Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.
Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Langkah Keluar Bayang
Langkah kakiku terasa berat saat melangkah melewati lorong belakang rumah. Setiap detik aku menengok ke belakang, takut ada yang melihat takut Daddy, takut kakak-kakakku, takut mereka akan memanggilku kembali dan melarang langkah yang kuambil ini. Namun kertas yang tersimpan di saku bajuku terasa hangat, seolah membakar kulitku, mengingatkan bahwa jika aku tidak pergi sekarang, kesempatan ini akan hilang.
Aku mengenakan pakaian sederhana gaun berwarna gelap, rambut terurai agar tidak terlalu mencolok dan berjalan pelan menuju pintu samping yang jarang dijaga. Saat tanganku menyentuh gagang pintu, suara terdengar dari belakang.
“Grace?”
Jantungku melonjak kencang. Aku berbalik perlahan. Sophie berdiri di sana, menatapku dengan mata terbelalak, bingung sekaligus khawatir.
“Kau mau ke mana?” bisiknya, melangkah mendekat. “Kau tidak boleh pergi keluar, Grace. Daddy melarang kami semua keluar tanpa pengawalan.”
Aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkan kertas itu dari saku dan menunjukkannya padanya. “Aku tahu ke mana Lucas Hale tinggal, Sophie. Aku akan menemuinya.”
Tangan Sophie menutup mulutnya seketika. “Apa? Kau gila? Ia ingin menyakiti kita! Ia mencari cara untuk membalas!”
“Itulah mengapa aku harus pergi,” jawabku tegas, meski kakiku gemetar. “Selama kita hanya bersembunyi dan bersiap bertarung, tidak akan ada akhir untuk ini. Darah akan terus mengalir. Dan aku tidak ingin keluargaku hancur baik oleh musuh maupun oleh kegelapan yang perlahan-lahan merasuk ke dalam diri kita sendiri.”
“Tapi kau sendirian...” Sophie menggenggam tanganku erat. “Bagaimana jika ia menyakitimu? Bagaimana jika kau tidak bisa pulang?”
Aku tersenyum tipis, meski air mata mulai menggenang. “Aku harus mencoba. Jika aku tidak kembali... katakan pada mereka aku pergi bukan untuk melawan mereka, tapi karena aku ingin menyelamatkan mereka.”
Sophie menatapku lekat-lekat, matanya berkaca-kaca. Lalu perlahan ia mengangguk, meski ragu. “Aku tidak bisa menghentikanmu, kan?”
“Tidak,” jawabku pelan.
“Kalau begitu...” ia melepaskan tanganku, lalu merogoh saku bajunya sendiri dan mengeluarkan sebuah liontin kecil berbentuk bintang pemberian Mommy kepada kami berdua saat masih kecil. “Bawa ini. Dan jika dalam dua jam kau belum kembali, aku akan memberi tahu mereka. Janji, Grace. Jangan mengambil risiko lebih dari yang perlu.”
Aku memeluknya erat. “Terima kasih, Sophie. Aku berjanji akan berhati-hati.”
Aku melangkah keluar, menutup pintu pelan di belakangku. Udara luar terasa berbeda segar namun dingin, penuh ketidakpastian. Aku berjalan cepat menuju halte yang agak jauh, lalu naik taksi menuju alamat yang tertulis di kertas itu sebuah rumah tua di pinggiran kota, dekat kawasan pelabuhan, tempat di mana bayang-bayang seolah tak pernah hilang.
Perjalanan terasa berjam-jam. Aku menatap ke luar jendela, memikirkan wajah Daddy, Edward, George semua yang kucintai. Jika ini salah, aku mungkin tidak akan sempat meminta maaf. Tapi jika aku tidak mencoba, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.
Taksi berhenti di depan rumah yang kusut dan gelap. Pagar besinya berkarat, halamannya ditumbuhi rumput tinggi, dan jendela-jendelanya tertutup tirai tebal. Aku membayar ongkos, lalu berdiri sendirian di depan gerbang, menarik napas sedalam-dalamnya sebelum melangkah masuk.
