Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Riyan Sadewa berdiri di pinggir jalan raya Lembang sambil mendekap kedua lengannya erat-erat. Udara malam khas pegunungan Bandung Utara berembus menusuk pori-pori kulitnya yang hanya dibalut kaus oblong abu-abu tipis bekas proyek.
Jam digital transparan di sudut matanya terus berkedip, menunjukkan waktu yang terus merayap turun: [12 Jam : 05 Menit : 10 Detik].
"Gila, dinginnya gak ngotak. Tahu kayak gini, tadi gua mampir ke pasar loak dulu buat beli jaket parasit," umpat Riyan dengan gigi yang mulai gemetaran.
Dia menatap sebuah gerbang besi hitam raksasa setinggi empat meter yang berdiri kokoh di hadapannya. Di atas gerbang tersebut, terukir lambang huruf 'Z' besar dengan ukiran tanaman merambat berlapis kuningan yang tampak berkilat diterpa lampu sorot taman.
Inilah Resor Privat Keluarga Zevan, sebuah kawasan tertutup yang bahkan tidak pernah muncul di peta digital umum. Dari balik pagar, samar-samar terlihat hamparan taman rumput yang sangat luas dan sebuah bangunan megah bergaya arsitektur kolonial modern yang lampu-lampunya berpijar keemasan.
Riyan meraba saku celana jins belelnya, memastikan kartu nama hitam berlapis emas pemberian Kezia Zevan masih aman di sana. Dia melangkah mendekati pos penjagaan kecil yang berada di samping gerbang.
Begitu Riyan mendekat, dua orang pria berbadan tegap dengan tinggi hampir dua meter langsung keluar dari pos. Mereka mengenakan setelan jas hitam formal, lengkap dengan earpiece intelijen yang menempel di telinga kanan mereka.
Tatapan mata mereka sangat dingin dan waspada, langsung mengunci sosok Riyan yang penampilannya sangat kontras dengan kemewahan gerbang tersebut.
"Berhenti di sana," cetus salah satu pengawal dengan suara berat dan tegas, sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
"Ini adalah kawasan privat terlarang. Orang asing dilarang mendekat. Kalau kamu tersesat atau mau mencari pekerjaan kasar, silakan pergi sebelum kami panggil petugas keamanan wilayah."
Riyan tidak tersinggung. Dia justru sudah maklum melihat reaksi seperti itu. Siapa juga yang percaya kalau kuli bangunan berantakan seperti dirinya adalah tamu kehormatan dalam perjamuan makan malam dinasti bisnis penguasa kota?
"Saya gak tersesat, Bang. Saya ke sini karena diundang sama Nona kalian," kata Riyan santai sambil mengeluarkan kartu nama hitam dari sakunya dan menyodorkannya ke depan dada si pengawal.
"Nih, katanya suruh tunjukin ini kalau mau masuk."
Pengawal yang tadinya menatap Riyan dengan pandangan meremehkan itu seketika terpaku saat melihat kartu nama hitam dengan tulisan emas murni tersebut.
Dia menyambar kartu itu dengan cepat, memeriksanya di bawah cahaya lampu pos penjagaan, lalu menatap Riyan kembali dengan mata yang membelalak lebar.
Ini... ini kartu nama VIP pribadi milik Nona Besar Kezia! batin si pengawal menjerit panik.
Di seluruh Keluarga Zevan, hanya ada kurang dari lima orang di dunia ini yang memegang kartu nama jenis ini, dan semuanya adalah kepala konglomerat internasional atau pejabat tinggi negara.
Dalam hitungan detik, kedua pengawal itu langsung menegakkan tubuh mereka dan memberikan hormat militer secara serentak ke arah Riyan. Sikap dingin mereka lenyap tanpa bekas, berganti dengan ekspresi ketakutan yang mendalam karena khawatir telah menyinggung tamu agung sang Nona Besar.
"M-Mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaksopanan kami, Bapak!" seru pengawal itu dengan suara yang mendadak bergetar ramah.
"Kami benar-benar tidak tahu kalau Bapak adalah tamu kehormatan Nona Kezia! Silakan masuk, Pak! Pintu gerbang akan segera kami buka!"
