Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Balik Keceriaan
Sejak kejadian di kantor hari itu, suasana di antara Arka dan Elara perlahan berubah. Momen saling sindir masih ada, tapi kini ada perhatian-perhatian kecil yang terselip secara alami. Namun, memasuki akhir pekan, Arka menyadari ada hal yang tidak biasa dari sikap istrinya.
Elara tidak lagi sekocak biasanya.
Gadis itu tidak banyak mengoceh saat sarapan, tidak lagi memutar musik ceria dengan volume keras saat membongkar bal baju thrifting di ruang tengah, dan lebih banyak melamun di dekat jendela balkon.
Malam harinya, sekitar pukul sebelas malam, Arka terbangun dari tidurnya. Ketika dia menoleh ke samping, ranjang di sebelahnya kosong. Guling pembatas masih terpasang rapi, tapi Elara tidak ada di sana.
Dengan dahi berkerut, Arka bangkit dari kasur dan melangkah keluar kamar.
Rumah megah itu terasa sunyi. Arka menyusuri koridor hingga langkah kakinya terhenti, saat melihat lampu balkon lantai dua yang menyala remang-remang. Di sana, Elara sedang duduk memeluk lutut di atas sofa rotan, menatap langit malam Jakarta yang tanpa bintang.
Di pangkuannya, ada sebuah bingkai foto tua yang agak kusam.
Arka melangkah mendekat tanpa suara. Dari posisinya berdiri, dia melihat Elara sedang mengusap permukaan kaca bingkai foto itu dengan ibu jarinya. Wajah Elara yang biasanya dipenuhi senyum percaya diri dan keceriaan tanpa batas, kini terlihat sangat rapuh. Ada jejak air mata yang mengering di pipinya.
"Elara?" panggil Arka pelan, takut mengejutkannya.
Elara tersentak kecil. Dengan refleks, gadis itu buru-buru menghapus sudut matanya dengan lengan kausnya. Lantas bergegas membalikkan bingkai foto itu ke pangkuannya.
"Eh, Mas Arka?" Elara mencoba mengulas senyum, walau suaranya terdengar sedikit serak. "Kok belum tidur? Mau Ara bikinkan teh manis?"
Arka tidak menjawab tawaran itu. Pria itu justru melangkah mendekat lalu duduk di sofa rotan yang sama, tepat di samping Elara. Jarak mereka cukup dekat, hingga Arka bisa merasakan embusan napas Elara yang tidak teratur.
"Kamu menangis?" tanya Arka langsung pada intinya, menatap mata Elara dengan lekat.
"Hah? Enggak, kok! Mana ada Ara nangis," elak Elara terkekeh canggung, lalu mengibaskan tangannya di udara. "Ini kelilipan debu angin malam aja. Lagian orang secantik dan sekeren Ara masa nangis?"
Arka tidak terkecoh. Pria itu hanya menatap Elara diam tanpa menyela, menunggu hingga kebohongan gadis itu runtuh sendiri di udara yang hening.
Ditatap dengan pandangan setenang dan sedalam itu oleh Arka, pertahanan Elara akhirnya runtuh juga. Senyum keterpaksaan di wajahnya perlahan luntur. Tangannya yang memegang bingkai foto mengerat.
"Hari ini, ulang tahunnya almarhum Bapak," bisik Elara pelan. Matanya mulai berkaca-kaca kembali saat menatap bingkai foto di pangkuannya. Foto masa kecil Elara yang sedang tertawa digendongan mendiang bapaknya.
Arka terdiam, mendengarkan dengan saksama.
"Waktu Bapak masih ada, Bapak selalu jadi benteng paling kuat buat Ara dan Ibu. Tapi sejak Bapak pergi, Ara merasa harus buru-buru dewasa. Ara harus cari uang sendiri, bantu Ibu, dan pura-pura kuat di depan semua orang," lanjut Elara, suaranya terdengar semakin tebal dan parau. "Buat Ara, konsep pulang itu selalu terasa jauh dan mahal. Nggak pernah benar-benar terasa manis."
Elara menoleh menatap Arka dengan pandangan sayu yang sangat jujur.
"Waktu Ibu ngejodohin Ara sama Pak Broto, tapi Ara malah milih Mas Arka dan Mas Arka ngajak Ara nikah kontrak, Ara pikir ini cuma pekerjaan akting biasa. Tapi, lama-lama ada di rumah ini, dipedulikan sama Mas, bahkan dilindungi dari Clarissa kemarin, Ara malah jadi takut."
"Takut kenapa?" tanya Arka dengan suara teramat lembut.
"Takut kebiasaan," jawabnya jujur. Tetes air mata Elara akhirnya lolos membasahi pipinya. "Ara takut terlena sama kehangatan rumah ini. Karena Ara tahu, suatu saat nanti kalau kontrak kita selesai, Ara harus angkat kaki dan kembali berjuang sendirian lagi. Ara takut rasa sepinya bakal makin sakit dari sebelumnya."
Ungkapan hati Elara yang polos dan tanpa topeng itu menghantam dada Arka dengan telak.
Selama ini, Arka menganggap Elara sebagai gadis yang tangguh, tak kenal takut, dan selalu punya cara untuk tertawa. Pria itu lupa bahwa di balik tameng keceriaannya, Elara hanyalah seorang gadis muda yang merindukan sosok sebagai tempat bersandar yang nyata.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, Arka mengikis jarak di antara mereka. Pria yang biasanya kaku dan sangat menjaga jarak, perlahan merengkuh bahu Elara, menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Elara membeku sejenak, namun kehangatan dada Arka membuat pertahanannya runtuh total. Elara akhirnya menyandarkan dahinya di dada Arka dan menangis sejadinya. Meluapkan seluruh rasa rindu pada bapaknya dan menampakkan ketakutan yang selama ini dia pendam sendiri.
Arka mengusap lembut rambut Elara yang beraroma stroberi, membiarkan kausnya basah oleh air mata gadis itu.
"Kamu tidak sendirian lagi, Elara," bisik Arka, mengusap lembut puncak kepala Elara. "Selama kamu mau, pintu rumah ini akan selalu terbuka dan selalu jadi milik kamu."
Tangis Elara semakin menjadi. Rangkulan Arka terhadapnya membuat dia seakan-akan bebas menanggalkan seluruh topengnya. Jalan hidup Elara telah membentuknya menjadi pribadi yang terpaksa harus menunjukkan sisi lain dari dia yang sebenarnya.
Arka mengeratkan pelukannya. "Menangis saja kalau itu membuat kamu lega."