Aku mengetuk pintu kayu tua itu pelan. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pemuda berdiri di sana usianya sekitar dua puluh lima tahun, rambut hitam berantakan, wajahnya tegas namun matanya tampak lelah dan berapi-api sekaligus. Ia mengenakan kemeja hitam yang kancingnya terbuka di bagian atas, dan di tatapannya terlihat kebencian yang tak disembunyikan. Ini Lucas Hale.
“Siapa kau?” suaranya rendah dan kasar. “Aku tidak mengenalimu.”
“Aku Grace,” jawabku, berusaha tetap tenang meski suaraku sedikit bergetar. “Grace Isabella Margaretha.”
Wajahnya berubah seketika. Ia melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya, dan berdiri begitu dekat hingga aku bisa merasakan kemarahannya yang memancar.
“Margaretha...” ia mengeja nama itu dengan nada jijik. “Apa yang kau lakukan di sini? Datang untuk menantangku? Atau menyerahkan diri?”
“Aku datang untuk berbicara,” jawabku. “Bukan untuk bertarung.”
Lucas tertawa singkat, pahit dan tajam. “Berbicara? Saudara laki-lakiku tewas di tangan keluargamu, dan kau datang untuk berbicara?”
“Aku tahu,” ucapku pelan. “Dan aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Aku tahu kata-kata tidak bisa mengembalikannya. Tapi aku ingin kau tahu apa yang terjadi di pelabuhan itu bukan rencana. Itu kecelakaan. Reaksi mendadak saat senjata diarahkan ke arah saudaraku.”
Lucas memandangku tajam, matanya menyipit. “Kau datang sejauh ini hanya untuk meminta maaf?”
“Aku datang karena aku tidak ingin ada orang lain yang terluka,” jawabku mantap. “Aku tidak ingin ada lagi yang kehilangan saudara, ayah, atau siapa pun yang dicintainya. Dendammu wajar. Sakitmu nyata. Tapi jika kau membalas, lalu kami membalas lagi... di mana akhirnya? Berapa banyak lagi yang harus mati sebelum kita berhenti?”
Ia terdiam, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan kemarahan masih ada, namun ada sesuatu yang lain juga, keraguan yang mulai menyelinap.
“Kau tidak mengerti apa pun,” ucapnya pelan. “Saat kakakku pergi, aku sendirian. Semua orang takut mendekat. Aku tidak punya siapa-siapa.”
“Aku mengerti,” jawabku lembut. “Aku takut kehilangan keluargaku juga. Aku takut suatu hari aku akan berdiri sendirian seperti kau sekarang. Itulah sebabnya aku di sini. Karena aku tidak ingin ada orang lain yang merasakan kesendirian itu.”
Angin berhembus pelan di antara kami, membawa daun-daun kering melayang di halaman yang sepi. Lucas menunduk, seolah menimbang setiap kata yang terucap.
“Kau berbeda dari yang kubayangkan,” ucapnya pelan. “Kupikir semua Margaretha dingin, sombong, tak peduli pada nyawa orang lain.”
“Kami tidak sempurna,” akuku. “Banyak kesalahan yang telah dibuat. Tapi kami bukan monster. Dan kami tidak ingin menjadi musuhmu.”
Sebelum ia menjawab, terdengar suara mobil mendekat dengan cepat. Lucas menoleh, dan wajahnya mengeras.
“Kau diikuti?”
Aku menggeleng bingung. Tepat saat itu, dua mobil berhenti di depan rumah. Pintu terbuka, dan Edward melangkah keluar dengan wajah tegang, diikuti Will, George, dan Charlotte.
George berlari mendekat, wajahnya pucat karena cemas. “Grace! Apa yang kau lakukan di sini?” Ia berdiri di depanku, melindungiku dari Lucas. “Beraninya kau mendekati adiknya!”
“George, jangan!” aku menarik lengan kakakku. “Ia tidak menyakitiku. Kami sedang berbicara.”
“Berbicara?” Edward mendekat, matanya tajam menatap Lucas. “Kau pergi tanpa izin, membuat kami semua cemas setengah mati, dan untuk apa? Berbicara dengan orang yang ingin membunuh kami?”
