Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Teriakan dan histeria warga riuh memenuhi jalan raya.
Beberapa pengendara mendadak menghentikan kendaraannya. Ada yang berlari sekuat tenaga mendekati gundukan mobil yang ringsek, sementara yang lain sibuk menelpon ambulans dan pihak kepolisian.
Anindiya berlari tanpa memedulikan kakinya yang lemas, menerobos kerumunan menuju sedan pengantin yang terguling di bahu jalan.
"Nggak... ini nggak mungkin terjadi..."
Langkahnya makin tak menentu. Jantungnya berdegup kencang seperti menghantam dadanya sendiri.
Rina menyusul di belakangnya dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi. "Mbak Anin! Pelan-pelan, Mbak!"
Namun suara Rina menguap begitu saja. Begitu melangkah mendekati bodi mobil, napas Anindiya seketika tercekat di tenggorokan.
Mobil hitam yang beberapa menit lalu dihiasi pita bunga cantik itu kini tak ubahnya remukan kaleng. Kaca-kacanya hancur berkeping-keping, bodinya terlipat penyok, dan pintu-pintunya mengunci akibat benturan dahsyat.
Beberapa warga bahu-membahu mencoba membuka paksa akses masuk.
"Pak, tolong tahan bagian sebelah sini!"
"Hati-hati, ada ceceran bensin!"
"Jangan ditarik paksa, nanti terluka!"
Suasana di lokasi benar-benar kacau balau.
Di sisi aspal tak jauh dari sana, sopir sedan pengantin tergeletak tak sadarkan diri setelah sempat terpental keluar saat benturan pertama. Beberapa orang tampak memberikan pertolongan pertama pada pria itu.
Tak lama, warga berhasil mengeluarkan ayah dan ibu Siska dari dalam remukan mobil. Keduanya bersimbah darah dan mengalami luka-luka di sekujur tubuh. Mereka masih sadar, meski syok berat merenggut seluruh tenaga mereka.
"Siska..." suara Ibu Rahmi bergetar hebat, tangannya yang gemetar menggapai-gapai udara. "Siska... Anakku..."
Air mata bercampur darah dan debu mengalir di pipinya. Beberapa warga yang menolong berusaha menahannya. "Ibu, tenang dulu, Bu. Petugas medis sedang jalan ke sini."
Namun mana ada seorang ibu yang bisa tenang saat menyaksikan anak tunggalnya terjebak di dalam tragedi seperti itu.
Anindiya berdiri mematung beberapa langkah dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat. Ia bahkan tak sanggup untuk sekadar melangkah maju.
Hingga akhirnya, dua orang petugas medis yang tiba di lokasi berhasil menjangkau tubuh Siska di dalam kabin belakang. Suasana riuh di sekitar lokasi mendadak hening.
Salah seorang petugas mengisaratkan gelengan kepala pelan pada rekannya.
Anindiya melihat gelengan kecil itu. Seketika, dunianya serasa runtuh.
"Nggak..." bisik Anindiya lirih, hampir tak terdengar.
Beberapa detik kemudian, petugas menarik kain putih untuk menutupi seluruh tubuh Siska.
Tangis histeris Ibu Rahmi seketika memecah keheningan jalan raya. "SISKA! Bangun, Nak! Bangun!" teriaknya histeris hingga suaranya serak. "Kamu mau nikah hari ini, Nak... Tolong buka matamu..."
Jeritan pilu sang ibu membuat hampir seluruh orang dan warga yang menyaksikan menetaskan air mata. Ayah Siska hanya bisa terduduk di aspal, menunduk dalam-dalam dengan pundak berguncang hebat. Air matanya menetes tanpa henti. Ia mencoba bangkit menghampiri jasad putrinya, namun fisiknya terlalu lemah akibat benturan.
Anindiya masih berdiri terpaku. Air matanya meleleh deras membasahi pipi.
Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana pagi yang dipenuhi tawa, haru, dan binar kebahagiaan bisa berganti menjadi tragedi mengerikan hanya dalam hitungan detik?
Rina meremas pelan lengan Anindiya, terisak pelan. "Mbak Anin..."
Anindiya tak sanggup menjawab. Tatapannya terkunci pada kain putih yang menutupi tubuh Siska. Di dalam benaknya, hanya ada satu pertanyaan yang menggelegar: Kenapa harus hari ini?
Tak lama kemudian, beberapa polisi mulai mengamankan lokasi dan mengumpulkan barang-barang yang tercecer di sekitar tempat kejadian.
Di antara serpihan kaca tajam, pecahan lampu, dan tumpahan oli yang mengotori aspal...
