Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Langkah kaki ketiga gadis itu terasa begitu ringan saat melewati gerbang sekolah. Matahari sore yang mulai condong ke barat memayungi langkah Alya, Adel, dan Jesica. Setelah ketegangan yang melelahkan akibat labrakan Clara siang tadi, atmosfer sore ini terasa jauh lebih bersahabat. Sesuai rencana, sebelum pulang ke rumah, Alya harus mampir ke toko bahan kue langganan ibunya di dekat pasar kota untuk menyetok bahan baku pesanan teman-teman sekelasnya besok.
"Pokoknya sore ini gue yang pegang kantong belanjaan lo, Al! Anggap aja ini bentuk dukungan fisik dari asisten pribadi Dapur Saras," kelakar Adel riang sambil merangkul lengan Alya.
Jesica tertawa renyah, ikut menimpali. "Gue bagian QC ya, *Quality Control*. Gue yang bertugas mastiin kebersihan vanili sama keaslian cokelat bubuk yang lo beli."
Alya tidak bisa menahan senyumnya. Beban berat yang sempat menggelayuti pundaknya perlahan memudar, digantikan oleh rasa hangat yang disalurkan oleh kedua sahabatnya. Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar menuju halte angkot terdekat, sesekali bercanda dan tertawa lepas, mengabaikan tatapan mata murid-murid lain yang masih berbisik-bisik soal drama di kelas IPA 1 tadi.
Saat mereka sedang menunggu angkot di bangku halte, ponsel jadul di dalam saku rok Alya kembali bergetar panjang. Sebuah dengungan pendek pertanda pesan masuk. Alya merogoh sakunya, lalu menyalakan layar ponselnya yang sedikit retak.
Sebuah pesan dari akun media sosial berkilau centang biru muncul di bilah notifikasi.
*Devan Narendra: "Gua denger dari anak-anak kelas lo, lo lagi buka pesanan buat besok pagi. Gua mau pesen Bolu Gulung Cokelat sama Kue Lumpur Kentangnya, masing-masing dua kotak besar. Bisa anterin ke meja gua pas jam istirahat pertama?"*
Alya tertegun di posisinya. Jemarinya yang memegang pinggiran ponsel mendadak kaku. Pandangannya terpaku pada deretan kalimat formal namun tegas yang dikirimkan oleh cowok paling berpengaruh di sekolah itu. Dua kotak besar untuk masing-masing varian? Itu bukan jumlah yang sedikit, dan keuntungan bersihnya pasti bisa menutupi sisa kekurangan biaya *study tour*-nya dalam sekejap.
Namun, alih-alih langsung merasa senang, dada Alya justru dilingkupi oleh seberkas rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Pikirannya mendadak berputar pada kejadian-kejadian sebelumnya. Mengapa Devan, seorang pewaris tunggal kaya raya yang terbiasa dengan kemewahan, mendadak repot-repot memesan kue pasar buatannya? Apakah ini bagian dari rencana tersembunyi untuk mempermalukannya seperti yang dilakukan Clara? Ataukah ini hanya bentuk belas kasihan karena Devan tahu kondisi ekonominya yang serba pas-pasan?
Alya menghembuskan napas pelan, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Adel dan Jesica. Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan mata kedua sahabatnya. "Del, Jes... coba kalian liat ini."
Adel yang pertama kali merebut ponsel tersebut. Begitu matanya membaca nama pengirim dan isi pesanan, detik itu juga Adel langsung menjerit heboh hingga membuat seorang ibu-ibu di sebelah mereka menoleh kaget.
"DEMI APA, ALYA?! DEVAN NARENDRA PESEN KUE LO?!" pekik Adel dengan mata membelalak sempurna, wajahnya memerah karena terlalu antusias. "Dua kotak besar masing-masing! Ini sih namanya rezeki nomplok tingkat dewa, Al! Cowok seganteng dan sekaya dia mau makan kue buatan lo!"
Berbeda dengan Adel yang langsung heboh tanpa berpikir panjang, Jesica justru terdiam sejenak. Ia memicingkan matanya, menatap layar ponsel, lalu beralih menatap raut wajah Alya yang tampak bimbang dan penuh pertimbangan. Jesica menyunggingkan senyum jahil yang sarat akan makna terselubung. Ia menyenggol lengan Adel dengan siku, memancing perhatian sahabatnya.
"Eh, Del... lo mikir apa yang gue pikirin gak?" tanya Jesica dengan nada menggoda, matanya mengerling jenaka ke arah Alya.
Adel berkedip, lalu melongo. "Mikir apaan?"
