NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cengkeraman Di Sudut Gelap

​Pelayan kafe mulai berdatangan menyajikan hidangan pembuka yang terlihat sangat estetik dan menggugah selera. Di atas meja panjang itu, Yeza duduk dengan posisi yang sangat aman—terjepit di antara Max di sebelah kanannya dan Bram di sebelah kirinya. Posisi ini tanpa sadar menciptakan benteng pelindung yang membuatnya sedikit lebih tenang.

​Namun, ketenangan itu terusik setiap kali ia mendongak. Di seberang sana, agak bergeser ke kanan, Jefri duduk. Selama proses memesan makanan hingga hidangan disajikan, pria itu berulang kali mencuri pandang ke arah Yeza. Tatapan Jefri penuh dengan kilat rasa bersalah, rindu, dan rasa tidak rela melihat Yeza kini berada di lingkaran sosial yang begitu tinggi bersama Max. Setiap kali mata mereka hampir berserobok, Yeza dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah piring atau ponselnya, berpura-pura sibuk.

​Ketegangan diam-diam ini tentu saja tertangkap oleh radar tajam Max yang duduk tepat di samping Yeza. Max tidak bersuara, namun matanya yang dingin sesekali melirik tajam ke arah Jefri, membuat fotografer itu salah tingkah dan buru-buru meminum air putihnya.

​Tak lama kemudian, pelayan kembali datang membawa botol minuman beralkohol premium dan menuangkannya ke dalam gelas sloki kecil untuk setiap orang di meja sebagai minuman pembuka (welcome drink).

​"Ayo, mari kita bersulang untuk kesuksesan proyek baru Max dan bergabungnya Yeza ke dalam tim!" seru salah seorang staf senior sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

​Semua orang di meja bersorak riuh dan mengangkat gelas masing-masing. Jefri juga mengangkat gelasnya, matanya terus tertuju pada Yeza, berharap gadis itu akan membalas tatapannya saat bersulang.

​Yeza memandang gelas kaca kecil di depannya dengan ragu. Cairan bening di dalamnya menguapkan aroma alkohol yang cukup tajam. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menyentuh minuman seperti ini. Ia sama sekali tidak terbiasa dan tidak berminat untuk mencobanya, apalagi di lingkungan kerja barunya. Yeza hanya memegang batang gelasnya tanpa berniat mengangkatnya ke bibir.

​Melihat keraguan Yeza, sebuah tangan kekar dengan jemari lentik tiba-tiba terulur. Max dengan santai mengambil gelas sloki milik Yeza, lalu menukarnya dengan segelas jus jeruk segar yang baru saja dipesankannya tanpa sepengetahuan Yeza.

​"Dia tidak minum alkohol," ucap Max tenang namun tegas kepada forum, memotong sebelum ada staf lain yang sempat memaksa Yeza untuk minum. Max menatap Yeza sekilas dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. "Minum jusmu saja."

​Bram yang melihat hal itu langsung tersenyum tipis dan ikut menimpali untuk mencairkan suasana. "Betul, betul. MUA kesayangan kita ini harus tetap fit dan tidak boleh pusing besok pagi. Cheers semuanya!"

​Yeza menatap gelas jus jeruk di tangannya dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia membisikkan kata terima kasih yang sangat pelan kepada Max. Sementara di seberang meja, Jefri hanya bisa meneguk alkoholnya dengan rasa pahit yang mendadak terasa berkali-kali lipat lebih pekat di tenggorokannya.

​Ketegangan yang sempat menyelimuti Yeza perlahan-lahan mulai mencair seiring dengan berjalannya makan malam. Hidangan utama yang lezat serta obrolan-obrolan humoris dari para staf membuat suasana di meja makan terasa begitu hangat dan penuh keceriaan.

​Di tengah keriuhan itu, Yeza merasa sangat beruntung karena ia tidak perlu merasa terasing. Tepat di sebelah Bram, duduk seorang staf perempuan bernama Nindi. Nindi adalah desainer muda berbakat yang bertanggung jawab atas seluruh pakaian pemotretan Max hari ini.

​"Yeza, riasanmu tadi siang benar-benar membantu menonjolkan detail kerah kemeja rancanganku, lho!" puji Nindi antusias, membuka percakapan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Yeza. "Aku suka sekali bagaimana kamu membuat kulit Max kelihatan matte tapi tetap segar."

​"Ah, terima kasih banyak, Kak Nindi," jawab Yeza sambil tersenyum tulus. "Aku juga kagum sekali dengan potongan baju-baju yang Kakak siapkan tadi. Semuanya pas sekali di tubuh Max."

​"Panggil Nindi saja, umur kita tidak beda jauh, kok. Aku baru 25 tahun," sahut Nindi ramah sambil mengibaskan tangannya, tertawa kecil. "Melihat caramu bekerja tadi, aku langsung tahu kalau kamu orang yang sangat detail. Senang rasanya punya teman seumuran di tim ini!"

​Yeza merasa lega luar biasa. Mengetahui bahwa Nindi yang ramah dan ekspresif ini hanya berusia 25 tahun—tidak terpaut jauh dari usianya—membuat rasa canggungnya menguap sepenuhnya. Dalam waktu singkat, kedua perempuan muda itu sudah asyik mengobrol, mulai dari membahas tren riasan dan busana terbaru, kesulitan bekerja di bawah tekanan industri hiburan, hingga hal-hal kasual lainnya.

​Tawa kecil sesekali lolos dari bibir Yeza saat mendengarkan cerita jenaka Nindi tentang pengalamannya menghadapi klien-klien yang rewel. Aura ceria dan tulus dari Yeza yang sedang tertawa lepas membuat wajahnya terlihat berkali-kali lipat lebih menawan di bawah temaram lampu kafe.

​Di sampingnya, Max diam-diam memperhatikan interaksi itu. Ia memotong daging steaknya dengan santai, namun sudut bibirnya terangkat tipis melihat Yeza yang kini sudah bisa tertawa lepas dan membaur dengan baik. Max merasa keputusannya membawa Yeza ke makan malam ini sangat tepat.

​Namun, keceriaan di sisi meja itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di seberang sana. Jefri yang sejak tadi hanya diam, terus menatap Yeza yang sedang tertawa bersama Nindi. Ada rasa sesak yang kian menghimpit dadanya melihat Yeza yang tampak begitu bahagia dan bersinar, seolah-olah bayangan masa lalu yang kelam dan keberadaan dirinya di ruangan itu sama sekali tidak lagi memengaruhi hidup gadis itu.

​Waktu merambat cepat hingga jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Beberapa pengunjung kafe satu per satu mulai meninggalkan lokasi, menyisakan tim Maxemilian yang masih asyik mengobrol hangat di area VIP.

​Yeza melirik jam di ponselnya. Merasa perlu membasuh wajahnya agar kembali segar, ia berbisik pamit kepada Nindi yang duduk di dekatnya. "Nindi, aku ke toilet sebentar, ya."

​"Oh, iya, Yeza. Mau kuantar?" tawar Nindi ramah.

​"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Yeza halus dengan senyuman.

​Yeza pun berdiri dan melangkah keluar dari area VIP. Toilet kafe mewah ini terletak cukup jauh di bagian belakang, melewati lorong terbuka berhias tanaman hias gantung dan taman kecil yang remang-remang. Suasana di koridor itu sangat sepi, hanya terdengar suara gemercik air mancur buatan.

​Namun, Yeza tidak menyadari bahwa begitu ia beranjak, Jefri yang duduk di seberang langsung meletakkan gelasnya. Dengan gerakan seringan mungkin agar tidak menarik perhatian staf lain, Jefri bangkit dari kursinya dan berjalan membuntuti Yeza.

​Tetapi, Jefri melakukan kesalahan besar karena meremehkan ketajaman insting seorang Maxemilian.

​Sejak awal, Max tidak pernah sedetik pun melepaskan pengawasannya dari gerak-gerik mencurigakan sang fotografer. Begitu melihat Jefri menyelinap pergi sesaat setelah Yeza pamit, rahang Max seketika mengeras. Detik itu juga, Max langsung berdiri dari kursinya.

​"Aku keluar sebentar mencari angin," ucap Max datar pada Bram yang langsung mengerti situasi dari tatapan mata bosnya itu. Tanpa membuang waktu, Max berjalan cepat membuntuti Jefri dari jarak aman yang tak kentara.

​Sementara itu, setelah selesai membasuh tangan dan merapikan sedikit penampilannya di cermin toilet wanita, Yeza melangkah keluar. Koridor belakang yang sepi dan hanya diterangi lampu dinding kuning temaram membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Ia mempercepat langkah kakinya untuk segera kembali ke keramaian meja makan.

​Namun baru beberapa langkah meninggalkan pintu toilet, sebuah bayangan hitam mendadak muncul dari balik pilar.

​Set!

​Sebelum Yeza sempat bereaksi, sebuah tangan kekar langsung mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Yeza terkesiap, hendak berteriak, namun mulutnya langsung dibekap oleh tangan yang lain. Dengan gerakan kasar dan tergesa-gesa, Jefri menarik paksa tubuh mungil Yeza ke arah sudut taman yang rimbun oleh semak-semak besar, tersembunyi dari pandangan lorong utama.

​"Sstt! Diam, Yeza! Ini aku, Jefri!" bisik Jefri setengah mendesis tepat di telinga Yeza.

​Yeza membelalakkan matanya yang dipenuhi rasa takut sekaligus kemarahan yang luar biasa. Ia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Jefri di lengannya yang mulai terasa sakit.

​"Lepas, Jefri! Kamu gila, ya?!" sentak Yeza begitu berhasil menjauhkan tangan Jefri dari mulutnya, meski pergelangan tangannya masih dicengkeram erat. "Lepaskan aku! Atau aku berteriak sekarang juga!"

​"Tolong, Yeza... sebentar saja! Dengar penjelasan aku!" pinta Jefri dengan tatapan mata yang tampak frustrasi dan putus asa. Ia justru semakin mengerat cengkeramannya, mengabaikan rintihan kesakitan dari mulut mantan kekasihnya itu. "Aku menyesal, Yeza. Kejadian dua tahun lalu itu... itu kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku masih memikirkanmu setiap hari. Tolong, beri aku satu kali lagi kesempatan—"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!