TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 10: KEBENARAN YANG TERUNGKAP DAN LUKA BARU*
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 10: KEBENARAN YANG TERUNGKAP DAN LUKA BARU*
Di koridor utama lantai dua SMA Garuda Nusantara, Rian Pradifta berjalan dengan langkah santai namun berwibawa. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, mengabaikan tatapan memuja dari siswi-siswi yang berpapasan dengannya.
Sisi dominan dalam dirinya merasa puas, membayangkan bahwa sore ini semua kerikil yang mengganggu jalannya untuk memiliki Kinara Jose telah dibersihkan oleh para bawahannya.
Namun, langkah kaki tegap Rian mendadak melambat saat dia melewati belokan dekat mading sekolah. Pendengarannya yang tajam menangkap suara bisik-bisik heboh dari kumpulan cewek yang hobi bergosip di sudut lorong.
"Eh, kamu sudah dengar belum? Si Kinara, anak beasiswa itu, katanya diganggu preman di gudang belakang!" ucap salah satu cewek dengan nada bicara yang menggebu-gebu.
"Serius?! Terus gimana keadaan dia sekarang?" sahut temannya, tampak kaget sekaligus penasaran.
"Katanya dia sampai terluka dan berdarah! Tadi aku lihat ada ambulans datang, dan dia langsung dilarikan ke rumah sakit bersama Kak Randy!"
`Deg.`
Jantung Rian seolah melewatkan satu detakan. Atmosfer di sekitar koridor itu mendadak berubah menjadi sangat dingin. Wajah tampan Rian yang semula tampak tenang kini seketika mengeras kokoh. Rahangnya merapat rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.
Terluka? Dilarikan ke rumah sakit? Bersama Randy?
Rian meraba saku celananya dengan gerakan kasar, mengambil ponselnya dan langsung menghubungi kapten kaki tangannya yang dia beri tugas sore tadi. Begitu sambungan telepon terhubung, Rian tidak memberikan kesempatan bagi orang di seberang sana untuk menyapa.
"Siapa yang menyentuh Kinara?" desis Rian dengan suara bariton yang teramat rendah, namun sarat akan ancaman mematikan yang sanggup membuat bulu kuduk meremang.
Di seberang telepon, terdengar suara bawahannya yang mendadak gagap ketakutan.
"M-maksud Tuan Muda apa? Kami hanya menghajar Randy si anak basket sesuai perintah Anda—"
"Aku tanya, siapa yang membuat Kinara terluka?!" bentak Rian, emosinya meledak hingga dia memukul dinding koridor dengan tangan kirinya keras-keras, membuat kumpulan cewek yang sedang bergosip tadi menjerit kaget dan langsung kabur tunggang-langgang.
"K-kami tidak tahu, Tuan! Tadi saat kami sedang menghajar Randy, ada cewek berkacamata tebal yang tiba-tiba datang dan sok jadi pahlawan. Kami sama sekali tidak tahu kalau dia itu Kinara Jose karena kami memang tidak tahu wajahnya, kami hanya tahu namanya dari dokumen! Kami mengira dia cuma murid cupu lain yang ikut campur, jadi salah satu dari kami mendorongnya sampai jatuh dan sengaja menginjak kacamatanya..."
`Pip.`
Rian langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Amarah yang membakar dadanya kini telah mencapai puncaknya. Matanya berkilat merah dipenuhi rasa cemburu sekaligus murka yang luar biasa.
Bawahannya yang bodoh telah teledor hingga berani menyentuh milik seorang Rian Pradifta, dan yang paling membuat egonya terluka adalah kenyataan bahwa Randy lagi-lagi menjadi pahlawan yang melindungi gadis itu.
Tanpa membuang waktu, Rian berbalik arah dan berlari kencang menuju area parkiran belakang, berniat menyalakan motor besarnya untuk menyusul Kinara ke rumah sakit.
Sementara itu, di dalam ruang perawatan putih yang tenang di Rumah Sakit Harapan Bangsa, aroma obat-obatan menyeruak pekat.
Kinara Jose duduk setia di samping brankar, memandangi wajah Randy yang masih memejamkan mata dengan beberapa luka memar yang sudah dibersihkan oleh perawat.
