Raja Iblis Vorthar adalah penguasa seluruh wilayah kegelapan yang ditakuti oleh para dewa dan manusia. Setelah perang besar yang memakan korban tak terhitung, ia akhirnya dikalahkan dan dikurung selama ribuan tahun. Namun, kutukan para dewa tak mampu menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Saat terbangun kembali, Vorthar tidak lagi berada di istana kegelapan yang megah. Ia terlahir kembali sebagai seorang anak biasa di dunia manusia yang damai dan penuh dengan para kultivator yang menganggap kekuatan kegelapan sebagai hal terlarang. Dengan ingatan dan kekuatan dasar yang masih tersimpan, ia harus menavigasi dunia yang memandangnya sebagai musuh.
Tanpa teman dan dengan banyak musuh yang mengincar nyawanya, Vorthar mulai menapaki jalan kembali menuju puncak kekuatan. Ia tidak hanya ingin memulihkan kekuatannya sebagai Raja Iblis, tetapi juga mencari tahu rahasia di balik perang kuno yang menghancurkan dunianya. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan sekutu yang tak terduga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kota gerbang peradaban
Setelah meninggalkan Desa Hutan Kecil, Ryn dan Zarathos melakukan perjalanan selama dua minggu melewati hutan-hutan lebat, dataran berbatu, dan sungai yang deras. Sepanjang perjalanan, Zarathos terus memberinya penjelasan tentang dunia tempat ia kini berada.
"Dunia ini disebut Aetheria," jelaskan Zarathos saat mereka beristirahat di bawah pohon raksasa. "Dibagi menjadi sepuluh wilayah besar yang masing-masing diperintah oleh sekte atau keluarga besar. Pusat kekuasaan ada di Kota Surgawi, tempat di mana Persekutuan Dewa tinggal dan mengatur segala sesuatu. Namun untuk sampai ke sana, kamu harus melewati banyak rintangan dan wilayah kekuasaan sekte-sekte besar lainnya."
Ryn mendengarkan dengan seksama sambil membetulkan ikat pinggangnya. Tubuhnya telah beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan. Latihan bertahun-tahun di desa membuat fisiknya jauh lebih kuat dari orang biasa, dan kekuatan gelap yang perlahan bangkit memberinya kemampuan penginderaan yang jauh lebih tajam.
"Sekte-sekte apa saja yang ada di sepanjang jalan?" tanya Ryn.
"Ada Sekte Cahaya Emas, yang paling besar dan taat pada ajaran Persekutuan Dewa. Mereka memegang hukum dan keadilan sesuai versi mereka sendiri. Lalu ada Sekte Angin Bayangan yang tinggal di pegunungan tinggi, mereka ahli dalam kecepatan dan penyembunyian. Ada juga Sekte Bumi Baja yang sangat kuat dalam pertahanan dan kekuatan fisik," jelas Zarathos. "Dan tentu saja, ada banyak kelompok kecil lainnya, baik yang baik maupun jahat."
Selama perjalanan, mereka juga sering bertemu dengan kelompok-kelompok kultivator yang bepergian ke kota-kota terdekat. Kebanyakan dari mereka menatap Ryn dengan pandangan aneh karena penampilannya yang tampak biasa saja namun memiliki aura yang sulit dijelaskan. Namun berkat kemampuan penyembunyian yang diajarkan Tuan Bayangan, tidak ada yang mampu mendeteksi sifat sebenarnya dari kekuatannya.
Pada hari ke-15 perjalanan, di kaki bukit yang tinggi, Ryn akhirnya melihat apa yang disebut sebagai Kota Gerbang Peradaban.
Kota itu sangat besar, lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Tembok kota yang tinggi dan tebal terbuat dari batu putih yang bersinar samar, dengan gerbang besar yang terbuka lebar. Di sekitar kota, terlihat ladang yang luas, desa-desa kecil, dan jalan raya yang ramai dengan orang-orang yang berjalan berlalu-lalang. Udara di sini terasa lebih bersih dan penuh dengan energi alam yang melimpah, namun juga terasa lebih teratur dan terkendali dibandingkan dengan wilayah terpencil tempat ia dulu tinggal.
