Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 11
Pintu kayu cendana hitam kamar utama terbuka secara perlahan, menyebarkan aroma harum kayu pinus kuno yang menenangkan ke dalam ruangan. Li Tianchen melangkah masuk dengan jubah putih bersih yang berkibar anggun mengikuti gerakannya. Rambut hitam panjangnya yang diikat rapi dengan jepit giok menambah kesan karismatik yang teramat agung.
Begitu pintu terbuka penuh, tatapan mata Tianchen langsung bertemu dengan sepasang mata Liu Yuanling yang sedang bersandar di sudut ranjang.
Deg.
Jantung Yuanling berdegup kencang, dan rasa gugup yang luar biasa seketika menyerang seluruh kesadarannya. Saat pingsan dan sekarat kemarin, ia tidak sempat melihat dengan jelas bagaimana rupa dari penyelamatnya. Namun kini, melihat sosok pria yang berjalan mendekat dengan wajah yang begitu tampan, rahang tegas, serta sepasang mata elang yang memancarkan ketenangan sedalam lautan, Yuanling mendadak merasa lidahnya kelu. Wajah cantiknya yang sudah bertransformasi menjadi dewasa kini merona merah padam hingga ke batas leher. Pria ini... terlalu sempurna untuk ukuran seorang kultivator yang telah menyentuh raganya.
"Guru Li!" Ziyan melompat turun dari ranjang dengan wajah ceria, sama sekali tidak menyadari kegugupan yang sedang melanda kedua orang dewasa di dekatnya. "Nyonya Besar sudah sadar! Dan tebak apa? Kultivasinya langsung melompat ke tingkat Pencerahan Awal! Bukankah metode penyembuhan Guru luar biasa manjur?"
Tianchen berdeham pelan, mencoba mempertahankan ekspresi dinginnya meskipun telinganya sedikit memerah akibat ucapan muridnya. Ia berjalan mendekati meja kecil, lalu meletakkan sebuah cangkir giok hijau yang mengeluarkan uap wangi di atasnya.
"Minumlah ini," ucap Tianchen dengan suara berat yang menenangkan, mengabaikan ocehan Ziyan. "Ini adalah teh pencerahan yang diseduh dengan air mata air spiritual puncak utama. Minum perlahan untuk membuat energi dalammu yang bergolak kembali stabil."
Yuanling mengangguk kaku, mengulurkan kedua tangan yang masih sedikit bergetar untuk menerima cangkir giok tersebut. "Te-terima kasih, Tuan..."
Ziyan yang berdiri di samping ranjang menyenggol lengan gurunya dengan usil, berbisik namun dengan volume yang sengaja dikeras-keraskan, "Guru, tatapan mata Guru kenapa canggung begitu? Dan lihat dada Guru, jubahnya agak terbuka, apa karena kehebatan semalam—"
"Su Ziyan!" potong Tianchen dengan suara yang mendadak menajam, membuat Ziyan seketika tersentak. Tianchen melirik muridnya dengan pandangan dingin yang mematikan. "Keluar dari sini sekarang juga. Pergi ke aula luar dan bersihkan seluruh anak tangga puncak utama dengan tangan kosong tanpa menggunakan energi Qi. Jika aku melihat ada sebutir debu pun tersisa sebelum matahari terbenam, hukumanmu akan kulipatgandakan."
"Eh? Bersihkan tangga dengan tangan kosong?" Ziyan membelalakkan mata, langsung merutuki bibirnya yang terlalu cepat meledek sang Guru. "Guru, aku kan hanya bercanda—"
"Satu..." Tianchen mulai menghitung dengan nada datar.
"Baik, baik! Aku pergi sekarang!" Ziyan panik, ia langsung berbalik dan melesat keluar dari kamar secepat kilat, tahu betul bahwa jika gurunya sudah mulai menghitung, konsekuensinya tidak akan pernah main-main.
Brak.
Pintu kamar tertutup kembali, menyisakan keheningan yang teramat pekat di antara Tianchen dan Yuanling. Suasana di dalam kamar mendadak berubah menjadi sangat tegang dan canggung.
Tianchen menarik sebuah kursi kayu, lalu duduk agak jauh dari tepi ranjang untuk memberikan ruang aman bagi Yuanling. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang penuh dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Nona Liu," Tianchen memulai percakapan, suaranya terdengar tulus tanpa ada keangkuhan seorang ahli hebat sama sekali. "Pertama-tama... aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu atas tindakanku semalam. Aku tahu... metode kultivasi ganda yang kulakukan telah merusak kesucian yang kau jaga selama ini. Sebagai seorang pria dan seorang pemimpin sekte, aku merasa sangat bersalah karena mengambil keuntungan dari keadaanmu yang sedang tidak berdaya, meskipun niat utamaku adalah menarikmu kembali dari gerbang kematian."
Mendengar permohonan maaf yang begitu rendah hati dari seorang pria yang menjadi penolongnya, air mata Yuanling kembali menggenang di sudut matanya, namun kali ini bukan karena rasa marah, melainkan karena rasa terharu yang luar biasa. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menggenggam selimut sutranya erat-erat.
"Tidak, Tuan... mohon jangan berkata seperti itu," ucap Yuanling dengan suara parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena merasa tidak sanggup menatap wajah tampan Tianchen. "Hamba... hamba justru sangat berterima kasih karena Tuan telah sudi mengotori tangan Tuan demi menyelamatkan nyawa hamba yang tidak berharga ini. Hamba tahu betapa parahnya kerusakan tubuh hamba semalam. Jika bukan karena kebaikan hati Tuan, hamba pasti sudah menjadi mayat yang membusuk saat ini."
