Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 tak berdaya
Biel meringkuk di dalam kamarnya, sejak kemaren ia berada di dalam kamar itu tanpa di bolehkan keluar sama sekali.
Ia bahkan tidak tahu bagaimana kondisi sang mama sekarang.
Yang ia tahu....
mamanya telah tiada.
Kemaren,
Shahnaz yang melarang orang yang menabrak sang mama membawa mamanya ke rumah sakit.
Tiba tiba ia juga memerintahkan beberapa orang pekerja laki laki untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah ia langsung di bawa masuk ke dalam kamarnya.
Biel sempat berteriak teriak dan menangis menjerit jerit karena ingin bertemu sang mama hingga suaranya seperti habis.
Tapi tak ada satupun orang rumah yang datang kepadanya.
Dan baru malam harinya, Shahnaz datang padanya bersama beberapa orang dan Steve.
Bocah laki laki itu menatapnya penuh ejekan.
" biarkan dia tetap berada di sini " perintah Shahnaz dengan jelas.
" jangan ada yang berani mengeluarkannya dari sini tanpa perintahku.
Sekarang dia berada dalam pengawasanku " ucapnya lagi.
" tidak....biarkan aku keluar, aku mau bertemu mama...." teriak Biel
" kau sudah gila hah ?! Apa kau juga ingin di kubur di dalam tanah seperti ibumj itu sekarang ?! " sentak Shahnaz dengan sangat kasarnya.
Biel sontak terdiam ketakutan.
" dengar ya.....
Mamamu yang pelayan penggoda itu sudah mati.
Kau dengar itu ?! " sentak Shahnaz lagi dengan kedua bola mata yang melotot kepada Biel kecil.
Biel menggeleng, air matanya kian mengalir deras.
" tidak....mamaku masih hidup...." jeritnya
Plak....
Sebuah tamparan mendarat di pipi chubby seorang Gabriela,
tubuhnya yang ringkih seketika jatuh tersungkur ke lantai.
Biel memegangi pipinya yang terasa sakit dan kebas.
Ia ketakutan....
" dengar ya anak haram.....
mamamu itu sudah mati, berterima kasihlah padaku karena aku sudah bersedia memakamkannya dengan layak "
Biel kian tersedu,
" ke...kenapa aku tidak di bawa ke pemakamannya.....
aku....aku ingin ke makam mama " cicit bocah kecil itu dengan suara takut dan berurai air mata.
" kau tidak sadar dengan apa yang sudah kau lakukan ?!
kau itu pembawa sial.....
kesialanmu itu yang telah membuat mamamu mati,
kau tidak boleh keluar dari kamar ini.
Kakek sedang sakit sekarang, aku tidak mau aura kesialanmu itu memberi pengaruh buruk kepada kakek dan juga rumah ini " ucap Shahnaz lagi dengan tidak begitu berhatinya.
Saat ini ia sungguh merasa puas,
Melihat Saraswati tergeletak tak berdaya dan Biel yang saat ini berada dalam cengkeramannya.
Seakan semua sakit hatinya telah terbalaskan saat ini.
Mendengar ucapan Shahnaz Biel tergugu di lantai,
Jujur ia tak mengerti ucapan wanita yang berdiri tegak di hadapannya itu. Kenapa sekarang ia di sebut sebagai pembawa sial hingga ia harus di kurung di dalam kamar.
Kenapa ia harus yang menjadi di salahkan atas hal buruk yang telah terjadi pada mamanya.....
Ia bahkan tidak boleh datang ke pemakaman sang ibu yang katanya telah tiada.
Otak Biel kecil terus berputar dan berbisik, tapi ia tak tahu harus bagaimana.
Ia tak punya keberanian.......
Biel masih menangis ketika tak lama setelah berkata panjang lebar yang isinya tentu menyalahkannya dan terus berkata kasar kepadanya....
Shahnaz keluar dari kamar itu dengan di ikuti Steve di belakangnya.
Bocah laki laki itu memegang tangan sang mami sementara kepalanya menoleh kepadanya.
Kedua sudut bibirnya tertarik keatas, ia tertawa tanpa suara,
Steve masih saja menertawakan Biel.
Sementara Biel......
Ia pun menatap Steve dengan tatapan tajam dan penuh luka dengan air mata yang masih berderai membasahi pipinya.
Otaknya mulai berbisik,
Semua yang terjadi padanya bukan salahnya....
tapi salah Steve.
Shahnaz dan Steve terus melangkah keluar kamar dan meninggalkan Biel kecil
sendirian di dalam kamarnya.
