Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Hadangan Sang Tetua
Keesokan harinya, matahari merangkak naik tepat di atas kepala. Sisa ketegangan malam sebelumnya menguap begitu saja, digantikan oleh hawa panas yang tidak biasa di sekitar ladang keluarga Yang.
Sinar matahari yang terik mendadak meredup di area ladang tersebut. Sebuah bayangan raksasa yang dingin menyapu tanah, menghalangi cahaya langit secara tiba-tiba. Udara di sekitarnya tampak bergetar dan terdistorsi, memancarkan gelombang panas aneh yang menyesakkan dada.
Dari kejauhan, sebuah kereta mewah meluncur kencang di jalan berdebu. Kereta itu ditarik oleh dua binatang buas mutasi yang bernapas berat, mengeluarkan uap panas dari lubang hidungnya.
Brak!
Kereta itu berhenti paksa tepat di depan pagar kayu gerbang depan. Debu abu-abu mengepul tebal, menyelimuti dedaunan hijau di sekitarnya.
Pintu kereta terbuka dengan hentakan perlahan namun bertenaga. Sosok pria berpakaian jubah sutra megah melangkah turun dengan tenang. Ia adalah Li Hao.
Tanpa perlu mengeluarkan pedang atau senjata apa pun dari balik jubahnya, fluktuasi energi dari dalam tubuhnya langsung meledak ke luar. Aura dari ranah Inti Emas miliknya menekan permukaan bumi dengan sangat masif.
Retakan-retakan kecil mulai menjalar di tanah kering yang dipijak oleh sepatu bot mewahnya. Tekanan udara mendadak menjadi sangat berat, seolah-olah atmosfer di tempat itu berubah menjadi semen basah yang membeku secara instan.
Di dekat tumpukan kayu bakar di halaman, Yang Chan sedang mengayunkan kapak besarnya untuk membelah kayu. Gerakannya langsung terhenti begitu saja di udara.
Dada pemuda itu terasa sangat sesak. Napasnya tertahan, seolah-olah ada batu giling raksasa yang diletakkan tepat di atas tulang rusuknya. Udara di paru-parunya seakan dipaksa keluar secara paksa dari dalam dadanya.
Ia menurunkan kapaknya perlahan, bertumpu pada gagang kayu tebal itu agar tidak langsung tersungkur. Matanya menyipit, menatap lurus ke arah sosok yang baru saja turun dari kereta mewah dengan angkuh.
Li Hao melayangkan pandangan meremehkan ke sekeliling halaman rumah yang sederhana itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit, memperlihatkan raut wajah yang penuh dengan keangkuhan yang nyata.
"Jadi ini gubuk reyot yang berani mengacaukan pasar? Sungguh berani keluarga miskin ini mencoba bersaing," ucap Li Hao.
Suaranya terdengar menggelegar, bergema kuat di dalam telinga siapa pun yang mendengarnya saat itu.
Yang Chan mengetatkan giginya demi menahan amarah yang bergejolak. Ia merasakan aliran darahnya bergolak tidak karuan akibat tekanan energi dari sang tetua klan. Jarinya memutih karena mencengkeram gagang kapak dengan sangat erat.
"Inti Emas..." bisik Yang Chan dengan suara berat yang tertahan di tenggorokan.
Tekanan itu semakin kuat, membuat dada pemuda itu naik turun dengan sangat cepat. Ia harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan kesadarannya di bawah intimidasi murni dari tingkat kultivasi yang jauh di atasnya itu.
Tiba-tiba, dari arah dalam rumah utama, terdengar suara pintu utama yang terbuka dengan sangat keras akibat kepanikan yang terjadi di dalam.
Yang Wei berlari keluar dari dalam rumah dengan langkah kaki yang tidak beraturan dan terlihat sangat terburu-buru. Tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan, tampak sangat panik melihat situasi yang terjadi di halaman depannya.
Ia tersandung tangga kayu kecil di teras, kehilangan keseimbangan sepenuhnya karena kurang berhati-hati. Tubuhnya meluncur ke depan, hampir saja mencium tanah berdebu tepat di depan kaki Li Hao yang masih berdiri tegak tanpa bergerak.
Li Hao hanya melirik ke bawah, mendengus pelan dengan tatapan yang sangat merendahkan petani tua di depannya. Ia sama sekali tidak menggeser posisinya satu inci pun dari tempatnya berdiri.
Namun, gerakan mendengus itu memicu gelombang kejut aura Inti Emas miliknya untuk menyapu halaman sekali lagi dengan kekuatan penuh. Sapuan energi transparan itu menghantam pagar kayu di dekatnya hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil yang berhamburan.
Tekanan susulan itu terasa berkali-kali lipat lebih berat bagi Yang Chan yang sedang berdiri. Kekuatan tak kasat mata itu menghantam pundaknya dengan telak, memaksanya untuk turun dan bertumpu pada satu lutut di atas tanah yang kering.
Sementara itu, Yang Wei justru dalam posisi yang sangat menguntungkan secara tidak sengaja.
Karena ia sedang menunduk untuk membersihkan debu dari celana lusuhnya, hantaman gelombang aura tersebut lewat begitu saja di atas kepalanya tanpa menyentuhnya sama sekali. Ia terhindar dari benturan langsung yang bisa saja membuatnya terluka dalam akibat kekuatan musuh.
"A-ampun, Tuan Besar! Kesalahan apa yang diperbuat keluarga miskin ini hingga Tetua Klan Li turun gunung secara langsung?" tutur Yang Wei dengan suara yang sangat gemetar dan tergagap.
Tubuhnya membungkuk berulang kali, wajahnya tampak sangat pucat pasi seolah-olah nyawanya sudah melayang pergi dari raga.
Li Hao tidak memedulikan permohonan maaf yang terdengar menyedihkan tersebut. Ia melangkah maju satu tapak, lalu mengangkat kakinya dan menginjak sebatang cangkul besi yang tergeletak di dekatnya dengan kasar.
Krak! Gagang kayu cangkul itu patah menjadi dua bagian dengan sangat mudah di bawah injakan sepatu bot kulitnya yang tebal.
"Serahkan hak tanah ini dan sumber air rahasia di baliknya. Sekarang. Atau keluarga kecil kalian tamat," ancam Li Hao dingin.
Pandangan matanya tidak memiliki belas kasihan sedikit pun pada keluarga petani miskin ini.
Yang Chan yang masih berlutut di tanah menatap tajam ke arah sol sepatu bot Li Hao yang baru saja menghancurkan alat pertanian milik mereka.
Giginya bergemeletuk menahan amarah yang mulai membakar seluruh dadanya.
'Berani-beraninya dia menghancurkan alat tani kami...'
Di tengah ketegangan yang memuncak di halaman, suasana di sekitar teras rumah justru terasa sangat senyap. Di balik bayang-bayang kegelapan teras, ada sosok yang sedang berdiri diam mengamati dari balik tirai tipis yang bergoyang ditiup angin.
Fokus beralih ke balik tirai yang setengah tertutup di sudut teras rumah tersebut. Bing Chan berdiri mematung di sana dengan tenang. Jemari lentiknya yang bersih memegang selembar kain lap basah yang biasa ia gunakan untuk membersihkan meja makan mereka.
Tangan itu perlahan-lahan meremas kain lap tersebut dengan tekanan yang sangat lembut namun konstan di sela-sela jarinya.
Tekanan Inti Emas dari Li Hao yang begitu menakutkan bagi orang biasa, sama sekali tidak memberikan pengaruh apa pun pada tubuh Bing Chan. Ia tetap berdiri tegak dengan anggun, napasnya tetap teratur dan sejuk tanpa ada hambatan sedikit pun dari aura musuh.
Tatapan itu mendingin, setajam mata pedang yang baru saja selesai diasah, mengunci tepat pada urat leher Li Hao yang berdiri angkuh di halaman luar.
'Satu langkah lagi kau berani melukai anakku, babi kotor...' batin Bing Chan dengan rahang yang mengeras.
Pandangan kini bergeser kembali pada sosok Yang Wei yang masih berada di posisi membungkuk di depan musuh mereka.
Petani tua itu perlahan-lahan mulai mengangkat wajahnya yang tertutup debu tipis. Matanya yang sempat menyiratkan kepanikan berlebih kini tampak berubah menjadi lebih tenang, meskipun ia tetap mempertahankan ekspresi canggung di wajahnya.
Yang Wei menepuk-nepuk debu yang menempel di lutut celana lusuhnya dengan gerakan yang sangat lambat dan santai. Senyum konyol yang awalnya menghiasi wajahnya kini perlahan-lahan mulai memudar dari bibirnya.
Ia bersiap untuk merespons ancaman terang-terangan dari tokoh penting Klan Li tersebut, menyusun kata-kata rahasia di dalam benaknya untuk membalikkan keadaan pelik yang sedang mereka hadapi saat ini.
...****************...
...Ranah Kultivasi:...
...1. Penempaan Tubuh ...
...2. Pengumpulan Qi...
...3. Kondensasi Qi (Pembentukan Fondasi)...
...4. Pemadatan Qi (Pembentukan Inti)...
...5. Inti Emas...
...Sampai sini dulu....