Yuanling menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangisnya sebelum melanjutkan dengan nada suara yang merendah, "Tetapi... setelah mendengar perkataan Nona Ziyan tadi... hamba merasa sangat tidak pantas untuk menjadi pasangan kultivasi atau menjadi istri dari seorang Ketua Sekte yang agung seperti Tuan. Latar belakang hamba dipenuhi oleh aib, kekejaman, dan musuh yang mengincar. Hamba... hamba hanya memohon satu hal kepada Tuan, tolong jangan buang hamba. Hamba memohon untuk dijadikan pelayan biasa saja di puncak ini. Hamba bersedia mencuci jubah Tuan, membersihkan kediaman Tuan, atau melakukan pekerjaan kasar apapun, asal hamba diizinkan tinggal di sini untuk berlindung."
Tianchen tertegun mendengar kata-kata Yuanling. Ia bisa merasakan kerendahan hati dan trauma mendalam yang dialami gadis ini akibat masa lalunya. Perlahan, Tianchen berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati ranjang, menatap Yuanling dengan pandangan yang sangat lembut namun tegas.
"Nona Liu, dengarkan aku baik-baik," kata Tianchen, membuat Yuanling perlahan mengangkat wajahnya yang sembab. "Di dalam hidupku, aku selalu berjalan di atas jalur pedang yang murni. Selama ratusan tahun berkultivasi, aku tidak pernah menyentuh atau membiarkan wanita manapun mendekati kediaman pribadiku. Kamu... adalah wanita pertama dan satu-satunya yang pernah menyentuh fisik dan jiwaku."
Tianchen mengambil jeda sejenak, wajahnya menunjukkan sebersit kecanggungan sebelum melanjutkan, "Jujur saja, usiaku saat ini sudah tidak muda lagi jika diukur dengan standar manusia biasa. Aku sudah hidup lebih dari setengah dekade, bahkan usiaku saat ini sebenarnya sudah lebih dari lima ratus tahun. Oleh karena itu... jika kamu tidak keberatan dengan perbedaan usia kita yang cukup jauh ini, dan jika kamu bersedia menerima pria kaku sepertiku... aku ingin mengajakmu untuk secara resmi melakukan ritual pernikahan di Balai Leluhur Sekte Pedang Langit. Aku ingin kamu menjadi istri sah dari Ketua Sekte ini, dengan segala kehormatan dan hak perlindungan penuh yang melekat pada gelar tersebut. Aku tidak akan pernah membiarkan wanita yang telah menyatu jiwanya denganku menjadi seorang pelayan."
Mendengar pernyataan lamaran yang begitu sakral dan terhormat, Yuanling tertegun. Matanya berkedip beberapa kali seolah mengira dirinya sedang bermimpi di dalam ilusi tingkat tinggi. Namun, setelah kesadarannya kembali penuh, seulas senyum canggung sekaligus geli mendadak muncul di bibir indahnya.
"Tuan Li..." Yuanling berbisik, matanya menatap Tianchen dengan binar yang aneh. "Tuan mengatakan bahwa usia Tuan sudah lebih dari lima ratus tahun?"
"Benar," Tianchen mengangguk pelan, sedikit khawatir jika usia tuanya yang telah melewati setengah milenium akan membuat gadis itu merasa risih. "Bagi seorang wanita muda seusiamu, mungkin seorang pria berusia di atas lima ratus tahun terasa seperti—"
"Tuan Li, sepertinya Anda salah paham," potong Yuanling dengan tawa kecil yang terdengar sangat merdu, menepis seluruh ketegangan yang ada sejak tadi. "Hamba... hamba bukanlah seorang wanita muda berusia belasan tahun seperti yang Anda lihat kemarin. Usia hamba yang sebenarnya saat ini... sudah lebih dari dua ratus tahun."
"Apa?" Kali ini, giliran Li Tianchen yang membelalakkan mata, ekspresi wajahnya yang biasanya tenang seketika runtuh akibat keterkejutan yang luar biasa. "Dua ratus tahun?"
Yuanling mengangguk dengan wajah sedikit merona merah. "Benar. Karena keistimewaan bawaan dari Tulang Harmoni Selaras yang tumbuh di dalam tubuh saktiku, metabolisme dan penuaan fisikku berjalan ratusan kali lebih lambat daripada manusia normal. Sejak aku mencapai usia kedewasaan fisik, wujudku terunci dalam kondisi awet muda. Bahkan saat segel kutukan itu menekan kekuatanku, tulang sakti ini tetap menjaga penampilan fisikku seperti gadis remaja. Jadi... meskipun usia Tuan Li jauh lebih sepuh, hamba juga telah hidup melintasi dua abad di dunia ini."
Tianchen terdiam seribu bahasa, menatap wanita dewasa di depannya dengan pandangan yang sangat rumit. Siapa yang menyangka bahwa gadis yang ia kira adalah seorang remaja malang yang terluka, ternyata adalah seorang "senior" kultivator berusia dua abad yang terperangkap dalam tubuh awet muda? Namun, setelah kejutan itu mereda, Tianchen justru merasakan beban moral di hatinya menjadi jauh lebih ringan. setidaknya ia tidak bersalah karena telah menyentuh seorang gadis di bawah umur.
Tianchen kembali memantapkan hatinya, menatap mata Yuanling dengan kebulatan tekad yang tidak tergoyahkan. "Usia tidak menjadi masalah bagi para kultivator yang mencari kebenaran alam. Yang terpenting saat ini adalah pilihanmu. Aku akan bertanya sekali lagi kepadamu dengan sangat serius, Liu Yuanling... Apakah kau mau menikah denganku dan menjadi pendamping hidupku seumur hidupmu?"
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit