Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Wanita yang Diakui Sang CEO
Manajer Hotel dan Kepala Keamanan akhirnya keluar dari ruang kontrol cctv setelah semalaman tidak tidur karena mengawasi pintu kamar Enzo.
Namun saat tiba di depan lift, Manager Hotel menoleh kepada Kepala Keamanan.
"Minta tangkapan layar wajah wanita itu dari CCTV."
"Baik, Pak."
"Bagikan hanya kepada supervisor, front office, butler, dan keamanan. Jangan sampai bocor keluar."
Kepala Keamanan mengangguk. "Instruksinya, Pak?"
"Mulai hari ini," kata Manager Hotel. "jika beliau datang, perlakukan seperti memperlakukan Tuan Enzo sendiri. Tidak perlu bertanya terlalu banyak. Jangan meminta identitas berulang kali. Berikan akses sesuai instruksi Tuan Enzo."
Ia berhenti sejenak.
"Dan satu lagi..." Tatapannya berubah serius. "Kalau sampai ada yang bersikap tidak sopan kepada beliau, urusannya langsung denganku."
"Baik, Pak."
Kepala Keamanan menekan tombol lift. Setelah Manager Hotel masuk dan pintu lift tertutup, ia berbalik kembali ke ruang kontrol cctv.
Tak sampai lima menit, supervisor, petugas front office, butler, dan tim keamanan telah menerima tangkapan layar wajah Chantika yang dikirim oleh Kepala Keamanan melalui grup internal.
Mereka mengamati wajah wanita itu dengan saksama, sementara kepala masing-masing dipenuhi tanda tanya.
"Siapa wanita ini?"
Sayangnya tak ada seorang pun yang tahu jawabannya.
Di depan lift, seorang supervisor sedang menunggu pintu terbuka sambil sesekali melihat ponselnya.
Ting.
Pintu lift terbuka perlahan. Supervisor itu spontan mengangkat wajahnya dari layar ponsel. Tiba-tiba matanya sedikit membesar.
Wanita yang akan keluar dari lift itu adalah sosok yang beberapa detik lalu ia lihat di tangkapan layar.
Refleks ia melangkah ke samping untuk memberi jalan, lalu menundukkan kepala dengan hormat.
"Selamat pagi, Nona."
Chantika sedikit terkejut. Tatapannya bergantian melihat supervisor itu dan name tag yang terpasang rapi di seragamnya.
Meski bingung, ia tetap membalas dengan senyum tipis dan sedikit menundukkan kepala.
"Pagi."
Lalu ia melangkah pergi meninggalkan area lift.
Supervisor itu menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan koridor.
"Lebih cantik daripada di foto," gumamnya tanpa sadar. Sesaat kemudian ia buru-buru menggeleng. "Jangan cari penyakit."
Tak jauh dari sana, beberapa staf hotel saling berpandangan heran. Mereka jelas melihat supervisor, petugas keamanan, bahkan resepsionis memperlakukan wanita itu dengan penuh hormat.
"Siapa perempuan itu?" bisik salah seorang staf. "Kenapa Supervisor dan yang lain menghormatinya seperti menghormati Tuan Enzo?"
"Entahlah," sahut rekannya pelan. "Kita ini cuma staf biasa. Ikuti saja apa yang dilakukan atasan. Jangan sampai melakukan kesalahan."
"Iya, sih... tapi aku tetep penasaran."
"Hati-hati. Rasa penasaran bisa bawa kamu ke pemakaman."
"Heh! Jangan sembarangan. Amit-amit."
"Makanya jangan banyak bertanya."
Mereka pun kembali bekerja, meski rasa penasaran masih membayang di benak masing-masing.
Sementara itu, Chantika berjalan perlahan menuju area parkir hotel. Tatapannya langsung mencari mobil Saras.
Namun, tempat parkir yang semalam ditempati mobil itu kini telah diisi kendaraan lain.
"Mobil Saras sudah gak ada..." gumamnya lirih.
Ia masih menyapu seluruh area parkir dengan pandangan, memastikan mobil itu benar-benar telah pergi.
