NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEBAT - Part 1

Ujian akhir semester akhirnya telah usai, menandai datangnya liburan semester yang dinanti-nanti. Namun, bagi seluruh pengurus himpunan Arsitektur, kata libur harus disimpan rapat-rapat. Pasalnya, mereka sedang sibuk-sibuknya menyiapkan acara debat terbuka untuk pemilihan ketua himpunan periode kepengurusan tahun depan.

Jay adalah salah satu kandidat kuat yang mencalonkan. Dibantu dengan teman-temannya sebagai tim sukses, pria itu menghabiskan malam-malam sebelum debat untuk mematangkan visi, misi, serta menyusun rencana program kerja selama setahun ke depan.

“Degdegan gak?” tanya Gea pelan.

Siang itu, di salah satu sudut koridor kampus yang sepi menjelang acara dimulai, mereka duduk berdampingan.

Jay mengembuskan napas berat, meraih tangan kiri Gea dan menggenggamnya teramat erat, seolah menyerap kekuatan dari sana. Ia menundukkan kepala, menyandarkan keningnya sejenak di tautan tangan mereka.

“Banget, Ya,” aku Jay jujur. Suaranya terdengar sedikit serak.

“Kamu pasti bisa, Ay,” hibur Gea lembut. Jemari kanannya bergerak mengusap punggung tangan Jay, mengaitkan jemari mereka demi menyalurkan ketenangan.

“Lawan aku Malik, Ya. You know how smart he is,” keluh Jay, menyuarakan isi kepalanya yang sejak tadi mengganggu. “Dia jago banget kalo urusan debat dan retorika. Kamu inget sendiri, kan, tiap kali rapat gimana dia nyampein semua pendapat? Dia selalu bisa memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. He’s very logical, knows what he’s doing, and knows what we need to do.”

Gea tersenyum tipis dan berkata, “kamu juga gitu kok. Kamu juga pinter, kamu punya pemikiran yang gak kalah hebat dan realistis dibandingkan calon-calon yang lain. Sama Malik atau Hendra pun kamu seimbang. Bang Kian bahkan sampe bantuin kamu mock up debat kemarin, kan? Jadi, kamu pasti bisa.”

Jay akhirnya terkekeh pelan. Mengingat bagaimana effort kekasihnya membujuk kakaknya untuk membuat mock up debat untuknya. Kian sengaja melempar pertanyaan-pertanyaan jebakan yang

paling mungkin ditanyakan saat debat. Walau Jay tahu, medan tempur aslinya pasti akan jauh lebih luas dan liar, mengingat debat terbuka siang ini tidak hanya ditonton oleh internal mahasiswa Arsitektur, melainkan juga dihadiri oleh perwakilan himpunan jurusan lain serta pengurus BEM Fakultas.

Adu argumen yang terjadi tidak lagi sebatas membahas program kerja, visi dan misi, melainkan sudah melebar ke isu-isu krusial yang sedang bergulir di lingkungan kampus. Bukan hanya ketiga kandidat di atas panggung yang bisa merasakan atmosfer mencekam di dalam ruang kelas siang itu. Gea, yang duduk di barisan audiens, bahkan ikut menahan napas. Mata dan telinganya tidak lepas mengamati setiap rentetan pertanyaan tajam yang dilemparkan floor, serta bagaimana taktisnya jawaban-jawaban yang diutarakan oleh/dan/untuk Jay.

“Udah plong belom?” tanya Gea setelah pemungutan suara selesai ditutup.

Saat ini, pengurus inti sedang melakukan penghitungan jumlah suara di himpunan. Sementara itu, para kandidat dan pendukung berkumpul di salah satu ruang kelas kosong yang dipinjam untuk kegiatan debat siang itu.

Jay menganggukkan kepalanya, tersenyum tipis yang tampak lelah namun lega. Beban berat di pundaknya sejak berhari-hari lalu akhirnya runtuh juga.

“Kalo… nanti aku gak ke pilih gimana, Ya?” tanya Jay tiba-tiba, menatap manik mata Gea dengan

sorot penuh antisipasi.

“It’s okay, Ay. Kalo kamu gak ke pilih juga gak apa-apa. Yang penting kamu udah berusaha maksimal dan memberikan yang terbaik. Visi misi kamu luar biasa oke, program kerja kamu juga gak monoton.”

Jay terdiam sejenak, memindai ketulusan di wajah kekasihnya. “Kamu gak kecewa emangnya?”

Gea menolehkan kepalanya penuh, menatap Jay lurus-lurus dan berkata, “Aku? Coba pertanyaannya kita balik. Kalo kamu sendiri gimana? Kalo nanti kamu gak ke pilih, kamu kecewa gak sama diri kamu sendiri?”

Jay diam sesaat, sebelum akhirnya menggeleng pelan dan berkata, “enggak sih. Rasanya puas-puas aja karena udah totalitas.”

“Then, I’m okay with everything,” sahut Gea manis, senyum hangatnya mengembang sempurna. “Selama kamu gak patah semangat, aku akan selalu baik-baik aja dengan hasil apa pun.”

Jay pun ikut tersenyum. Kalimat sederhana dari Gea berhasil menghangatkan hatinya yang sempat gundah akibat tingginya ekspektasi orang-orang sekitar terhadap dirinya di pemilihan ketua himpunan ini.

Hari yang melelahkan itu -baik karena sengatan cuaca luar maupun tensi panas di dalam ruangan- akhirnya resmi berakhir dengan hasil akhir Malik terpilih sebagai Ketua Himpunan periode selanjutnya dengan selisih suara yang cukup tipis dari Jay.