"Coba lo pikir pakai logika," Jesica menopang dagunya dengan tangan, menatap Alya lekat-lekat. "Devan itu gak pernah peduli sama urusan orang lain. Jangankan beli kue pasar, kemarin aja dia sampai rela pasang badan bela Alya di depan Clara. Terus subuh-subuh langsung *follow* akun jualan Alya yang *followers*-nya dikit, dan sekarang... dia pesen kue dalam jumlah banyak langsung lewat pesan pribadi. Jangan-jangan... si pangeran sekolah kita ini emang beneran menyukai sahabat kita yang super cuek ini, Al?"
"Hah?! Bener juga lo, Jes!" Adel langsung menepuk dahinya keras-keras, ikut menyambung godaan Jesica. "Ya ampun, Alya! Es batu di sekolah kita kayaknya beneran udah mulai mencair gara-gara lo! Dia pasti sengaja pesen banyak biar bisa punya alasan buat ketemuan sama lo besok pas jam istirahat! Ciyee... Alya!"
Wajah Alya yang biasanya pucat dan datar mendadak terasa sedikit hangat karena godaan bertubi-tubi dari kedua sahabatnya. Ia dengan cepat merebut kembali ponselnya dari tangan Adel, lalu mengerutkan dahinya tipis.
"Kalian jangan ngarang yang enggak-enggak," potong Alya berusaha mempertahankan nada suaranya yang dingin dan rasional. "Aku cuma takut... dia cuma mau mempermalukan aku atau sekadar kasihan karena tahu kondisi rumahku. Aku gak mau menerima pesanan yang dasarnya cuma karena belas kasihan orang lain."
Mendengar pernyataan serius dari Alya, Jesica langsung mengubah raut wajahnya menjadi lebih bijaksana. Ia menggenggam jemari Alya yang terasa dingin, menatap mata sahabatnya dengan tatapan meyakinkan.
"Al, dengerin gue," ujar Jesica lembut namun mantap. "Gue tahu lo punya harga diri yang tinggi, dan gue sangat menghargai itu. Tapi dari yang gue liat kemarin di lapangan dan di ruang guru, Devan itu bukan tipe cowok yang suka main-main atau bermuka dua kayak Clara. Kalau dia emang berniat jahat atau mau merendahkan lo, dia gak bakal repot-repot bersikap ketus ke Clara demi belain lo."
"Betul banget apa kata Jesica, Al," Adel ikut menambahkan dengan nada yang lebih serius dari biasanya. "Lagian, bisnis ya tetap bisnis. Dia mau beli, lo yang jual. Uang yang dia pakai buat bayar juga halal kan? Anggap aja ini jalan yang dikasih Tuhan lewat Devan buat ngebantu lo ngelunasin biaya *study tour* hari Jumat besok. Jangan biarkan rasa ragu lo merusak kesempatan yang udah ada di depan mata."
Jesica mengangguk setuju. "Gue yakin Devan tulus mau beli, entah karena dia emang penasaran sama rasa kue lo setelah liat postingan estetik tadi, atau... ya, karena dia emang pengen ngebantu dengan cara yang elegan tanpa bikin lo merasa tersinggung. Terima aja, Al. Lo bikin kue terbaik lo buat dia, buktiin kalau produk Dapur Saras emang layak dibeli karena rasanya yang enak, bukan karena alasan lain."
Alya terdiam mendengarkan penuturan panjang dari kedua sahabatnya. Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Jesica dan Adel perlahan meruntuhkan tembok keraguan dan rasa skeptis di dalam dadanya. Apa yang dikatakan mereka ada benarnya. Ini adalah transaksi profesional antara penjual dan pembeli. Ia tidak perlu memikirkan motif di baliknya selama ia memberikan kualitas kue yang sepadan dengan uang yang dibayarkan.
Alya menatap kembali layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan pesan dari Devan yang menunggu jawaban. Dengan hembusan napas panjang yang sarat akan kelegaan, jemari Alya mulai bergerak di atas papan ketik, mengetikkan balasan singkat namun sopan.
*"Baik, Devan. Pesanan dua kotak Bolu Gulung Cokelat dan dua kotak Kue Lumpur Kentang dicatat untuk besok pagi. Terima kasih atas pesanannya."*
Begitu tombol kirim ditekan, Adel dan Jesica langsung saling berpelukan dan bersorak girang di atas bangku halte, membuat Alya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Bersamaan dengan itu, angkot jurusan pasar kota akhirnya berhenti di depan mereka. Ketiganya segera naik dengan hati yang dipenuhi rasa optimisme baru, siap berburu bahan-bahan kue terbaik untuk esok hari yang penuh tantangan.