NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

Deru angin gunung yang membawa sisa gerimis pagi mboten mampu mendinginkan darah Raden Mas Baskoro yang telanjur bergejolak panas. Setelah memutar kunci besi kamar utama dan meninggalkan Larasati dalam kurungan emasnya, pria empat puluh tahun itu melangkah dengan hentakan kaki yang berat menuju pelataran samping rumah joglo. Wajahnya sekaku kayu jati tua yang tertimpa cuaca buruk selama puluhan tahun, memancarkan aura kegelapan yang pekat.

"Sentot! Siapkan Kiai Samudera sekarang juga!" perintah Baskoro, suaranya bariton rendah namun menggelegar memecah kesunyian pelataran.

Sentot yang sedang memeriksa pelana kuda langsung tersentak. Ia melihat sang juragan sudah mengenakan beskap lurik gelap bertatahkan sabuk perak tebal. Di tangan kanannya yang besar dan berurat, Baskoro mencengkeram sebilah cambuk pusaka berkepala perak—senjata cambuk kuda berlapis perak murni yang selama belasan tahun hanya tergantung diam di dinding kamar pribadinya sebagai simbol otoritas mutlak yang mematikan.

"Raden Mas... Anda badhe tindak pundi? Hawa di luar masih sangat dingin dan kabut bulak barat sedang tebal-tebalnya," tanya Sentot dengan nada cemas sembari menuntun kuda jantan hitam legam yang meringkik gelisah.

"Jangan banyak bertanya, Sentot. Bawa kudamu dan ikuti aku. Kita lakukan inspeksi dadakan ke tapal batas bulak barat sekarang juga. Aku ingin melihat sendiri seberapa beraninya tikus-tikus desa itu bermain-main di tepi tanahku," jawab Baskoro dingin. Ia langsung melompat ke atas pelana dengan ketangkasan fisik yang luar biasa prima untuk pria seusianya, lalu memacu Kiai Samudera membelah kabut perbukitan.

Di tapal batas bulak barat, di bawah naungan pohon-pohon jati raksasa yang basah oleh sisa gerimis, kepulan asap tipis dari tungku pembakaran gerabah desa tampak menyatu dengan kabut pagi. Beberapa pengrajin desa bawah sedang sibuk menata kendi, tempayan, dan celengan tanah liat ke atas pedati kayu untuk dikirim ke distrik bawah.

Di antara mereka, Bagus berdiri tegap dengan pakaian lurik lusuh yang basah oleh peluh dan air hujan. Pemuda itu sedang mengikat tali anyaman bambu pada pedati ketika suara derap kaki kuda yang riuh dan cepat mendadak memotong sunyinya hutan jati.

Drap! Drap! Drap!

Kiai Samudera meringkik keras, dipaksa berhenti mendadak tepat beberapa langkah di depan pedati Bagus, mencipratkan lumpur hitam ke udara. Bagus mendongak. Sepasang matanya langsung beradu dengan manik mata Baskoro yang hitam pekat dan sedalam sumur tua, menatapnya dari atas pelana dengan pandangan menindas yang teramat dingin.

Atmosfer di bawah rimbunnya daun jati seketika membeku. Para pengrajin desa yang lain langsung menjatuhkan diri, bersujud gemetar di atas tanah basah, mengenali sosok penguasa tunggal perbukitan Joglo yang paling ditakuti. Hanya Bagus yang tetap berdiri tegap, meski dadanya naik-turun menahan tekanan wibawa raksasa di depannya.

Baskoro turun dari kuda dengan gerakan yang lambat namun penuh ancaman. Cambuk perak di tangannya sengaja diseret, bergesekan dengan ranting-ranting kering di tanah dengan suara yang memicu debar ketakutan.

"Jadi... ini tikus desa yang dilaporkan Sentot masih berani berkeliaran di batas tanahku?" ucap Baskoro datar, suaranya bariton rendah namun bergema menindas di antara batang-batang jati.

Bagus menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemetar di suaranya. Ia menjura sedikit, mboten karena takut, melainkan demi menghormati hukum adat. "Nyuwun sewu, Raden Mas Baskoro. Kami di sini mboten sedang mengganggu tanah Anda. Kami hanya menata gerabah di jalur umum untuk dikirim ke saudagar distrik bawah. Ini jalan milik desa."

"Jalan desa?" Baskoro terkekeh pendek, sebuah tawa kering yang sarat akan sarkasme dan keangkuhan feodal. Ia melangkah maju, mengikis jarak hingga tubuh tinggi besarnya menjulang tepat di depan Bagus. "Selama kaki pedatimu masih menginjak bayang-bayang pohon jati milik Joglo, maka tokomu, gerabahmu, dan helaan napasmu berada di bawah kendaliku, Pemuda!"

