"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Aroma pancakes hangat bernuansa madu dan harum teh manis menyeruak di area meja makan bersih. Naya tampak begitu lahap menikmati suapan demi suapan yang diberikan oleh Bik Nana. Tawa renyah sesekali terdengar dari bibir mungil bocah itu saat Bik Nana menghiburnya dengan cerita-cerita lucu. Maya yang duduk di sampingnya menyunggingkan senyum tipis, merasa bersyukur melihat keceriaan yang kembali menghiasi wajah putri semata wanitanya.
Namun, ketenangan pagi itu seketika terusik ketika ponsel genggam milik Maya yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan serangkaian digit nomor yang sangat dihafalnyamnomor Mas Bayu.
Maya terpaku sejenak. Jemarinya yang menggenggam sendok membeku di udara. Tatapan matanya meredup, membawa kembali kenangan pahit atas peristiwa bentakan dan tuduhan tanpa bukti kemarin sore.
"Bik Nana... saya izin sebentar ya," pamit Maya pelan seraya membetulkan letak jilbabnya. "Saya mau angkat telepon dulu di kamar. Tolong titip Naya sebentar ya, Bik."
Bik Nana menatap layar ponsel Maya sekilas, seolah memahami situasi pelik yang sedang dihadapi wanita muda itu. "Iya, Mbak Maya. Tenang saja, Naya biar sama Bik Nana di sini."
"Mimo mau ke mana?" tanya Naya dengan mulut yang masih penuh pancake.
"Mimo cuma ke kamar sebentar ambil barang, Sayang. Naya habiskan makanannya sama Nenek Nana ya," jawab Maya lembut seraya mengusap lembut kepala Naya.
Dengan langkah cepat namun tenang, Maya berjalan menuju kamar. Begitu melangkah masuk, ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keteguhan hati, lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo," sapa Maya dingin dan datar.
"Maya! Kamu di mana sekarang?!" suara Bayu menyambar dari seberang telepon, terdengar penuh kepanikan yang bercampur dengan nada menuntut.
"Kamu bawa Naya ke mana, Maya?! Kamu kabur gak jelas bawa semua baju! Kamu tahu gak Mas keliling perumahan nyariin kamu?!"
Maya menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang kokoh. "Aku ada di tempat yang aman, Mas. Tempat di mana Naya tidak perlu mendengarkan teriakan, makian dan bentakan dari siapa pun."
Dengar nada bicara Maya yang sangat tenang tanpa emosi, nada suara Bayu di seberang sana mendadak melunak. Pria itu menghela napas panjang, terdengar sangat lelah dan tertekan.
"Maya... tolonglah, jangan seperti ini," bujuk Bayu dengan suara yang dipelan-pelankan. "Pulang ya, Maya? Kita bicarakan ini baik-baik di rumah. Mas ngaku, kemarin Mas memang emosi karena situasi di rumah lagi kacau. Tapi bukan berarti kamu harus nekat pergi bawa anak begitu saja, kan? Kita ini suami istri, Maya."
Bicarakan baik-baik? Kata-kata itu terdengar sangat ironis di telinga Maya.
"Bicara baik-baik, Mas?" Maya tertawa sumbang, senyuman miris terukir di bibirnya. "Sudah keterlaluan, Mas. Aku sudah terlanjur kecewa berat dengan semua ucapan tinggimu kemarin dan perubahan sikapmu yang begitu signifikan beberapa bulan terakhir ini."
"Maya, Mas cuma..."
"Kalau saja kamu tidak pernah memperlakukan aku sehina itu di depan keluarga kamu kemarin sore, Mas," potong Maya tegas, menahan getaran emosi di tenggorokannya. "Kalau saja kamu datang menanyakan kebenarannya padaku secara manusiawi, mungkin aku masih bisa membukakan pintu maaf. Tapi kamu sudah benar-benar keterlaluan! Kamu merendahkan aku di depan Ibu dan adik-adikmu, kamu bentak aku di depan Naya sampai anakmu trauma! Kamu sudah menggoreskan luka yang sangat dalam dan membuat hatiku hancur, Mas!"
Hening sejenak di seberang saluran. Bayu tampaknya tertegun mendengar curahan amarah Maya yang tersimpan rapi di balik ketenangannya. Namun, alih-alih merendahkan harga dirinya untuk benar-benar meminta maaf, sikap defensif Bayu justru kembali muncul.
