NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Sempat Bercanda

 Mobil Danendra melaju membelah jalanan yang ramai pada hari libur. Di kursi penumpang, Niken menikmati pemandangan melalui jendela. Sesekali ia tersenyum sendiri ketika mengingat akhir pekan mereka di Lereng Mahitala.

 "Kenapa, Nik?" tanya Danendra yang menangkap senyum kecil itu.

 Niken melirik sekilas, lalu menjawab. "Tidak apa-apa."

 "Kelihatanya ada yang lagi bahagia." Kata Danendra yang membuat Niken akhirnya menoleh.

 "Aku cuma berpikir, ternyata dua hari bisa menyimpan begitu banyak kenangan."

 Danendra tersenyum sambil menggeleng geli. "Lain kali kita buat kenangan yang lebih banyak."

 Belum sempat Niken menjawab, ponsel Danendra yang terhubung dengan sistem mobil tiba-tiba berdering. Layar di dasbor menampilkan nama yang membuat senyum Danendra perlahan memudar.

 "Ibu?" gumamnya pelan. Kemudian ia segera menekan tombol menerima panggilan. "Hallo, Bu."

 "Danen..." suara Ratih terdengar tidak setenang biasanya. "Ayahmu tiba-tiba sesak napas."

 "Apa? Sejak kapan, Bu?"

 "Baru saja, sudah minum obat, tapi Ibu takut kondisinya memburuk."

 Tanpa sadar, kaki Danendra menekan pedal gas lebih dalam. "Ibu yang tenang, sebentar lagi kami sampai."

 "Iya," jawab Ibunya sebelum mengakhiri panggilan.

 Sambungan telepon terputus, suasana di dalam mobil mendadak sunyi. Niken yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu, menatap panik suaminya.

 "Mas..."

 Danendra menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Ayah tiba-tiba sesak napas," katanya.

 "Semoga Ayah tidak apa-apa."

 Danendra mengangguk pelan meski pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Tangannya menggenggam kemudi lebih erat, membuat Niken meletakan tangannya di atas punggung tangan Danendra.

 "Mas, jangan panik, sebentar lagi kita akan sampai."

 Sentuhan lembutnya membuat Danendra sedikit lebih tenang. Ia membalas genggaman tangan istrinya sesaat sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan, lalu kembali menambah kecepatan laju mobil, meninggalkan dinginnya udara pegunungan menuju rumah yang kini dipenuhi kecemasan.

 Tak ada lagi obrolan ataupun tawa ringan, yang tersisa hanyalah doa dalam hati, semoga mereka bisa tiba tepat waktu dan mendapati sang ayah dalam keadaan baik.

 Tak lama kemudian, mobil Danendra memasuki halaman rumah. Bahkan sebelum mobil berhenti, Danendra sudah membuka sabuk pengamannya.

 "Mas," panggil Niken pelan. "Hati-hati."

 Danendra mengangguk singkat, ia segera turun dari mobil, kemudian disusul oleh Niken yang menutup pintu dengan tergesa.

 Bi Inah yang sudah menunggu di depan pintu sambil berjalan mondar-mandir langsung menghampiri mereka. "Alhamdulillah, Mas Danendra akhirnya sampai."

 "Bagaimana keadaan Ayah, Bi?" tanya Danendra cepat.

 "Sudah agak mendingan, Mas, tapi masih lemas. Bapak sudah ada di kamar."

 Tanpa menunggu lama, Danendra segera berjalan cepat menuju kamar orang tuanya. Sementara Niken mengikutinya di belakang.

 Begitu pintu kamar terbuka, Ratih yang sedang duduk di tepi tempat tidur langsung berdiri dengan wajah yang menyisakan kepanikan. "Danen..."

 "Ayah bagaimana, Bu?"

 Ratih menggeleng pelan. "Tadi sempat sesak, untung obatnya masih ada."

 Danendra mendekati ranjang, memandang ayahnya yang sedang bersandar pada bantal dengan wajah yang masih sedikit pucat. "Ayah."

 Pradipta membuka mata, kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. "Kalian sudah pulang, kenapa buru-buru?"

 "Ayah masih sempat bercanda." Kata Danendra dengan wajah khawatir, "bagaimana sekarang, apa sesaknya sudah berkurang?"

 "Sudah lebih enak, sesaknya juga sudah berkurang," jawab Pradipta sambil membenarkan posisi duduknya.

 Keringat di dahi ayahnya memang sudah mengering, namun napasnya masih terlihat berat yang membuat Danendra semakin cemas.

"Sejak kapan Ayah merasa sesak?"

 "Sekitar satu jam yang lalu," jawab Ratih. "Tadi sedang menyiram tanaman, terus tiba-tiba memegangi dada."

 Mendengar itu, raut wajah Danendra semakin serius. "Ayah, kita ke dokter sekarang."

 Pradipta yang masih lemas menggeleng pelan. "Tidak usah, Ayah hanya kecapekan."

 Danendra senyum penuh ketegasan. "Ayah pernah mengajarkan kepadaku, kalau masalah sekecil apa pun harus dicari penyebabnya sebelum menjadi besar. Nasehat itu masih aku ingat, Ayah." Kata Danendra yang membuat Pradipta terdiam.