"Ini adalah pintu masuk ke dunia yang sebenarnya," kata Zarathos. "Di sini kamu akan menemukan bukan hanya warga biasa, tapi juga kultivator dari berbagai tingkatan, pedagang, pengembara, dan tentara dari berbagai sekte. Hati-hatilah, Ryn. Di tempat ini, penampilan bisa menipu, dan kekuatan adalah segalanya."
Ryn mengangguk dan kakinya mulai bergetar sedikit karena antusiasme. Ia tidak lagi merasa seperti anak desa yang sederhana. Di dalam dirinya, api semangat dan tekad semakin menyala terang.
Mereka masuk ke dalam kota melalui gerbang utama. Begitu melangkah masuk, suara bising dan hiruk-pikuk langsung menyambut mereka. Terdengar suara orang berbicara dalam berbagai bahasa, suara pedagang menawarkan barang dagangan, kuda yang mengangkut gerobak, serta suara kultivator yang berlatih ringan di taman-taman kota.
Arsitektur di kota ini sangat indah dan megah. Bangunan-bangunan tinggi dengan atap melengkung berwarna emas dan biru menjulang ke langit, terlihat seperti istana kecil. Jalan-jalan diaspal dengan batu halus, dan di sepanjang pinggir jalan terdapat tanaman bunga yang indah serta sumber air mancur yang mengalir terus menerus.
Namun di balik keindahan itu, Ryn bisa merasakan suasana yang berbeda. Ia melihat ada pembedaan yang jelas antara orang-orang kaya yang berpakaian bagus dan berjalan dengan percaya diri, serta orang-orang miskin yang berpakaian lusuh dan berjalan di pinggir jalan. Ia juga melihat beberapa kelompok orang yang memakai jubah dengan lambang sekte tertentu, dan semua orang memberi jalan serta menghormati mereka dengan sikap hormat yang dalam.
"Lihatlah," bisik Zarathos. "Di sini, kekuasaan dan status ditentukan oleh kekuatan. Orang yang lemah akan selalu diperlakukan sebagai orang kedua, sementara orang yang kuat akan dihormati dan ditakuti. Ini adalah aturan dasar yang berlaku di seluruh Aetheria."
Ryn mengerti maksud guru lamanya. Ini adalah dunia yang berbeda dari apa yang ia ketahui dulu. Di masa lalu, ia adalah penguasa yang menentukan aturan, namun sekarang ia harus belajar hidup dan bertahan dalam dunia yang aturannya dibuat oleh orang-orang yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka berjalan menuju pusat kota untuk mencari tempat menginap. Di sepanjang jalan, Ryn mengamati segala sesuatu dengan teliti. Ia melihat berbagai jenis senjata, obat-obatan, artefak kuno, dan buku-buku pengetahuan yang dijual di toko-toko. Ia juga melihat orang-orang yang berlatih teknik kultivasi dengan cara yang berbeda dari yang diajarkan oleh Zarathos dan Tuan Bayangan.
"Mereka menggunakan energi alam yang murni dan bersih," gumam Ryn dalam hati. "Tapi apakah itu satu-satunya cara untuk menjadi kuat?"
"Jangan terburu-buru menilai apa yang kamu lihat," kata Zarathos seolah membaca pikirannya. "Jalur mereka berbeda dengan jalur kita, tapi tidak berarti salah atau benar. Hanya berbeda. Dan ingat, jangan pernah tunjukkan kekuatanmu secara sembarangan di tempat ramai seperti ini. Banyak mata yang mengamati, termasuk mata yang bisa melihat jauh lebih tajam daripada yang kamu bayangkan."
Ryn mengangguk patuh. Ia tahu bahwa Zarathos memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak darinya, jadi ia akan selalu mendengarkan nasihatnya.
