cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29_Arisan maut part5
Bab 4 – Boneka Arwah dan Dosa yang Terlupakan
"Aaaaaaaaaa...!" Jeritan boneka berwajah Arga menggema ke seluruh ruangan.
Suara itu...Sama persis. Bahkan setiap getaran napasnya terdengar identik.
Arga memegang kepalanya.
"Itu...itu suaraku..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kengerian, sementara kedua matanya membelalak hingga urat-urat merah mulai terlihat.
Boneka kecil itu terus menjerit.
"Aku sakit...Aku terbakar...Tolong buka pintunya..." Suara tangisan anak kecil ikut terdengar dari dalam tubuh boneka itu.
Nia langsung terduduk lemas.
"Ya Tuhan..." bisiknya lirih. Wajahnya pucat pasi, sementara air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
Anak perempuan bergaun hangus itu tertawa riang.
"Hihihihihi...Kalian lucu sekali..." ucapnya polos. Senyumnya tampak manis, tetapi kedua matanya yang hitam legam memancarkan kebencian yang begitu pekat.
Ia mengangkat satu boneka.
Boneka itu...Berwajah Rina.
Rina langsung mundur beberapa langkah.
"Jangan sentuh itu!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara napasnya mulai memburu.
Anak kecil itu memiringkan kepalanya.
"Kau takut?" tanyanya pelan. Wajahnya tetap tersenyum, tetapi suaranya berubah semakin dingin.
"Tapi dulu....perempuan itu lebih takut daripada kalian." lanjutnya lagi
Ruangan kembali sunyi. Nenek tua itu melangkah mendekati kotak arisan.
"Lihatlah baik-baik..." ucapnya datar. Wajahnya tampak tanpa ekspresi, sementara matanya menatap satu per satu peserta.
"Sepuluh tahun lalu..." ucapnya pelan."...kalian semua berada di rumah ini."
Pak Hasan langsung menggeleng keras.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" bantahnya cepat. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara dahinya dipenuhi keringat dingin.
"Aku bahkan tidak pernah datang ke desa ini!" lanjutnya kebingungan.
Nenek tua itu tersenyum tipis.
"Jasadmu memang belum pernah datang..." ucapnya pelan. Senyumnya tetap terukir tipis, sementara tatapannya seolah mampu menembus jiwa.
"Tetapi dosamu..." lanjutnya lirih. Wajahnya perlahan berubah serius, sementara sorot matanya dipenuhi makna yang sulit dijelaskan.
"...sudah lebih dulu tinggal di sini." katanya tenang. Bibirnya melengkung membentuk senyum misterius, sementara matanya tidak pernah lepas menatap lurus ke arah orang di hadapannya.
Mendadak...Seluruh cermin di ruangan retak bersamaan.
Prang!
Prang!
Prang!
Pecahan kaca beterbangan ke segala arah. Namun..Tidak satu pun melukai para peserta. Semua pecahan itu melayang di udara.
Di setiap serpihan kaca...Terlihat bayangan yang berbeda.
Rina menatap salah satunya.
Ia membeku.Di dalam pantulan itu...
Ia melihat dirinya mengenakan pakaian sekolah. Usianya sekitar lima belas tahun. Ia sedang berdiri di depan rumah tua itu.
"Mustahil..." bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara tubuhnya mulai gemetar.
Bayangan dalam kaca itu bergerak.
Rina kecil sedang menangis. Di sampingnya berdiri tujuh orang lain. Mereka saling berdebat.
"Kalau kita buka pintunya...kita semua bisa mati!" teriak seorang laki-laki muda. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara tangannya menunjuk kobaran api.
"Tapi masih ada orang di dalam!" balas seorang perempuan. Wajahnya penuh keputusasaan, sementara air matanya bercucuran.
Api semakin membesar. Dari dalam rumah terdengar suara seorang ibu.
"Tolong! Anakku masih di sini! Tolong bukakan pintunya!" Jeritan itu membuat seluruh peserta bergidik.
Arga memegangi dadanya.
"Aku pernah mendengar suara itu..." bisiknya pelan. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara napasnya tersengal-sengal.
Anak perempuan hangus itu perlahan mendekat. Tangannya yang gosong mengelus boneka Arga.
"Kau memang mendengarnya..." ucapnya lirih. Senyumnya perlahan menghilang, berganti tatapan penuh kebencian.
"Tapi.....kau memilih lari." lanjutnya dengan suara yang terdengar menyeramkan.
Bruk!
Arga terjatuh. Ia memukul lantai berkali-kali.
"Bukan aku! Aku hanya anak kecil! Aku tidak bisa menolong siapa pun!" teriaknya histeris. Wajahnya dipenuhi penyesalan, sementara air matanya mengalir deras.
Anak kecil itu mengangguk perlahan.
"Benar...Kalian memang anak-anak." ucapnya pelan.
"Tapi..." lanjutnya lirih. Senyumnya perlahan memudar, sementara wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"...orang dewasa yang bersama kalian memilih diam." katanya tenang. Tatapannya mengarah perlahan ke arah para orang tua, sementara sorot matanya terasa tajam seolah menyimpan kekecewaan yang begitu dalam.
Suasana mendadak berubah semakin dingin. Kabut hitam keluar dari sela-sela lantai. Kabut itu perlahan membentuk delapan sosok.
Mereka berdiri melingkari para peserta. Tubuh mereka hangus. Kulit mereka mengelupas. Sebagian wajah mereka sudah tidak utuh.
Namun...Yang paling mengerikan. Semua mata mereka meneteskan darah. Wawan mundur dengan langkah gemetar.
"Si...siapa mereka?" tanyanya terbata-bata. Wajahnya berubah pucat, sementara lututnya hampir tak mampu menopang tubuhnya.
Nenek tua itu menjawab tanpa menoleh.
"Mereka..." ucapnya terpotong. "...adalah para peserta arisan pertama."
Semua langsung terdiam. Rina menelan ludah.
"Arisan pertama?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa takut, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat.
Nenek tua itu mengangguk.
"Dulu..." ucapnya lirih. Pandangannya menerawang ke kejauhan, sementara bibirnya bergetar pelan.
"...mereka juga duduk di kursi yang sama." lanjutnya pelan. Tatapannya menyapu deretan kursi di ruangan itu, sementara wajahnya dipenuhi kenangan yang menyakitkan.
"Mereka juga berharap bisa pulang." katanya dengan suara berat.
"Tapi..." ucapnya perlahan.
"...tidak ada seorang pun yang berhasil." lanjutnya tenang. Tatapannya kembali menatap lurus ke depan dengan ekspresi dingin, sementara senyum tipis yang misterius kembali terukir di bibirnya.
Mendadak...Salah satu sosok hangus melangkah maju. Wajahnya hampir tidak bisa dikenali. Namun suaranya...Sangat jelas.
"Tolong...gantikan kami..." bisiknya lirih. Wajahnya tampak hancur oleh penderitaan, sementara kedua tangannya terulur memohon.
Nia menjerit.
"Jangan dekati kami!" teriaknya histeris. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara tubuhnya gemetar hebat.
Namun sosok itu tidak berhenti. Ia terus berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Saat tinggal beberapa jengkal...Kepalanya tiba-tiba berputar. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali.
Hingga akhirnya...Terlepas.
Bruk!
Kepalanya menggelinding pelan ke tengah ruangan. Masih hidup. Masih tersenyum.
"Hehehehe...Peserta nomor dua...permainanmu dimulai..." bisiknya pelan. Senyumnya semakin melebar, sementara lidahnya yang hangus menjulur perlahan.
Semua mata langsung tertuju kepada Arga.
Arga membeku.
"A...apa maksudmu?" tanyanya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara seluruh tubuhnya terasa kaku.
Tiba-tiba...
Kotak arisan kembali bergetar.
Bruk...
Bruk...
Bruk...
Kali ini jauh lebih keras. Lidah-lidah api hitam menyembur keluar dari dalam kotak. Asap pekat memenuhi ruangan.
Di balik asap itu...Terdengar suara langkah kaki. Bukan satu. Bukan dua.
Melainkan...Puluhan langkah kaki kecil.
Tap...
Tap...
Tap...
Tap...
Suara itu semakin dekat. Semakin jelas. Lalu terdengar suara anak-anak berbicara bersamaan.
"Kakak..."terdengar suara lirih dari segala arah. Nadanya begitu pelan, tetapi dipenuhi kerinduan yang menusuk hati, seolah memanggil seseorang yang telah lama mereka tunggu.
"Kami masih di sini..." lanjut suara itu perlahan. Terdengar begitu sendu, sementara gema suaranya memenuhi seluruh ruangan hingga membuat bulu kuduk meremang.
"Kakak ingat kami..." bisik mereka lirih. Suara itu terdengar penuh harap, seolah menginginkan jawaban yang telah lama mereka nantikan.
"...atau sudah melupakan kami?" tanya mereka hampir bersamaan. Nada suara mereka berubah menjadi pilu, sementara kesedihan yang mendalam terasa memenuhi setiap sudut ruangan.
Seketika kabut tersibak. Puluhan anak kecil dengan tubuh gosong berdiri mengelilingi seluruh peserta.
Mereka tersenyum. Namun senyum itu perlahan berubah menjadi tangisan. Air mata darah mengalir dari mata mereka.
Lalu...
Serempak mereka mengangkat tangan. Menunjuk tepat ke arah Arga.
Dan pada saat yang sama...Lantai di bawah kaki Arga mulai retak perlahan.
Dari celah retakan itu...Muncul kobaran api merah kehitaman, disertai suara jeritan ratusan orang yang menggema dari kedalaman.
"Selamat datang kembali.." ucap sosok itu lirih. "....di malam ketika semuanya terbakar."
Dan sebelum siapa pun sempat bergerak...Sesuatu dari dalam kobaran api...Mencengkeram pergelangan kaki Arga.