NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Mbak, mbak nggak mau sekalian aja akad minggu depan, kita nikah barengan!"

"Sembarangan! Mbak nikah sama siapa coba?" tanyaku sambil tertawa dan duduk di atas tempat tidur.

"Mas Yunus lah! Masa' iya sama Kuda Nil! Suami orang dia mah!" jawab Azka yang mulai bisa santai.

"Dek, mbak sama Mas Yunus itu cuma teman. Masak iya tiba-tiba mbak nodong buat di ajak nikah!"

"Tapi Mbak... "

"Udah nggak usah mikir macem-macem! Ntar kalau udah saatnya Mbak ketemu jodoh nggak usah pacaran langsung nikah kok!" jawabku asal.

Azka mengangguk, lalu dia pamit kembali ke kamarnya.

Baru saja mataku terpejam, terdengar suara getaran ponsel yang ku letakkan di atas meja. Dengan terpaksa aku kembali bangun dan mengambil ponsel itu. Ternyata telepon dari Mas Yunus.

"Panjang umur nih orang, baru juga diomongin!" gumamku pelan sambil menggeser tombol berwarna hijau.

"Assalamu'alaikum, Mas!"

"Waalaikumsalam, udah nyampe?" Tanya nya. Mas Yunus tahu jika pagi aku berangkat mengawal Bu Bos.

"Udah tadi sore," jawabku.

"Lemes banget, kenapa? Capek?"

"Namanya cari duit ya capek lah, Mas!" jawabku sambil terkekeh.

Kami terus mengobrol banyak hal. Dari kerjaan, sampai dia yang kembali mengungkapkan perasaannya. Tapi, entah kenapa aku lebih nyaman dengan status sebagai teman, sahabat. Dan pastinya dia kembali kecewa.

Bukan trauma, karena aku tahu Mas Daniel dan Mas Yunus adalah dua lelaki yang berbeda sifat dan perilaku. Tapi entah kenapa, belum ada getaran dalam diriku yang membuat aku yakin untuk menyambut perasaannya.

Hah, entahlah. Aku lelah berpikir untuk hari ini. Hingga akhirnya tak terasa akupun terbuai di alam mimpi.

*****

Pagi harinya, setelah sampai di kantor. Aku segera minta izin libur untuk hari Sabtu depan. Tepat saat akad nikah Azka. Tahun ini, kado ulang tahunku sangat spesial. Akad nikah Azka tepat di tanggal kelahiranku.

"Lho, kamu tumben sampai minta izin Ran. Ono opo?" tanya Pak Wandi.

Aku sebenarnya ragu antara jujur atau bohong. "Ada perlu Pak," jawabku.

"Mau kemana? Lamaran sama Yunus?" tanya tacik. Ya, memang kedekatan kami diketahui semuanya. Mereka banyak yang tidak percaya jika kami hanya teman biasa saja. Tapi ya.... inilah kami.

"Lha.... kok.... enggak Cik, kalau saya yang lamaran pasti sudah halo-halo ke semuanya. Ada perlu Cik, ada saudara menikah." jawabku jujur. Dan benar kan, saudara...

"Kamu apa saudaramu?" tanya tacik masih nggak percaya.

"Saudaraku Cik, adekku..." jawabku tertunduk.

"Lha, adekmu kan baru lulus? Wes berani nikah?"

"Buktinya berani lho Pak, dia kan juga udah kerja, kebetulan adik ku dulu yang ketemu sama jodohnya. Kasian kalau harus nunggu Mbak e yang masih santai, jodoh e masih sibuk soale!" jawabku sambil terkekeh.

"Eh, Ran.... Ran... kamu inget sama supervisor e Bintang, kemarin itu nanyakno kamu. Minta nomermu kata e... " ucap Pak Wandi menggebu-gebu. "Jek muda kan dia. Sikat aja wes. Anake tak liat ya pekerja keras. Kayak e juga bukan anak yang suka aneh-aneh!"

"Pak, Bapak buka biro jodoh ya?" tanyaku sambil tersenyum.

"Eh, gapopo lho Ran. Kamu tampung aja semua . Kalau sudah banyak kan tinggal seleksi, mana yang pas di hati." ucap bu bos memberi saran.

"Iya Cik. Gimana nanti aja. Tapi boleh kan saya ijin? Jumatnya saya pulang cepat terus Sabtu saya libur?" tanyaku kembali memastikan.

"Iya, boleh." ucap tacik karena memang selama ini aku jarang minta ijin kecuali benar-benar penting.

"Terimakasih," jawabku sambil tersenyum dan berlalu kembali ke ruangan meneruskan pekerjaan.

*****

Sabtu pagi, kami semua sudah disibukkan dengan persiapan akad nikah Azka yang diselenggarakan di rumah nenek Putri. Aku kembali mengecek semua seserahan, takutnya ada yang tertinggal. Beberapa tetangga juga ikut mengantar, menyaksikan akad nikah Azka. Tak lupa saudara dari Bapak dan Ibu juga sudah hadir. Bahkan saudara dari Ibu sudah datang dari beberapa hari lalu dan membantu persiapan karena mereka tinggal di luar kota.

Setelah semua siap, kamipun berangkat menggunakan mobil yang sudah disewa dan satu mobil kiriman dari bos ku berikut sopirnya. Sebenarnya tidak terlalu jauh, kalau tidak macet lima belas menit kami sudah sampai di tempat acara.

Budhe Siti, kakak dari Bapak kembali lagi memelukku sambil menangis, beliau memang sudah seperti Ibu buatku karena semasa kecil aku sering di culik dan dibawa pulang ke rumahnya. Aku hanya bisa meyakinkan jika aku tidak apa-apa. I'm fine. Maklumlah, menurut adat di tempat kami, melangkahi kakak apalagi kakaknya perempuan mitosnya akan membuat sang kakak sulit ketemu jodoh. Tapi aku bukan penganut paham seperti itu. Semua akan datang dan indah tepat pada waktunya.

"Budhe, sudah ah. Nggak usah nangis. Bedaknya luntur lho nanti!" ucapku mengajak bercanda agar tangisnya berhenti.

Budhe hanya mengangguk, "Ndok, ada kenalan Pakdhe mu cari istri. Kamu mau nggak dikenalin?" tanya Budhe.

Aku memutar bola mata malas. "Liat nanti aja ya budhe!"

Tidak lama, Pak penghulu pun datang. Hingga akhirnya sudah sah kini status adikku berganti. Kuucapkan selamat pada kedua adikku. Mereka berdua menangis dipelukanku dan kembali meminta maaf.

"Sudah, sudah.... udah ya nangisnya, ntar make up nya luntur. Kasihan mbaknya kalau harus touch up lagi."

Mereka mengangguk, lalu aku kembali ke tempat ku duduk sebelumnya. Kamipun kembali pulang setelah acara di rumah Putri selesai dan menyiapkan untuk acara besok. Rencananya besok keluarga Putri akan datang ke rumah sambil mengantarkan Putri dan Azka.

Tak lupa aku berterima kasih pada sopir kantor kiriman Pak Bos saat dia pamit kembali ke kantor. Tak lupa ku bawakan beberapa makanan dan kue yang sebelumnya sudah aku siapkan untuk Pak bos, juga teman-teman di kantor.

Hingga tak lama, ponsel yang ada di saku celanaku bergetar.

"Assalamu'alaikum, Mas."

"Waalaikumsalam, Mas marah ya sama kamu!" ucap orang itu tiba-tiba.

"Ha?" aku mengernyitkan dahi karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh lelaki itu. "Marah kenapa?" tanyaku.

"Kok nggak bilang sih, kalau Azka hari ini nikahan?"

"Emang kenapa?"

"Ya, kamu nggak pengen gitu ada cowok yang berdiri di samping kamu?"

Aku tertawa mendengar alasannya, "Cuma akad aja, Mas! Yang datang juga cuma tetangga dan saudara aja. Besok baru acara di rumah. Agak sorean, habis Ashar Insya Allah. Lagian, Mas kan kerja hari ini!"

"Ya udah, besok aku datang boleh nggak?"

"Datang aja, nggak apa-apa. Tapi nggak ada acara pesta-pesta. Soalnya mendadak juga acaranya."

"Ran, Are you okay?"

"Kenapa sih semua orang hari ini aneh! Aku nggak papa Mas. I am Fine."

"Ran..... "

"Heeem.... " jawabku hanya berdehem.

"Happy birthday, sehat selalu. Doa terbaik Mas buat kamu ya!"

"Iya, makasih Mas. Doa aja nih? Kadonya mana? Hehehe...."

"Besok ya, nggak papa kan? Takutnya kalau bilang nanti malah nggak sempat ke rumah kamu!"

"Iih.... santai aja kali Mas. Aku juga cuma bercanda aja minta kadonya."

"Tunggu besok ya....! Ya udah, Mas kerja dulu, Assalamu'alaikum!"

"Waalaikumsalam!"

*****

Dari pagi, kami sekeluarga disibukkan dengan persiapan menyambut kedatangan keluarga Putri nanti sore.

"Mbak, gimana? Kuenya aman?" tanya Ibu.

"Insya Allah cukup, Bu! Tapi Mbak ijin keluar sebentar ya," pamit ku.

"Mau kemana?" tanya Ibu.

"Ambil pesenan kue Ibu kemarin, barusan Mbak Nina kirim pesan katanya nggak bisa ngantar. Motornya nggak mau nyala."

"Ya sudah, Hati-hati Mbak!"

"Iya, Bu!"

Sore harinya, kami semua sudah siap menyambut kedatangan keluarga Putri. Saat itu aku masih di kamar, ketika Ibu mengetuk pintu kamar.

"Mbak.... ada yang nyari di depan!"

"Njeh Bu, sebentar lagi keluar. Masih ganti baju. " jawabku dari dalam kamar. Aku sudah bisa menebak siapa yang datang. Lelaki satu itu benar-benar pantang menyerah.

Tak lama, akupun selesai bersiap dan keluar ke ruang tamu. Disana kulihat Mas Yunus sudah ngobrol dengan Pakdhe Adi. Pembawaannya yang santai membuat dia mudah bergaul dengan siapa saja.

"Ran," Sapanya saat melihatku. Dia bangkit dari duduknya sambil menenteng boneka panda ukuran jumbo.

"Happy birthday," ucapnya singkat karena banyak orang yang memperhatikan dan mencuri dengar. Biasalah, jiwa emak-emak pasti terpancing mendekat untuk sekedar mendapat hot news.

"Makasih Mas, aku simpan dulu ya... " ucapku sambil tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!