"Maya, kamu jangan emosi dulu dan pakai logika kamu!" cetus Bayu, nada suaranya berubah keras dan meremehkan. "Kamu pikir gampang hidup di luar sana sendirian?! Kamu itu cuma lulusan D3 yang sudah bertahun-tahun gak kerja! Mana mungkin kamu bisa menghidupi Naya tanpa uang dari Mas?!"
Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya.
"Dengarkan Mas ya, Maya," lanjut Bayu mengancam dengan nada dominan. "Kalau kamu sampai nekat dan tetap keras kepala mau menceraikan Mas, Mas tidak akan pernah sudi memberikan uang sepeser pun untuk menafkahi Naya. Mas gak bakal bantu kamu."
Gertakan itu tadinya diharapkan Bayu bisa membuat Maya ketakutan dan bertekuk lutut memohon untuk kembali. Namun, Bayu tidak tahu bahwa Maya yang berdiri hari ini bukanlah Maya yang lemah seperti dulu.
Maya menyunggingkan senyuman dingin. Rasa takutnya telah menguap sepenuhnya.
"Silakan, Mas," jawab Maya mantap, suaranya sarat akan ketegasan tanpa keraguan sedikit pun. "Silakan kalau kamu memang tidak mau menafkahi Naya lagi. Toh, dari kemarin-kemarin juga uang gajimu sudah sepenuhnya dipegang oleh ibumu, kan? Aku dan Naya sudah mulai terbiasa disampingkan di rumah itu."
"Maya! Maksud kamu apa ngomong gitu?!" bentak Bayu tersinggung.
"Aku bisa bekerja, Mas," tegas Maya lurus. "Aku punya otak, aku punya kedua tangan yang sehat dan aku punya ketulusan untuk membesarkan Naya sendirian. Aku yang akan bekerja keras mencari nafkah halal untuk putriku, tanpa perlu mengemis sepeser pun dari uang gajimu yang selalu kamu agung-agungkan itu."
Dada Bayu terdengar memburu di seberang telepon. Rasa panik mendadak menyerangnya saat menyadari gertakannya sama sekali tidak mempan untuk melumpuhkan keberanian istrinya.
"Maya... kamu gak bisa main putus hubungan begitu saja! Perceraian itu butuh biaya mahal. Kamu punya uang dari mana buat urus pengacara atau biaya sidang?." cercar Bayu, mencoba mencari celah kelemahan Maya yang lain.
Maya menarik napas panjang. Tatapannya lurus menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang memantulkan sosok wanita berjilbab dengan tatapan mata yang kokoh dan berani.
"Jangan khawatirkan soal uang yang akan dikeluarkan untuk mengurus surat perceraian kita nanti, Mas," kata Maya dengan intonasi pelan namun begitu menohok. "Nanti aku yang akan mengurus semuanya sendiri. Mulai dari pendaftaran hingga biaya prosesnya, tidak akan ada satu rupiah pun uangmu yang terpakai."
"Maya! Jangan nekat kamu ya! Maya! Halo?!"
Tanpa menunggu balasan atau teriakan Bayu lebih lanjut, Maya langsung menekan tombol merah di layarnya, memutus sambungan telepon itu secara sepihak.
Tidak berhenti di situ, Maya menggeser jarinya di layar ponsel, mengaitkan nomor telepon Bayu, lalu memblokirnya secara permanen. Ia tidak ingin ketenangannya dan tumbuh kembang Naya kembali terganggu oleh racun manipulasi dari pria yang pernah dicintainya itu.
Napas Maya berembus lega. Dadanya terasa jauh lebih ringan. Kata-kata tegas yang dilontarkannya barusan seolah menjadi deklarasi resmi bahwa masa-masa dirinya menjadi wanita yang pasrah dan bisa ditindas telah berakhir secara mutlak.
Maya merapikan kembali posisi jilbabnya di depan cermin, mengusap setitik air mata yang sempat menyempil di sudut matanya, lalu tersenyum pada bayangannya sendiri.
Ia memutar kunci kamar dan membuka pintunya lebar-lebar, melangkah keluar menuju ruang makan untuk kembali menyambut masa depan bersama putri kecilnya.