Pengawal yang satu lagi langsung menekan tombol pengendali jarak jauh dengan tergesa-gesa. Gerbang besi hitam raksasa itu perlahan terbuka lebar dengan suara derit yang halus.
Di saat yang sama, sebuah mobil golf elektrik mewah berwarna putih bersih langsung meluncur dari dalam taman menuju ke arah pos penjagaan untuk menjemput Riyan.
"Mari, Pak Riyan. Silakan naik ke kendaraan jemputan. Nona Kezia dan Tuan Besar sudah menunggu kehadiran Anda di aula utama perjamuan," ucap pengawal itu sambil membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat.
Riyan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perubahan sikap yang begitu drastis tersebut. Dunia ini emang beneran dikendalikan sama status dan duit, pikir Riyan sinis. Dia melangkah maju dan mendudukkan pantatnya di atas jok kulit mobil golf yang empuk dan hangat.
Mobil golf itu pun melaju perlahan membelah hamparan taman rumput hijau yang tertata sangat rapi. Sepanjang perjalanan, Riyan disuguhi pemandangan air mancur bertingkat, deretan pohon pinus yang dihiasi lampu-lampu tumblr kecil, hingga area parkir khusus yang dipenuhi oleh deretan mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah. Ada Lamborghini, Rolls-Royce, hingga Bentley yang berjejer rapi.
Aduh, andai aja gua bisa beli semua mobil mewah itu terus gua tabrak-tabrakin ke tebing biar rugi total, batin Riyan meratap, mengingat misi Sistemnya yang masih menyisakan saldo triliunan rupiah di rekening.
Beberapa menit kemudian, mobil golf itu berhenti tepat di depan teras Aula Utama yang megah. Pintu kaca besar setinggi lima meter terbuka secara otomatis, menampilkan suasana dalam ruangan yang dipenuhi oleh kilauan lampu kristal gantung raksasa. Musik klasik dari permainan piano live bergema lembut di udara, menciptakan atmosfer yang sangat elegan dan eksklusif.
Di tengah aula tersebut, berdiri sebuah meja makan panjang dari kayu jati kuno yang dipenuhi oleh puluhan menu makanan mewah khas kerajaan Eropa. Di ujung meja, duduk seorang pria paruh baya berambut putih dengan setelan jas abu-abu formal yang memancarkan aura wibawa yang sangat menekan.
Pria itu adalah Tuan Besar Abraham Zevan, kepala keluarga sekaligus penguasa tertinggi Zevan Group.
Di sebelah kanannya, duduk Kezia Zevan yang malam itu terlihat luar biasa cantik mengenakan gaun malam berwarna hitam tanpa lengan yang elegan.
Begitu melihat sosok Riyan masuk ke dalam aula dengan kaus oblong abu-abunya yang masih bernoda semen kering, Kezia langsung berdiri dari kursinya.
Namun, alih-alih merasa malu atau marah melihat penampilan Riyan yang merusak estetika ruangan mewah tersebut, mata Kezia justru berkilat penuh gairah dan rasa takjub yang mendalam.
"Selamat datang, Riyan Sadewa," ucap Kezia dengan suara merdu yang bergema di seluruh aula. Dia melangkah anggun mendekati Riyan, lalu menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah, inilah pria jenius misterius yang baru saja mengacaukan pasar Dago, memanipulasi regulasi jalan tol negara, dan satu jam yang lalu... secara mengejutkan membeli seluruh jaringan studio film independen Bandung untuk membangun imperium medianya sendiri."
Riyan yang baru saja mau melangkah masuk langsung menghentikan kakinya di atas karpet beludru merah. Dia melongo menatap Kezia dengan pandangan putus asa.
Hah?! Imperium media apanya?! Gua cuma invest di studio ampas buat bikin film alien jengkol biar rugi total, woi! Kenapa gosipnya malah jadi gua mau menguasai media massa?! batin Riyan berteriak histeris, menyadari bahwa rantai kesalahpahaman tentang dirinya kini telah naik ke level internasional.