cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31_Arisan Maut part Akhir
"Ka...kami..." ucap Arga terbata-bata. Wajahnya pucat pasi, sementara bibirnya gemetar hebat dan keringat dingin terus mengucur dari seluruh tubuhnya.
Perempuan hangus itu melangkah perlahan.
Tap...
Tap...
Tap...
Suara langkahnya menggema di seluruh ruangan yang kini dipenuhi aroma hangus.
"Jawab aku." ucap perempuan itu lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan, sementara air mata hitam mengalir dari kedua matanya yang gosong.
Arga menggeleng kuat.
"Aku... aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara tubuhnya terus merangkak mundur.
Anak kecil dalam gendongan perempuan itu menatap Arga.
"Bohong..." ucapnya pelan. Senyumnya tipis, sementara asap hitam keluar dari mulutnya.
Puluhan anak hangus ikut turun dari langit-langit. Mereka mengelilingi Arga.
"Kakak bohong..." ucap mereka bersamaan. Wajah mereka tampak sedih, sementara suara mereka menggema memenuhi ruangan.
Pak Hasan menelan ludah.
"Arga..." panggilnya pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara napasnya memburu. "Apa sebenarnya yang terjadi?"
Arga menutup telinganya.
"Diam!" bentaknya histeris. Matanya memerah, sementara tubuhnya bergetar hebat. "Aku tidak mengenal kalian!"
Tiba-tiba...
Seluruh ruangan berubah. Dinding rumah lenyap. Semua orang kini berdiri di sebuah bangunan tua yang hangus terbakar. Kayu-kayu hitam masih mengeluarkan asap. Udara terasa panas.
Nia menutup mulutnya.
"Ini..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan. "Tempat apa ini?"
Nenek tua menghela napas panjang.
"Inilah panti asuhan yang terbakar dua puluh tahun lalu." ucapnya pelan. Tatapannya dipenuhi kesedihan.
Wawan membelalak.
"Panti Asuhan Melati..." bisiknya lirih. Wajahnya memucat.
Rina menoleh cepat.
"Kau tahu tempat ini?" tanyanya terkejut. Dahinya berkerut, sementara matanya tak lepas dari Wawan.
Wawan mengangguk pelan.
"Ayahku pernah menceritakannya." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa ngeri. "Katanya... kebakaran itu menewaskan banyak anak."
Perempuan hangus itu mengangkat tangannya.
"Perhatikan baik-baik." ucapnya lirih. Sorot matanya dipenuhi luka yang tak pernah sembuh.
Seketika...
Bayangan masa lalu muncul. Terlihat seorang pemuda belasan tahun. Wajahnya sangat mirip Arga.
"Itu..." ucap Rina tercekat. Matanya membelalak.
"Arga..." bisik Nia. Tubuhnya gemetar.
Dalam bayangan itu...Api mulai membesar. Anak-anak kecil berlarian sambil menangis.
"Tolong!" teriak seorang anak. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara kedua tangannya memukul pintu sekuat tenaga.
"Pak! Bukakan pintunya!" jerit anak lainnya. Air matanya bercucuran deras.
Di luar bangunan...
Arga muda berdiri bersama tiga temannya. Mereka tampak panik.
"Kalau pintunya dibuka..." ucap salah seorang teman dengan wajah pucat. "...api akan semakin besar!"
"Tapi mereka masih hidup!" bentak Arga muda. Wajahnya dipenuhi kebimbangan.
"Kalau kita masuk..." ucap teman lainnya gemetar. "...kita juga akan mati!"
Jeritan anak-anak terdengar semakin memilukan.
"Tolong...!"
"Kami takut!"
"Ibu...!"
Arga muda menggenggam gagang pintu. Tangannya gemetar.
"Aku..." ucapnya lirih. Air matanya mulai mengalir.
Namun...Ia perlahan melepaskan gagang pintu.
Lalu...Melangkah mundur.
Api semakin membesar. Jeritan itu perlahan menghilang. Bayangan pun lenyap. Ruangan kembali sunyi.