Lut Kinara sendiri sudah diobati dan dibalut perban putih akibat luka lecet setelah dihempas ke lantai semen tadi. Di atas meja nakas di sampingnya, tergeletak sisa-sisa bingkai kacamata hitamnya yang sudah hancur total akibat diinjak oleh anak buah Rian sore tadi.
Tanpa adanya kacamata tebal, kunciran rambutnya yang sempat terlepas membuat rambut aslinya yang hitam legam dan halus terurai membingkai bahunya. Wajah polos Kinara terpancar sempurna di bawah cahaya lampu ruangan. Kulitnya yang putih bersih, hidung mungil yang mancung, serta bibir merah alami yang sedikit bergetar karena cemas membuatnya terlihat sangat rapuh namun teramat cantik.
"Enghh..."
Sebuah lenguhan pelan lolos dari bibir Randy. Kelopak mata cowok basket itu bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Randy mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan terangnya cahaya lampu rumah sakit, sebelum pandangannya jatuh pada sosok gadis yang duduk di samping tempat tidurnya.
Randy terpaku. Detak jantungnya mendadak berdegup berkali-kali lipat lebih kencang daripada saat dia sedang berlari di lapangan basket.
Di hadapannya saat ini, tidak ada lagi sosok Kinara Jose si murid beasiswa yang cupu, aneh, dan berpenampilan menyedihkan karena tertutup kacamata besar. Yang ada hanyalah seorang gadis remaja dengan kecantikan mutlak yang luar biasa jelita, menatapnya dengan sepasang mata jernih yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus khawatir.
"Kak Randy? Kakak sudah sadar? Ada bagian yang terasa sangat sakit?" tanya Kinara beruntun dengan suara lembutnya yang terdengar sangat cemas.
Randy masih membisu, menatap lekat-lekat setiap inci pahatan wajah asli Kinara yang kini terekspos sepenuhnya tanpa kacamata. Pesona alami yang dipancarkan oleh gadis di depannya ini benar-benar mengunci seluruh inderanya, membuat rasa kagum dan suka yang sejak dulu dia simpan diam-diam di dalam hati kini meledak hebat menjadi perasaan cinta yang jauh lebih dalam.
"Kinara..." bisik Randy dengan suara parau, sudut bibirnya yang terluka perlahan terangkat membentuk senyuman hangat yang teramat tulus.
"Kamu... cantik sekali. Ternyata dugaanku selama ini tidak salah."
Kinara yang mendengar pujian spontan itu langsung tersentak. Pipinya mendadak merona merah muda menahan rasa malu, menyadari bahwa penyamaran yang selama ini dia pertahankan mati-matian di sekolah kini telah runtuh sepenuhnya di hadapan Randy.
Namun, belum sempat Kinara membalas ucapan itu, pintu kamar rawat mendadak terbuka dengan hantaman yang sangat kasar.
`Brak!`
Aura gelap, pekat, dan dingin seketika merangsek masuk ke dalam ruangan. Di ambang pintu, berdiri Rian Pradifta dengan napas memburu dan tatapan mata elang yang menggelap gulita.
Saat melangkah masuk, tatapan Rian yang semula dipenuhi amarah mendadak terkunci kaku pada sosok gadis yang duduk di samping brankar Randy. Sepasang mata elang cowok itu melebar sempurna. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Untuk kedua kalinya, Rian dibuat terpesona oleh kecantikan mutlak gadis itu. Kali ini tanpa riasan tebal, tanpa rambut palsu, dan tanpa gaun malam mewah seperti di Aston Club.
Di balik pencahayaan lampu rumah sakit yang putih, wajah polos Kinara terlihat begitu murni, memancarkan pesona alami yang jauh lebih murni daripada penampilannya saat menjadi pelayan kelab. Dada Rian bergejolak hebat, detak jantungnya menggila saat menyadari bahwa gadis secantik ini selama ini bersembunyi di bawah kacamata cupu sekolahnya.
Namun, binar keterpanaan itu langsung berganti menjadi kilat cemburu yang membakar saat mata Rian turun melihat jemari Randy yang sedang mencoba meraih tangan Kinara.
Dengan langkah lebar yang mengintimidasi, Rian langsung maju dan menarik paksa lengan Kinara agar menjauh dari brankar, membuat posisi tubuh Kinara kini berdiri di belakang punggung tegapnya.
Kinara terkejut setengah mati. Kepalanya mendadak dipenuhi rasa bingung yang teramat sangat. Di kepalanya, dia sama sekali tidak tahu kalau preman-preman brutal di gudang sekolah tadi adalah orang-orang suruhan Rian.
Melihat Kinara ditarik secara kasar di depan matanya, Randy tidak terima. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, cowok basket itu berusaha menegakkan punggungnya di atas brankar, menatap Rian dengan sorot mata penuh permusuhan.
"Rian, lepaskan Kinara! Jangan sakiti dia!" seru Randy dengan suara yang tertahan menahan perih di sekujur tubuhnya.
Mendengar gertakan dari cowok yang sudah babak belur itu, Rian justru tertawa hambar. Sebuah tawa meremehkan yang terdengar sangat dingin dan menusuk.
"Mana mungkin aku menyakiti milikku," sahut Rian dengan nada angkuh yang mutlak, menegaskan kepemilikannya tanpa ragu sedikit pun.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rian memutar tubuhnya. Dia berbalik menatap langsung ke arah wajah Kinara yang polos tanpa kacamata. Kilat posesif yang teramat pekat kembali mendominasi manik matanya. Rian tidak suka ada pria lain—terutama Randy—menatap kecantikan tersembunyi milik gadis ini.
Dengan gerakan cepat yang tegas, Rian melepas kacamata hitam bermerek yang bertengger di pangkal hidungnya, lalu memasangkannya ke wajah Kinara secara paksa. Tindakan tiba-tiba itu seketika membuat Kinara bingung sekaligus merasa pandangannya mendadak menjadi gelap di dalam ruangan.
Namun, Kinara tidak tinggal diam. Rasa risi dan amarahnya langsung memuncak. Dengan gerakan cepat, dia langsung melepas kacamata mahal milik Rian itu dari wajahnya dan membuangnya begitu saja ke atas lantai semen kamar rawat. Beruntung, kacamata hitam itu tidak sampai patah atau hancur.
`Tuk.`
Melihat kacamatanya dibuang ke lantai, Rian mendengus kesal. Kilat kejengkelan melintas cepat di matanya yang elang. Sifatnya yang posesif dan gila kontrol langsung bereaksi konyol. Dia benar-benar tidak rela jika Randy terus-menerus menatap wajah polos Kinara yang teramat jelita tanpa penghalang apa pun.
Dengan gerakan instan, Rian mengangkat tangan kanannya ke kepala sendiri, melepas topi hitam yang sedang dia kenakan, lalu langsung memasangkannya ke kepala Kinara secara paksa. Tidak sampai di situ, Rian dengan sengaja menarik ujung depan topi itu ke bawah dengan sentakan pelan, membuat bagian tudungnya menutupi separuh wajah cantik Kinara dari pandangan Randy.
Muka Kinara seketika memerah padam menahan kesal karena sikap Rian yang sangat aneh dan tidak masuk akal ini.
"Kamu gila ya?!" amuk Kinara tertahan.
Saat Kinara mengangkat kedua tangannya untuk mencoba melepas topi itu dari kepalanya, tangan kekar Rian bergerak lebih cepat. Rian langsung mencengkeram pergelangan tangan Kinara, menahannya dengan kuat agar gadis itu tidak bisa berkutik lagi.
Rian mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kinara yang tersembunyi di balik bayangan topi dengan senyuman miring yang berbahaya.
"Jangan coba-coba melepasnya," ancam Rian dengan suara baritonnya yang rendah namun terdengar sangat serius.
"Kalau kamu berani lepas topi itu sekarang, aku akan menciummu di sini, tepat di depan Randy."
Ancaman gila itu seketika membuat Kinara syok setengah mati. Lidahnya mendadak kelu, dan tangannya langsung lemas kehilangan tenaga untuk melawan. Dia tahu Rian adalah cowok impulsif yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Sebelum Kinara sempat melayangkan protes, Rian sudah menurunkan cengkeramannya ke pergelangan tangan cewek itu. Dengan satu sentakan tegas, Rian menarik tangan Kinara dan menyeret tubuh mungilnya keluar dari kamar rawat dengan langkah-langkah lebar, mengabaikan Randy yang hanya bisa menatap mereka dengan rahang mengeras sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang babak belur.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk