Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 terbuang
Satu Minggu sudah berlalu sejak peristiwa buruk malam itu.
Satu Minggu sudah juga Biel di kurung di dalam kamarnya tanpa di izinkan untuk keluar barang sebentar.
Satu Minggu ke depan, dia sudah harus kembali masuk sekolah.
Entah.....siapa yang akan memikirkan hal itu untuknya.
Dan selama satu Minggu di kurung di dalam kamarnya,
Sekali lagi hal buruk dan sangat menyakitkan itu kembali terulang padanya,
Sama seperti saat pemakaman sang ibu, ia pun tak di izinkan untuk menghadiri acara pemakaman tuan Lee barang sebentar saja.
Biel benar benar terpukul, kenyataan ini sungguh membuat mentalnya seperti terganggu.
Hanya dalam kurun waktu beberapa hari saja ia sudah kehilangan dua orang yang baginya sangat berarti dalam hidupnya.
Meski tak seperhatian sang mama kepadanya,
tapi Biel juga bisa merasakan perhatian tuan Lee kepadanya.
Dan dalam satu Minggu ini, Biel benar benar hanya bisa terdiam dan membisu.
Tak ada lagi senyum riang dan wajah cerahnya seperti dulu.
Tak ada lagi lompatan lompatan kecilnya atau bahkan senandung kecil di bibirnya.
Mendung benar benar menyelimuti raga dan juga jiwanya.
Hari ini,
Pagi pukul tujuh....
Seperti biasa, mbok Sumi masuk kedalam kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk sarapannya.
Namun ada yang berbeda dari biasanya, selain membawa nampan berisi sarapan untuk Biel.
Wanita baya itu juga membawa sebuah koper besar.
" nona kecil....ayo sarapan " ucap mbok Sumi pelan kepada Biel.
Tadi pagi sebelum ini, ia sudah datang ke kamar ini untuk memandikan Biel dan menyisir rambut gadis kecil itu seperti biasa.
Sejujurnya di dalam hati, sungguh ia miris melihat kondisi gadis kecil itu.
Ia adalah salah satu saksi betapa Biel dan ibunya sungguh teraniaya di sini.
Saraswati adalah seorang yatim piatu, ia bekerja dengan sungguh sungguh selama ini demi untuk bertahan hidup.
Tapi ia justru menjadi korban tuan muda rumah ini,
bukannya permintaan maaf yang ia terima ia justru mendapat perlakuan yang mengenaskan hingga akhir hayatnya.
Dan sekarang .....
Putri dari wanita malang itu juga mengalami hal yang sama.
Mbok Sumi menghela nafas berat, ia menyadari sesuatu.....
Biel sangat berubah akhir akhir ini,
Dulu ia masih bisa melihat wajah cerah dan senyum riang gadis kecil itu meski ia di perlakukan tak selayaknya di rumah ini.
Tapi sekarang....
Sejak kematian sang ibu beberapa waktu lalu hingga hari ini,
Ia tak lagi melihat hal itu di wajah gadis kecil itu selain kesedihan.
Biel yang duduk di sisi jendela menoleh dan menatap mbok Sumi.
Tak lama netranya beralih pada koper yang di bawa wanita baya itu.
" apakah koper itu untukku mbok Sum ?! " tanya Biel sambil melangkah mendekat kearah mbok Sumi kemudian ia duduk di kursi di depan meja di mana mbok Sumi meletakkan makanan untuknya.
Mbok Sumi sedikit gelagapan menerima pertanyaan Biel itu.
" jadi.....aku benar benar akan di kirim ke panti asuhan seperti kata nyonya Shahnaz hari itu ?! " cicit Biel.
Beberapa hari yang lalu Shahnaz datang kepadanya dan mengatakan tentang hal itu kepadanya.
Sungguh wanita itu menganggapnya pembawa sial hingga menimpakan semua kesalahan atas kematian tuan Lee kepadanya.
Awalnya Shahnaz ingin membuang Biel dengan alasan di kirim ke panti asuhan. Tapi tidak ia sangka jika Ricard memerintahkan padanya untuk membawa Biel ke panti asuhan milik keluarga Lee yang berada di pinggiran kota.
Shahnaz tak setuju dengan hal itu, tapi keputusan Ricard tidak bisa di ganggu gugat lagi.
Kemaren Biel sempat memohon untuk tidak di kirim ke panti asuhan kepada Shahnaz.