 Ratih menatap putranya dengan haru, kemudian berkata pelan kepada suaminya. "Mas, turuti saja Danendra, aku juga belum tenang."

 Pradipta menghembuskan napas panjang. "Baiklah."

 Mendengar jawaban itu, semua orang sedikit lega. Niken yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekat, kemudian dengan sopan ia duduk di kursi dekat ranjang.

 "Ayah..." panggil Niken yang membuat Pradipta langsung menoleh pelan. "Maaf, karena kami baru sampai."

 Pradipta tersenyum hangat kepadanya. "Untuk apa minta maaf? Kalian sedang menikmati waktu berdua, itu juga penting."

 Niken tersenyum sambil mengangguk pelan. "Yang penting Ayah sudah lebih baik," ucapnya lalu kembali berdiri, kemudian bicara kepada ibu mertuanya. "Bu, boleh saya buatkan teh hangat untuk Ayah? Atau mungkin bubur kalau Ayah belum makan?"

 Ratih memandang menantunya beberapa saat, sebelum akhirnya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tidak usah, tadi Bi Inah sudah Ibu suruh membuat bubur."

 Niken akhirnya hanya mengangguk patuh.

 Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Seorang Dokter datang tidak lama setelah dihubungi oleh Danendra, ia melangkah masuk sambil membawa tas medis setelah Bi Inah mempersilahkannya.

 "Selamat siang." Ucap Dokter dari ambang pintu.

 "Selamat siang, Dok." Jawab semuanya.

 Ratih segera berdiri menyambutnya, "maaf jadi merepotkan, tadi suami saya tiba-tiba sesak napas."

 Dokter tersenyum ramah sambil menghampiri Pradipta, "tidak apa-apa, Bu Ratih. Saya lihat dulu kondisi Pak Pradipta."

 Ratih mengangguk, dan semuanya berdiri untuk memberi ruang.

 "Bagaimana kabarnya, Pak?" tanya dokter kepada Pradipta.

 "Sudah agak lega," jawabnya. "Tadi sesak sekali."

 "Baik."

 Dokter meletakkan tasnya di atas meja kecil, lalu mulai memeriksa tekanan darah, denyut nadi, kadar oksigen, serta mendengarkan suara jantung dan paru-paru menggunakan stetoskop.

 Seluruh penghuni kamar menunggu dalam diam. Ratih bahkan menggenggam tangannya dengan erat karena tegang.

 Beberapa saat kemudian, dokter melepas stetoskopnya. "Tekanan darah bapak sedikit lebih tinggi, beruntung saturasi oksigennya masih baik." Kata dokter yang langsung membuat Ratih bertanya.

 "Dak, apa ini berbahaya?"

 Dokter tersenyum menenangkan, kemudian menjelaskan. "Saya belum bisa menyimpulkan hanya dari pemeriksaan ini. Sesak napas bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena kelelahan, tekanan darah yang meningkat, ganguan pada jantung, ataupun faktor lain."

 "Jadi sebaiknya bagaimana, Dok?" Sahut Danendra.

 "Saya sarankan besok pagi Pak Pradipta menjalani pemeriksaan lebih lengkap di rumah sakit. Minimal rekam jantung, pemeriksaan darah, dan bila diperlukan pemeriksaan lanjutan sesuai hasil evaluasi dokter spesialis." Tutur dokter, kemudian kembali kepada Pradipta, "Pak."

 "Iya, Dok."

 "Untuk sementara jangan dulu melakukan pekerjaan berat."

 "Baik, Dok. Saya akan patuh sama Dokter." Kata Pradipta dengan penuh semangat meski masih terasa lemas.

 Danendra yang berdiri di samping ranjang ikut tersenyum mendengarnya.

 Kemudian Pradipta melirik putranya. "Kalau tidak patuh, akan ada yang mengawasiku."

 Kalimat itu membuat suasana tegang sedikit mencair. Bahkan Niken ikut tersenyum di samping suaminya.

 Dokter kembali merapikan alat-alatnya ke dalam tas. "Saya berikan obat untuk membantu meredakan keluhan hari ini. Tapi ingat, obat ini bukan pengganti pemeriksaan. Besok tetap harus ke rumah sakit."

 Danendra mengangguk mantap. "Saya sendiri yang akan mengantar Ayah."

 "Saya juga akan mengantar suami saya, Dok." Sahut Ratih cepat.

 Dokter tersenyum puas melihat kekompakan keluarga itu. "Bagus, dengan dukungan keluarga seperti ini, saya yakin Pak Pradipta akan lebih semangat menjaga kesehatannya," pesanya, sebelum pamit meninggalkan rumah Pradipta.

...****************...

1
Emily
Alana gak tau malu
Emily
walau gak berdarah kan pasti rasanya beda
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale Ganindra Awan
lanjut terus thor
Kale Ganindra Awan
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale Ganindra Awan
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale Ganindra Awan
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale Ganindra Awan
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Emily: iya geram sih lakik gak bisa jaga Marwah istri
total 1 replies
Kale Ganindra Awan
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale Ganindra Awan
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale Ganindra Awan
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale Ganindra Awan
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!