Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog — Notifikasi yang Diabaikan Dunia
1 Januari 2035.
Pukul 00.00 tepat.
Di seluruh penjuru dunia, langit dipenuhi warna-warni kembang api. Orang-orang bersorak menyambut tahun baru. Jalanan ramai oleh tawa, musik, dan hitungan mundur.
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
"Selamat Tahun Baru!"
Ledakan kembang api menghiasi langit malam.
Namun, tepat beberapa detik setelah itu...
Seluruh dunia mendadak hening.
Bukan karena listrik padam.
Bukan karena waktu berhenti.
Melainkan karena setiap manusia di bumi, tanpa terkecuali, melihat sebuah layar transparan berwarna biru muncul tepat di depan mata mereka.
【Pemberitahuan Global】
Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.
Silakan bersiap menghadapi era baru.
Sisa Waktu: 364 Hari 23 Jam 59 Menit 59 Detik.
Layar itu bertahan selama sepuluh detik.
Kemudian...
Menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
Seluruh dunia langsung gempar.
"Apaan tadi?"
"Itu hologram?"
"Siapa yang iseng?"
Media sosial meledak dalam hitungan menit. Video, foto, hingga siaran langsung memenuhi internet. Anehya, semua orang melihat pemberitahuan yang sama.
Presiden dari berbagai negara mengadakan rapat darurat.
Ilmuwan mencoba mencari penjelasan.
Perusahaan teknologi saling membantah tuduhan bahwa mereka membuat proyek rahasia.
Namun, tidak ada satu pun yang mampu menjelaskan asal-usul layar misterius tersebut.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Tidak ada monster.
Tidak ada bencana.
Tidak ada perubahan apa pun.
Perlahan, manusia kembali menjalani kehidupan seperti biasa.
Mereka menganggap semuanya hanyalah fenomena aneh yang tak berbahaya.
Hanya sedikit orang yang masih mengingat hitung mundur itu.
Di sebuah kamar kontrakan sempit di pinggiran kota.
Seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap langit-langit.
Namanya...
Leon.
Ia bekerja sebagai karyawan biasa dengan gaji pas-pasan. Hidupnya sederhana, bahkan cenderung membosankan.
Setiap hari hanya ada tiga hal dalam hidupnya.
Bangun.
Bekerja.
Tidur.
Saat melihat pemberitahuan global tadi, Leon merasakan sesuatu yang berbeda.
Entah mengapa...
Hatinya mengatakan bahwa itu bukan lelucon.
"Itu terasa... terlalu nyata."
Leon menghela napas.
"Mungkin aku terlalu banyak berpikir."
Ia mematikan lampu kamar dan merebahkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian...
Ding!
Suara notifikasi mekanis terdengar jelas di telinganya.
Leon langsung membuka mata.
Di hadapannya muncul layar lain.
Kali ini hanya dia yang bisa melihatnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun Berhasil Diaktifkan】
Mencari kandidat...
Sinkronisasi selesai.
Selamat datang, Leon.
Anda terpilih sebagai pengguna pertama.
"...Apa?"
Jantung Leon berdegup kencang.
Belum sempat ia menyentuh layar itu...
Cahaya putih menyelimuti seluruh ruangan.
Pandangan Leon menjadi kabur.
Tubuhnya terasa sangat ringan, seolah ditarik ke tempat yang sangat jauh.
Saat membuka mata kembali...
Ia sudah tidak berada di kamar kontrakannya.
Di hadapannya terbentang padang rumput luas tanpa ujung.
Langit berwarna keemasan.
Gunung-gunung menjulang di kejauhan.
Udara yang dihirup terasa begitu segar hingga membuat tubuhnya ringan.
"Di... mana aku?"
Suara tepukan tangan terdengar dari belakangnya.
"Tepat waktu."
Leon segera berbalik.
Seorang gadis mungil berambut perak dengan mata biru bercahaya berdiri sambil tersenyum jahil.
Ia mengenakan gaun putih sederhana, namun aura yang dipancarkannya terasa begitu agung.
"Selamat datang."
"Di Dunia Simulasi."
Leon menatapnya penuh kewaspadaan.
"Siapa kamu?"
Gadis itu membungkukkan badan dengan anggun.
"Aku adalah Administrator Sistem."
"Tugas utamaku hanya satu."
"Membimbingmu... hingga menjadi manusia yang mampu menyelamatkan dunia."
Leon terdiam.
Ia masih sulit mempercayai semua yang terjadi.
Namun, jauh di lubuk hatinya...
Ia tahu.
Pemberitahuan global itu bukanlah awal dari sebuah lelucon.
Melainkan...
Awal dari berakhirnya zaman manusia.