Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20: Realitas Pahit di Pagi Hari
Matahari baru saja terbit, namun tidak ada kehangatan yang terasa di dalam rumah besar peninggalan keluarga Sitorus. Suasana kediaman itu mendadak sunyi, sunyi yang mencekam dan menakutkan. Kirana duduk di ruang tengah dengan mata yang membengkak sehabis menangis semalaman. Gaun malam indahnya yang berharga kini tergeletak begitu saja di lantai kamar, digantikan oleh daster kusam yang mencerminkan kekosongan jiwanya.
Di atas meja kaca di hadapannya, sebuah amplop cokelat tebal dengan logo firma hukum terbesar di ibu kota tergeletak dengan angkuh. Itu adalah surat gugatan cerai yang dikirimkan oleh tim pengacara Pratama Group tepat pukul enam pagi tadi.
"Kirana... bagaimana ini, Nak?" Suara Ibu Ratna terdengar bergetar dari arah dapur. Wanita paruh baya itu berjalan dengan langkah gontai, tangannya memegang ponsel yang terus-menerus berdering. Wajahnya yang biasa dipenuhi bedak tebal kini tampak keriput dan pucat pasi. "Semua kartu kredit Mama... semuanya ditolak saat Mama mau bayar tagihan belanja bulanan online tadi. Nomor rekening operasional rumah yang biasa ditransfer Aldi juga statusnya dibekukan!"
Kirana tidak menjawab. Dia hanya menatap kosong ke arah surat cerai di meja. Fikirannya masih tertancap pada ucapan dingin Aldi di ballroom semalam: “Tandatangani itu, dan hiduplah dengan status yang selama ini sangat kamu dambakan.”
"Kak Kirana! Tolongin Riko, Kak!" Riko tiba-tiba berlari turun dari tangga lantai dua dengan wajah panik, ponselnya ditempelkan di telinga. "Ini... ini pihak dari diler mobil dan bank perumahan kluster menelepon terus! Mereka bilang kalau uang muka tambahan dan cicilan bulan ini yang kemarin sempat ditarik oleh sistem bank atas nama Mas Aldi tidak bisa diproses ulang! Mereka mengancam akan mengirim debt collector untuk menyita rumah kluster itu dalam waktu tiga hari kalau tidak ada pelunasan!"
Riko menjatuhkan dirinya di sofa di samping Kirana, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Kak, telepon Mas Aldi, Kak! Minta maaf! Bilang kalau Riko salah, Riko janji gak bakal lancang lagi sama dia! Riko gak mau kuliah
Riko putus, Riko gak mau rumah baru Riko disita bank!"
Kirana akhirnya menoleh, menatap ibu dan adiknya dengan pandangan yang sarat akan kepedihan sekaligus kemarahan yang terlambat.
"Telepon Mas Aldi, kamu bilang, Riko?" suara Kirana keluar dengan parau dan bergetar. "Nomor kita semua sudah diblokir. Mas Aldi yang selama ini mengemis perhatian kita, yang selalu mengalah di meja makan ini saat kalian sindir tiap malam, sekarang sudah kembali ke dunianya. Dunia di mana kita bahkan tidak punya hak untuk sekadar melihat bayangannya!"
Ibu Ratna langsung duduk bersimpuh di lantai di depan Kirana, menangis tersedu-sedu sambil memegang lutut anaknya.
"Kirana, Mama mohon, Nak... Datangi dia ke kantor pusat. Kamu kan istrinya, kamu punya hak! Ketuk hatinya. Laki-laki itu kalau sudah cinta pasti punya titik lemah. Bilang sama dia kalau Mama khilaf, Mama tua yang bodoh yang silau harta.
Jangan biarkan kita jatuh miskin lagi, Kirana... Rumah ini bisa disita kalau utang lama bisnis almarhum papamu ditagih lagi oleh bank karena jaminan Aldi dicabut!"
Kirana memejamkan matanya, membiarkan air mata baru mengalir melewati pipinya yang dingin. Penyesalan itu datang layaknya ombak besar yang menenggelamkan sisa-sisa harga dirinya. Dia sadar, dia tidak hanya kehilangan seorang suami yang mapan, tetapi dia telah membuang satu-satunya pria yang mencintainya dengan ketulusan yang paling murni di dunia ini.