“Karena tidak ada yang mencoba cara lain!” seraku. “Kalian langsung menganggapnya musuh, tanpa memberi kesempatan untuk berbicara!”
“Karena itu kenyataannya, Grace!” potong Will tegas. “Dunia tidak seindah yang kau pikirkan.”
“Lalu biarkan aku yang memutuskannya!” suara Lucas tiba-tiba terdengar, membuat semua hening. Ia berdiri tegak, menatap kami semua bukan dengan kebencian murni seperti sebelumnya, melainkan dengan keputusan yang berat. “Ia datang sendirian, tanpa senjata, tanpa ancaman. Ia datang untuk berbicara. Dan tidak ada yang menyakitinya.”
Ia menatap Edward langsung. “Kau mungkin tidak mempercayaiku. Tapi aku tidak akan menyerang seseorang yang datang dengan niat tulus. Setidaknya... belum sekarang.”
Edward terdiam, menatap Lucas dengan curiga namun juga terkejut. George perlahan menurunkan tangannya, meski tetap berdiri di sampingku.
“Aku tidak mengatakan semuanya sudah selesai,” lanjut Lucas pelan. “Luka ini belum sembuh. Dan aku belum tahu apakah aku bisa memaafkan. Tapi... ia membuatku berpikir. Dan itu lebih dari yang kau lakukan selama ini.”
Keheningan menyelimuti kami. Di antara dua keluarga yang seharusnya saling membenci, berdiri seorang gadis yang berani melangkah sendirian dan pemuda yang belum kehilangan kemampuan untuk mendengar.
“Pulanglah,” kata Lucas akhirnya. “Sebelum aku berubah pikiran. Dan katakan padaku... siapa yang menarik pelatuk itu?”
Aku melangkah maju pelan. “Aku tidak akan menyembunyikan kebenaran darimu. Tapi kumohon jangan biarkan kebencian menelanmu. Itu akan menghancurkanmu, bukan mereka yang bersalah.”
Lucas menatapku lama, lalu mengangguk pelan. “Aku akan memikirkannya. Sekarang pergilah.”
Kami berjalan kembali ke mobil, langkah kaki kami berat namun teratur. Saat aku menoleh ke belakang, Lucas masih berdiri di sana, sendirian di depan pintunya, menatap ke arah kami pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang berbicara. Hanya suara mesin mobil yang membelah keheningan. Edward menyetir dengan wajah serius, George menatap ke luar jendela, dan Charlotte sesekali melirikku lewat kaca spion bukan dengan kemarahan, melainkan dengan tatapan yang baru, penuh pertimbangan.
Sesampainya di rumah, Daddy sudah menunggu di pintu depan, wajahnya tegang dan cemas. Ia melangkah mendekat, siap memarahi, namun saat menatapku, kata-katanya tertahan.
“Kau bertemu dengannya?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Aku melakukannya, Daddy. Dan ia tidak menyerangku. Ia mendengarkan.”
Daddy menghela napas panjang, lalu menatap kami semua Edward, Will, George, Charlotte, Henry, Sophie, dan aku. Tujuh anaknya, masing-masing dengan jalannya sendiri.
“Kau mengambil risiko yang sangat besar, Grace,” ucapnya lembut namun tegas. “Dan aku tidak akan membiarkanmu melakukannya sendirian lagi. Tapi... mungkin ada benarnya kata-katamu.”
Ia berhenti sejenak, seolah menimbang sesuatu yang berat.
“Kita tidak bisa terus hidup seperti ini. Dan mungkin... bukan dengan senjata saja kita bertahan.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak semalam, tidurku tidak penuh mimpi buruk. Aku tahu perjalanan ini jauh dari selesai. Aku tahu Lucas belum tentu memaafkan. Aku tahu bahaya masih mengintai di banyak sudut. Tapi aku juga tahu satu hal yang tak bisa dirampas.
Langkah pertama telah diambil. Dan meski kecil, ia menuju ke arah cahaya.
...~ Bersambung ~...