Baskoro mengangkat cambuk peraknya, menggunakan ujung gagang perak yang dingin untuk mengangkat dagu Bagus dengan kasar, memaksa pemuda itu menatap kabut cemburu yang membakar matanya. "Dengarkan aku baik-baik. Mulai hari ini, aku melarang seluruh pengrajin dari desamu mendekati wilayah tapal batas ini barang selangkah pun! Cari jalur lain di luar perbukitan Joglo jika gerabah-gerabah murahmu ini mboten ingin kuhancurkan menjadi debu tanah!"

Bagus mengepalkan tinjunya erat-hari di balik kain luriknya. Tekanan gagang perak di dagunya membuat darahnya mendidih. "Kenapa Anda begitu kejam, Raden Mas? Apakah karena gerabah kami, atau... karena Anda takut?"

Mata Baskoro menyipit tajam laksana sebilah keris. "Takut? Apa yang harus ditakuti oleh seorang penguasa sepertiku dari pemuda miskin sepertimu?"

"Anda takut karena Anda tahu, rahim yang sekarang sedang Anda kunci di dalam rumah joglo itu... pernah menjadi milik impian masa lalu kulo!" seru Bagus, suaranya meninggi, memecah keheningan hutan. Pemuda itu telentang menantang, egonya sebagai lelaki desa yang terluka akhirnya pecah. "Anda membangun tembok tinggi dan mengunci Larasati karena Anda tahu, dengan segala kekayaan dan kekuasaan Anda, Anda mboten pernah bisa membeli jiwanya seutuhnya! Anda hanya bisa mengurung raganya!"

Plakkk!

Suara tebasan cambuk perak Baskoro yang menghantam pedati kayu di samping Bagus terdengar laksana guntur yang membelah bumi. Kayu pedati itu seketika retak, meninggalkan bekas goresan yang dalam. Amarah dan cemburu buta Baskoro meledak tak terbendung mendengar nama istrinya disebut dengan kelancangan seperti itu.

"Jaga mulutmu, Keparat!" geram Baskoro dengan mata yang memerah jalang, napasnya memburu panas menahan gejolak liar di dadanya. "Larasati adalah permaisuriku yang sah! Raga yang kau sebut itu... telah menyatu denganku setiap malam dengan penuh kerelaan di atas ranjang jatikku! Dan saat ini, rahim sucinya sedang membawa darah dagingku, benih bangsawan asli Joglo yang sah!"

Baskoro mengangkat cambuk peraknya tinggi-tinggi ke udara, bersiap menghantamkannya langsung ke arah wajah Bagus. "Kau mboten lebih dari sekadar sampah masa lalu yang mboten berharga! Beraninya kau mengusik duniaku!"

Bagus mboten mundur selangkah pun. Ia justru memajukan dadanya, bersiap menerima hantaman fisik tersebut dengan mata menantang tajam. Ketegangan fisik di antara kedua pria itu mencapai batas yang teramat kritis, nyaris menumpahkan darah segar di atas tanah batas yang basah.

"Raden Mas! Ampun, Raden Mas! Eling!" Sentot dengan cepat melompat dari kudanya, menyusup di antara Baskoro dan Bagus. Pria setia itu langsung berlutut, memegangi kaki Baskoro dengan erat sembari menahan tangan juragannya yang memegang cambuk. "Nyuwun sewu, Raden Mas! Ingat jabang bayi yang sedang digelarkan doa slametan oleh Mbok Sum di joglo! Jangan kotori tangan Anda dengan darah di tempat ini, demi keselamatan Gusti Nyai Larasati!"

Mendengar nama Larasati dan keselamatan anaknya disebut, gerakan tangan Baskoro mendadak terkunci di udara. Napasnya masih memburu berat, dadanya kembang-kempis menahan gejolak amarah yang nyaris menghancurkan akal sehatnya. Kata-kata Sentot seolah menjadi air es yang menyiram api murkanya, meski sisa-sisa cemburu buta masih berkilat pekat di matanya.

Baskoro menurunkan cambuk peraknya perlahan, namun pandangan matanya tetap menusuk Bagus dengan kebencian yang teramat dalam.

"Sentot... bawa tikus ini dan seluruh kelompoknya keluar dari batas tanahku sekarang juga," perintah Baskoro dengan suara bariton yang teramat rendah, bergetar menahan sisa amarah. "Jika besok pagi aku masih melihat bayangan pemuda ini di sekitar bulak barat... jangan ragu untuk membakar seluruh desa bawah hingga mboten tersisa!"

Tanpa menunggu jawaban, Baskoro berbalik dengan sentakan kasar. Ia melompat kembali ke atas punggung Kiai Samudera, membalikkan kudanya dengan kasar, lalu memacu hewan itu sekencang mungkin kembali menuju rumah joglo. Di belakangnya, kabut bulak barat kembali menutup jalan setapak, menyembunyikan wajah Bagus yang menatap kepergian sang juragan dengan kepalan tangan yang mboten kunjung kendur di bawah rimbunnya pohon jati yang menangis.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!