Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Tulus
Mobil Danendra melaju meninggalkan area TK Tunas Arunika. Tetapi baru beberapa ratus meter dari sekolah, tangannya justru memutar setir ke pinggir jalan. Ia menghentikan mobil di sebuah area yang menghadap hamparan kebun kentang.
Danendra menyandarkan kepala ke sandaran kursi, mengingat kembali semua yang baru dilihatnya. Tentang senyum Niken, tawa anak-anak, dan ucapan satpam.
Ia menghembuskan napas panjang. "Kenapa aku begitu mudah menghakiminya?"
Pertanyaan itu terus berulang di kepalanya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Danendra menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam." Jawab ibunya cepat, "kamu sudah sampai kantor?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Masih di jalan."
Ratih terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali berbicara. "Danen."
"Iya, Bu."
"Ibu harap kamu tidak berubah hanya karena kasihan sama perempuan itu."
Dahinya langsung berkerut, "maksud Ibu?"
"Kamu tahu maksud ibu. Jangan sampai rasa kasihan membuatmu menutup mata."
Danendra memejamkan matanya beberapa detik. "Bu..." belum sempat Danendra melanjutkan ucapannya, ibunya sudah lebih dulu memotong.
"Ibu hanya ingin rumah tanggamu dimulai dengan kejujuran."
"Aku juga ingin begitu." Jawab Danendra pelan, "tapi kejujuran harus dimulai dari saling percaya."
Ratih terdiam sesaat, ia tak menyangka putranya akan menjawab seperti itu. "Jadi kamu membela Niken?"
"Bukan membela, Bu. Aku hanya sedang berusaha bersikap adil."
"Danen..."
"Ibu. Tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan rumah tanggaku sendiri." Kata Danendra sebelum mengakhiri panggilan.
Ia lalu mengusap wajahnya. Danendra tahu, ibunya sangat menyayanginya, namun ia merasa harus mengambil keputusan tanpa mengikuti keyakinan Ratih.
* *
Sementara itu, di TK Tunas Arunika.....
"Anak-anak, sekarang kita belajar mengenal profesi, ya."
"Iya, Bu Guru..." jawab semuanya.
Niken berdiri di depan kelas sambil menunjukkan beberapa kartu bergambar. "Ini siapa?"
"Dokter!"
"Kalau ini?"
"Polisi!"
"Kalau yang memakai topi putih dan memasak makanan?"
"Koki!"
Suara anak-anak memenuhi ruangan. Lalu seorang anak laki-laki mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Bu Niken!"
"Iya, Faris?"
"Nanti kalau aku besar, aku mau jadi suami Bu Niken."
Seketika seluruh kelas tertawa, entah dari mana anak itu mempunyai pemikiran seperti ini.
Niken ikut tertawa hingga matanya menyipit. "Lho, memangnya kenapa, Faris?"
"Soalnya Bu Niken baik. Kalau jadi suami Bu Niken, pasti setiap hari dibikinin bekal."
Anak-anak lainnya langsung bersorak.
"Aku juga mau!"
"Aku juga!"
Niken hampir tak dapat menahan tawa, anak-anak polos itu benar-benar membuatnya bahagia.
"Baiklah, tapi Ibu sudah punya suami."
Raut kecewa langsung terlihat di wajah Faris. "Yah..., suami Bu Guru baik nggak?"
Pertanyaan polos itu membuat senyum Niken perlahan memudar, namun hanya sesaat, lalu ia kembali tersenyum.
"InsyaAllah, suami Bu Guru orang baik."
Jawaban itu keluar tanpa keraguan, bahkan ketika hatinya sendiri belum benar-benar sembuh dari luka.
Di luar kelas, Maya yang sejak tadi berdiri di depan pintu tanpa sengaja mendengar jawaban Niken. Ia menghela napas pelan, Maya tahu, kalimat itu bukan hanya jawaban untuk anak-anak. Melainkan juga doa yang diam-diam dipanjatkan Niken setiap saat.
Tanpa Niken sadari....
Di saat yang sama, Danendra yang akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kantornya, masih memikirkan satu hal.
"Malam ini juga aku harus meperbaiki hubungan kita."
Meski sebenarnya, Danendra belum tahu bagaimana cara mengucapkan maaf kepada perempuan yang telah lebih dulu memberinya kepercayaan.
Sesampainya di Agrowisata Lereng Mahitala, Danendra langsung disambut oleh sekertarisnya.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
"Investor dari semarang sudah datang. Mereka menunggu Bapak di ruang rapat."
Danendra mengangguk singkat. "Lima belas menit lagi saya ke sana."
"Baik, Pak."
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Danendra tidak langsung membuka berkas rapat. Pandangannya justru jatuh pada sebuah foto yang berdiri di sudut meja, yaitu foto pernikahannya dengan Niken.
Senyum Niken di foto itu begitu tulus. Sorot matanya penuh harapan saat menatap ke arah kamera. Danendra lalu meraih bingkai foto itu, jarinya mengusap pelan wajah sang istri.
"Maaf."
Kata itu nyaris terucap, namun kembali tertahan di tenggorokannya.
Tok. Tok!
Suara ketukan pintu memecah suasana.
"Masuk!"
Pak Hadi muncul sambil membawa beberapa dokumen. "Ini laporan keuangan bulan ini, Pak."
"Taruh saja."
Pak Hadi meletakan map coklat di atas meja, tetapi tidak langsung pergi. "Pak..."
"Iya, Pak Hadi. Ada yang lain?"
"Maaf kalau saya lancang."
Danendra mengangkat wajahnya, "ada apa, Pak?"
"Sebenarnya saya tidak sengaja dengar Bu Alana sedang membicarakan tentang rumah tangga Bapak."
Danendra cukup terkejut, ia semakin kesal pada wanita itu, namun ia berusaha mendengarkan Pak Hadi dengan baik.
Ragu-ragu Pak Hadi mengatakan. "Saya hanya ingin bilang..."
"Iya? Katakan saja, Pak Hadi." Kata Danendra setelah menunggu Pak Hadi yang tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
"Istri saya dulu juga tidak mengalami perdarahan saat malam pertama."
Danendra menatap Pak Hadi dengan mata yang membulat.
Kemudian Pak Hadi mengangguk. "Iya, Pak. Waktu itu saya juga sempat binggung."
"Lalu?"
"Saya mengajak istri saya berkonsultasi ke dokter. Bukan untuk mencari kesalahan, tetapi karena sama-sama belum paham. Setelah dijelaskan dokter, saya malah merasa bersalah karena sempat berpikir macam-macam."
Danendra hanya menelan ludah.
"Untungnya istri saya mau memaafkan." Pak Hadi tersenyum tipis lalu melanjutkan, "perempuan yang hatinya baik biasanya tidak sulit memaafkan, tapi menghapus luka yang sudah terlanjur dibuat mungkin itu yang lebih sulit."
Danendra mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak Hadi."
Pak Hadi mengangguk, lalu berpamitan keluar ruangan Danendra. "Permisi."
Setelah Pak Hadi keluar, Danendra menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil memejamkan matanya sejenak. Ia semakin merasa bersalah pada Niken, karena sudah cukup banyak yang mengatakan hal serupa.
Beberapa saat kemudian...
Rapat bersama investor berlangsung lancar. Danendra mempresentasikan rencana pembangunan area glamping baru, lengkap dengan konsep wisata edukasi pertanian untuk anak-anak.
"Konsepnya menarik, Pak Danendra," puji salah satu investor.
"Terima kasih."
"Apa lagi kalau bekerja sama dengan sekolah-sekolah."
Kalimat itu langsung membuat Danendra teringat pada Niken. Tanpa sadar, sebuah ide muncul di kepalanya.
Setelah rapat selesai, ia memanggil sekertarisnya.
"Dina."
"Iya, Pak."
"Catat," kata Danendra yang membuat Dina segera membuka buku kecilnya. "Bulan depan kita mulai progam kunjungan edukasi untuk TK dan SD."
"Baik, Pak."
"Prioritaskan sekolah-sekolah di Wonosobo."
"Siap."
"Dan—" Danendra berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. "Hubungi TK Tunas Arunika."
Sekertarisnya langsung tersenyum paham. "Baik, Pak."
Danendra mengagguk. "Jangan bilang kalau itu permintaanku."
"Kenapa, Pak?"
"Anggap saja itu bagian dari progam perusahaan."
"Baik." Ucap Dina sebelum keluar sambil membawa catatannya.
Begitu pintu tertutup, Danendra tersenyum tipis. Entah mengapa, setiap kali menyebut nama TK Tunas Arunika, bayangan yang muncul di kepalanya bukan lagi gedung sekolah itu, tetapi seorang perempuan cantik berjilbab rapi yang dikelilingi anak-anak kecil dengan senyum paling tulus dari yang pernah ia lihat.
"Niken..." ia tersenyum sambil bergumam sendiri. "Aku juga ingin senyummu muncul buat aku."
...****************...