Ruang kelas kembali riuh. Sesi dokumentasi pun dimulai, diawali dengan foto bersama ketiga kandidat yang saling merangkul sportif. Sebagai penutup acara, Malik berdiri sambil memegang bendera himpunan Arsitektur sembari berjabat tangan mantap dengan Ketua Himpunan lama yang akan segera lengser setelah sidang Laporan Pertanggungjawaban atau LPJ bersama BEM selesai dilaksanakan.

...****************...

Libur semester empat akhirnya tiba. Sore itu, Jay merebahkan tubuhnya yang lelah ke kasur setelah seharian membantu Ibunya merapikan barang-barang tak terpakai yang menumpuk di gudang, rak, dan segala penjuru rumah. Untuk mengusir penat, ia membuka ponsel dan langsung melihat unggahan terbaru sang kekasih yang tengah menikmati liburan bersama keluarganya di sebuah pantai.

Jay tersenyum. Jemarinya refleks mengetuk ikon hati, lalu bergerak masuk ke dalam kolom komentar. Namun dalam seketika, senyumnya lebar di wajah Jay sirna tanpa sisa.

“Cantik banget”

“Gue gak tau mau bilang cantik ke laut di belakang lo atau ke elo”

“happy terus Gea, smile suit on your face!”

“Liburan sama siapa nih? Spill dong.”

“Gea selalu on point banget emang visualnya. Pake baju apa juga cakep.”

“Ini masih berpawang apa udah single lagi sih?”

Masih banyak rentetan komentar lain di bawah foto Gea. Sebenarnya tidak hanya pria, teman-teman perempuannya pun banyak yang meninggalkan pujian di sana. Namun, netra Jay seolah terkunci pada interaksi dari lawan jenis. Dada Jay terasa sesak, dihantam gelombang rasa kesal dan cemburu yang teramat membakar. Tanpa berpikir panjang, di bawah kendali emosinya yang sedang tidak stabil, Jay langsung menghubungi Gea saat itu juga.

“Ya, emang harus banget baju kamu kebuka gitu pas main di pantai?” tanya Jay tanpa salam pembuka begitu panggilan tersambung. “Caper banget,” desisnya tajam.

Jay sebenarnya hanya ingin menyuarakan keresahan dan rasa tidak amannya. Namun ego yang terlanjur menguasai kepala justru membuat kalimat yang lolos dari bibirnya terdengar sangat ketus, sarkastis, dan memojokkan.

Sedangkan di seberang sana, senyum Gea yang awalnya mengembang senang sang pacar menelepon, langsung pudar dalam sekejap. Gea mengerutkan kenung, mencoba mengingat kembali baju yang ia kenakan pada unggahan fotonya. Hanya sundress sepanjang lutut dengan square shoulder yang bahkan tidak menampilkan belahan dada sama sekali.

“Maksud kamu apa sih?” nada suara Gea terpancing emosi.

“Aku gak suka ya, Ge, kamu posting foto kayak gitu,” potong Jay dingin.

Gea seketika terdiam, Jay tidak memanggilnya “Ya” seperti biasa, melainkan namanya. Ini adalah kali pertama sepanjang mereka berpacaran Gea mendengar Jay berbicara dengan nada sekasar ini kepadanya. Biasanya, Jay hanya akan mendiamkannya, membuat Gea harus memutar otak seratus kali untuk membujuknya kembali.

“Aku gak suka cowok-cowok pada banyak banget yang ngomongin kamu di komentar,” cecar Jay lagi, suara naik satu oktaf. “Apa jangan-jangan kamu sebenernya seneng ya jadi pusat perhatian cowok-cowok, makanya sengaja postingan dengan baju begitu?”

“Apa sih? Kalo ngomong jangan ngaco, Jay!” emosi Gea benar-benar meledak mendengar tuduhan murahan tersebut.

“Ngaco gimana? Kamu gak tahu kalau foto kamu itu sekarang udah nangkring di base menfess kampus? Banyak cowok yang muji-muji kamu di sana. Seneng, kan, kamu?”

Rentetan kalimat Jay membuat jantung Gea mencelos. Ia sama sekali tidak tahu kalau foto liburan pribadinya sudah disebarkan ke base kampus oleh tangan-tangan iseng. Kenapa kurang kerjaan banget sih orang yang ngirim? Terus admin base-nya juga kenapa asal terima aja? keluh Gea berang dalam hati. Ia selalu heran dengan akun base kampus yang kerap berubah fungsi menjadi akun gosip murahan alih-alih membagikan info akademik.

“Ya udah, aku hapus fotonya sekarang biar kamu seneng!” balas Gea, suaranya bergetar menahan jengah dan sakit hati akibat tuduhan-tuduhan sepihak Jay.

“Telat. Kamu hapus foto itu sekarang pun aku yakin udah banyak yang lihat dan mungkin ada yang save foto kamu. Lihat aja sendiri comment section Instagram kamu yang penuh sama pujian cowok-cowok gak jelas itu. Udah kayak apaan tau.”

Air mata Gea mulai mengenang di pelupuk matanya. Dada perempuan itu naik turun menahan sesak.

“Terserah deh kamu mau ngomong apa, Jay. Aku capek!”

Tanpa menunggu balasan dari seberang telepon, Gea langsung mematikan sambungan telepon sepihak, menonaktifkan ponselnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Kesenangan hatinya selama liburan rusak sudah dalam hitungan menit. Untuk pertama kalinya, ia berdebat hebat dan saling berteriak dengan Jay. Di tengah keheningan kamarnya, pertahanan Gea runtuh. Tanpa suara, air matanya jatuh membasahi bantal di bawah kepalanya. Hatinya sakit, terpukul oleh setiap kata kasar yang keluar dari mulut pria yang selama ini selalu ia maklumi dan ia banggakan.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!