Setelah yakin, Chantika mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depan lobby hotel.
Chantika masuk ke dalamnya. Mobil itu perlahan meninggalkan hotel bintang lima yang, hanya dalam satu malam, telah mengubah jalan hidupnya.
***
Di ruang tengah keluarga Rahardja, Rahardja duduk di sofa sambil membaca majalah bisnis. Ia mengangkat wajahnya ketika mendengar suara langkah kaki memasuki ruangan.
Dahinya sedikit berkerut saat menyadari langkah putri keduanya tampak tidak biasa.
"Saras," panggilnya.
Saras menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Iya, Pak?"
"Kenapa jalanmu kayak gitu? Apa kamu sakit?"
Wajah Saras seketika berubah. Namun, hanya sepersekian detik kemudian ia berhasil mengendalikan ekspresinya.
"Tidak apa-apa, Pa. Tadi kakiku agak keseleo sedikit," dalihnya sambil tersenyum tipis.
Rahardja mengangguk pelan. "Kalau begitu istirahat saja. Lain kali hati-hati kalau berjalan."
"Iya, Pa."
Saras kembali melangkah menuju lantai dua.
"Untung saja semalam aku sempet nelpon Papa dan bilang nginep di rumah temen, jadi beliau gak banyak nanya," batinnya lega.
Namun, sesaat kemudian wajahnya kembali diliputi kegelisahan.
"Ke mana sebenarnya Kak Chantika? Apa dia sudah pulang?"
Setibanya di lantai atas, pandangannya langsung tertuju pada pintu kamar Chantika yang berada tepat di sebelah kamarnya. Ragu-ragu, ia melangkah mendekat.
"Aku harus bicara dengannya."
Tok! Tok! Tok!
Saras mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Pintu itu tetap tertutup rapat.
"Belum pulang..." gumamnya lirih.
Akhirnya ia masuk ke kamarnya sendiri, lalu menjatuhkan tubuh di atas ranjang.
Pikirannya kembali pada kejadian semalam. Ia masih ingat jelas bagaimana dirinya membuang ponsel Chantika ke sungai demi menghilangkan jejak.
"Moga gak ada yang curiga."
Tak lama kemudian, taksi yang ditumpangi Chantika berhenti di depan rumah keluarga Rahardja.
Obat oral dan salep yang diberikan Enzo benar-benar bekerja dengan baik. Kini ia sudah bisa berjalan hampir normal, meski rasa perih itu masih sesekali muncul.
"Sepertinya dia memang bisa diandalkan," katanya pelan.
Tanpa sadar bibirnya bergerak samar saat mengingat perhatian Enzo.
Chantika menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
"Chantika."
Suara Rahardja menghentikan langkahnya begitu melewati ruang tengah.
Chantika menoleh. "Iya, Pa?"
Rahardja menutup majalah yang sejak tadi dibacanya, lalu menatap putri sulungnya dengan serius.
"Kamu dari mana? Semalaman gak pulang, gak ngasih kabar."
Chantika terdiam. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Gimana aku jelasin soal semalam? Jujur? Memalukan. Tapi kalau gak jujur..."
...🔸🔸🔸...
..."Satu malam mungkin mampu mengubah jalan hidup seseorang. Namun, yang paling sulit dihadapi bukanlah perubahan itu, melainkan keberanian menghadapi konsekuensinya."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Sampai Papanya mengatakan sulit memaafkan anak yang terus berbohong, bahkan setelah semua kebenaran terbuka.
Ternyata Rahardja memilih menikahkan Saras dengan Bryan.
Salahmu sendiri Saras. Sudah tahu Bryan tua, playboy, dan kamu tidak cinta sama Bryan. Tapi kamu tetap menerjang badai demi menjadi manajer.
Beda jauh sama Enzo.
Bryan siap bertanggung jawab menikahi Saras. Saras kan mudah dibodohi.
Namun sepertinya Rahardja tidak menginginkan Bryan menikahi putrinya. Saras.
Raih prestasi dengan baik Saras, bukan sensasi. Laaah, jalanmu yang ditempuh menjijikan kok ingin Papanya percaya. Ingin Papanya tidak membandingkan sama Chantika.
Mamamu menguatkanmu. Jalani saja hidupmu yang sudah hancur itu. Tata kembali hidupmu yang banyak tidak benarnya.
Saras bicara dari awal sudah tidak jujur. Sampai Rahardja mau menemui Bryan dilarang.
Benar-benar sama saja tega melempar kotoran di muka Papanya ini Saras.
Coba Saras tidak hamil, masih getol ngejar Enzo. Rasain sekarang menuai taburannya sendiri.
Sebenarnya juga tidak diperkosa sih. Itu konsekuensi Saras yang telah menjebak Chantika, tapi berakhir Saras sendiri yang terjebak.
Papa Rahardja ini orang tua yang sangat bijaksana. Tidak pakai marah-marah. Kecewa pasti. Dan dia hanya ingin mencari orang yang harus bertanggung jawab.
Saras bilang tidak sanggup kalau semua orang tahu. Jelas malu sekali kalau tahu penyebabnya apa. Mencari investasi dengan cara yang sangat tidak bisa dibenarkan.
Saras si bodoh benar-benar bodoh karena ambisinya ingin menjadi manajer.
Rahardja membaca hasil pemeriksaan medis, usia kehamilan menurut hitungannya jadi teringat saat Chantika hampir dilecehkan Bryan di saat malam bertemu dengan dalih membahas investasi.
Ingat pula tentang Saras yang baru pulang esok paginya dengan kondisinya saat itu.
Dikuatkan oleh Chantika memperlihatkan rekaman CCTV hotel terlihat Saras masuk kamar Bryan malam hari dan baru keluar di pagi hari.
Rahardja kini jelas sudah tahu sesungguhnya apa yang terjadi pada Saras. Rahardja sudah tahu Bryan itu terkenal sebagai playboy.
Pikiran Saras jadi kebayang Papanya yang bakal kasih tahu Mamanya. Betapa sangat kecewa mamanya mendengar itu.
Kakaknya juga pasti akan mengetahui semuanya.
Kalau Enzo mengetahui Saras hamil, ia pasti bakal jijik sama dirinya. Itu kemungkinan yang dirasakan Saras.
Papanya sedang mengambil kertas yang paling atas.
Rupanya Saras hafal sepatu Papanya. Betapa terkejutnya Saras. Papanya sudah memegang kertas hasil pemeriksaan.
Rahasia Saras, bagaimanapun jalannya, saat inilah tersingkap.
Rahardja ke rumah sakit untuk menjenguk sahabat lamanya, melihat berkas berserakan di lantai hanya berniat membantu memungut. Matanya tanpa sengaja membaca tulisan diatas lembar itu.
Rahardja walau terlihat tenang, tentunya merasa terpukul mengetahui kenyataan yang ada pada Saras.
Dokter tetap tidak bisa membantu sesuai keinginan Saras.
Saras keluar dari ruang pemeriksaan, pikirannya kacau.
Ia berjalan tersenggol seorang wanita yang sedang buru-buru. Perempuan yang tidak bertanggung jawab bantuin Saras untuk memunguti lembar kertas-kertas hasil pemeriksaan yang berserakan.
Tidak takut berbuat dosa nih Saras.
Enzo mau jujur bicara tentang Saras yang beberapa kali berusaha mendekatinya.
Mendengar semua itu betapa sedihnya hati Chantika.
Rahardja setuju ngga tuh bermenantukan Bryan.
Rasakan akibatnya dari menjebak kakaknya, akhirnya terjebak sendiri oleh permainannya.
punya rasa malu. Seperti itu kok mau jadi manajer. Harusnya malu tadi malam kelakuannya sudah ditelanjangi Papanya.
Di saat sarapan masih di buka lagi.
Malunya Saras dah gak ketulungan. Tapi mana tahu dia apa itu malu. Tahunya pingin mendapatkan Enzo bagaimanapun caranya. Sudah punya sekutu sih dia. Yang dipikirnya bakal berhasil.
Enzo laki-laki baik. Dia bicaranya baik, sangat menjaga perasaan Papa mertuanya.
Ranti ini Ibu yang gagal mendidik putrinya. Bukan Rahardja. Malah dipikirannya menuduh Rahardja lebih sayang sama Chantika. Saras saja yang banyak tidak tahu diri. Masih berkobar keinginannya.
Ranti mesti dicariin lobang untuk ngumpetin mukanya. Anak dan Ibu sama saja.
Rahardja tahu Saras mulai mendeka0ti suami kakaknya sendiri setelah tahu Enzo bukan karyawan biasa.
Rahardja bicara semua yang dia tahu tentang Saras dalam mencari perhatian dari pria yang sudah menjadi suami kakaknya.
Ranti ini serasa buta dan tuli masih belain anaknya yang gak bener kelakuannya.
Saras juga, bukannya malu sudah serasa ditelanjangi Papanya, semua kelakuannya sudah diketahui. Masih tidak tahu diri.
Masih punya pikiran kalau Enzo dan Chantika pindah rumah tidak akan memiliki kesempatan untuk mendekati Enzo. Niat banget nih mau jadi pelakor.
Setan Saras bersekutu dengan setan Bryan uuupppsss
Kran wastafel di kamar mandinya dibikin bocor.
Minta tolong Enzo dengan sengaja memakai baju basah tanpa bra. Enzo sempat melirik sekilas.
Saras sudah senang bakal berhasil. Enzo mau menolong.
Senyumnya memudar ketika tahu yang datang ke kamarnya bukan hanya Enzo.
CEO disuruh betulin kran.
Pak Joko yang betulin.
Lagi Saras mencari celah untuk mendekati Enzo.
Sayangnya Enzo tahu trik murahan Saras untuk mencari perhatiannya.
Pura-pura terpeleset ketika menuruni tangga.
Kenapa Saras tidak dibiarkan jatuh saja. Biar tahu rasa.
Keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Chantika memeluk Enzo, lengan Enzo dijadikan sebagai bantal.
Rasa capeknya langsung hilang begitu sampai rumah, dan tidur memeluk Enzo.
Enzo sangat pengertian sama Chantika. Menghargai keputusan Chantika mau tidaknya tinggal di apartemennya
Harapan Enzo memutuskan pindah ke apartemen dapat melindungi keluarganya.
Semoga saja Chantika segera setuju dengan usulnya Enzo itu.
Posisi duduknya Saras langsung menarik perhatian Rahardja.
Enzo sadar kalau Saras mulai mendekat.
Posisi duduknya dikomentari Papa dan Mamanya, Saras tak punya rasa malu. Ada saja alasannya. Sudah terkontaminasi omongan Bryan.
Rahardja tahu ada sesuatu yang sedang Saras rencanakan.
Mulai berlagak menjadi perhatian mengambilkan nasi, ikan bakar, tapi ditolak Enzo dengan ramah, dan juga menjaga jarak.
Kemarin mendatangi Arkana. Gagal. Sekarang minta nomer telepon. Gagal.
Kalau yang ingin diketahui hanya jabatan Enzo sebagai CEO Arkana, tidak masalah bagi Enzo.
Yang mengkhawatirkan Enzo rasa penassran Ssras berubah menjadi keinginsn untuk mendekat.
Enzo ingat permintaan Chantika untuk menyembunyikan identitasnya dari Saras. Maka dia tidak bakal kasih Saras satu celah pun untuk mengganggu rumah tangganya.
Enzo sudah siap menghadapi apapun yang akan dilakukan Saras.
Identitas Enzo disembunyikan. Hanya Saras dan Ranti yang tidak diberi tahu.
Semua yang sebelumnya terasa janggal, kini perlahan mulai terasa masuk akal.
Dia sadar apa sebabnya Chantika sengaja merahasiakan semuanya.
Saras mulai memainkan permainannya. Berawal dari minta nomer telepon Enzo. Gagal.