Saat mereka berjalan melewati sebuah alun-alun besar, tiba-tiba terjadi keributan di dekat sana. Sekelompok pemuda yang berpakaian seragam Sekte Cahaya Emas sedang mengganggu seorang pedagang tua yang menjual buah-buahan.
"Berikan semua uangmu dan barang-barangmu, atau kami akan menghancurkan tokomu!" teriak salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan wajah sombong yang tampak memiliki kekuatan kultivasi yang cukup tinggi.
Pedagang tua itu gemetar ketakutan dan mencoba membela diri, namun ia hanya orang biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun.
Ryn mengerutkan kening. Rasa keadilan yang ada di dalam dirinya mulai terganggu. Di desa, ia sudah melihat ketidakadilan, tapi di kota besar ini, hal seperti itu tampak menjadi hal yang biasa.
"Apakah kita harus menolongnya, Guru?" tanya Ryn pelan.
Zarathos menatap kejadian itu sebentar, lalu menggeleng pelan. "Sekarang belum waktunya. Kita tidak ingin menimbulkan perhatian yang tidak perlu. Tapi ingat, satu hari nanti, semua ketidakadilan seperti ini akan berubah."
Ryn menahan keinginannya untuk bertindak. Ia melihat bagaimana para pemuda itu mengambil barang-barang pedagang tua itu dan pergi dengan tertawa. Warga di sekitar hanya melihat dari jauh, tidak ada satu pun yang berani membela atau melawan mereka.
"Dunia ini memang keras," bisik Ryn.
"Itulah sebabnya kita di sini," jawab Zarathos lembut. "Untuk mengubahnya. Tapi langkah pertama adalah menjadi kuat cukup untuk mengubahnya, bukan hanya sekadar berani."
Setelah kejadian itu, mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya menemukan sebuah penginapan kecil yang tidak terlalu mewah namun cukup bersih dan aman. Penginapan itu dimiliki oleh seorang wanita paruh baya yang ramah dan tidak terlalu tertarik pada status atau kekuatan orang lain.
Malam itu, saat mereka sedang duduk di ruangan kecil mereka, Zarathos memberikan sebuah buku tebal kepada Ryn.
"Ini adalah catatan tentang sistem kultivasi yang berlaku di seluruh Aetheria," kata Zarathos. "Pelajari ini dengan baik. Kamu perlu memahami bagaimana cara orang lain berlatih dan apa tujuan mereka, agar kamu bisa menyesuaikan kekuatanmu sendiri dan tidak terdeteksi sebagai hal yang asing."
Ryn menerima buku itu dengan penuh rasa terima kasih. Ia tahu bahwa ini adalah pengetahuan yang sangat berharga yang akan membantunya beradaptasi dengan cepat di dunia baru ini.
"Mulai besok pagi, kita akan mencari tempat untuk mendaftar di sebuah sekte," tambah Zarathos. "Bukan untuk bergabung secara permanen, tapi untuk mendapatkan akses ke pengetahuan dan sumber daya yang ada di sana. Ini adalah cara terbaik untuk belajar lebih banyak tentang dunia ini tanpa menimbulkan kecurigaan."
Ryn membuka buku itu dan mulai membaca dengan penuh konsentrasi. Halaman demi halaman ia pelajari tentang tingkatan kultivasi, teknik-teknik dasar, serta sejarah Persekutuan Dewa dan sekte-sekte besar. Setiap kata yang ia baca membuatnya semakin mengerti betapa dalamnya tipu daya yang telah dibangun oleh para Dewa selama ribuan tahun.
Malam itu, di ruangan yang sederhana itu, Ryn tidak tidur. Ia membaca hingga matahari terbit, menyiapkan dirinya untuk tantangan yang akan datang, dan mempersiapkan langkah pertamanya menuju puncak kekuasaan dan balas dendam yang telah ia impikan selama ribuan tahun.