.
Krisna berhati-hati, namun Kirana tak bisa berhenti merespons sentuhannya. Ia teringat ibu jari dan pena dingin itu, dan berharap bisa membuat pria itu bergegas tanpa membiarkannya tahu alasannya.
Tangan Krisna berhenti tinggi di pahanya.
"Lagi?"
Seharusnya Kirana tak pernah membiarkan pria itu melakukan ini.
"Jangan ge-er."
"Kalau begitu berhenti gemetar."
Kirana menaruh sebelah tangan di dada pria itu untuk menahannya. Jantung Krisna juga berdetak cepat. Ia membiarkan tangannya di sana sesaat. Krisna tak berkata apa-apa.
Ketika Kirana tersentak, Krisna berhenti.
"Sakit?"
Kirana mengira akan mendapat lelucon lagi.
"Tidak."
Krisna menuntaskannya, membuang tisu itu, lalu menatapnya. "Turun."
Kirana menurunkan kakinya ke lantai. Salah satu kakinya mati rasa. Ketika ia mencoba berdiri, lututnya tertekuk dan Krisna menangkapnya di siku.
"Jangan."
Krisna langsung melepasnya.
Kirana merapikan roknya lalu mengambil tasnya. Perekam dan catatannya masih di dalam, persis seperti ia mengemasnya tadi. Ia memeriksanya sekadar untuk punya kegiatan.
"Hari ini tak pernah terjadi," katanya.
"Itu yang akan kamu katakan pada dirimu sendiri?"
"Kamu tahu maksudku. Kamu tak beri tahu Kak Rosa. Kamu tak beri tahu Bram. Kamu tak beri tahu siapa pun."
"Aku memang tak berencana memberi tahu mereka."
Kirana menutup ritsleting tasnya begitu keras hingga liningnya tersangkut. "Aku akan menjauhimu."
Krisna mengambil ponselnya dari karpet. Ia memeriksa casing yang pecah, menekan tombol samping, lalu meletakkannya di meja.
"Rencana yang bagus sekali."
Ia bahkan tak tampak tersinggung. Kirana ingin mengatakan sesuatu yang bisa menghapus ketenangan dari wajah pria itu, lalu ia membenci dirinya sendiri karena masih menginginkan perhatian pria itu.
Kirana melangkah tegas ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di kunci.
"Dan kamu berutang sepasang stoking baru kepadaku."
"Kirim aku tagihannya."
Kirana mengenali kata-katanya sendiri. Ia memutar kunci dan membuka pintu lebih keras dari yang perlu.
Bu Reni mendongak dari mejanya. Pandangannya menyapu wajah Kirana yang memerah, tas yang tergenggam erat, rok yang kusut, dan cara berhati-hatinya menjaga lutut tetap merapat. Tak ada yang berubah dari air muka sang asisten.
"Mantel Anda, Nona Adiwijaya."
Ia menyodorkan trench coat tipis yang tadi ditinggalkan Kirana di ruang tunggu. Kirana langsung mengenakannya, lega punya sesuatu untuk menutupi rok dan stokingnya.
"Terima kasih."
"Tentu saja."
Bu Reni kembali ke mejanya. Ia tak bertanya bagaimana wawancaranya berjalan. Kirana bersyukur untuk itu juga.
Di dalam lift, Kirana memeriksa wajahnya di dinding pantul. Ia merapikan rambutnya, menyeka bawah salah satu matanya, dan berusaha berhenti menggenggam tasnya begitu erat.
Wawancaranya berjalan lancar. Bagian itu bisa ia ceritakan kepada siapa pun yang bertanya.
Ia melangkah ke lobi.
"Nah, itu dia."
Bram mendorong tubuhnya menjauh dari sebuah tiang.
Kirana berhenti tepat di luar lift.
Bram mengenakan celana jins, kemeja pucat, dan senyum lebar yang biasanya membuat hidup terasa tak serumit itu. Sekantong kue tergantung di satu tangannya.
