NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Pelajaran Pertama Seorang Pemburu (Bagian 1)

Mentari belum sepenuhnya mencapai puncak langit ketika Rowan dan Leon meninggalkan Desa Aster.

Gerbang kayu desa perlahan terbuka.

Dua penjaga yang berjaga sejak pagi menganggukkan kepala kepada Rowan sebagai salam.

"Semoga hasil buruanmu banyak hari ini."

Rowan hanya membalas dengan senyum tipis.

Leon memperhatikan pemandangan di luar gerbang.

Jalan tanah yang tadi malam terlihat gelap kini tampak jelas. Rumput liar tumbuh di sepanjang sisi jalan, sementara pepohonan Hutan Greenwood berdiri rapat seperti dinding raksasa.

Udara di luar desa terasa berbeda.

Lebih dingin.

Lebih sunyi.

Dan entah mengapa...

Lebih menekan.

Rowan berhenti tepat sebelum memasuki hutan.

Ia menoleh kepada Leon.

"Apa perbedaan terbesar antara desa dan hutan?"

Leon berpikir sejenak.

"Desa lebih aman?"

"Itu benar."

"Tapi bukan jawaban yang kucari."

Leon kembali mengamati sekeliling.

Beberapa detik kemudian ia menjawab,

"Di desa... kita tahu siapa yang ada di sekitar kita."

"Di hutan..."

"...kita tidak tahu apa yang sedang memperhatikan kita."

Senyum tipis muncul di wajah Rowan.

"Tepat."

"Selama berada di dalam hutan, anggap saja selalu ada mata yang mengawasimu."

Ucapan itu membuat Leon tanpa sadar melihat ke berbagai arah.

Semak-semak.

Cabang pohon.

Batu-batu besar.

Semuanya tampak biasa.

Namun setelah mendengar penjelasan Rowan, setiap sudut terasa menyimpan ancaman.

Mereka mulai berjalan memasuki Hutan Greenwood.

Cahaya matahari yang semula terang berubah redup karena tertutup rimbunnya dedaunan.

Aroma tanah basah memenuhi udara.

Sesekali terdengar suara burung yang terbang dari satu pohon ke pohon lain.

Leon berjalan dengan langkah hati-hati.

Pedang kayu yang diberikan Rowan kemarin kini tergantung di pinggangnya.

Meski tahu senjata itu tidak terlalu kuat, keberadaannya sedikit menenangkan hati.

Beberapa menit kemudian, Rowan mengangkat tangan sebagai tanda berhenti.

Leon langsung menghentikan langkahnya.

"Jangan bersuara."

Bisik Rowan.

Leon mengangguk.

Rowan berjongkok di dekat tanah.

"Perhatikan."

Leon ikut berjongkok.

Di atas tanah yang masih lembap tampak beberapa jejak kaki.

Jejak itu menyerupai telapak serigala.

Namun ukurannya hampir dua kali lebih besar.

"Apa ini jejak monster?"

"Tidak."

"Belum."

Leon mengernyit.

"Belum?"

Rowan menunjuk jejak lain yang berada beberapa meter di sampingnya.

"Lihat baik-baik."

Leon memperhatikan dengan saksama.

Jejak pertama terlihat dalam dan teratur.

Sedangkan jejak kedua lebih kecil serta tidak beraturan.

Ia mulai memahami sesuatu.

"Yang besar mengejar yang kecil?"

Rowan mengangguk puas.

"Bagus."

"Berarti kau mulai menggunakan kepalamu."

Leon tersenyum kecil.

"Kalau begitu..."

"...yang kecil sedang melarikan diri?"

"Tepat."

"Dan itu berarti..."

Rowan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Telinga Leon menangkap suara gemerisik dari arah semak-semak.

Sangat pelan.

Namun cukup jelas.

Ia langsung mengangkat tangan memberi isyarat.

"Di sana."

Rowan menoleh.

Tatapannya berubah serius.

"Pendengaranmu cukup tajam."

Mereka perlahan mendekati sumber suara.

Semakin dekat...

Suara itu semakin jelas.

Bukan langkah kaki.

Melainkan suara seseorang yang sedang mengunyah sesuatu.

Rowan memberi isyarat agar Leon berjongkok.

Lalu perlahan menyingkap dedaunan.

Di balik semak, seekor makhluk kecil sedang memakan buah-buahan yang jatuh dari pohon.

Tubuhnya hanya setinggi lutut orang dewasa.

Bulunya cokelat muda.

Sepasang telinganya panjang seperti kelinci.

Namun kedua tangan dan kakinya menyerupai monyet.

Makhluk itu tampak sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka.

Leon menatapnya dengan heran.

"Monster?"

Rowan mengangguk pelan.

"Namanya Forest Gob."

"Monster tingkat terendah."

"Tidak sekuat Wolf Ape."

"Tapi..."

"...jauh lebih licik."

Seolah mendengar namanya disebut, Forest Gob tiba-tiba mengangkat kepala.

Hidungnya bergerak mengendus udara.

Detik berikutnya...

Makhluk itu menoleh tepat ke arah Leon.

Sepasang mata kuning mereka saling bertemu.

Forest Gob menjerit nyaring.

"Kiiiii!"

Tanpa diduga, makhluk kecil itu berbalik dan berlari menuju hutan yang lebih dalam.

Leon refleks hendak mengejarnya.

Namun Rowan langsung menahan bahunya.

"Jangan!"

Leon menghentikan langkah.

"Kenapa?"

Rowan menatap jejak kaki yang ditinggalkan Forest Gob.

Wajahnya perlahan berubah muram.

"Karena..."

"...Forest Gob tidak pernah hidup sendirian."

Belum sempat Leon bertanya lebih jauh.

Puluhan suara jeritan yang sama terdengar dari berbagai arah.

"Kiii!"

"Kiii!"

"Kiiii!"

Leon membeku.

Jeritan itu datang dari depan.

Belakang.

Kanan.

Kiri.

Mereka...

Sudah dikepung.

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!