Gaun pengantin putih gading yang dikenakan Siska terlihat dievakuasi.
Anehnya... gaun itu tampak utuh.
Warnanya tetap putih bersih, tak tersentuh noda oli maupun darah. Rendanya masih tersusun rapi, bahkan hampir tidak ada bagian yang koyak atau robek sedikit pun.
Seorang petugas polisi yang mengangkat kain itu sempat menghentikan gerakannya. "Aneh..."
"Kenapa, Pak?" tanya rekannya.
"Ini gaunnya... utuh banget. Padahal mobilnya hancur begini," gumam petugas itu heran.
"Mungkin bahannya memang bagus dan kuat," sahut rekannya santai.
Petugas itu mengangguk pelan, menepis keheranannya dan tidak melanjutkan pembicaraan.
Namun Anindiya yang tak sengaja mendengar percakapan itu seketika menoleh. Matanya membelalak lebar. Dari jarak beberapa meter, ia memperhatikan gaun tersebut dengan cermat.
Benar. Gaun itu utuh. Sangat utuh.
Padahal kecelakaan itu meremukkan besi mobil hingga tak berbentuk. Perasaan ganjil dan dingin perlahan merayap masuk, membelit dadanya.
Namun, Anindiya dengan cepat mencoba menepis prasangka itu. Nggak mungkin... Mungkin memang kualitas kainnya yang sangat tebal, bisiknya menenangkan diri.
Rina yang ikut melihat pun berbisik heran, "Ajaib ya, Mbak... Padahal mobilnya hancur parah begitu."
Anindiya mengusap air matanya yang tersisa, enggan berpikir macam-macam. Di kepalanya saat ini, hanya ada duka mendalam dan rasa kehilangan yang teramat sangat.
Sirine ambulansmeraung-raung membawa kedua orang tua Siska menuju rumah sakit terdekat, sementara polisi memasang garis pembatas di sekeliling lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP.
Di tengah kesibukan warga dan petugas yang berulang kali lalu-lalang...
Sret.
Angin dingin berembus perlahan. Dan entah dari mana asalnya, wangi bunga melati kembali merebak hebat membasahi udara sekitar.
Harumnya begitu tajam dan pekat. Beberapa warga yang sibuk menonton sempat mengendus udara.
"Wangi melati ya?"
"Iya, mungkin wangi dari rangkaian bunga mobil pengantinnya."
Orang-orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada satu pun yang menaruh curiga.
Namun, tak jauh dari pusaran lokasi kecelakaan...
Tepat di bawah bayangan pohon asam besar yang berdiri tegak di tepi jalan...
Seorang perempuan berdiri mematung.
Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang sudah kusam, lusuh, dan robek dimakan zaman. Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan, menutupi sebagian besar paras wajahnya. Kedua tangannya terlipat rapi di depan dada.
Sosok itu berdiri diam tanpa gerakan. Tatapannya tertuju lurus pada lokasi kecelakaan tempat gaun putih gading itu diamankan.
Ajaibnya, tak satu pun warga maupun polisi yang lalu-lalang menyadari kehadirannya. Bahkan seorang petugas sempat berjalan melintas tepat di sampingnya, seolah-olah tempat itu kosong melompong.
Perempuan itu tetap bergeming. Angin sore meniup perlahan ujung gaunnya yang kusam, mengibarkan wangi melati yang makin pekat di sekeliling pohon tersebut.
Dan dari balik uraian rambut hitam yang menutupi wajah pucatnya...
Perlahan-lahan, terukir sebuah senyuman tipis yang amat dingin. Senyuman kelam yang mengisyaratkan kepuasan dari sebuah penantian panjang.
Beberapa saat kemudian...
Sosok perempuan itu perlahan-lahan mengabur, menyatu dengan bayangan pohon, lalu menghilang sepenuhnya ditelan angin. Yang tertinggal di area itu hanyalah pekatnya wangi bunga melati yang perlahan menguap.
Sementara itu, Anindiya masih berdiri menatap lokasi kecelakaan dengan dada yang dihimpit rasa bersalah dan duka mendalam.
Ia tidak tahu mengapa. Namun sejak menyaksikan gaun pengantin itu tetap utuh secara tak masuk akal di tengah hancurnya mobil, sebuah benih kegelisahan yang amat gelap mulai tumbuh di dalam hatinya.
Sebuah ketakutan tanpa alasan yang belum sanggup ia jelaskan.
Dan tanpa sedikit pun disadari oleh Anindiya...
Kematian tragis yang menimpa Siska bukanlah akhir dari segalanya.
Melainkan babak pertama dari kutukan tua gaun pengantin... yang kini telah resmi menagih nyawa korbannya.