"Kamu lama banget, gue kira lo malah direkrut kakak gue." Ia mendekat. "Mau lewatin pacar lo sendiri gitu aja?"
Pacar. Kirana tak bisa menatapnya tanpa memikirkan tempat asalnya barusan. Ia memaksakan senyum.
"Lo nggak bisa sebut diri lo begitu di tengah lobi kantornya."
"Oke deh. Pengagum rahasia lo yang ganteng maut."
Bram menunduk hendak menciumnya. Kirana memalingkan wajah di detik terakhir dan memberinya pipi.
Bram berhenti. "Ada apa?"
"Nggak ada. Wawancaranya lama. Kantornya dingin banget."
Pandangannya turun ke trench coat yang dikancingkan rapat di tengah panas kemarau. "Lo pakai mantel."
"Tuh, kan? Dingin."
Kirana mengambil kantong kue sebelum Bram sempat bertanya lagi, lalu mengintip ke dalamnya.
"Bolu lemon. Gue maafin lo udah menyergap gue."
"Gue datang mau ngajak lo keluar. Makan malam awal. Lo masih ngutang ulang tahun gue."
Bram meraih tangannya. Kirana membiarkannya, sambil berharap bisa cuci tangan sekali lagi sebelum pria itu menyentuhnya.
Bram menggosok pergelangannya dengan ibu jari. Kirana teringat tangan lain di tempat yang sama dan nyaris menarik tangannya.
Bram salah mengartikan gerakan itu. Air mukanya melembut.
"Separah itu?" tanyanya. "Dia jahat sama lo?"
Kirana tak bisa memberi tahunya. Ia bahkan tak sanggup membiarkan Bram menyelesaikan pertanyaannya.
Ia bersandar ke tubuh Bram sebelum pria itu bisa melihat terlalu banyak dari wajahnya, menekankan keningnya sejenak ke bahu Bram dalam isyarat yang akan diartikan Bram sebagai kepercayaan.
"Gue lapar," katanya. "Bawa gue ke tempat yang rame."
Lengan Bram otomatis melingkarinya.
Kirana bertahan di pelukannya sampai ia bisa memercayai air mukanya sendiri. Bram memeluknya seolah baru saja berbuat sesuatu yang menolong.
Bram mengecup rambutnya.
"Apa pun yang lo mau."
Sebuah lift terbuka di belakang Bram. Krisna melangkah keluar, matanya jatuh ke lengan adiknya yang melingkari Kirana.
Bram berbalik. "Dia dapat yang dibutuhkannya?"
"Dia teliti sekali," kata Krisna.
Genggaman Kirana mengerat pada kantong kue.
Krisna mengangguk kepada adiknya dan berjalan melewati mereka.
Ponsel Kirana bergetar di dalam tas. Lalu ponsel Bram ikut bergetar.
Bram memeriksa layarnya lebih dulu. "Pesan keluarga."
Perut Kirana mengencang.
Ia membuka utas keluarga Adiwijaya.
Gunawan mengunggah sebuah foto vila-vila putih di lereng bukit di atas laut.
*Gunawan:* Resor Kusuma-Adiwijaya dibuka Jumat depan. Kedua keluarga akan hadir di peluncuran privat di Bali. Penerbangan sudah diatur. Tidak ada bentrok jadwal yang akan diterima.
Sebuah pesan kedua memuat daftar pembagian vila.
Kak Rosa dan Krisna menempati suite yang bersebelahan di vila utama.
Nama Kirana muncul di vila tamu sebelahnya, terhubung ke vila utama lewat sebuah lorong privat.
Bram mencondong dari balik bahunya. "Gue ikut. Gue ada review studio hari Jumat, tapi gue terbang Sabtu pagi."
Di bagian bawah layar, tiga titik muncul di sebelah nama Krisna. Lalu pesannya tiba.
*Krisna:* Mengerti.
Kirana membaca daftar itu sekali lagi. Ia baru saja bilang kepada Krisna akan menjauhinya.
Sekarang ia justru akan tidur di vila sebelah.