Arga terduduk lemas. Air matanya jatuh tanpa henti.
"Aku..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi penyesalan. "Aku memang ada di sana."
Semua orang terdiam.
Pak Hasan menatap Arga.
"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa iba.
Arga menangis tersedu-sedu.
"Aku takut..." jawabnya lirih. Bahunya bergetar hebat. "Setiap malam aku mendengar jeritan mereka."
"Aku mencoba melupakan semuanya.Aku berpura-pura tidak pernah terjadi." lanjutnya dengan wajah penyesalan.
Perempuan hangus itu menggeleng perlahan.
"Melupakan..." ucapnya lirih. Senyumnya dipenuhi kepedihan. "...tidak akan menghapus luka kami."
Arga merangkak mendekatinya.
"Maafkan aku..." ucapnya sambil menangis. Wajahnya dipenuhi penyesalan yang mendalam.
"Aku pengecut. Aku takut masuk ke dalam. Aku takut mati. Aku membiarkan kalian sendirian." ucapnya lagi dengan wajah menunduk sedih
Puluhan anak hangus saling berpandangan. Seorang anak kecil melangkah maju.
"Kakak..." ucapnya pelan. Wajahnya tidak lagi menyeramkan. "Selama ini..Kami hanya ingin kau mengakui semuanya."
Arga menundukkan kepala hingga menyentuh lantai.
"Aku mengaku." ucapnya lirih. Air matanya membasahi lantai yang gosong. "Aku bersalah. Aku tidak sanggup menyelamatkan kalian. Aku hidup membawa rasa bersalah selama bertahun-tahun."
Perempuan itu memejamkan mata. Air mata hitamnya perlahan berubah menjadi cahaya.
"Terima kasih..." ucapnya lembut. Senyumnya kini dipenuhi ketenangan.
Satu per satu...Luka bakar di tubuh para anak menghilang. Kulit mereka kembali utuh. Wajah mereka berubah ceria.
Api hitam yang memenuhi ruangan perlahan padam. Anak kecil itu tersenyum.
"Kami tidak marah lagi." ucapnya lembut. Matanya berbinar hangat. "Kami hanya ingin dikenang."
Arga menangis semakin keras.
"Aku berjanji." ucapnya mantap. Wajahnya dipenuhi tekad. "Aku akan menceritakan kisah kalian. Aku akan membangun tugu peringatan. Aku akan memastikan tidak ada seorang pun melupakan kalian."
Perempuan itu mengangguk.
"Itu sudah cukup." ucapnya lembut.
Perlahan...Tubuh perempuan dan seluruh anak-anak berubah menjadi ribuan cahaya kecil. Mereka terbang ke langit malam.
Sebelum menghilang, suara mereka terdengar untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih... Kakak..."
Ruangan kembali normal. Lantai yang retak menghilang. Api padam. Lilin kembali menyala dengan cahaya kekuningan.
Nia mengusap air matanya.
"Semuanya... sudah selesai?" tanyanya lirih. Wajahnya masih dipenuhi rasa haru.
Nenek tua mengangguk pelan.
"Arwah mereka akhirnya menemukan ketenangan." jawabnya lembut. Senyumnya tipis.
Beberapa bulan kemudian...
Di bekas lokasi Panti Asuhan Melati berdiri sebuah tugu sederhana bertuliskan nama seluruh korban kebakaran.
Arga datang membawa bunga setiap bulan. Ia tidak pernah lagi mencoba melupakan masa lalunya.
Sebaliknya, ia menceritakan tragedi itu kepada banyak orang agar menjadi pelajaran bahwa keberanian, tanggung jawab, dan kejujuran jauh lebih penting daripada rasa takut.
Konon, sejak tugu itu berdiri, tidak pernah lagi terdengar tangisan anak-anak di tempat tersebut.
Yang terdengar hanyalah suara tawa kecil yang damai, seolah mereka telah benar-benar pulang ke tempat yang seharusnya.
TAMAT