Klik....
pintu kamar itu terdengar di kunci, Biel meringkuk di dalam kamar.
Tiga hari telah berlalu, Biel masih berada di dalam kamarnya.
Ia benar benar tak diizinkan keluar sama sekali oleh Shahnaz.
Sementara tuan Ricard yang notabene adalah ayahnya malah terkesan sama sekali tak mau perduli padanya.
Saat ini ia hanya sedang berkonsentrasi untuk kesembuhan sang papa yang sudah satu bulan lebih terus berada di atas tempat tidur.
Walau jujur ....
Kematian ibu Biel cukup membuatnya terkejut,
Selama ini ia diam diam sering memperhatikan wanita itu.
Namun luka masa lalunya karena di tinggalkan sang istri begitu saja membuatnya tak mau lagi bermain hati.
Apalagi status mereka yang jelas berbeda.
Ricard memilih memperhatikan dari jauh dan memberi bayaran mahal untuk wanita itu.
Sementara dengan Biel ....
ia sebenarnya ingin menemui Biel, tapi ucapan Shahnaz menghentikan niatnya.
Sore itu,
Biel sedang duduk sendirian di atas tempat tidur,
Ia sedang memeluk foto dirinya bersama sang mama.
Bocah lima tahun itu menangis tersedu,
" mama.....Biel kangen....." bisiknya sambil mengusap foto sang mama dan kemudian menciumnya.
Cklek....
Biel terkejut karena pintu kamarnya yang tiba tiba terbuka dari luar.
Ini bukan jam makan malam kan.....tanyanya di dalam hati.
Dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat siapa yang datang.
Biel seketika melompat dari tempat tidur.
" tu...tu...tuan....." cicitnya ketika ia melihat Ricard yang rupanya datang ke kamarnya.
Ada rasa yang sulit ia lukiskan saat ini melihat laki laki itu berada di kamarnya.
Sementara Ricard sendiri,
Ia menatap tak berkedip sosok kecil di hadapannya itu.
Sungguh wajah kecil itu begitu mirip dengan mamanya.
Ricard menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
" Keluar dan ikut denganku " ucap laki laki itu kemudian.
Tak lama ia memutar tubuhnya dan melangkah ke arah pintu.
Di belakangnya, Biel yang tak berani bertanya hanya diam dan mengikuti.
Sampai di salah satu ruang utama rumah besar itu tepatnya di meja makan,
Semua orang yang sedang berada di meja makan itu menatapnya terkejut.
Terutama Shahnaz,
wajah wanita itu seketika pias, matanya melebar menatap Biel yang tertunduk dan berdiri di belakang sang suami.
" sayang.....mau kau bawa kemana anak itu ?! Dia tidak boleh keluar kamar sayang.....
dia......" ucap Shahnaz tak berlanjut dan hanya mengambang di udara.
" papa ingin bertemu dengannya " jawab Ricard singkat dan tanpa basa basi.
Kemudian ia melanjutkan langkahnya dan meninggalkan ruangan itu begitu saja sambil di ikuti Biel di belakangnya.
Saat itu,
Seseorang juga sedang menatap Biel tak berkedip.
Erick ...
Ia menatap Biel dengan dalam. Untuk yang kedua kalinya....
Ia melihat gadis kecil itu.
Wajah yang nampak sendu dan menyimpan begitu banyak kesedihan.
Gadis itu memang terlihat masih begitu kecil, namun wajahnya sudah seperti menyimpan begitu banyak luka.
Sementara Shahnaz terdiam membeku mendengar jawaban sang suami, tangannya meremas kuat gelas kaca di hadapannya.
Ricard tak pernah bersikap hangat padanya,
( papa ingin bertemu dengannya....)
Jawaban Ricard barusan masih menggema di otaknya.
( kenapa papa ingin bertemu dengan anak haram itu ??
ada apa ini ?! ) cicitnya di dalam hati.
Sebenarnya ia ingin sekali mengikuti Ricard dan Biel yang saat ini tak lagi berada di ruangan ini.
Tapi ia tak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Keberadaannya di rumah ini belum begitu kuat, ia hanya seorang menantu.
Pernikahannya dengan Ricard pun hanya karena alasan bisnis.
Sementara tuan besar Lee belum memberinya hak seperti layaknya menantu pada mestinya.
Hal itu sangat jelas ia tahu kenapa ?!
Alasannya adalah bisnis dan kekayaan orang tuanya yang belum sebanding dengan kekayaan keluarga Lee.
Apalagi ia yang masuk ke keluarga ini dengan status janda dan membawa satu orang anak.