Ia bahkan bersimpuh dan bersujud di kaki wanita itu.
" nyonya,
tolong jangan kirim aku ke panti asuhan .. Aku janji aku tidak akan nakal lagi.
aku janji aku tidak akan masuk ke ruang utama lagi....aku janji " ucap Biel kala itu sambil memohon mohon dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Tapi...
Apakah Shahnaz tersentuh....?! Jawabannya adalah tidak.
Hati wanita itu seperti telah membatu, ia tak tersentuh sedikitpun meski seorang anak kecil menangis dan memohon di kakinya.
Dan sekarang,
Mbok Sumi kian bingung dengan pertanyaan gadis kecil itu
" nona kecil ...." cicitnya pelan dan tergagap.
Di tempatnya, Biel mulai menyuap makanannya.
Bersamaan dengan itu ia juga menangis. Air matanya mengalir dengan begitu deras.
Mbok Sumi yang melihat itu melangkah cepat dan memeluk gadis kecil yang malang itu.
Di ciumnya pucuk kepalan Biel berkali kali.
Hatinya sungguh sakit melihat kemalangan gadis kecil itu.
" mbok Sumi.....cepat bereskan saja pakaianku,
Karena jika tidak ...nanti mbok Sum juga bisa kena marah nyonya Shahnaz " cicit Biel dengan suara bergetar.
Mbok Sumi mengangguk, ia mengusap air mata Biel.
" maaf kan mbok Sum nona kecil, mbok Sum tidak bisa berbuat apa apa untuk membantumu.
Semoga di tempatmu yang baru nanti kau bisa hidup lebih baik " ucap wanita tua itu dan Biel hanya mengangguk pelan.
Mbok Sum bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah almari pakaian Biel. Dengan berderai air mata,
wanita tua itu mulai memasukkan dan menata lembar demi lembar pakaian Biel ke dalam koper yang tadi ia bawa.
Dari tempatnya duduk saat ini,
Biel menatap kesibukan mbok Sum itu.
Bocah kecil berusia lima tahun itu sekali lagi menangis tanpa suara.
Ia tak pernah keluar dari rumah ini selain kesekolah.
Sejak usia 4 tahun, Biel memang sudah di sekolahkan.
Dan itu atas perintah tuan Lee.
Mengemas pakaiannya sudah dan kini mbok Sumi kembali mendekat kepada Biel yang sudah menyelesaikan sarapannya.
Sebuah tas ransel wanita tua itu pakaian pada Biel.
" Nona kecil, di tas ini ada banyak snack untukmu....
makanlah kapanpun kamu mau ya...." ucap wanita itu sambil mengusap kepala Biel dan Biel mengangguk.
Tak lama ketukan di pintu kamarnya terdengar, setelah itu pintu kamar itu terbuka.
Seseorang berdiri tegak di sana.
" sudah waktunya kita berangkat nona....ayo...." ucap seseorang itu yang tak lain adalah Harry.
Pengacara keluarga Lee.
Dia ditugaskan Ricard mengantar Biel ke panti asuhan atas rekomendasi Shahnaz.
Biel bangkit dari duduknya, sejenak ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar itu sebelum akhirnya ia melangkah ke arah Harry.
" apa aku akan pergi dari rumah ini bersama tuan ?! " tanya Biel kepada Harry sambil mendongak menatap laki laki itu.
" iya nona...." jawab Harry, Harry rasanya tidak punya alasan untuk tidak menghormati gadis kecil di hadapannya itu.
Dulu...
Ia ingat....
tuan Lee sendiri yang datang kerumah sakit untuk menengok ibu dari gadis kecil itu saat ia melahirkannya.
Dari sana ia paham, sebenarnya keberadaan gadis kecil itu masih cukup berarti untuk tuan Lee.
Hanya saja.....karena satu dan lain hal, Biel tak bisa menerima begitu saja haknya sebagai salah satu pewaris keluarga Lee.
" iya....saya yang akan mengantar kamu nona kecil " jawab Harry lagi kemudian ketika netra Biel masih terus terarah kepadanya dan seolah melempar tanya .
" kalau begitu ayo tuan....aku sudah siap " ucap Biel pelan, di belakangnya, mbok Sumi mengusap air matanya.
Harry mengambil alih koper yang berada di tangan mbok Sumi dan menggeret koper itu keluar kamar.